Alexander Hamilton Memantau Bakal Jalur Perdagangan Pantura Jawa 1727

Seorang pria Inggris bernama Alexander Hamilton menghabiskan beberapa tahun mulai dari 1688-1723 “berdagang dan melakukan perjalanan serta berlayar dari Tanjung Harapan hingga ke kepulauan Jepang” seperti yang tercantum di judul halaman bukunya pada 1727 yang berjudul New Account of the East Indies. Berlayar di sepanjang pantai utara Jawa, ia bercerita tentang hasil bumi dari Banten, Batavia, Semarang, Jepara, Rembang, Surabaya dan beberapa kota lainnya. Bukunya juga memuat catatan mengenai keberadaan bangsa Belanda yang sedang bergerak maju di daerah tersebut. Para pengelana, seperti halnya orang Belanda sendiri, masih berkelana hanya sebatas daerah pesisir Jawa saja.

Tempat berdagang pertama yang ada di ujung barat Jawa adalah kota Bantam (Banten) yang terkenal itu, dimana pabrik-pabrik milik orang Inggris dan Denmark berkembang dengan pesat hingga tahun 1682. Saat itu pula bangsa Belanda yang ramah menyebabkan pecahnya sebuah peperangan antara Raja Bantam tua dan putranya. Akibat sang ayah tidak mau tunduk kepada aturan Belanda dan tidak rela menjadi budak mereka yang hina, Belanda bersekutu dengan putranya yang lebih tamak kekuasaan dan kurang bijaksana. Mereka, bersama dengan bantuan para pemberontak lainnya, menempatkan sang putra mahkota di atas takhta dan menjadikan sang raja tua sebagai tahanan serta mengirimnya ke Batavia.

Pada 1683, mereka berpura-pura mendapatkan wewenang dari sang raja baru untuk mengusir bangsa Inggris dan Denmark dengan sikap yang sangat angkuh menurut tradisi yang berlaku. Kemudian, mereka melakukan pengamanan dengan membangun sebuah benteng kokoh berjarak satu tembakan pistol dari benteng yang dibangun oleh raja lama sebelumnya untuk mengekang kelancangan Belanda.

Satu-satunya hasil bumi dari Bantam adalah lada yang sangat berlimpah sehingga mereka bisa mengekspor sebesar 10.000 ton per tahunnya. Jalan di daerah ini tergolong baik dan aman untuk kebutuhan perkapalan. Teluknya menyenangkan, dengan beberapa pulau kecil yang masih memiliki nama dalam bahasa Inggris.

Para penduduk pribumi masih menyesali kepergian pedagang Inggris dari antara mereka, tetapi sang raja memiliki lebih banyak lagi alasan untuk menyesali kerugian perdagangan mereka dibanding rakyatnya.

“Niat baik” yang dimiliki para orang pribumi terhadap bangsa Belanda tampaknya tergantung dari perlakuannya. Ketika mereka mendapatkan kesempatan, seperti ketika seorang Belanda berada lebih jauh dari jarak tembak senapan dari benteng mereka, kemungkinan satu banding lima orang itu akan kembali karena penduduk pribumi sangat mahir melemparkan tombak, atau meniupkan panah beracun melalui pipa atau batang kayu. Raja tidak pernah berusaha menangani mereka serta berpura-pura bahwa si penjahat tidak pernah berhasil ditemukan.

Batavia terletak sekitar 20 league ke arah timur dari Bantam dan dengan sejumlah besar pulau-pulau kecil tersebar diantara jalur Bantam dan Batavia, terlalu sulit untuk disebutkan satu persatu. Pulau Panjang di lepas pantai Bantam dan Pulau Edam di lepas pantai Batavia adalah yang paling mencolok. Jalur ke Batavia hampir seluruhnya berada di sekitar pulau-pulau, beberapa pulau memiliki penduduk, dan sebagiannya lagi tidak.

Cheraboan (Cirebon) adalah koloni besar berikutnya yang terletak di wilayah pesisir, terletak di bagian timur Batavia, merupakan daerah Belanda, dimana mereka memiliki sebuah benteng dan sebuah garnisun kecil di sana.

Tagal (Tegal) juga merupakan pemukiman Belanda dengan sebuah benteng kecil untuk pertahanan dan tidak ada tempat yang lebih mengesankan lagi hingga kami tiba di Samarang (Semarang), daerah koloni yang baik dengan sebuah benteng yang terbuat dari lumpur dan kayu untuk melindungi kota tersebut.

Damack (Demak) dan Coutus (Kudus) adalah dua tempat yang terletak di antara Semarang dan Jepara. Perlu dicatat bahwa, salah satu kota tersebut kaya akan beras sehingga hasil bumi tersebut menjadi bahan ekspornya, dan yang lain menghasilkan gula yang bermutu baik dalam jumlah besar. Penduduk di kota Semarang umumnya adalah orang Cina, begitupula dengan Jepara yang tadinya memiliki sebuah pabrik Inggris, tetapi saat ini telah beralih ke tangan Belanda. Kota ini dilindungi oleh dua benteng, satu terletak di atas sebuah bukit, dan yang lain berada di dataran yang sama dengan tempat itu berdiri. Benteng ini memiliki sebuah sungai yang mengalir melewati tembok luarnya. Jalan masuk diapit oleh dua pulau yang terletak sekitar satu league dari kota. Gula putih terbaik dalam kota ini berbentuk batangan dengan harga dua dollar Belanda per pikul dengan berat bersih menurut standar Inggris sebesar 140 pon.

 

Baca Petualangan D’Almeyda ke Surabaya dan kota kuno di pedalaman Jawa Kediri.

 

Tampeira (?) adalah kota berikutnya ke arah timur dari Jepara dan dari timur kota itu terdapat Rambang (Rembang), yaitu sekitar 2 league dari sana, dimana Belanda memiliki sebuah beteng kayu kecil dan sejumlah kecil garnisun yang terdiri dari 16 orang. Kedua kota ini hanya menghasilkan kayu jati yang sangat baik untuk bahan bangunan. Dan ke arah timur dari Rambang (Rembang), terdapat Sorobay (Surabaya) yang terletak dekat dengan Pulau Madura yang merupakan pemukiman Belanda paling timur di Pulau Jawa.  Sorobay menghasilkan lada dalam jumlah berlimpah, sejumlah lilin tawon dan besi. Sorobay terletak sekitar 125 league ke arah timur dari Batavia. Daerah di sepanjang pantai ini sama indah dan berlimpah dengan biji-bijian dan buah-buahan seperti daerah lainnya di dunia. Ternak yang jinak dan hewan buruan sangat banyak, gemuk, dan murah.

(Ditulis ulang dari Jawa Tempo Doeloe, 650 tahun bertemu dunia barat 1330-1985, James R. Rush)

Ilustrasi sampul: Pemandangan kota Batavia karya Hendrick Jacobsz Dubbels 1640 – 1676

Total
151
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !