Bhagawanta Bārī Menyemai Kebaikan, Anak Cucu Menuai Kemuliaan

 

Tersebutlah seorang pendeta agung (Bhagawanta) di kerajaan Mdang (Mataram kuno) bernama Bārī yang sangat peduli lingkungan dan berwawasan ke depan. Sang bhagawanta hidup pada masa pemerintahan Rakai Warak Dyah Wanara yang naik tahta tahun 803 Masehi. Mdang masih berpusat di Jawa bagian tengah kala itu.

Beliau diceritakan telah membangun dawuhan/ tanggul, membuat sungai di Hariñjing dan mendirikan bangunan suci (dharma) didekatnya. Dawuhan tersebut sangat penting untuk menanggulangi bencana banjir dan menyediakan irigasi untuk persawahan dan perkebunan, sehingga dapat meningkatkan hasil bumi yang melimpah. Bhagawanta Bārī berupaya mencegah dan memperbaiki kerusakan lingkungan serta menampakkan sifat peduli pada orang lain.

Di ambang tuntasnya proyek, tak lupa dihadirkan para tokoh pejabat sebagai saksi dengan mengadakan jamuan pesta makan dan minum. Kerja keras ini mendapat ganjaran dari penguasa berupa pemberian status sima (bebas membayar pajak) kepada sang bhagawanta berhati mulia dan para pendeta dari daerah Culangi.

Setelah seabad berlalu, tepatnya pada tahun 921 Masehi, raja Rakai Layang Dyah Tulodong menguatkan kembali status sima Bhagawanta Bārī dan diberikan kepada keturunannya. Perbuatan baik memang akan selalu dikenang sepanjang masa sehingga manfaatnya tidak hanya dinikmati oleh yang bersangkutan saja, melainkan juga oleh anak cucu sang bhagawanta .

Pada tahun 927 Masehi surat keputusan raja yang  dikeluarkan 6 tahun sebelumnya yang diduga masih berupa rontal (ripta prasasti) atau prasasti logam (tamra prasasti) tersebut dipahat dalam bentuk prasasti batu bertanggal 7 Maret 927 Masehi.

Teladan kehidupan memang dapat dipelajari dari mana saja, termasuk dari sejarah.

Darimanakah kisah di atas didapatkan?

Tahun 1916, W. Pet, seorang Administratur Perkebunan Kopi (Koffie-Onderneming) di Desa Sukabumi wilayah Pare Karesidenan Kediri Jawa Timur melaporkan adanya prasasti batu kepada Dr. P.V. Van Stein Callenfels. Prasasti tersebut telah dipindah ke depan rumahnya dari tempat penemuan awalnya di sekitaran Kampung Baru.

Berita temuan tersebut termuat dalam laporan O.D. (Oudheidkundige Dienst/Dinas Purbakala Masa Hindia-Belanda) bertahun 1916.

Administrator selanjutnya, Th. Klusman memindahkan batu tersebut ke bangunan dekat beranda depan rumahnya. Selanjutnya, prasasti tersebut dikirim ke Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschaapen (Sekarang Museum Nasional) di Jakarta dengan nomor registrasi D 173.

Alih bahasa pertama kali dilakukan oleh Stein Callenfels dan diterbitkan dalam bukunya “De Inscriptie van Soekaboemi”. Sarjana Prancis L. Ch. Damais mengoreksi penanggalannya, selanjutnya juga terdapat beberapa koreksi oleh ahli epigrafi dalam negri, M.M Soekarto Kartoarmodjo. Awalnya prasasti ini disebut inskripsi dari Sukabumi, namun setelah terbaca isinya tentang pembuatan sungai di Hariñjing, maka disebut sebagai Prasasti Hariñjing.

Secara fisik, prasasti Hariñjing memiliki tinggi 118 sentimeter dan berdiri di atas lapik berhias bunga teratai merah (Padmāsana).

Prasasti batu tertua yang telah ditemukan sejauh ini adalah Prasasti Hamran (Salatiga) berangka tahun 750 Masehi dan Prasasti Dinoyo I dari dekat Candi Badut-Malang berangka tahun 760 Masehi yang menggunakan aksara Jawa kuno dengan bahasa sansekerta. Prasasti Hariñjing adalah yang tertua yang menggunakan aksara dan bahasa Jawa kuno.

Prasasti Hariñjing memiliki keunikan lain, yakni 3 peristiwa berbeda namun berkaitan, yang terjadi pada penanggalan yang berbeda-beda seperti berikut ini:

Prasasti Hariñjing A tahun 726 Saka ( 25 Maret 804 Masehi)

Prasasti Hariñjing B tahun 843 Saka ( 19 September 921 Masehi)

Prasasti Hariñjing C tahun 849 Saka ( 7 Maret 927 Masehi)

 

Isi prasasti secara lengkap adalah sebagai berikut:

Prasasti Hariñjing A (25 Maret 804 Masehi)


Sisi Depan (Recto)

  1. Swasti sakawarṣātīta 726 Caitra (Selamat tahun saka telah berlalu 726 Bulan Caitra[Maret-April])
  2. māsa tithi ekādaśī śuklapaksa wāra ha. wa. so tatkā (tanggal sebelas. paro terang. harinya [Ha]riyang, [Wa]gai, [So]ma/Senin (diekuivalenkan ke masehi menjadi 25 Maret 804 Masehi). Ketika
  3. la Bhagawanta Bārī i Culanggi sumaksyakan sīmaniran mula ḍawu (seorang pendeta agung [Bhagawanta] bernama Bārī dari Culanggi menyaksikan [mengudang orang untuk menjadi saksi] penetapan tanah sīmanya [tanah bebas pajak/perdikan] diperoleh dari pembuatan tanggul [ḍawuhan])
  4. han gawainira kali i Hariñjing hana ta ḷmaḥ ḍapu bhī sang apatih a (dibuatlah sungai di Hariñjing adapun tanah milik Ḍapu Bhī seorang patih tua/sepuh)
  5. tuha kāmbah deni kali hinêlyan ḷmaḥ satamwah de Bhagawanta Bārī pa (tergenang aliran [air] sungai yang mengalir [seluas] satu tamwah oleh Bhagawanta Bārī)
  6. mêgêt sang panggumulan parttaya sang kamalagyan anu hinanākan rika kāla wa (Pemutus perkara bernama Sang Panggumulan, orang kepercayaan bernama Sang Kamalagyan [datang sebagai saksi]serta yang [juga] didatangkan pada waktu itu seorang pejabat)
  7. huta sang labihan pitungtung ḍaman waca panigran ḍaman gundu parwuwus sang apatih ḍa (bernama Sang Labihan, tokoh yang ditinggikan bernama Ḍaman Waca, pembuat kesepakatan [?] bernama Ḍaman Gundu, Juru Bicara bernama Sang Apatih Ḍaman)
  8. man gundu winêkas ḍaman gandhang parwuwus ḍaman gamêl lawan ḍaman cali gusti (Gundu, Pemberi Perintah bernama Ḍaman Gandhang, Juru Bicara bernama Ḍaman Gamêl serta Ḍaman Cali, Bangsawan)
  9. ḍapu landap tuhaḍihulu ḍapu gundu …. watan. acur hulêr ḍapu …. kan apkan ḍa (bernama Ḍapu Landap, Kepala pimpinan para petugas bernama Ḍapu Gundu ……watan[?]. petugas pengatur pengairan bernama Ḍapu…….. kan[?], Petugas pengurus pasar bernama )
  10. pu undun hulu kuwu ḍapu santan wuang atuha sang wulawan lawan ḍapu patêt tuha wêrêh ḍaman (Ḍapu Undun, Pimpinan Permukiman bernama Ḍapu Santan, orang yang dituakan bernama Sang Wulawan dan Ḍapu Patêt, Pimpinan para pemuda bernama Ḍaman Er)
  11. er wariga ḍaman udaya citralekha ḍapunta waca nāhan sira rāma i paraḍah anu hinanākan (Ahli pertanggalan bernama Ḍaman Udaya, Penulis prasasti bernama Ḍapunta Waca, demikian [juga] para rāma [pimpinan daerah yang terhormat] dari Paradah yang didatangkan )
  12. rika kāla // rāma i bagu winkas ḍapu tahani gusti ḍapu natu tuhaḍihulu ḍapu garbu wka wuang (pada waktu itu // rāma dari Bagu [di antaranya] Penyampai pesan bernama Ḍapu Tahani, Bangsawan bernama Ḍapu Natu, Kepala pimpinan para petugas bernama Ḍapu Garbu, anak-anak muda)
  13. matuha saka sang er lāwan ḍapu tiwul awatas ḍaman wanyaga apêkan ḍaman wahang …. (pengatur hubungan pertemanan bernama Sang Er dan Ḍapu Tiwul, Petugas penentu batas tanah bernama Ḍaman Wanyaga, Petugas Pasar bernama Ḍaman Wahang ….. )
  14. tu ḍaman sampanna parwuwus sang majalu bsi lāwan ḍaman bangun wariga ḍapu taji tuha wêrêh daman dahara (tu [?] bernama Ḍaman Sampanna, Juru bicara bernama Sang Majalu Bsi dan Ḍaman Bangun, Ahli pertanggalan bernama Ḍapu Taji, Pimpinan para pemuda bernama Daman Dahara)
  15. ni tuha buru ḍaman kuñja tuhalas ḍaman wacana lāwan ḍaman wihar tuha kalang ḍaman wanua (Pengawas perburuan bernama Ḍaman Kuñja, Pengawas hutan bernama Ḍaman Wacana dan Ḍaman Wihar, Pemimpin golongan kalang [mungkin tukang kayu atau pembuat bangunan] bernama Ḍaman Wanua)
  16. parwuwus ḍaman lampuyang wadahuma ḍaman waca tuha padahi si bunta lāwan si kāryya kulapati i (Juru Bicara bernama Ḍaman Lampuyang, Pengatur masalah rumah tangga bernama Ḍaman Waca, Pimpinan pemain gendang bernama Si Bunta dan Si Karyya, tokoh masyarakat dari )
  17. Hariñjing ḍapunta manḍi kulapati i lalatȇng ḍapu aman kulapati i bubul dapunta karugnan tp siring anung (Hariñjing bernama Ḍapunta Manḍi, tokoh masyarakat dari Lalatêng bernama Ḍapu Aman, tokoh masyarakat dari Bubul bernama Dapunta Karugnan, dari daerah batas wilayah yang menjadi)
  18. sākṣi ḍaman guntar i garaga ḍaman damên nāhan sira. aligrama sakṣinira sakṣyakên ikana sīmanira mula (saksi bernama Ḍaman Guntar, dari daerah Garaga bernama Ḍaman Damên itulah semuanya. Orang-orang yang telah datang menjadi saksi untuk melihat secara langsung penetapan status sīma-nya [Bhagawanta Bārī] yang diperoleh dari pembuatan)
  19. ḍawuhan // kunang tinaḍah bhagawanta i ramanta gawai sang aswa syamah (?) warangan pitu, kawêrêhan inuman (tanggul [ḍawuhan] // Adapun yang diterima oleh Bhagawanta dari para pimpinan wilayah yang paling terhormat membuat selera makan menjadi nikmat, hidangan sayur-sayuran syamah [?] untuk berpesta ria tujuh minuman yang bisa membuat awet muda [kuat])
  20. amunuhatasamada (?) awaknira sira kunang yan gawai i sabya …. salwiranira // niyanta wṛddhinira mu. an. sang pa (menaruh perhatian terhadap tubuh beliau apabila mengerjakan sesuatu yang pantas dilakukan …….. segala macam // benar-benar sebuah kemajuan [daerah] yang dikerjakan beliau [Bhagawanta Bārī] beserta Sang pemutus perkara)
  21. mgat lasun deni …. bhagawanta ḍapu lanḍap …. anta …. an … (berasal dari Lasun oleh ……. Bhagawanta, Ḍapu Lanḍap …. anta ….. an …).
  22. ḍapu hadyan ḍapu sūra ḍaman kuñja panigran sang taruk ramānta ri tajam wina … sangka. i. sang arawisa (Ḍapu Hadyan, Ḍapu Sūra, Ḍaman Kuñja, pembuat kesepakatan [?] bernama Sang Taruk, Pimpinan wilayah yang terhormat dari Tajam wina[?]…. sangka[?]. dari Sang Arawisa)
  23. i sangkawu i sangkāra i sang …. i sangsala i sangngang nāhan kawṛddhini gawe Bhagawanta i (di Sangkawu, di Sangkāra, di Sang….. di Sangsala, di Sangngang, itulah sebuah kemajuan [daerah] yang dilakukan oleh Bhagawanta dari)
  24. Culanggi //-// …. i bagu i kukap i watu walu (Culanggi //-// …..di Bagu, di Kukap, di Watu Walu)
  25. …. ralan tpisiringnya watêk (……. daerah perbatasan wilayah)


Sisi Kanan:

  1. Rangga manggêhan tangkilsugih raṇda (Rangga, Manggêhan, Tangkilsugih, Raṇdamman)
  2. mman nahan sakweh nikang wanua ka (itulah semua desa yang diikutsertakan)
  3. samwahan deni gawai Bhagawanta Bārī (dalam pekerjaan [yang dilakukan oleh] Bhagawanta Bārī)


Prasasti Hariñjing B (19 September 921 Masehi)

  1. // Swasti śakawarṣātīta 843 (Selamat tahun saka telah berlalu 843)
  2. aśujimāsa tithi pañcadasi śuklapaksa wāra ha. u. (Bulan Asuji [september-oktober]. tanggal limabelas. Paro terang. Harinya [Ha]riyang, [U]manis/legi)
  3. bu nakṣatra uttarabhadrawāda ahnibudhna dewāta wṛsayoga ta ([Bu]dha/rabu (diekuivalenkan ke masehi menjadi 19 September 921 Masehi). Pada perbintangan terletak pada uttarabhadrawāda. Penguasa waktu terletak pada Waktu selama gerak bersamaan antara bulan dan matahari dalam posisi 13°20’ terletak padawṛsa )
  4. tkala ajña Śrī Mahārāja Rake Layang Dyah Tuloḍong tinadah rakryan (ketika perintah dari Śrī Mahārāja Rake Layang Dyah Tuloḍong diterima oleh Rakryan )
  5. mapatih i hino mahāmantri śrī ketudharamanimantaprabhāprabhusaktitri (Mapatih i Hino Mahāmantri Śrī Ketudharamanimantaprabhāprabhusaktitri)
  6. wikrama umingsor ing rakryan mapatih halu wka sirikan kalungwarak tiruan muang (wirama kemudian diturunkan kembali kepada [pejabat tinggi istana yaitu] Rakryan, Mapatih dari daerah Halu, Wka, Sirikan, Kalungwarak, Tiruan dan )
  7. pamgat bawang tiruan halaran kumonnakan saṣana sang dewata lumah i kwak ka (pemberi keputusan [terdiri dari] Bawang, Tiruan, Halaran memerintahkan surat perintah dari almarhum yang dicandikan di Kwak)
  8. pagȇhakna ni wka Bhagawanta Bārī sang magawai kali i Hariñjing ikanang tan kolāhala (untuk diperkuat kembali oleh anak Bhagawanta Bārī seorang tokoh yang telah membuat sungai di Hariñjing [agar] tidak diganggu gugat)
  9. deni patih wahuta rāma muang tan katamāna dening saprakāra ni mangilāla dṛbyahaji (oleh [pejabat istana terdiri dari] Patih, Wahuta, Rāma serta tidak didatangi oleh para abdi dalem istana [mangilāla dṛbyahaji])
  10. kring paḍammapuy tapahaji erhaji tuhān tuha dagang tuhā huñjamman manghuri kutak ka ([di antaranya] petugas pemadam kebakaran, penjaga tempat pertapaan milik raja [?], Penjaga air milik raja, para pimpinan, ketua perdagangan, ketua kelompok masyarakat, juru tulis di istana, Pemukul)
  11. payungngan pakalangkang pamanikan limus galuh pengaruhan manimpiki malañjang lba kalungwa (Petugas Pembawa Payung [?], Pekerja Bangunan Kayu [?], Pembuat Manik-manik, Pembuat Perhiasan Emas, Tukang Emas, Tukang Ukir, Pengawas Perjudian, Asisten Pengawas Perjudian, Kalungwarak[?], )
  12. rak wungkal tajam paranakan kḍi walyan widu mangidung singgah mamṛsi hulun haji wata (Tukang Mempertajam Batu, para anak buah dari dukun wanita, dukun laki-laki, Biduan, Singgah [?], Pejabat Keagamaan, Pelayan Raja, [golongan] yang tinggal di )
  13. k i jro ityewamādi saprakāra ni mangilala dṛbyahaji miśra paramiśra tan tamātah i (dalam [keraton] dan selanjutnya seluruh abdi dalem istana [mangilala dṛbyahaji] [khususnya] pemungut pajak usaha kerajinan tidak ingkar [memasuki] )
  14. sthā ni wka Bhagawanta Bārī i Culanggi sang girigil muang ikāng kabikuan mula sa …. mā ma (daerah tempat tinggal para anak Bhagawanta Bārī di Culanggi, Sang Girigil dan sebuah bangunan suci untuk para wiku [bhiksu] …mā ma [?])
  15. kangaran i wulahya ing waruk ing śambung ing wilang kewala pamasangnya mās su 1 maparah. (bernama di Wulahya, di Waruk, di Śambung, di Wilang hanya memasang [membayar] emas 1 suwarṇa diberikan)
  16. i śrī mahārāja mijil angkȇn cetra ka 3 i sang pamgat asing juru i kaḍiri ikang i wilang (kepada śrī mahārāja dikeluarkan [perintahnya] setiap Bulan Caitra [Maret-April] tanggal 3, kepada Sang Pemutus Perkara bernama Asing petugas di Kaḍiri, yang dari Wilang)
  17. mās 4 winijilakannya byaya ni masa rinapi i wulahya mās 1 winijilakannya ḍa (mengeluarkan 4 emas sebagai biaya bulan rinapi [pemujaan?], dari Wulahya mengeluarkan 1 emas sebagai [biaya])
  18. lāñnira ggawaiyakan ikanang dharma kali i Hariñjing nāhan bālaśrama ni mangatag ma (untuk membuat bangunan suci [dekat] sungai di Hariñjing. Itulah hadirnya asrama yang)
  19. ngkana pingsor nikanang ajña haji kinonnakan hatguhakna tan kolahulah hatka ri dhāla ning (menyebabkan diturunkannya perintah raja agar tetap dikokohkan tidak dapat diganggu gugat hingga di masa mendatang [dhāla ning dhāla])
  20. dlāha kunang yan hana patih wahuta rāma muang mangilala dṛbyahaji tan parabyapāra i sthāna ni wka Bha (apabila ada Patih, Wahuta, Rāma serta abdi dalem istana [mangilala dṛbyahaji] mengganggu di lingkungan tempat tinggal para anak)
  21. gawanta Barī ya sangkānani pramādanya salwirani langghana ring ajña haji lwiranya nigrahān ya ri mās kā 1 (Bhagawanta Barī lebih-lebih kalau melalaikan apalagi melanggar perintah raja, maka akan mendapat denda emas 1 kāti [dan])
  22. su 2 matanya deya nikana hana mangilala patih wahuta rāma kabeh kayatnāknanya soni nikeng surat (2 suwarna, oleh karena itulah untuk keberadaan abdi dalem [seperti] Patih, Wahuta, Rāma semuanya harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh yang tertulis)
  23. praśasti sāṣana śrī mahārāja //–// (dalam prasasti perintah śrī mahārāja)


Prasasti Hariñjing C (7 Maret 927 Masehi)

  1. muwah śaka 849 caitramasa tithī pratipāda śukla (serta tahun saka 849 Bulan Caitra [Maret-April] Tanggal pertama paro terang)
  2. wara wā. u. bu. Tatkala ni wka Bhagawanta Bārī mintonakan anugraha sang lumāh ri kwa (Harinya [wā]s, [u]manis, [bu]dha/rabu(diekuivalenkan ke masehi menjadi 7 Maret 927 Masehi). Ketika para anak [keturunan] Bhagawanta Bārī memperlihatkan sebuah anugerah dari almarhum yang dicandikan di Kwak)
  3. k tinaḍah rake hino mpu ketu makasambandha pakon sang pamgat momahhumah kaka (diterima oleh Rakai Hino Mpu Ketu sebagai alasannya yaitu perintah dari Sang Pemutus Perkara tentang urusan perumahan kakak)
  4. n rake sumba sang pamgat anggȇhan sang parpāt sira ta kumonnakan ikang prasasti umnahhakna ya wung (dari Rakai Sumba, Sang Pemutus Perkara tentang hubungan seseorang bernama Sang Parpāt, mereka memerintahkan agar prasasti dipahatkan pada batu)
  5. kal kweh ni wka Bhagawanta Bārī i Culanggi sang giwil sang trayi sang saśrā sang pulas ri wilang sang banat (semua anak keturunan Bhagawanta Bārī dari Culanggi [di antaranya] Sang Giwil, Sang Trayi, Sang Saśrā, Sang Pulas di Wilang, Sang Banat)
  6. sang durak ring sambung sang ngrawit sang uwir ri wulahya sang wasȇh sang bayakā ri waruk sang wadhi sang kinang nāhan (Sang Durak di Sambung, Sang Ngrawit, Sang Uwir di Wulahya, Sang Wasêh, Sang Bayakā di Waruk, Sang Wadhi, Sang Kinang. Itulah [nama-nama])


Sisi Kiri

  1. kwehnira wka Bhagawanta Bārī umanhhakan nikang (semua anak keturunan Bhagawanta Bārī yang [meminta untuk] menuliskan)
  2. prasasti ri wungkal kunang ta kweh (?) sang lumah ri kwa (prasasti di batu. Demikian pula sang tokoh yang dicandikan di Kwak)
  3. k asing umulahhulaha ikang anugraha sangyang su (?) (siapapunn yang berani mengganggu gugat anugerah sang hyang su [?])
  4. kram (?) upadrawa yan ….. kuha …. jnā….. (kram [?] akan mendapat bencana apabila…… kuha [?]…. jnā…….)
  5. ………………………………………………….. //-// (………………………………………..).
    (Casparis (1978) dalam Annisa, 2011; Atmojo, 1985:49-63; Zoetmulder, 1982; Yogi, 1996)

 

Ditulis ulang dari “Menggali Nilai-nilai Budaya dalam Prasasti Hariñjing (804-927 Masehi): (Sebuah Kebaikan yang Tak Terlupakan)” karya Aang Pambudi Nugroho, 2013

Sampul: ilustrasi pembangunan tanggul oleh Wid NS

 

Incoming search terms:

  • kebaikan dari batu dan cucu
Total
214
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !