Asal Mula Kampung Melayu di Batavia

Nama Kampung Melayu di Jakarta Timur tidak bisa dilepaskan dari sosok dengan nama bernuansa Melayu kental, yaitu Wan Abdul Bagus. Beliaulah yang membuka Kampung Melayu pada tahun 1656 dan memperoleh pengakuan dari pemerintah kolonial Belanda yang melantiknya sebagai ketua orang-orang Melayu bergelar Captain Malleyer.

Wan Abdul Bagus adalah anak Ence Bagus yang kelahiran Patani, sebuah wilayah yang didominasi muslim di Thailand selatan. Telah lama Patani memiliki hubungan dekat dengan Sunda Kelapa atau Batavia. Jika benar kabar bahwa Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati adalah putera Sultan Umdatuddin bin Saiyid Nurul Alam, seorang sultan di Campa, maka Sunan tersebutlah yang berhasil menguasai Sunda Kelapa pada 21 Juni 1527. Inilah sebab mengapa banyak orang Patani hijrah ke Betawi untuk membantu mengukuhkan kedudukan Sunan Gunung Jati. Pada jamannya, Wan Abdul Bagus adalah seorang pejabat karir yang menonjol yang membaktikan diri pada kompeni.

Agar tidak menimbulkan praduga negatif, perlu diketahui dahulu gambaran umum kondisi masyarakat Batavia pada paro kedua abad 17. Bekerja pada VOC atau kompeni bukanlah perbuatan jahat atau anti kebangsaan. Sebaliknya, mendapat pekerjaan pada kongsi dagan ini bisa dibilang adalah jaminan masa depan yang cerah karena taraf kesejahteraan akan meningkat sejalan dengan adanya kepastian gaji bulanan dan jenjang promosi kepangkatan. Lagipula hanya persona dengan kualifikasi dan kecakapan tertentu saja yang dipilih. Sementara kesadaran kebangsaan atau nasionalisme Indonesia sudah tentu belum ada karena Indonesia saja belum lahir pada waktu itu.

kaliciliwung yang melintasi kampung melayu kekunoan
Kali Ciliwung di Kampung Melayu tahun1900. Sumber Foto/KITLV

Wan Abdul Bagus terkenal sebagai pegawai yang cerdas dan piawai dalam melaksanakan tugasnya, baik saat duduk di belakang meja sebagai tenaga administratif maupun saat bertugas di lapangan sebagai perwira. Ia adalah contoh pejabat karir yang mampu mencapai posisi tinggi mulai dari bawah. Awalnya ia adalah juru tulis, kemudian beralih ke berbagai jabatan di atasnya seperti juru bahasa, utusan atau duta. Kapten Wan Abdul Baguslah yang menjadi penerjemah resmi yang sempat merevisi terjemahan Katekismus Heidelberg.

Dia terlibat dalam beberapa peperangan di Jawa Tengah, yaitu pada saat kompeni membantu Mataram di bawah Amangkurat II memerangi Trunojoyo. Dalam Perang Banten, ia berada di garda depan dalam menyokong sultan boneka yaitu Sultan Haji untuk memerangi ayahnya sendiri Sultan Ageng Tirtayasa. Saat pemberontakan Jonker, Wan Abdul Bagus yang sudah berpangkat Kapten terluka cukup parah. Menjelang akhir hayatnya, saat usianya sudah di atas 80 tahun, dia mendapatkan kepercayaan dari Kompeni untuk bertindak sebagai Regeringscommisaris atau duta ke Sumatera Barat. Ia tutup usia di usia 90 tahun pada tahun 1716.

Strategi VOC untuk melindungi kota dari serangan pribumi Jawa pada waktu itu adalah dengan membangun perkampungan di sekeliling benteng kota. Orang-orang didatangkan dari berbagai daerah untuk berbagai kepentingan dan mereka diharuskan tinggal bersama orang sesukunya. Orang Bali harus tinggal di kampung Bali di sebelah barat benteng, orang Ambon harus tinggal di Kampung Ambon yang terletak di timur benteng, dan juga orang Melayu di Kampung Melayu di selatan kota. Tiap kampung berada di bawah pimpinan seorang Kapitan.

Orang Melayu telah aktif berhubungan dagang dengan bangsa Belanda, Portugis, Tionghoa dan Inggris sejak tahun 1400an. Oleh karena itulah kehadiran mereka dibutuhkan untuk mengembangkan kota batavia. Mereka umumnya berasal dari Sumatera, pulau Singapura, Malaysia, Selat Malaka dan sekitarnya.

Kapitan kepercayaan VOC tidak hanya memimpin kampungnya dan mengurusi administrasinya. Ia juga harus siap apabila sewaktu-waktu berperang untuk kepentingan VOC. Biasanya jika ada suatu etnis di kampung tertentu yang membangkang, maka pasukan dari etnis lainnya yang dikerahkan untuk menggebuknya. Atas perintah VOC, Wan Abdul Bagus dan orang-orang Melayu pernah dikerahkan untuk menumpas pemberontakan orang-orang Ambon dibawah pimpinan Kapitan Jonker di Marunda Cilincing. Jauh sebelumnya, saat suku-suku non Betawi belum dipisah-pisahkan, Kapitan Jonker pernah memimpin orang-orang Ambon bersama dengan orang Melayu berperang demi VOC di Sulawesi dan Sumatera.

Kapitan Jonker adalah contoh pejabat karir Belanda yang pada akhirnya membangkang dan tewas, sedangkan Kapitan Wan Abdul Bagus sebaliknya adalah pejabat loyal yang meninggal dalam kegelimangan harta dan kehormatan. Mulai tahun 1661 Wan Abdul Bagus menguasai tanah yang luas disebelah tepi kanan-kiri Kali Ciliwung sebelah selatan yang bersempadan dengan tanah milik Meester Cornelis. Ia mendapat tambahan tanah lagi hingga menjadi sangat luas di tahun 1669.

Setelah VOC bubar dan pemerintah Hindia Belanda menggantikannya, Kampung Melayu yang dilintasi oleh Kali Ciliwung ini masuk wilayah afdeling  Meester Cornelis di keresidenan Batavia.

Kampung pinggiran yang bersejarah sisa era VOC ini makin ramai karena letaknya yang tak jauh dari pusat afdeling yang kelak berubah menjadi kabupaten Meester Cornelis dan lalu menjadi Jatinegara. Perkembangannya makin pesat terlebih setelah kawasan ini menjadi kawasan militer dan didirikan sebuah stasiun kereta api.

Total
42
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !