Menaruh Syak pada Hasil Penelitian si Bapak Studi Historiografi Jawa

 “Bapak Studi Historiografi Jawa”; julukan mentereng yang tidak main-main itu disematkan pada Dr. Jan Laurens Andries Brandes. Brandes mulai melihat terang dunia pada 13 Januari 1857 di Rotterdam dan menghadap penciptanya pada 26 Januari 1905 di Batavia. Relatif pendek usianya, hanya 48 tahun, namun panjang sekali orang membincangkan salah satu buah penelitiannya yakni Pararaton. Kakawin ini lahir dari keasyikannya tenggelam menerjemahkan berbagai kropak naskah-naskah rontal yang waktu itu ada di museum Batavia dan belum tersentuh sama sekali.

Pararaton mengandung kisah fantasi yang berbau mitologi. Sang pujangganya, yang belum lagi ketahuan namanya, mengguritkan tinta sekira dua hingga tiga ratusan tahun setelah masa berlangsungnya kejadian (kabarnya pararaton ditulis tahun 1613 Masehi). Jarak yang terentang sejauh 5-8 generasi tersebut membuat keakuratan naskah diragukan. Apalagi di masa itu Islam tengah mulai berkembang di Jawa, menggusur tata kehidupan lama yang bercorak Hindu-Buddha.

Banyak yang memicingkan mata, mencurigai perang Bubat antara Majapahit melawan Sunda dari sumber Pararaton sebagai upaya Belanda memecah belah persatuan kita. Pembohongan sejarah katanya. Tidak sedikit yang menyatakan keberadaan tokoh Ken Angrok dalam Pararaton sebagai rekaan belaka. Alih-alih sumber rujukan sejarah, ramai orang pesimis menyebutnya sampah karya penjajah belaka. Ungkapan yang agak kurang ajar bila merunut latar belakang keilmuan Brandes.

 

Baca Kisah Ken Angrok dan Nama-nama tempat Petualangannya yang disebutkan dalam Pararaton yang Masih Ada di Malang.

 

Puncak pencapaiannya yang lain, yakni Negarakretagama justru mendapatkan penerimaan sebaliknya. Kekuatan Negarakertagama terletak pada gaya penulisannya yang lahir dari sudut pandang penulis sendiri yang (sebagian besar) hadir di tempat kejadian layaknya laporan pandangan mata. Sang pujangganya, Prapanca memang ikut serta dalam rombongan kerajaan. Negarakretagama menceritakan kronologi perjalanan Hayam Wuruk ke berbagai wilayah yang jauh dari ibukota kerajaan, hubungan keluarga raja, nama-nama pembesar negara, jalannya pemerintahan, desa-desa, tanah perdikan, keadaan sosial, politik, keagamaan, dan adat istiadat dan lain-lain yang sifatnya normatif-informatif. Tak pelak Negarakretagamapun mendapatkan nomor urut tinggi sebagai sumber sejarah yang valid.

Patut diketahui bahwa kakawin ini masihlah merupakan puja sastra sehingga cenderung menyanjung penguasa dan menyembunyikan kejelekannya.

 

Jangan lewatkan artikel tentang Prapanca, Pelopor Arkeologi Sejarah Indonesia, Penyusun Negarakretagama.

 

Sungguh unik bagaimana dua mahakarya buah tangan orang yang sama mendapatkan kritik dan perlakuan yang berbeda dalam masyarakat.

 

Baca juga Satu Seperempat Abad Naskah Kuno tapi Baru Pararaton dan Negarakretagama.

 

Saat masih mahasiswa di Universitas Leiden, atas kemauannya sendiri Brandes sudah mempelajari bahasa Jawa kuno dan epigrafi. Tahun 1887, ia sudah meghasilkan “Catatan Mengenai Inskripsi-Inskripsi yang Terdapat di Berbagai Benda, dan Inventarisasi Sementara Batu-Batu Bertulis” yang kelak menjadi bagian lampiran dari Katalog Benda-Benda Arkeologis Indonesia.

Brades menekuni historiografi Jawa setelah meyadari bahwa penelitian kepurbakalaan Jawa, seperti candi dan prasasti hanya akan mencapai hasil yang maksimal bila disertai dengan pengetahuan dan sejarah. Ia sangat tidak puas dengan cerita sejarah yang sudah ada dan yang disebut babad. “Babad kronologi waktunya kacau dan bercampur baur dengan berbagai fantasi”, ujarnya.

Tugas Brandes setelah tiba di Hindia – Belanda yang pertama adalah meneliti penemuan-penemuan baru di bidang kepurbakalaan dan memahami artinya. Di Museum Batavia, terdapat kumpulan inskripsi pada batu dan kuningan yang sangat banyak, yang belum tersentuh siapapun. Brandes dengan tekun menerjemahkan semuanya. Sungguh kerja keras yang banyak menyita waktu dan tenaga yang luar biasa.

Sesudahnya Brandes diserahi tugas menangani inskripsi berbahasa Sansekerta yang ditemukan pada penggalian di Kalasan dan Kali Bening. Maka wajar pula Brandeslah yang pertama diserahi memimpin suatu komisi penelitian kepurbakalaan di Jawa dan Madura, cikal bakal Dinas Kepurbakalaan Hindia – Belanda Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch Indie.

Berkat penelusurannya selama bertahun-tahun dan pengetahuannya yang luas mengenai bahasa Jawa kuno, maka pengungkapan sejarah dan sumber-sumbernya semakin berkembang. Satu hal yang belum pernah dilakukan orang pada masa itu.

Sebagai personil Bataviaasch Genootschap, Brandes ikut dalam misi perang Lombok untuk menyelamatkan naskah-naskah kuno yang dimiliki oleh Raja Lombok. Awal Oktober 1894, Brandes menerima rampasan perang tertulis berupa buku-buku lontar lawas yang bagi siapapun seperti benda remeh tidak penting, namun bagi ilmuwan merupakan barang yang tidak dapat dinilai dengan uang.

Dalam penilaian pemerintah kolonial pada umumnya, Raja Lombok memang dikenal sangat kaya raya. Ungkapan yang tepat kecuali di mata Brandes dan para ilmuwan selain emas, perak, intan, berlian, kekayaannya berupa khazanah budaya yang tidak ternilai harganya. Brandes merasa sangat beruntung dapat mengunjungi perpustakaan Hindu yang menyimpan buku-buku lontar yang sangat kaya dari kerajaan Lombok.

Yang banyak orang lupa, selain Negarakretagama dan Pararaton, Brandes yang sangat mencintai Jawa dan sangat produktif menulis menghasilkan banyak sekali karya ilmiah dan menelurkan dua karya monografi. Pertama, Beschrijvingvan de Ruine bij de Desa Tumpang, Genoemd Tjandi Djago in Residentie Pasoeroehan, Deskripsi Reruntuhan di Desa Tumpang, Bernama Candi Jago Residensi Pasuruhan. Mahakarya ini dilengkapi dengan 104 gambar, 24 lukisan bangunan, dan sebuah peta. Monografi kedua, adalah mengenai Candi Singhasari dan Penataran.(AGU)

(Ilustrasi sampul: Brandes dan desain nisan makamnya)

Total
19
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !