Sampai di Soerakarta dalam Perjalanan Menuju Djokdjakarta

Dekat Sukowinangong, pos ke 8 dalam perjalanan dari Ngawie ke Solo, kami sudah bisa menikmati pemandangan gunung Rajah Mungko (?), Maraboo (Merbabu) yang terkenal, dan Merapi dari kejauhan.  Langit sedang biru indah-indahnya dan terlihat puncak Merapi diselimuti asap tipis. Pos pemberhentian selanjutnya terletak dekat dengan bengawan Solo. Di ketinggian terlihat sebuah rumah yang berpagar dinding rendah. Bangunan tersebut merupakan benteng garnisum yang dulu pernah menjadi markas tentara yang dengan gagah berani melawan keganasan pasukan Kanjansinong, Sultan Solo. Sultan Solo di masa sebelumnya adalah musuh yang kuat yang mengancam kekuasaan Belanda atas Jawa.

Jalan turun menuju tepi sungai sangat terjal. Karena sungainya lebar dan dalam maka kendaraan dan kuda kami diseberangkan menggunakan rakit bambu. Setelah menyeberang sungai, kami melanjutkan perjalanan dengan cepat dan tidak lama kemudian diambang memasuki ibukota Susuhunan, raja Jawa.

Pintu gerbang masuk Soerakarta sangat indah. Satu mil sebelum memasuki gerbang, kami melewati kampung-kampung yang tidak serapi dan sebersih kampung di Batavia. Jalanan menjadi teduh oleh berdirinya pohon-pohon asem yang anggun. Penduduk kulihat mengenakan sarung yang tebal dengan warna cerah hingga di bawah mata kaki. Laki-laki banyak yang mengenakan topi berbentuk pot bunga yang terbalik yang terbuat dari bambu dengan dilapisi kertas pernis hitam. Beberapa lainnya mengenakan sisir berbentuk setengah lingkaran pada rambutnya, ditancapkan sedikit di atas posisi mahkota kepala. Ini mengingatkan saya pada penduduk asli Ceylon (Sri Lanka) yang dalam banyak hal terlihat memiliki kemiripan dengan orang Jawa dibandingkan dengan penduduk negara-negara di Asia lainnya.

Cara penduduk memberi hormat pada orang Eropa sangat mengagetkan saya pada awalnya, namun setelah beberapa minggu kami jadi terbiasa. Bila kita berpapasan dengan penduduk yang menunggang kuda, mereka segera saja turun dari kuda, menunggu hingga kami lewat, dan akan membungkukkan badan semakin rendah saat kami makin dekat.

Berkali-kali aku jumpai deretan penduduk yang begitu melihat kami, bergegas berlarian menuju rumahnya dan memegangi binatang piaraannya. Yang piaraanya berada di tengah jalan segera menyeretnya ke pinggir dan sambil membuka tutup kepala dengan tangan, berdiri diam menunggu kami lewat.

Sekarang kami paham mengapa orang-orang Belanda mengeluhkan sikap penduduk di bagian timur, yang kami akui, kadang sangat kurang sopan pada tamu, jadi mungkin perlu kami ajari sebagaimana cara orang Jawa memperlakukan tuannya.

Sudah terlalu larut untuk mencapai benteng maka kami dicarikan sebuah pondok yang terlihat kotor, namun itulah satu-satunya penginapan terdekat untuk beristirahat. Makanan yang tersedia juga tidak cocok buat kami. Terpaksalah kami bermalam di tempat tersebut dengan segala ketidaknyamanannya dan pagi-pagi sekali menyuruh orang mengirim surat kepada kolonel J___ di benteng.

Sang kolonel yang gentleman beserta nyonya langsung mengundang kami datang ke rumahnya. Beliau bahkan mengirimkan kereta kuda pribadinya untuk menjemput lalu menyediakan segala fasilitas dengan sangat ramah selama masa tinggal kami di Soerakarta atau penduduk setempat menyebutnya Solo.

Para pedagang di Malaka menggunakan nama Solo sebagai media promosi untuk meningkatkan nilai senjata yang mereka impor.

“Dimanakah Anda dapat menemukan Kriss (keris) yang lebih bagus dari ini? Allah, Tuan, senjata ini berasal dari tanah Solo, tempat asalnya senjata yang paling tajam dan kuat. Tidak ada yang bisa mengalahkan Kriss Solo, tidak juga keris orang Bugis.”

Kecuali gagangnya yang dikerjakan di Melayu, kriss adalah benda yang terkenal berkualitas karena senjata Solo ini dihargai sangat tinggi.

Soerakarta dikelilingi oleh 5 propinsi. Iklimnya sedang dan sehat, tidak terlalu panas, pagi hari biasanya sangat sejuk dan segar.

Karena ada banyak peristiwa penting di propinsi ini, maka aku akan menceritakan beberapa kisah kehidupan pangerannya yang barangkali menarik bagi yang belum tahu banyak tentang Jawa dan sejarahnya.

Saat kejatuhan Modjophait akibat serangan pasukan muslim, seorang keturunan raja kabur mengungsi bersama dengan para pengikutnya ke daerah pedalaman sambil menaklukan beberapa penguasa kecil yang menentang, lantas menetap di kota kecil bernama Padjang. Mereka kemudian membangun dinding kota dan menamainya Kraton. Seiring berjalannya waktu, ia memperluas wilayahnya ke timur hingga ke Passeroewan dan semua wilayah 50-60 mil ke arah barat Kraton. Ia kemudian menyandang gelar ratu atau raja Padjang, sebuah martabat yang tidak lama ia nikmati dalam kedamaian.

Musuhnya, yang makin iri mengetahui Padjang makin berkembang, berbaris memasuki wilayah kekuasaannya sehingga langsung dihadang oleh pasukan besar dibawah pimpinan panglima kesayangan raja bernama Pamanahan.

Pamanahan menunjukkan keberanian luar biasa dan berhasil memaksa musuh mundur.

Berkat kemenangan ini, raja Pajang menganugerahkan sebuah wilayah pada Pamanahan dan memberinya gelar Kiahi-gede Matarram atau pangeran Matarram. Anugerah agung yang boleh ia sandang seumur hidup ini sayangnya tidak bisa dinikmati untuk waktu yang lama.

Setelah Pamanahan meninggal, ia digantikan oleh putranya yang bergelar Sultan Senopati Wongalogo. Alih-alih menunjukkan kesetiaan pada junjungan ayahandanya yang pemurah, pemuda yang ambisius ini malah berupaya membangun sebuah Kraton untuknya sendiri yang dinamainya Passar Gede.

Sultan Padjang yang mendengar kabar pemberontakan ini segera mengirim utusan dengan perintah agar segera menghancurkan Kraton baru. Pangeran muda tidak hanya menghina utusan sultan Padjang, melainkan juga mengirim pesan pembangkangan sambil tetap meneruskan pembangunan Kratonnya yang disuruh hancurkan. Walaupun utusannya ditertawakan dan dicemooh, raja Padjang masih belum mengirimkan tuntutan lain atau menunjukkan tanda permusuhan karena masih mengupayakan cara yang lain.

Mengira gertakannya berhasil, pangeran muda sangat percaya diri. Ia keburu takabur.

Raja Padjang menyadari bahwa penguasa muda tersebut tidak mengindahkannya. Karena tidak dapat dibujuk dengan baik, maka pada tahun 1586 Sultan memutuskan untuk menghabisi pangeran pembangkang tersebut dengan racun atau kekerasan senjata. Pangeran muda tewas.

Setelah upaya sultan Padjang berhasil, tanpa membuang waktu ia mengambil alih Passar Gede dan segera menyatakan diri sebagai Sultan Padjang dan Raja Matarram.

Pemerintahannya berjalan hingga 3 penerus. Penguasa yang keempat yang bernama Mangkuraht I meninggalkan Kraton yang didirikan kakek moyangnya itu kemudian membangun yang baru 1 mil jauhnya yang dinamainya Karta Soera yang berarti Karya Pahlawan.

Penguasa kelima memakai gelar Susuhunan Pakoe Bowono I, atau Paku Alam Semesta dan anaknya yang menggantikannya tahun 1719 menyandang gelar Hamaigku Raht II yang nama aslinya Mangko Negoro.

Dua saudara Mangko Negoro inilah yang tak henti–hentinya melakukan perlawanan terhadap Belanda selama beberapa tahun hingga akhirnya berkat siasat Elberfeld, berhasil diasingkan ke salah satu pulau di Moluccas (Maluku).

Pada masa Pakoe Bowono II yang naik tahta 9 tahun setelah kematian ayahnya yakni Hamanku Raht II, Kraton diserbu oleh pemberontak Cina yang mengakibatkan Sultan dan pengikutnya nyaris tidak selamat. Hamanku beberapa kali mencoba mengusir pemberontak namun tidak pernah berhasil sehingga dia meminta bantuan Belanda. Dengan disokong Belanda, Hamanku pun keluar sebagai pemenang. Sebagai imbalan atas jasa yang dikeluarkannya, Belanda memaksakan beberapa konsesi tanah.

Kraton yang pernah diduduki musuh dianggap sudah tidak bertuah sehingga Sultan membangun Kraton baru yang dia sebut Soera-Karta. Sultan tidak lama menikmati keraton barunya dengan tenang karena timbul masalah dan kesulitan yang baru.

Saudaranya yang ketiga, yang mungkin telah dihasut oleh pihak–pihak yang berseberangan dengannya, meminta hak atas tahta. Hamanku yang enggan menumpahkan darah memutuskan untuk mengundang Belanda agar bertindak sebagai pengadil guna menyelesaikan perselisihan. Permintaan ini sesuai benar dengan permainan politik yang direncanakan Belanda.

Mereka membagi Kerajaan Padjang menjadi Provinsi Soerakarta dan Djokdjokarta sehingga memperlemah apa yang tadinya satu negara kuat. Kerajaan pertama yang ukurannya lebih besar dan terletak di tengah – tengah Pulau Jawa diperintah oleh Susuhunan, sedangkan kerajaan yang kedua diperintah oleh saudara dari Hamanku yang menyandang gelar Hamankoe Bewono I, Sultan Djokdja.

Susuhunan tinggal di Kraton yang kemudian aku kunjungi. Belanda dan Inggris memberinya gelar kaisar Jawa. Walau ia dan raja yang satunya lagi merupakan raja yang independen namun semua tahu bahwa gerak–gerik kedua penguasa ini diawasi dengan ketat oleh Belanda. Satu–satunya wewenang sejati mereka hanyalah dalam urusan pengelolaan urusan dalam negeri sendiri dan wewenang untuk mengizinkan tanah mereka dimanfaatkan oleh orang Eropa atau orang Cina untuk agrikultur.

Susuhunan dan pangeran–pangeran sebagai pemilik tanah mempunyai pasukan Kavaleri dan Infanteri mereka sendiri, semacam tuan tanah atau milisia yang memiliki disiplin dan peralatan layaknya tentara Belanda; masing–masing resimen memiliki seorang mayor Belanda, kapten belanda, dan bendera Belanda. Perwira–perwiranya ditunjuk oleh sang pangeran sendiri.

Sejauh yang bisa ku lihat dan ku pelajari, para penguasa pribumi sudah sangat puas dengan kedudukan mereka saat ini. Pangkat dan gelar yang dari waktu ke waktu disematkan oleh Raja Belanda dianggap sebagai tanda kehormatan yang mereka terima dengan penuh kebanggaan. Belanda menciptakan sedikit kecemburuan dan persaingan diantara keduanya sambil pada saat bersamaan mempertahankan perdamaian. Begitulah sejarahnya.

Baca juga kisah perjalanan D’Almeida yang lain saat berada di:

Kembali ke cerita tentang tempat yang aku kunjungi sekarang, benteng Belanda Di Soerakarta ini terletak di pusat kota dimana terdapat 4 jalan yang bercabang kearah yang berlawanan. Benteng ini dikelilingi selokan yang dalam yang terus menerus diisi dengan air. Dinding benteng dipasangi senjata berkaliber besar. Senjata tersebut bisa dengan mudah diarahkan ke gerbang luar kraton yang tidak jauh letaknya apabila sewaktu-waktu terjadi pemberontakan. Di depan benteng terdapat sejumlah perumahan orang Eropa dan dibelakang perumahan adalah Cota Blunda atau Kota Tua Belanda, satu–satunya bagian kota dimana orang Eropa dapat tinggal dengan aman dan bebas dari ancaman serangan penduduk lokal yang berbahaya. Namun beberapa tahun belakangan keadaan sudah sangat aman sehingga orang Eropa boleh tinggal di mana saja mereka suka.

Di sisi kiri, di seberang jalan terdapat bekas reruntuhan tembok kraton lama yang telah ditumbuhi tanaman liar di sana-sini. Di sebelah kanan terdapat jalan Peppay, sesuai dengan nama sungai yang mengalir di situ yang memisahkan hunian orang Cina dari hunian orang Eropa. Aku tidak yakin kapan benteng ini dibangun, mungkin sekitar tahun 1672. Jalanan dekat benteng dipenuhi pepohonan sehingga dari jauh sepenuhnya menutupi tembok benteng. Kuperhatikan bahwa semua bangunan semacam ini diseluruh pulau, selalu dikelilingi dengan tanaman yang tinggi yang memang sengaja direncanakan. Beberapa diantaranya dengan pepohonan bambu sehingga benteng menjadi sepenuhnya terlindungi. Tujuannya adalah bahwa pada masa perang pohon dapat menyembunyikan senjata dan juga berfungsi sebagai dinding gabion untuk memperkuat bagian yang lemah.

Aku diberitahu bahwa 12 atau 13 tahun yang lalu jembatan didepan benteng selalu diangkat tiap malam dan diturunkan lagi di pagi harinya. Sekarang tidak lagi. Penjaga juga selalu ditempatkan di Cota Blunda karena pada masa itu sering terjadi pembunuhan di malam hari, di mana saja diseluruh bagian kota, khususnya di Jalan Peppay yang bisa dibilang berada tepat diluar benteng. Pembunuh selalu berhasil lolos karena penduduk menutup mulut rapat–rapat. Mereka khawatir apabila membocorkan pelakunya maka kawanannya akan membalas dendam. Orang Jawa menyebutnya sebagai jaman dimana “nyawa hanya seharga daun yang dipetik.”

Korban pembunuhan kebanyakan orang Cina atau penduduk asli dengan motif utama perampokan atau sentimen pribadi. Kadang kadang mayat korban dilempar ke sungai yang dangkal atau cukup diletakkan saja di jalanan agar dilihat oleh orang yang lewat.

Sungguh masa-masa yang menakutkan sampai orang tidak berani pergi keluar rumah sesudah petang. Pemerintah Belanda yang merasa perlu menegakkan ketertiban menghadap ke Susuhunan dan menyarankan agar diterbitkan undang-undang untuk melindungi keselamatan penduduk. Aturan ini segera menunjukkan hasil. Pengawasan yang ketat dilakukan terhadap pihak-pihak yang dicurigai yang akhirnya tertangkap dan terbukti bersalah, lalu dihukum mati. Eksekusi terhadap para penjahat ini ampuh menjadi pembelajaran bagi masyarakat terbukti angka kejahatan makin menurun. Aku berani mengatakan bahwa hari ini tidak ada tempat lain dimanapun yang lebih aman di Jawa, selain di Soerakarta.

Garnisun tentara pemerintah terdiri dari orang orang Belanda, Swiss dan Afrika. Tentara Afrika sebagian besar berbadan tinggi, tegap, pekerja keras dan adalah tentara yang tahan banting. Setelah berdinas selama 12 tahun mereka akan menerima pensiun dan diizinkan untuk menetap di Jawa atau kembali ke tanah asalnya.

 

 Volume II: Life in Java with Sketches of Javanese karangan William Barington D’Almeida tahun 1864

Ilustrasi sampul: Pemandangan Gunung Merbabu dan Merapi karya Raden Saleh

Beberapa kata berkenaan dengan tempat atau nama dibiarkan tidak dirubah sebagaimana aslinya untuk memberikan nuansa kekunoan waktu itu.

 

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !