Catatan D’ Almeida Mengunjungi Reruntuhan Majapahit tahun 1864

 

Setelah mengantongi surat jalan, kami segera meninggalkan Surabaya pukul 5.30 pagi. Karena perjalanan ke Kediri sangat jauh, kami berangkat saat hari masih gelap agar dapat menikmati udara pagi yang sejuk selama mungkin.

Jalanan setelah Gedungtoeri sangat indah, melewati hutan jati lebat di kanan-kiri yang panjang, dilanjutkan dengan pemandangan menakjubkan dan sungai-sungai besar yang mengaliri ladang pertanian di bawahnya.

Dekat Kola-Lengtrong (?) kami melewati sebuah dam besar yang memiliki pintu air kecil-kecil disekitarnya yang dibangun dengan sangat baik, menurutku sebuah mahakarya di pulau Jawa ini. Bangunan-bangunan tersebut berfungsi untuk menampung air irigasi sehingga sawah tidak gersang pada musim kering dan untuk mengendalikan debit air saat tiba masa penggenangan.

Di ujung jembatan, kami melewati kota Modjokerto di bagian yang berpenduduk agak padat dan singgah sebentar di rumah bupati. Antara lokasi kami berada dan bungalow bupati terdapat sebuah alown-alown(alun-alun) yang lebarnya setengah mil. Di seberang alown alown terdapat tempat tinggal bupati dan pungooloo (penghulu?).

Setelah memastikan kuda-kuda cukup istirahat, kami melanjutkan perjalanan lima hingga enam mil jauhnya dari Modjokerto menuju reruntuhan Modjopahit. Situs ini berada kurang dari dua mil dari pos Gema-Khan (Gemakan?).

Menilik dari banyaknya kerang dan sisa kapal yang ditemukan di berbagai tempat di wilayah tersebut dan juga hutan di dekatnya, penduduk setempat meyakini bahwa reruntuhan ini dahulunya merupakan kota pelabuhan yang dihancurkan oleh serbuan kaum Mohammadan (kaum muslim) pada masa pemerintahan Sultan Brodwidjoyo sekira tahun 1400 Masehi.

Setelah ratusan tahun berlalu, lokasi ini kini tertutup hutan lebat dan reruntuhan yang tersisa telah berubah menjadi semacam tempat pemujaan oleh penduduk setempat karena dianggap sebagai tempat asal kakek moyang mereka dahulu tinggal. Di tempat ini penduduk setempat mendapati bahwa burung-burung selalu berkicau lebih indah dibandingkan dengan burung di tempat lain dimanapun.

Seorang penduduk yang berasal dari propinsi tetangga memiliki burung Maroboo (?) hasil tangkapan anaknya di hutan. Burung penyanyi ini, sebagaimana banyak burung serupa yang hidup di Modjophait, memiliki bulu putih bersih sempurna sehingga harganyapun mahal. Sejumlah pangeran dan bangsawan kaya yang mendengar berita tentang keindahan burung tersebut, berniat membelinya. Namun walaupun ditawar dengan harga semahal apapun, sang pemilik enggan melepaskannya. Pangeran yang sungguh-sungguh menginginkan burung tersebut tidak putus asa dan mengirimkan utusan berikutnya agar menawar lagi dengan ditukarkan 4 kuda putih dan 4 kuda hitam yang anggun dari istalnya sendiri.

“Bayar dia!, aku yakin mahluk kecil itu pastilah sepadan dengan 4 ekor kuda ku ini” ujar pangeran. Namun lagi-lagi ia harus gigit jari sambil memendam kekecewaan besar.

“Saya tidak akan melepaskan burung ini walaupun ditukarkan dengan harta paling berharga milik istana Soesuhunan. Saya telah dianugerahi berkat melimpah dan bila menjual burung ini hilanglah pula keberuntungan saya”, jelas pemilik burung pada orang suruhan sang pangeran.

Tujuan saya menceritakan kisah ini adalah untuk memberi gambaran bagaimana berharganya nilai burung-burung yang berasal dari hutan Modjophait.

Pada sebuah gundukan besar, berdirilah reruntuhan pintu gerbang tembok kota. Tinggi menara di kedua sisinya kini tinggal sekitar 35 kaki, namun dari bekas-bekasnya, bisa dipastikan dahulu menara tersebut jauh lebih tinggi saat masih berfungsi. Menara dibuat dari batu merah berjejer yang disemen berdekatan dan keduanya terpisah sejauh 10 kaki.

Pada ketinggian tanah, masih bisa ditemukan sebuah rongga dengan bekas poros gerbang yang terlihat sangat sering di buka-tutup karena telah bergeser dari tempat diletakannya semula.

Menara di sebelah kanan memiliki batas atas dan bawah pada satu sisi, dengan sudut yang terbuat dari batu bata tersusun sangat rapi. Di bawahnya, terdapat sebuah ceruk bekas tempat berdirinya sebuah figur atau patung.

Pintu gerbang ini menyambung dengan dinding yang lingkarnya barangkali seluas 10 mil. Namun tidak banyak lagi sisa tembok tersebut yang masih berdiri utuh.

Menara di sisi kiri sepenuhnya tertutup jalinan akar sebuah pohon yang sangat besar yang cabang-cabangnya menjulur kesegala arah laksana memayungi kedua pintu gerbang tersebut.

Dari pintu gerbang kami berkuda sejauh satu mil menuju kolam buatan atau tempat mandi kuno Sultana Modjophait. Bentuknya persegi panjang dan dinding buatannya dikatakan memiliki panjang mencapai setengah mil. Ketebalan dindingnya adalah 4 kaki dan terbuat dari dinding batu padat. Hanya sebagian kecil dinding yang rusak sehingga membuktikan betapa kuatnya bangunan ini dahulunya.

Pada kedua sisi seberang terdapat 2 bangunan rumah kecil  yang mugkin dahulunya befungsi sebagai tempat istirahat sebelum dan sesudah mandi.

Di depan kolam terdapat susunan tangga yang sudah rusak.

Tologo (telaga) ini sebagian dikelilingi oleh pohon Yeti (jati?) dan diantaranya dengan pohon Verengen (beringin?).

Diujung telaga terdapat jalan lebar.

Diluar bagian atas telaga terdapat hutan lebat yang bila dimasuki masih menunjukkan sisa fondasi dan labirin kamar-kamar serta pilar yang dahulunya merupakan istana sultan. Diantara pepohonan besar yang telah tumbuh ratusan tahun tersebut terdapat juga bekas bangunan tempat tinggal.

Kami melakukan pengamatan sembari memainkan imajinasi, membayangkan sebuah tempat yang dulunya pernah dipenuhi gelak tawa sukaria manusia namun kini suara tersebut berubah menjadi lolongan dan auman binatang buas yang mengoyak keheningan malam.

Kerbau berbadan besar dan kotor kini berkubang di tempat yang sama dimana air jernih dahulu pernah memantulkan kecantikan putri-putri keraton. Bising suara burung pekakak menjerit parau seraya terbang mengepakkan sayap di atas reruntuhan tempat dimana dulunya pernah mengalun merdunya musik gamelan.

Dikatakan bahwa tidak seorangpun diperbolehkan berada di tempat itu kecuali para penjaga atau insan yang beruntung mendapatkan undangan dari sultan sendiri pada hari-hari besar.

Tidak jauh dari sini, kami mengunjungi sebuah tempat pemakaman besar yang disebut Koobooran (kuburan) yang luasnya mencapai 3 setengah akre dimana terdapat 4 halaman besar dan 2 halaman kecil yang bervariasi ukurannya, mulai dari 20 hingga 35 kaki persegi. Halaman-halaman tersebut sebagian besarnya penuh berisikan nisan.

Masing-masing halaman dikelilingi oleh tembok bata kokoh khas Modjophait setinggi 5 kaki 9 inchi dengan jalan setapak dan pintu yang menghubungkan satu sama lainnya.

Perlu ditekankan bahwa ini adalah satu-satunya koobooran paling kuno terbesar yang masih ada hingga kini.

Halaman pertama merupakan sebuah bangsal beratap dengan lantai bata tinggi yang disebut Plataharan (pelataran).

Orang-orang dari tempat jauh datang untuk berziarah dan tinggal di situ selama beberapa hari memohon doa agar roh-roh nenek moyang berkenan membantu memudahkan mereka mencapai keinginannya. Tujuan lainnya adalah untuk menginspirasi agar mimpi-mimpi yang pernah dialami oleh para peziarah menuntun pada kemuliaan.

Seorang laki-laki berusia lanjut yang setengah buta menjawab pertanyaanku melalui penerjemah, bahwa ia berasal dari tempat yang sangat jauh guna memohon kesehatan dan panjang umur.

Seorang laki-laki muda yang terlihat memiliki wajah bijaksana berjalan dari Gressik (Gresik), sebuah tempat yang jauhnya 50 mil, untuk melihat apakah ia memiliki peruntungan di masa depan sebelum memulai bekerja di sebuah kapal yang berlayar menuju pelabuhan di Sumatra.

Lain lagi dengan seorang gadis muda yang dengan malu malu membisikkan wujud doanya pada kami, yakni untuk mendapatkan suami baru atau paling tidak mengenyahkan suami yang lama agar menjauhi kehidupannya. Aneh.

Dari pemandangan bangsal yang terbuka, saya bisa melihat berbagai macam peziarah yang datang. Beberapa tampak berbaring sambil tertidur, barangkali dengan dipenuhi mimpi akan penglihatan gaib. Beberapa lainnya tampak terduduk dengan satu kaki dilipat ke bawah untuk tujuan yang aku tidak pahami. Kain sarung mereka terbelit pada tubuh sambil kedua tangan tergenggam memegang lutut kaki yang satunya dan dagupun ditaruh di atas lutut tersebut. Saya diberitahu bahwa mereka bisa duduk pada posisi itu dengan tatapan mata kosong selama berjam-jam.

Penduduk setempat sangat memuja situs dimana keluarga kerajaan mereka dibaringkan. Pernah pada satu kesempatan juru kunci sampai melarang keras pengunjung Eropa seperti kami untuk berkeliaran di sekitar tempat suci tersebut. Bahkan penduduk setempatpun juga dilarang masuk sebelum melaksanakan serangkaian ritual doa pembersihan.

Frekuensi kontak dengan orang Eropa yang makin sering membuat larangan-larangan di atas semakin mengendur bahkan sebaliknya kini para juru kunci justru senang mengantar tamu berkeliling di tempat suram tersebut.

Halaman kedua memiliki dua pendopo yang dipergunakan untuk menampung sementara iring-iringan bangsawan yang hendak memasuki halaman ke tiga. Terdapat plataharan khusus bagi bagsawan untuk berdoa di sini.

Di halaman khusus bangsawan, dimakamkan jasad pangeran Modjagoaang (Mojoagung) yang meninggal kurang dari 40 tahun sebelumnya. Merupakan sebuah kehormatan bagi yang bersangkutan karena dikebumikan di koobooran ini yang merupakan pengakuan bahwa sang pangeran merupakan keturunan Brodwidjoyo atau setidaknya masih terhitung keluarga raja Madjaphait.

Selepas keluar dari halaman tersebut, kami lanjut berjalan ke sebelah kiri dengan menapaki anak tangga yang menuju makam yang lebih kecil yang memiliki lantai agak tinggi. Ini merupakan makam Sultana Darawatti, seorang wanita bijaksana pada masanya, ujar juru kunci. Sayang pengetahuan juru kunci tentang kisah hidup ratu ini tidak banyak. Tahun berapa beliau hidup tidak dapat diketahui namun menilik dari sisa makamnya mungkin beliau bertahta lebih dari 100 tahun yang lalu. Ada beberapa makam kecil di sekitarnya, salah satunya adalah makam pembantu kesayangan sang ratu.

Pohon Suma atau yang biasa disebut sebagai Sumajaya oleh orang Jawa, dan pohon Nogosarie yang besar yang memiliki kuncung kuning di tengahnya, meneduhi areal sepi ini. Selain Nagasarie, pohon Kapoo (kapuk) yang menghasilkan bahan pembuat kain berkualitas rendah selalu dapat ditemui pada area pemakaman keluarga bangsawan.

Puas melihat-lihat banyak hal yang menarik, selanjutnya kami meneguk air buah kelapa yang menyegarkan.

Pemandangan indah Kolam Segaran yang dikunjungi D'Almeida tahun 1864
Pemandangan indah Kolam Segaran yang dikunjungi D’Almeida tahun 1864 (Sumber: lensa.fotokita.net)

Setelah beberapa saat, perjalanan kami lanjutkan melewati sebuah desa yang tidak menarik dengan lahan gersang dan tanggul kering di selingi beberapa pohon jati.

Pos perhentian kami selanjutnya adalah Madjaagoang yang dulunya merupakan tempat asal pangeran yang kuburannya kami singgahi sebelumnya. Sekitar 15 mil dari sini juga terdapat reruntuhan kota yang memiliki nama yang sama, yang dihancurkan bersamaan waktunya dengan dihancurkannya Modjophait.

Sesampainya di Grapphio (?), pos perhentian kami yang ke 13, atau yang ke 6 dari Modjokerto, kuda-kuda yang masih segar mendadak berontak dan saling bertengkar satu sama lain. Karena sangat merepotkan, pihak penanggungjawab pos sampai mengganti kuda dua hingga tiga kali. Tidak jelas apakah kuda-kuda tersebut marah atau mengapa, kuda yang paling keras kepala terus saja berjingkrak dan menendang kuda lainnya.

Karena hari sudah mulai gelap saat kami hendak berangkat, pembantu kami menyiapkan obor demi alasan keselamatan. Obor-obor tersebut terbuat dari bambu yang dibelah dan berukuran besar yang kalau dari kejauhan terlihat sangat mengagumkan.

Alat ini merupakan penerangan standar bagi kereta yang bepergian di malam hari, dan apabila berpapasan dengan kereta lain dari arah berlawanan menimbulkan pemandangan yang indah.

Dalam perjalanan ke daerah pedalaman ini kami jarang berpapasan dengan kereta lain-kecuali saat melewati kota besar- namun kami berpapasan dengan kereta yang ditarik kerbau di siang hari.

Kami memasuki Kediri saat hari hampir gelap setelah duduk di atas punggung kuda 16 jam lamanya. (AGU)

 

 

——————————————————–

Sepenggal cerita kunjungan D’Almeida melewati bekas reruntuhan kerajaan Majapahit dalam perjalanannya dari Surabaya menuju ke Kediri.

Kisah ini saya terjemahkan bebas dari volume I buku Life in Jawa: With sketches of Javanese karangan William Barrington d’ Almeida tahun 1864. Beberapa kata sengaja saya biarkan sebagaimana ia ditulis untuk menambahkan nuansa kekunoan dan menyelami latar belakang pengetahuan pengarang terhadap Jawa di masa itu.

Ilustrasi:

  • Litografi Reruntuhan Majapahit Surabaya 1852-1856 karya C.W. Mieling
  • Pemandangan indah Kolam Segaran yang dikunjungi D’Almeida tahun 1864

 

Total
875
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !