(1803) Atlas Kekaisaran Ottoman

Cedid Atlas Tercümesi, yang artinya Atlas baru ini diterbitkan di Istambul Turki pada tahun 1803 oleh Penerbit Sekolah Teknik Militer Ottoman. Peta dunia ini adalah peta yang pertama dicetak oleh kalangan muslim.

Eropa

Tujuan penerbitan atlas ini adalah untuk memberi gambaran tentang informasi geografi modern bagi para murid dan perwira di sekolah militer. Kebijakan ini diambil oleh Sultan Selim III yang berkuasa saat itu. Atlas ini adalah bagian dari upaya untuk memperkenalkan kemajuan teknologi dan militer dunia barat pada masyarakat kekaisaran Ottoman.

Atlas mengagumkan ini terdiri dari risalah geografi, sebuah tabel perbintangan, dan 24 peta dunia yang terbentang mulai dari Turki dan kawasan Mediterania hingga ke dunia baru Amerika.

Mesir

 

Jerman

 

Pantai Perancis dan Kepulauan Channel

 

Skotlandia

 

Inggris

 

Kutub Selatan

 

Kutub Utara

 

Bumi Bagian Timur

 

Bumi Belahan Barat

 

Pantai Guyana

 

Bumi bagian barat

 

Benua Amerika Utara sebelah timur, dengan warna sesuai dengan kepemilikan koloni Spanyol, Perancis, dan Amerika

 

Afrika

 

Turki dan Asia Kecil

 

Tabel perbintangan

 

Eropa

 

Perancis saat masih sebuah negara Kekaisaran

 

Perancis setelah menjadi Republik
Lithuania dan Prussia (Jerman)

 

Belgia dan Luxemburg

 

West Indies

 

Peta Dunia

 

Mediterania Barat

 

Yunani, Turki dan Laut Aegea

 

Eropa Selatan dan Turki

 

Yunani, Turki, dan Levant

 

Atlas ini merupakan salinan berbahasa Arab dari atlas karya Cartographer Inggris bernama William Faden berjudul General Atlas.

Namun demikian, upaya pemerintah Ottoman ini patut dihargai karena sangat menunjang kemajuan ilmu pengetahuan dunia modern masa itu. Karya ini sangat indah dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh oleh seniman yang berbakat.

Hanya 50 eksemplar saja yang dicetak, namun sebagian besar musnah dilalap api pada tahun 1808.

Yang tertinggal sampai kini hanya kurang dari selusin saja, sehingga atlas ini menjadi terbitan atlas paling langka di dunia saat ini.

Kekaisaran Ottoman pada masa puncak keemasannya merupakan negara adi daya yang menjadi mercusuar dunia. Pengaruhnya mewarnai berbagai aspek, terutama ilmu pengetahuan dan teknologi. Bidang militer pun juga tak kalah gemilangnya.

Kita tentu masih ingat bagaimana Pangeran Diponegoro yang dalam upayanya memerangi Belanda berusaha membangun hubungan (baca:dukungan) diplomatik dengan Ottoman.

Struktur kemiliteran prajurit Diponegoro bahkan mengadaptasi struktur militer kekhalifahan ini.

Nama-nama unit kesatuan prajurit Pangeran Diponegoro yang merujuk pada nama satuan militer Ottoman diantaranya yaitu pasukan Bulkiyo yang merupakan penyesuaian lidah Jawa untuk Boluk, yang artinya resimen, yang dipimpin komandan dengan jabatan Bolukhasi, lalu ada unit pasukan Turkiyo dan Burjomuah.

Panglima tertinggi adalah Ali Basah Sentot yang mengadaptasi gelar jendral militer Turki Ali Pasha.

Kekhalifahan ini perlahan memudar kekuatannya dan akhirnya rontok menjelang Perang Dunia I, namun ratusan tahun sepanjang kejayaannya banyak mewariskan teknologi dan budaya yang bernilai tinggi.

 

 

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !