Budha Bamiyan yang direnggut Taliban

Di lembah Bamiyan Afghanistan tengah, pernah berdiri tegak dua buah patung Budha setinggi 35 dan 53 meter selama berabad-abad.

Litografi Budha Bamiyan
Litografi yang memotret Budha Bamiyan di masa lalu

Patung yang kecil dibangun antara tahun 544 sampai 595 M, sedangkan patung ke dua antara tahun 591 hingga 644 M. Ke dua patung tersebut dipahat langsung dari kerasnya batu gunung sedangkan ornamen detilnya ditambahkan kemudian menggunakan plester yang di cat sehingga wajah patung dan lipatan kain pakaiannya terlihat jelas.

Patung yang besar berwarna merah gelap (seperti warna khas mobil mewah Italia Porches) sedangkan yang kecil berwarna-warni.

Catatan tertua yang memuat berita tentang Bamiyan dibuat oleh pendeta pengelana Budha dari Cina di abad ke-5 yang bernama Faxian (400 ce) dan Xuanzang (600 ce).

Perlu diketahui bahwa Faxian juga pernah mengunjungi nusantara dan menetap selama beberapa lama sehingga catatan-catatan perjalanannya masih menjadi salah satu acuan berharga bagi penelitian sejarah jaman klasik Indonesia.

Kala itu Bamiyan adalah pusat niaga dan salah satu pusat ajaran agama Budha yang besar dan ramai. Budhisma menyebar luas sebagian karena ajaran ini tidak merujuk pada lokasi yang spesifik. Para penganutnya bisa melakukan kegiatan religi kapan saja, di waktu apa saja dan di mana saja. Mereka tidak harus bersembahyang di situs atau biara di lokasi tertentu. Kebebasan ini mengakibatkan muculnya patung-patung bernuansa agama Budha di seluruh Asia. Di Bamiyan sekarang ini dapat dijumpai hampir 1000 gua yang terpahat di lereng gunung sepanjang 1300 meter.

Xuanzang melaporkan bahwa kedua patung Bamiyan sangat indah karena penuh perhiasan emas dan batu mulia yang berharga. Dia juga melaporkan adanya patung ke tiga, yang juga berukuran raksasa, yaitu Budha dalam posisi tidur yang berada dalam kondisi rusak tidak jauh dari lokasi kedua patung lain.

Foto relung gua Patung Budha sebelum dan sesudah dihancurkan Taliban

Malapetaka arkeologi itu terjadi di bulan Maret 2001 ketika atas perintah pemimpin Taliban Mullah Mohammed Omar, kedua peninggalan agung itu rontok berkeping-keping karena diledakkan dinamit. Alasan perusakan ini berlatar belakang perbedaan keyakinan, namun kabar lebih jauh menunjukan bahwa upaya ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap lembaga bantuan internasional yang mendahulukan konservasi patung di tengah bencana kelaparan yang mendera negara itu.

Patung Budha berdiri yang terbesar di dunia tersebut pernah dicoba dihancurkan berkali-kali. Sekira tahun 1221, penguasa Mongol Jenghis Khan mencoba merubuhkannya, disusul dengan upaya raja Persia Nader Afshar yang menembakan artileri berat, lalu raja Afghan Abdur Rahman Khan yang bahkan berhasil merusak muka patung Budha sebagai jawaban atas pemberontakan Shia Hazara.

Sebelum menggunakan dinamit, Taliban menembakan senjata anti pesawat dan artileri, namun hanya mengakibatkan kerusakan kecil. Laporan yang beredar menyatakan bahwa para ahli dari luar negerilah yang pertama-tama mendatangi para pemimpin Taliban untuk menawarkan bantuan perawatan patung dari kerusakan yang disebabkan faktor cuaca. Taliban menginginkan uang bantuan agar dialihkan untuk pembelian pangan bagi penduduk negeri yang terkoyak oleh perang tersebut. Para ahli menolak usulan tersebut karena anggaran yang tersedia telah diputuskan hanya untuk upaya restorasi patung. Di negeri di mana orang-orang bergelimpangan karena kekurangan pangan, alasan itu segera saja memicu kemarahan yang berujung pada penghancuran patung Budha Bamiyan.

Patung tersebut kini hancur total tidak tersisa. Namun, setelah penghancuran tersebut, ditemukan 50 goa baru yang 12 diantaranya terdapat lukisan dinding. Lukisan-lukisan tersebut diduga dibuat pada abad 5 dan 9 oleh seniman yang bepergian melalui jalur Sutra. Mural tersebut diduga adalah lukisan tertua yang pernah ditemukan.

Banyak negara yang bekerjasama mendukung rekonstruksi ulang dan pembangunan patung ini.

Proyek restorasi Budha Bamiyan telah dimulai dengan menggunakan teknik yang disebut anatylosis- yaitu teknik yang menggabungkan materi asli yang tersisa dengan materi modern. Diperkirakan separuh patung dapat disusun ulang seperti sebelumnya menggunakan teknik ini.

Pemandangan lembah yang subur berlatar belakang ceruk dimana patung Budha terbesar pernah berdiri berabad abad

Upaya restorasi yang dilakukan tidak lepas dari kritik berbagai pihak yang memandang bahwa situs ini sebaiknya dibiarkan saja dulu sebagaimana yang ada sekarang karena uang jutaan dolar yang dikeluarkan dapat disalurkan untuk hal yang lebih mendesak, yaitu pembangunan perumahan penduduk di negara miskin itu.

 

Total
27
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !