(1919) Pemakaman Mayor Cina Cirebon yang Megah

Seorang pejabat VOC yang terpelajar yang menyertai kapal dagang kerajaan Belanda di awal-awal firma dagang ini menancapkan kuku kekuasaannya di Jawa, pernah mengambil suatu kesimpulan menarik tentang karakter penduduk setempat yang ia amati. Ia telah menetap di Jawa selama bertahun-tahun dan berinteraksi dengan berbagai golongan masyarakat.

Karakter etnis Cina yang bermigrasi ke Jawa sangat jelas terbaca. Mereka seakan terlahir dengan misi mengumpulkan kekayaan seumur hidup mereka. Ini yang membuat orang Cina sangat rajin bekerja dan irit, sehingga pada akhirnya mereka lebih taat hukum.

Karakter bawaan lahir ini memang bagian dari kultur sosio-budaya suku bangsa Tiong Hoa yang suka dipuja dan berlomba-lomba menjadi yang terkaya. Sudah jamak kita temui para taipan keturunan Tiong Hoa menggelar berbagai pesta megah mulai dari pesta perkawinan hingga pesta pemakaman. Prinsipnya, semakin banyak orang yang datang menghadiri acara, maka semakin mulia derajat yang bersangkutan.

Di masa modern ini kita masih bisa menjumpai ritual tidak lazim, yaitu pertunjukan tari telanjang atau striptease yang diadakan keluarga almarhum untuk mendatangkan orang sebanyak mungkin di acara pemakaman di berbagai wilayah di Taiwan.

Kapitein Tan Tjin Kie bersama istrinya 13 Oktober 1906 (Tan Gin Ho, Peringetan dari Wafatnja Majoor Tan Thin Kie, Druk en Cliche’s van G. Kolff & Co. Batavia, 1919 )
Keluarga besar Mayor Cirebon Tanj Tjin Kie
Foto terakhir Tan Tjin Kie dan istri bersama cucu-cucu di Rumah Pesisir, sekitar pertengahan 1918. (Tan Gin Ho, Peringetan dari Wafatnja Majoor Tan Thin Kie, Druk en Cliche’s van G. Kolff & Co. Batavia, 1919)

Mayor Tan Tjing Kie merupakan orang terkaya di Cirebon yang sekaligus seorang filantrofis yang sangat dermawan di tahun1900-an. Karirnya menanjak sejak ia menjabat kapitein di tahun 1888.  Pada tahun 1893 pemerintah Manchu memberi anugerah gelar maharaja kelas II, sementara Pemerintah Hindia Belanda juga memberinya gelar berbeda, yaitu penghargaan Bintang Emas untuk Pengabdian (Gouden Ster van Verdienste) .Ia pun juga mendapat pangkat  mayor tituler pada 1913.

pabrik gula
Pabri gula Suikerfabriek Luwunggadjah berbendera Amerika karena saat itu sedang ada kunjungan tamu dari Amerika(Tan Gin Ho, Peringetan dari Wafatnja Majoor Tan Thin Kie, Druk en Cliche’s van G. Kolff & Co. Batavia, 1919)

Tambang uang sang mayor yang utama adalah pabrik gula Suikerfabriek Luwunggadjah.

Tak heran ia memiliki banyak properti kelas atas bergaya Hindia abad 19 seperti Gedong Binarong, dengan pilar-pilarnya yang anggun, di Ciledug Cirebon  timur, lalu Roemah Pesisir, Roemah Tambak, dan Roemah Kalitandjoeng yang ada di seputaran daerah Cirebon.

rumah mewah
Gedong Binarong milik Tan Tjin Kie yang berhias pilar-pilar dorik. Foto pada Maret 1910. (Tan Gin Ho, Peringetan dari Wafatnja Majoor Tan Thin Kie, Druk en Cliche’s van G. Kolff & Co. Batavia, 1919)

Satu hal yang istimewa adalah minatnya pada budaya Jawa. Sang mayor tercatat memiliki koleksi manuskrip langka dan satu set lengkap wayang gedok (wayang yang mementaskan cerita Panji) dan memberi perhatian besar pada seniman dan dalang. Theodoor Gautier Thomas Pigeaud (1899–1988), ahli sastra Jawa sampai memberikan Tan Tjin Kie julukan padanya sebagai ‘Pelindung Besar Kesenian Jawa’

Tan Gin Ho, anak bungsu sang mayor, menuliskan kisah ini dalam sebuah memoar berjudul Peringetan dari Wafatnja Majoor Tan Tjin Kie yang diterbitkan oleh Druk en Cliche’s van G. Kolff & Co. di Batavia.

Mayor Cina Tan Tjin Kie, atau orang Cirebon biasa menyapa Babah Tjin Kie meninggal pada Kamis, 13 Februari 1919 di usia 66 tahun. Jenazahnya sendiri dimakamkan 1,5 bulan berikutnya, yaitu pada Rabu, 2 April karena keluarga harus mempersiapkan upacara penghormatan terakhir yang extravagant. Upacara akbar ini menelan biaya ƒ70.000 atau sepadan nilainya dengan emas sekitar 10 kilogram—sekitar Rp 5 milyar jika diukur dengan nilai uang sekarang.

Wajah Cirebon berubah total karena acara sekali seumur hidup ini kemeriahannya jauh melampaui perayaan Sekaten atau Cap Go Meh yang merupakan perayaan akbar kala itu.

Pemakaman mayor Cina di Cirebon
Foto yang diambil setelah hari pemakaman memperlihatkan satu kereta membawa fotonya sedangkan kereta kedua membawa abu sembahyang. Prosesi masih berlangsung hingga beberapa hari walau tidak seramai hari perarakan jenazah. (Tan Gin Ho, Peringetan dari Wafatnja Majoor Tan Thin Kie, Druk en Cliche’s van G. Kolff & Co. Batavia, 1919)

Tamu-tamu yang melayatpun bukan dari kalangan main-main, diantaranya yaitu keluarga Residen Cirebon C.J. Feith dan Asisten Residen A.J.H. Eijken dengan diiringi dua peleton pasukan kehormatan.

Dari kalangan bumiputera hadir kerabat keraton Cirebon, para amtenar bumiputra, Letnan Arab beserta keluarga besarnya dan Pangeran Ario Mangkoediningrat yang mewakili Susuhunan Pakubuwono

Rekan sejawat opsir Cina yang tidak ketinggalan datang antara lain:  Letnan Cina Thung Tjoen Ho asal Bogor, Sianseng Tan Tek Haij asal Lampegan, dan Kapiten Cina Khouw Oen Hoeij dari Batavia, dan Konsul Jenderal Tiongkok Auw Yang Kee .

Posisi paling depan arak-arakan pemakaman Tan Tjin Kie. (Tan Gin Ho, Peringetan dari Wafatnja Majoor Tan Thin Kie, Druk en Cliche’s van G. Kolff & Co. Batavia, 1919)

Prosesi diawali dari rumah duka. Terdapat 60 orang Tiong Hoa berpakaian duka berwarna putih yang mengangkut peti mati berwarna perak yang berkilauan ke atas kereta jenazah, lalu 240 orang lainnya menarik kereta tersebut setelah sebelumnya dilakukan tembakan salvo ke udara ala militer.

Arak-arakan pengantar jenazah yang terdiri dari keluarga dan kerabat dekat saja mencapai 1 kilometer panjangnya, yang terdiri dari 9 kelompok. Belum lagi konvoi kereta kuda, kahar atau kereta yang ditarik lembu, dan mobil pelayat, baik dari kalangan pribumi bangsawan maupun pejabat Belanda yang berjalan di belakang kereta jenazah, yang mencapai dua pal-atau sekitar 3 Km lebih panjangnya.

Perarakan dari rumah duka hingga pemakaman di Dukusemar Cirebon membuat polisi sangat sibuk karena setiap 20 meter mereka berjaga di kanan kiri jalan. Belum lagi dengan adanya 1 polisi tiap 10 meter perarakan. Jumlah petugas yang dikerahkan saat itu mencapai 600 orang.

Kereta jenazah hendak meninggalkan rumah duka (Tan Gin Ho, Peringetan dari Wafatnja Majoor Tan Thin Kie, Druk en Cliche’s van G. Kolff & Co. Batavia, 1919)

Pelayat umum ditaksir mencapai 200.000 orang. Prosesi ini mendatangkan keuntungan luarbiasa bagi pemilik angkutan karena harga sewa mobil setempat naik empat kali lipat. Bahkan harga sewa kahar naik hingga 8 kali lipat. Penjual nasi disepanjang jalan yang dilalui iringan perarakan meraup keuntungan 10 kali lipat karena sepincuk nasi yang  dijual 1 sen melonjak menjadi 10 sen lebih.

Orang Tionghoa, Eropa, dan bumiputra banyak menonton perhelatan akbar ini dengan menyewa di atas tribun bambu yang dirancang bertingkat sehingga pemiliknya kebanjiran rejeki pula. Sebagian besarnya lagi malah tidak kebagian tempat sehingga menonton dari loteng rumah atau dari atas pohon. Bukan cuma laki-laki, beberapa nyonya-nyonya Eropa dilaporkan juga ikut naik pohon di tepi jalan.

Suasana saat Kereta Gajah dan empat kereta lainnya melewati gerbang kedua. (Tan Gin Ho, Peringetan dari Wafatnja Majoor Tan Thin Kie, Druk en Cliche’s van G. Kolff & Co. Batavia, 1919)

Keheningan menyergap saat kereta jenazah lewat. Semua memberi hormat. Para pelayat Eropa membuka topi mereka, sedangkan dari kalangan Tionghoa memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan mengepal atau bersoja dalam tradisi Konghucu.

(Diramu dari sumber nationalgeographic.co.id dan buku Tan Gin Ho, Peringetan dari Wafatnja Majoor Tan Thin Kie, Druk en Cliche’s van G. Kolff & Co. Batavia, 1919)

Incoming search terms:

  • tan tjin kie
  • tan tjien kie cirebon

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !