Dubes Portugis Ikut Menjadi Saksi Akhir Kejayaan Majapahit

Tome Pires adalah seorang apoteker pribadi Pangeran Alfonso, putera raja Manuel, pemegang tahta kerajaan Portugis. Ia dikirim ke Malaka untuk menjadi akuntan, editor dan juru tulis di koloni Portugis tersebut. Ia dianggap berjasa bagi sejarah, termasuk sejarah Indonesia abad XVI karena catatan yang ditinggalkannya yang berjudul Suma Oriental.  Jurnal tersebut ditulisnya di India dan Malaka selama periode tahun 1512-1515 mengenai dunia timur yang ia kunjungi, mulai dari Laut Merah di Asia Tengah hingga ke Jepang.

Para ahli sempat terheran-heran mengapa catatan yang dibuat awal abad XVI ini bisa luput dari perhatian umum, tersembunyi begitu lama di Perpustakaan Dewan Perwakilan Rakyat Perancis ( Bibliotheque d ela Chambre  des Deputes). Catatan ini baru ditemukan kembali oleh Armando Cortesao pada tahun 1937 dan disunting untuk diterbitkan oleh Hakluyt Society London tahun 1944.

Bayangkan, sumber sejarah sepenting ini bisa terselip 400 tahun lamanya sebelum muncul ke permukaan.

Meskipun secara umum gaya penulisan Tome Pires dirasa kurang menarik, namun ia menutupi kekurangannya dengan mengamati sungguh-sungguh tempat-tempat yang ia kunjungi dan berusaha melakukan deskripsi secermat mungkin.

Di nusantara, Pires mengunjungi Camotora (Sumatera), Cumda (Sunda), dan Jawa.

Sumatera dilukiskannya sebagai pulau besar yang banyak penduduk dan kerajaannya. Terdapat 19 ‘reino’ atau kerajaan yang diantaranya adalah Achey, Lambry, Pedir, Pirada, pacee, Bata, Campar, Tiquo dan Menamcabo. Silakan tebak sendiri mana sajakah tempat-tempat itu sekarang. Terdapat juga 11 ‘terra’, yakni wilayah atau negri, seperti Biar, Aeilabu dan Jamby. Pedalaman Sumatera disebutnya sangat kaya akan emas.

‘Cumda’ atau Sunda adalah kerajaan kaya raya. Raja kerajaan pagan ini memelihara 40 ekor gajah. Kuda berkembang biak dengan pesat di wilayah ini hingga mencapai 4000 lebih jumlahnya. Pelaut-pelaut Sunda sangat pemberani dan selalu siap berperang. Dalam hal ini, dikatakannya mengungguli orang Jawa. Perbatasan kerajaan Sunda dan Jawa adalah sungai ‘Chi Manuk'(Cimanuk). Penduduk Sunda dan Jawa tidak bermusuhan namun tidak juga berkawan. Masing-masing mengurusi urusannya sendiri-sendiri walaupun tetap ada hubungan dagang antara ke dua negri ini.

Kerajaan Sunda tidak mengijinkan masuknya ‘orang Moor’, sebutan Portugis untuk muslim, kecuali beberapa saja. Mereka khawatir bahwa apa yang terjadi di Jawa (mulai berkuasanya kaum muslim di Pantai Utara Jawa) akan terjadi juga di kerajaan mereka. Pelabuhan terbesar Sunda adalah Calapa, yang bisa diduga adalah Sunda Kelapa

Mengenai Jawa, Pires mendengar kisah bahwa dahulunya Jawa berkuasa mulai Sumatera di barat hingga ke “Maluco” di timur. Hampir seluruh Sumatera dikuasai, demikian juga pulau apa saja disekitarnya yang ditemui orang Jawa. Berkat kekuasaanya itulah orang Jawa yang kafir dulu mampu berlayar ke berbagai tempat yang sangat jauh seperti Aden, benggala, dan Pase. Pusat kegiatan dagang Jawa bernama ‘Banuaquelim’, mungkin yang dimaksud adalah Benua Kling. Pendek kata, semua wilayah perdagangan dikuasai.

Volume perdagangan sangat tinggi kala itu, dengan jumlah komoditi yang besar di sepanjang rute pelayaran, sehingga begitu banyak mendatangkan keuntungan. Pedagang-pedagang datang dari berbagai tempat, diantaranya Cina, Arab, Parsi, Gujarat, ‘Balgale’, dan banyak bangsa lain. Begitu prospektifnya kegiatan ekonomi pada masa tersebut sehingga kaum muslim berketetapan hati untuk membawa serta ajarannya ke pantai-pantai Jawa bersama dagangan mereka. Mereka menjadi kaya dan berhasil mendirikan masjid-masjid. Ulama-ulama pun berdatangan ke Jawa. Setelah 70 tahun, anak-anak keturunan mereka sudah menjadi Jawa dan kaya. Di beberapa tempat, para pembesar asli Jawa bahkan tertarik menjadi muslim. Mereka-mereka inilah yang akhirnya berhasil menguasai wilayah pantai, mengambil alih perdagangan dan kekuasaan di Jawa.

Pulau Jawa adalah sebuah negri yang luasnya empat ratus ‘league’, liga, mulai dari ‘Chi Manuk’ hingga ke ‘Blambangan’ di ujung timur, kemudian memutar sepanjang sisinya yang lain lalu sampai ke ujungnya lagi. Satu liga sama dengan tiga mil. Bentuk pulau bagus, tidak berawa-rawa, dan sangat sehat mirip dengan Portugal, begitu kata Pires.

Kekuasaan yang luas ini berlangsung selama seratus tahun sebelum akhirnya menyusut.

Raja Jawa adalah seorang kafir bernama ‘Batara Vojyaya’, ejaan lidah Portugis untuk Brawijaya. Para penguasa Jawa berperawakan tinggi dan tampan serta para bangsawannya tidak ada tandingannya. Mereka mengenakan banyak perhiasan, demikian pula kuda-kudanya juga dipenuhi perhiasan. Mereka menggunakan berbagai jenis pedang, keris, dan tombak yang semuanya dihiasi dengan emas. Mereka adalah pemburu dan penunggang kuda yang handal. Pijakan kaki dan pelana kuda pun juga berlapis dari emas, tidak pernah hal ini dijumpainya di tempat lain.

Negeri Jawa bagian pedalaman berpenduduk padat dan memiliki banyak kota besar. Salah satunya adalah Kota ‘Dayo’, di mana raja tinggal. Raja jarang menampakkan diri di depan umum, melainkan hanya satu-dua kali setahun.

Saat Pires tiba awal abad XVI, raja sudah tidak berkuasa lagi. Yang menjalankan roda pemerintahan adalah ‘Guste Pate’ (Gusti Patih) yang sebelumnya dikenal dengan nama Pate Amdura. Dia menguasai seluruh Jawa di wilayah kaum pagan. (Pagan dalam pemahaman orang Eropa saat itu artinya masih menyembah berhala). ‘Guste Pate’ adalah mertua raja Jawa. Ia seorang kesatria yang selalu maju perang. Ia berperang melawan kaum ‘Moor’ di pesisir pantai, terutama dengan penguasa ‘Demaa’(Demak). Pada saat maju perang, ia selalu membawa 200.000 prajurit, yang mana 2.000 di antaranya adalah pasukan berkuda, dan 4.000 pasukan bersenapan….”

Ia memerintah segala aspek. Ia menggenggam Raja di tangannya, bahkan iapun berhak memberikan perintah agar raja diberi makan. Sang Raja sudah tidak memiliki suara dalam hal apa pun, juga tidak lagi dianggap penting. Rakyat Jawa sudah tidak lagi percaya kepada Raja karena kecewa telah kehilangan sebagian besar tanah mereka.

Di dalam istana, Raja dan para bangsawan hidup dalam kesenangan, pesta, dikelilingi para istri dan selir. Konon, Raja memperkerjakan 1.000 orang kasim untuk menjaga mereka, di mana para kasim ini juga berpakaian wanita.

Pires menjabarkan bahwa kemunduran Jawa mengakibatkan banyak wilayah kekuasaan yang melepaskan diri. Kemunduran ini disebabkan oleh orang Jawa sendiri yang terlalu percaya diri dan terlalu menikmati kehidupan. Pires singgah di nusantara di masa-masa sulit tersebut.

Setelah dari Jawa, Tome Pires bertolak ke Cina pada 1517 untuk menjadi duta pertama Portugal di negri itu. Pires menyangka bahwa jabatan itu merupakan puncak karirnya, namun ia salah duga.

Kaisar Cina ternyata telah mendapat laporan negatif mengenai kelakuan orang-orang Portugis. Diisukan pula bahwa mereka menculik anak-anak untuk dipanggang dan dimakan. Sebelumnya raja Malaka, yang kebetulan secara resmi dianggap sebagai vasal kekaisaran Cina menghadap kaisar untuk meminta bantuan melawan Portugis.

Pires dan anak buahnya sempat dipenjara di Kanton setelah diusir dari Beijing dan barang-barang persembahannya ditolak. Kaisar Cina tidak terpengaruh sama sekali terhadap nama besar Portugal sebagai kekuatan adi daya maritim kala itu.

Tome Pires tidak pernah kembali ke Portugal, namun juga tidak ditemukan dimana ia tinggal sampai seorang pengelana Portugis lain bernama Fernando Mendez Pinto bertemu dengan wanita yang mengaku sebagai anak Tome Pires di tahun 1543. Wanita tersebut memperkenalkan diri dengan nama Ines de Leiria. Pires yang sudah duda saat meninggalkan Portugal lalu mengawini ibu wanita itu di Sampitay, sebuah kota kecil di perbatasan utara propinsi Kiangsu. Rupanya di kota itulah Pires dibuang seusai dari Kanton.

Pires berusia 43 tahun saat meninggalkan Portugal pada 20 April 1511 dan diperkirakan meninggal pada usia 70 tahun di Cina tanpa diketahui dimana kuburnya.

 

Bahan bacaan: Dari Buku ke Buku, P. Swantoro, Suma Oriental, Catatan Hari Purwanto di FB

Gambar sampul: Ilustrasi penyambutan utusan asing oleh raja pedalaman

Incoming search terms:

  • Bangsa portugis yang tahu akhir majapahit
Total
185
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !