Catatan Perang Komandan Shi Bi Menghukum Haji Ga-Da-Na-Ga-La

Setelah menguasai Tiongkok, Khubilai Khan segera mengadopsi tradisi Tiongkok sebagai pusat dominasi peradaban dunia. Ia mengirim utusan-utusan ke seluruh tempat di dunia yang telah diketahui keberadaannya. Para utusan menyampaikan kabar bahwa penguasa baru telah naik tahta dan meminta negara-negara yang dikunjungi untuk memperbarui pengakuan kesetiaan mereka.

Orang Tiongkok mayoritas berdagang di bagian timur pulau Jawa sehingga menganggap kerajaan Tumapel sebagai kerajaan Jawa.

Raja Tumapel Kertanegara sudah tentu tidak sudi mengakui klaim ini karena ia sendiri memiliki hasrat menyatukan nusantara di bawah Singhasari melalui kebijakan politik yang digariskannya, yang disebut dengan cakrawala mandala dwipantara. Gagasan yang kelak menginspirasi Gajah Mada.

Tidak cukup hanya dengan mengusir, Kertanegara bahkan melukai wajah sang utusan. Penghinaan ini membuat Khubilai Khan geram.

Pada bulan kedua tahun 1292 Masehi, Kaisar mengeluarkan perintah kepada gubernur Fujian agar mengirim Shi Bi, Ike Mese dan Gao Xing untuk memimpin sebuah angkatan perang menaklukan Jawa.

Berikut ini catatan Shi Bi dari naskah sejarah Cina masa dinasti Yuan ((1279 – 1368 M):

Secara umum dinyatakan bahwa Jawa terletak diseberang lautan dan lebih jauh dari Campa. Jika berangkat dari Quanzhou dan berlayar ke selatan, kita akan sampai di Campa dan selanjutnya tiba di negara ini. Kebiasaan dan produksi negara ini tidak banyak diketahui. Kebanyakan negara–negara barbar diseberang lautan menghasilkan benda–benda langka dan bernilai yang memiliki harga tinggi di Tiongkok. Penduduknya jelek dan aneh. Sifat alami dan ucapan mereka tidak bisa dimengerti orang Tionghoa.

Pada tahun 1292 Shi Bi diangkat menjadi komandan ekspedisi ke Jawa, sementara Ike Mese dan Gao Xing ditunjuk menjadi asistennya. Shi Bi dan Ike Mese adalah orang Mongol sedangkan Gao Xing dari Tiongkok. Kaisar memberinya 150 lencana stempel dan 200 gulung sutra yang akan digunakan sebagai penghargaan bagi mereka yang berprestasi.

Bulan ke Sembilan tahun 1292, sekira 20.000 prajurit telah dikumpulkan di Qingyuan (nama kuno Nungbo). Para prajurit didatangkan dari propinsi Fujian, Jiang Xi, dan Huguang. Jawa adalah satu-satunya negara yang harus diserang dengan sebuah angkatan perang lengkap; terdapat pejabat Biro Urusan Penghiburan, Biro Urusan Perdamaian, 4 Komandan Sepuluh Ribu, Komandan Perang Sayap Kanan, Komandan Sayap Kiri, perbekalan untuk 1 tahun, dan 40.000 batang perak. Titah raja adalah agar setibanya di Jawa segera diumumkan pada tentara dan rakyat Jawa bahwa Jawa dan kekaisaran sebelumnya telah menjalin hubungan yang harmonis sejak lama. Baru-baru ini raja Jawa telah melukai wajah utusan Tiongkok, Meng Qi dan pasukan kekaisaran datang untuk menghukum mereka akibat perbuatan itu.

Shi Bi dan Ike Mese melakukan perjalanan darat bersama para prajurit menuju Quanzhou sementara Gao Xing membawa perbekalan dengan kapal laut.

Pada bulan kesebelas, seluruh prajurit telah berkumpul di Quanzhou.

Pada bulan ke-12 armada mengangkat jangkar dan memulai perjalanan. Angin bertiup sangat kencang dan lautan begitu bergelombang sehingga kapal terombang-ambing. Para prajurit tidak bisa makan selama berhari-hari. Mereka melewati Samudera Tujuh Pulau (Kepulauan Paracels) dan Long Reef (Macclesfield Bank). Mereka melewati tanah Jiaozhi dan Campa.

Pada bulan pertama tahun 1293 mereka tiba di Kepulauan Dong Timur (Natuna?), Kepulauan Dong Barat (Anamba?) memasuki Samudera Hindia, dan berturut turut tiba di Pulau Zaitun, Karimata dan Gao-Lan (Belitung). Disana mereka berhenti dan menebang pohon untuk membuat perahu kecil yang akan digunakan memasuki sungai.

Pada bulan kedua tahun 1293 Ike Mese dan salah seorang komandan bawahannya berangkat terlebih dahulu untuk membawa perintah Kaisar ke negara ini. Ike Mese didampingi oleh tiga pejabat dari Biro Urusan Penghiburan yang ditugaskan untuk mengurus Jawa serta negara–negara lainnya. Selain mereka, berangkat juga seorang Komandan Sepuluh Ribu yang memimpin 500 orang dan 10 kapal.

Pasukan utama selanjutnya berlayar ke Karimon (Karimun Jawa) dan dari sana menuju ke sebuah tempat di Jawa yang disebut Du-bing-zu (Tuban). Di tempat ini Shi Bi dan Gao Xing kembali bergabung dengan Ike Mese.

Para komandan memutuskan untuk membagi dua pasukan. Pasukan pertama akan turun ke daratan sementara pasukan kedua akan mengikutinya dengan menggunakan kapal. Shi Bi berlayar menuju sebuah sungai kecil yang bernama Ba-Jie (Kali Mas). Nama Ba-Jie Jan yang berarti sungai kecil Ba Jie kini masih bisa dikenali sebagai nama sebuah desa bernama Pacekan sekitar 15 Km dari laut.

Pada waktu itu Jawa terlibat pertikaian dengan negara tetangga Kalang (Glang-glang). Raja Jawa, Haji Ga-da-na-ga-la (Haji Kartanegara) telah dibunuh oleh Pangeran Kalang yang bernama Haji Katang (Jayakatwang). Menantu Raja Jawa, Tuhan Pijaya (Raden Wijaya), telah menyerang Haji Katang tetapi tidak dapat mengalahkannya. Tuhan Pijaya mengundurkan diri ke Majapahit. Ketika dia mendengar Shi Bi dan pasukannya tiba, dia mengirimkan sejumlah utusan yang membawa informasi tentang sungai-sungai dan pelabuhan yang ada serta peta negara Kalang. Dia juga menyatakan tunduk dan memohon bantuan. Karena Tuhan Pijaya tidak dapat meninggalkan tentaranya, tiga pejabat diperintahkan untuk pergi dan menjemput Perdana Menteri Xi-la-nan-da-zha-ya (?) dan orang lainnya yang ingin datang dan menerima pasukan kaisar.

 

Baca juga kisah jatuhnya Singhasari dan pelarian Raden Wijaya menyelamatkan diri di tautan ini.

 

Dibagian hulu sungai Ba-Jie terdapat istana raja Du-ma-ban (Tumapel) dan bermuara di Laut Pu-ben (laut disebelah selatan Madura). Sungai ini merupakan jalan masuk menuju Jawa dan di sinilah mereka memutuskan untuk bertempur. Karenanya, menteri pertama Jawa Xi-ning-guan (?) tetap berada diatas sebuah perahu untuk melihat peluang mereka dalam pertempuran yang akan datang. Berulang kali dia dipanggil ditawari berunding tetapi dia tidak mau menyerah.

Para komandan pasukan kekaisaran membuat sebuah perkemahan berbentuk bulan sabit di tepi sungai. Sebuah feri disediakan dibawah komando seorang Komandan Sepuluh Ribu. Armada kapal di sungai serta kaveleri dan infanteri di daratan kemudian bergerak maju bersama. Melihat hal ini, Xi-ning-guan meninggalkan perahunya dan melarikan diri dalam kegelapan malam. Lebih dari seratus kapal besar dengan hiasan kepala setan dihaluannya dapat direbut.

Pasukan yang cukup kuat diperintahkan untuk menjaga muara Sungai Ba-Jie sedangkan pasukan utama melanjutkan gerak majunya.

Sejumlah pembawa pesan dari Tuhan Pijaya mengatakan bahwa pasukan Raja Kalang telah mengejarnya hingga Majapahit dan meminta prajurit untuk melindunginya. Ike Mese dan salah seorang letnannya bergegas menemuinya agar dia tetap bersemangat. Seorang perwira lainnya mengikutinya dengan memimpin sejumlah prajurit menuju Zhang-gu (Canggu) untuk membantu Tuhan Pijaya. Gao Xing bergerak menuju Majapahit. Karena mendengar kabar bahwa posisi prajurit Kalang tidak dapat ditentukan, dia segera kembali ke Sungai Ba-Jie. Setelah mendapat informasi dari Ike Mese bahwa pasukan musuh akan tiba malam itu, sekali lagi dia berangkat menuju Majapahit.

Pada tanggal tujuh para prajurit Kalang tiba dari tiga penjuru untuk menyerang Tuhan Pijaya.

Pada hari kedelapan dini hari, Ike Mese memimpin sebagian prajuritnya untuk menyerang musuh di barat daya tetapi tidak dapat menemukan mereka. Gao Xing bertempur dengan musuh di tenggara dan membunuh beberapa ratus prajurit musuh sementara sisanya melarikan diri ke pegunungan. Menjelang tengah hari, musuh juga datang dari barat daya. Gao Xing kembali menyerang musuh dan pada sore hari mereka dapat dikalahkan.

Gao Xing berkata : “Jawa telah dikalahkan. Walaupun demikian, jika mereka berubah pikiran dan bergabung dengan Kalang, pasukan kita akan berada dalam posisi sulit dan kita tidak tahu apa yang terjadi.”

Pada tanggal 15 pasukan dibagi menjadi tiga divisi, masing-masing dipimpin oleh Shi Bi, Gao Xing dan Ike Mese untuk menyerang Kalang. Disepakati bahwa tanggal 19 mereka akan bertemu di Da-ha (Daha) dan memulai penyerangan setelah mendengar suara Pao (Huruf yang dalam Bahasa Cina berarti ketapel raksasa dan Meriam. Karena Meriam belum ditemukan saat itu, keras dugaan pao adalah semacam petasan atau roket besar yang mampu mengeluarkan bunyi keras).

Pasukan pertama berlayar menyusuri sungai, pasukan kedua yang dipimpin Ike Mese berjalan di tepi sungai sebelah timur sedangkan pasukan ketiga yang dipimpin Gao Xing berjalan ditepi sungai sebelah barat. Tuhan Pijaya dan pasukannya berjalan di belakang.

Pada tanggal 19 mereka tiba di Daha yang memiliki tembok pertahanan. Di sana pangeran Kalang mempertahankan diri dengan dukungan lebih dari seratus ribu prajurit. Pertempuran berlangsung sejak jam 6 pagi hingga jam 2 sore. Setelah tiga kali serangan, akhirnya musuh dapat dikalahkan dan melarikan diri. Beberapa ribu diantaranya berusaha menyeberangi sungai dan tenggelam, sementara 5.000 prajurit musuh terbunuh. Raja melarikan diri ke dalam kota dan segera dikepung pasukan kami. Raja diminta untuk menyerah. Pada sore hari sang raja bernama Haji Katang keluar dari benteng dan menyatakan takluk. Mendengar hal ini, perintah dari Kaisar segera diberikan kepadanya dan dia diminta kembali ke dalam.

Negara-negara kecil lainnya merasa kagum dan menyatakan takluk pada Tiongkok. Karena putra haji Katang Xi-La-Bat-Di-Xi-La (?) dan Bu-Ha (?) melarikan diri ke pegunungan, Gao Xing bergerak ke pedalaman bersama seribu prajurit dan bisa membawanya kembali sebagai tawanan.

Pada tanggal 19 Tuhan Pijaya meminta izin kembali ke negaranya untuk mempersiapkan sebuah surat tanda takluk kepada Kaisar dan mengambil barang-barang berharga miliknya untuk dibawa ke istana. Gao Xing curiga, namun Shi Bi dan Ike Mese menyetujuinya dan mengirimkan dua orang perwira serta 200 orang untuk mengiringinya. Dalam perjalanan, Tuhan Pijaya memberontak dan membunuh kedua perwira tadi. Atas kejadian ini, seluruh anggota rombongan merasa sedih. Para jendral berencana meneruskan perang, tetapi Ike Mese meminta mereka melakukan perintah kaisar dan terlebih dahulu mengirim seorang pembawa pesan ke istana. Kedua jendral lainnya tidak menyetujuinya. Selanjutnya Haji Katang dan putranya dibunuh lalu pasukan ditarik mundur. Setelah menimbang sulitnya berperang di wilayah ini, diputuskan untuk tidak membuka perang baru.

Mengetahui Pasukan Tiongkok akan kembali ke negaranya, Tuhan Pijaya menyerang mereka dari dua arah. Shi Bi berada dibelakang dan terputus dari pasukan induk. Dia harus bertempur sepanjang jalan sejauh 300 li sebelum akhirnya tiba di kapal.

Armada perang meninggalkan Jawa tanggal 24 dengan membawa anak anak, sejumlah perwira Haji Katang dan utusan-utusan negara kecil yang menyatakan takluk. Jumlah mereka lebih dari seratus orang.

Armada tiba di Quanzhou setelah berlayar selama 68 hari.

Pasukan kehilangan 3.000 orang yang mati terbunuh. Para petugas Kekaisaran membuat catatan benda benda yang mereka bawa. Benda tersebut terdiri dari barang barang berharga, dupa, wewangian, tekstil, peta negara Jawa, catatan populasi, dan sebagainya. Seluruh benda tersebut ditaksir berharga 500.000 tahil perak. Terdapat juga sepucuk surat bertinta emas yang berasal dari negara Mu-li atau Bu-Li (apakah Bali?), benda-benda emas dan perak, cula badak, gading, dan benda-benda lainnya.

Karena kehilangan begitu banyak prajurit, Kaisar memerintahkan agar Shi Bi dihukum cambuk sebanyak 17 kali dan sepertiga hartanya disita.

Pada 1295 dia kembali diangkat menjadi pejabat. Sebuah pengingat dikirimkan kepada Kaisar. Pengingat ini menunjukkan bahwa Shi Bi dan rekan-rekannya telah berlayar menyeberangi lautan sejauh 25.000 li, memimpin pasukan menuju negara-negara yang belum pernah dikunjungi oleh para pemimpin sebelumnya, telah menangkap seorang raja dan membuat kagum serta takluk sejumlah negara kecil disekitarnya. Atas dasar itulah pengampunan harus diberikan kepadanya.

Kaisar mengembalikan barang barang milik Shi Bi yang telah disita sebelumnya dan secara bertahap menaikkannya ke jenjang karir yang paling tinggi. Pada akhirnya, dia wafat dalam usia 86 tahun.

 

 

Disalin dari buku Nusantara Dalam Catatan Tionghoa karya W.P Groeneveldt.

Menarik sekali bahwa buku ini merupakan terjemahan sebuah naskah tua yang pertama kali dipublikasikan tahun 1880 yang terkenal dengan judul Notes on the Malay Archipelago and Malacca Compiled from Chinese Resources.

Ilustrasi sampul: .Ilustrasi armada Mongol karya Sir Henry Yule 1921

Total
114
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !