Belanda yang Garang di dalam namun Lembek Keluar

 

Dalam konstelasi politik di benua Eropa di masa lalu, Belanda tidak memiliki peran yang menonjol. Bangsa yang mendiami dataran rendah di tepi samudera Atlantik ini miskin sumber daya pertanian, juga tidak superior secara militer sehingga secara alami bertahan hidup dengan menjadi pedagang. Ia hampir selalu menjadi bulan-bulanan dalam setiap konflik antar bangsa-bangsa tetangganya.

Dalam PD II, Jerman menguasai Belanda tanpa perlawanan berarti setelah Roterdam di jatuhi bom. Begitu lemahnya sampai tercatat bahwa tingkat kolaborasi Belanda adalah yang tertinggi dibandingkan negara-negara Eropa lain yang jatuh ke tangan Jerman.

Tidak ada dalam sejarahnya Belanda memunculkan sosok unggulan atau menorehkan prestasi militer gemilang yang disegani tetangganya dengan perkecualian ikut berperan dalam pengembangan cikal bakal pasukan marinir.

Demikian juga saat bercokol di nusantara, Belanda seperti bersikap pengecut bila harus berkonfrontasi dengan kekuatan terkemuka bangsa lain, namun sebaliknya sangat garang bila menghadapi perlawanan militer kerajaan-kerajaan lokal.

Terlepas dari dampak akibat PD II, Belanda seperti lemah tak berdaya saat gelombang besar bala tentara Dai Nippon menggulung wilayah Asia selatan dan tenggara tak terkecuali Hindia Belanda. Tidak ada upaya strategis militer yang berarti dalam mempertahankan koloni pentingnya yang telah dimiliki berabad-abad ini. Tidak terdengar kabar heroik layaknya kisah perlawanan Sparta menahan Persia ribuan tahun sebelumnya, alih-alih banyak kabar miring tentang kepengecutan mereka yang tunggang-langgang menghindari medan laga dan meninggalkan pos pertahanan. Berturut-turut Tarakan, Balikpapan, Minahasa, Ambon, Palembang, Pontianak, Banjarmasin jatuh sebelum akhirnya Jepang mendarat di Jawa tepatnya di Banten, Indramayu, dan Kragan (antara Rembang dan Tuban). Pusat pemerintahan di Batavia diserang pada 5 Maret 1942 dan menyusul Bandung 8 Maret 1942. Belanda memutuskan untuk mundur ke arah Kalijati hingga berujung pada penyerahannya yang tanpa syarat pada Jepang tanggal 8 Maret 1942.

Ini seperti mengulang sejarah yang terjadi lebih dari seabad sebelumnya.

Bendera Union Jack pernah berkibar megah di angkasa nusantara menggantikan bendera tiga warna (rood-wit-blauw) walau untuk sementara waktu pada tahun 1811-1816.

Napoleon Bonaparte yang tengah bangkit menyeret Perancis dalam perang besar melawan Inggris. Pasukan Grandee Armee-nya beradu kuat dengan pasukan gabungan kerajaan Inggris, Prusia (Jerman sekarang), dan Rusia di daratan benua Eropa, sehingga perang tersebut disebut perang Kontinental.

Perang utama memang berlangsung di benua biru namun dampak konflik juga merembet ke koloni masing-masing negara tersebut. Pertempuran besar tercatat pernah terjadi di Austerlitz, di delta sungai Nil Mesir, di laut Trafalgar selatan Spanyol dan di Batavia yang melibatkan 12.000 serdadu gabungan Belanda, Perancis dan Jawa melawan 15.000 tentara Inggris.

Inggris melalui gubernur jendralnya Lord Minto yang berkedudukan di Kalkutta India berencana menyerang Belanda di Jawa.

Sebelum pecah perang, Gubernur Daendels telah mengantisipasi kemungkinan ini jauh-jauh hari dengan menambah jumlah pasukan hingga mencapai sepuluh ribu prajurit. Ia memperbaiki jalan raya pos Anyer-Panarukan yang menghubungkan Jawa untuk memudahkan pengiriman logistik, pertahanan, dan mobilitas pasukan. Daendels juga membangun benteng Meester Cornelis lengkap dengan saluran air sedalam tiga meter dan selebar empat meter di Jatinegara, di belakang jalan Matraman sepanjang jalan Palmeriam (sekarang Jakarta Pusat), kemudian mengarah ke selatan dekat jalan Kemuning sebelah stasiun Jatinegara dan Jatinegara timur. Konon karena banyaknya meriam maka tempat tersebut maka dinamai Palmeriam. Tak lupa ia juga mendirikan pabrik senjata di Semarang dan Surabaya.

Persiapan Daendles yang sangat baik ini sayangnya tidak diteruskan oleh penerusnya yang kurang cakap yaitu Gubernur Jenderal Janseens.

Armada perang Inggris mengangkat sauh dari Kalkuta dan Madras si pantai timur India menuju ke tempat transit di pulau Bangka dengan tujuan berikutnya Penang. Konon ibukota pulau Bangka, Muntok berasal dari nama Lord Minto untuk menghormati gubernur Inggris yang berkedudukan di India itu. Dari Penang, armada Inggris ini kemudian berlabuh di lepas pantai Sunda Kelapa setelah berhasil merebut pulau Bourbon (Réunion) dan Mauritius milik Prancis di Samudra Hindia dan pulau Ambon dan Maluku milik Hindia-Belanda.

Sebelum memulai perang Lord Minto mengirimkan utusan yang meminta agar Belanda-Perancis menyerah tanpa syarat. Janseens menolak mentah-mentah tawaran ini walaupun ia beserta jenderal Jean Marie Jumel, komandan tempur Perancis dengan dibantu 150 perwira Perancis dan ribuan prajurit seperti tidak memiliki strategi yang jelas dalam menghadapi Inggris.

Bukannya memanfaatkan momentum dengan menyerang armada Inggris dengan tembakan meriam pertahanan pantai, pasukan Belanda-Perancis justru menggunakan strategi defensif dengan membakar gudang logistik milik pemerintah serta merusak fasilitas umum seperti jembatan dan gedung. Ini adalah sikap pengecut sia-sia yang sangat mahal harganya. Gudang-gudang logistik yang terbakar dimana-mana dan pemindahan barang yang tergesa-gesa membuat berkarung-karung kopi dan peti-peti berisi rempah-rempah berceceran di jalan raya dan dijarah oleh rakyat setempat.

Pada 4 Agustus 1811 letnan jenderal Samuel Auchmuty mendaratkan pasukannya di Cilincing. Pendaratan ini pas benar dengan antisipasi Daendels dulu karena Cilincing daratannya agak menjorok ke laut dan terbuka tanpa penghalang.

Peta Java dan Batavia 1811 kekunoan
Peta pendaratan tentara Inggris Inggris dan pengejaran terhadap paukan Belanda-Perancis 1811

Dengan terburu-buru Inggris langsung menyerang Mesteer Cornelis melalui Pulogadung dan Serani, tapi serangan ini dibatalkan karena banyak prajurit Inggris yang jatuh pingsan akibat hawa panas saat menyisir persawahan. Tanggal 7 agustus 1811 terjadi kontak senjata yang sengit di Tanjung Priok dan langsung merembet ke Ancol melalui jembatan kali Slokkan (kelak menjadi selokan dalam kosa kata bahasa Indonesia yang berarti saluran air).

Pada 8 agustus 1811 Inggris masuk kota Batavia namun tidak mendapati perlawanan pasukan Belanda-Perancis. Marinir Inggris hanya menemukan penduduk yang sedang menjarah gudang logistik. Melihat kedatangan pasukan Inggris, penjarahan sontak berhenti dan penduduk berlarian melarikan diri.

Pasukan Inggris kemudian melalui Molenvliet (jalan Gajah Mada sekarang) dan Noordwijk (sekarang jalan Juanda) bergerak mengarah ke asrama tentara di Weltevreden (hotel Borobudur sekarang) yang ternyata sudah kosong melompong.

Tanggal 12 Agustus 1811 pasukan Inggris mendapatkan perlawanan dari pasukan Perancis – Belanda dan Bugis di Struiswijk (sekarang Jalan Paseban) selama sehari penuh. Gabungan pasukan Perancis – Belanda – Bugis akhirnya mundur ke pertahanan terakhir di Meester Cornelis.

Sepuluh hari berikutnya terjadi fenomena aneh karena Perancis – Belanda tidak melakukan apapun untuk menghalau musuh. Mereka hanya bertahan secara pasif sambil sesekali membombardir pertahanan Inggris. Hari-hari dijalani secara normal, bukan dalam kondisi siaga tempur seperti seharusnya. Bahkan malam haripun dilalui dengan tidur nyenyak seakan-akan berharap musuh akan bersikap serupa sehingga akan menyerang kalau sudah bangun, mandi, dan sarapan dulu.

Menjelang tengah malam 25-26 Agustus 1811, Auchmuty melancarkan serangan mendadak ke pertahanan Belanda-Perancis di Meester Cornelis di dekat jalan Kayumanis 10 yang membuat pasukan Belanda kocar-kacir. Cukup dengan serangan pertama saja benteng sisi timur Slokkan dapat direbut sebelum matahari terbit.

Beberapa perwira Perancis meledakkan amunisi (di dekat kompleks TNI AD Urip Sumohardjo) setelah menyadari bahwa garis pertahanan mereka sudah jebol. Konon karena peristiwa itulah kini terdapat sebuah gang bernama gang Solitude (kesunyian) karena ketika Inggris sampai di situ mereka hanya menjumpai kesunyian berupa puing bangunan dan mayat berserakan. Tanpa membuang waktu, pasukan berkuda Inggris melakukan pengejaran hingga ke Buitenzorg (Bogor).

Di Bogor, pertempuran berakhir dengan memalukan karena keunggulan jumlah pasukan sama sekali tidak ada artinya tanpa dilandasi semangat rela berkorban membela tanah air. Lima ribu prajurit Belanda-Perancis berhasil ditawan, termasuk didalamnya ada 250 perwira, dan 300 pucuk meriam lengkap beserta amunisinya.

Janssens sendiri kabur dari Bogor ke Semarang sambil mengumpat-umpat karena bantuan pasukan cadangan dari kraton Jawa yang diharapkannya tidak datang tepat waktu. Pasukan cadangan itu akhirnya ditempatkan di kaki gunung Ungaran. Namun yang terjadi sungguh di luar harapan. Hanya dengan satu kali tembakan meriam saja pasukan cadangan itu semburat bubar melarikan diri padahal pasukan pengejar Inggris hanya berjumlah 1000 orang serdadu saja.

Janssens akhirnya menyerah kalah di Kali Tuntang, di utara Salatiga dengan ditandatanganinya Kapitulasi Tuntang tanggal 18 September 1811. Isi Kapitulasi Tuntang adalah bahwa Jawa dan sekitarnya dikuasai Inggris, semua tentara Belanda menjadi tawanan Inggris dan orang Belanda boleh dijadikan pegawai Inggris.

Kisah ini terekam lengkap dalam memoar  karya Mayor William Thorn dengan judul The Conquest of Java, diterbitkan di London 1815 dan dalam versi Perancis L’ile de Java Sous la Domination Francaise karya Octave JA Collet yang diterbitkan di Brussel, Belgia, tahun 1910.

 

Ilustrasi sampul adalah rendezvous armada Inggris  di Karimata th 1811 dari memoar The Conquest of Java karya Mayor William Thorn (1815)

 

Incoming search terms:

  • karena lemah dan kurang cakap Jansen menyerahkan seketika Hindia Belanda diserang
  • militr belanda lemah
  • tenatara garang
Total
169
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !