Belajar dari Tragedi Berpisahnya India-Pakistan

 

Kalender 2018 baru berjalan beberapa hari, namun kegaduhan sudah mendominasi layar televisi saat sejumlah daerah bersiap menghelat ajang pemilihan pemimpinnya. Ajang ini sekaligus adalah ancang-ancang untuk pemilihan kepala negara tahun depan, sebuah siklus yang wajib dilalui atas kesepakatan kita memilih demokrasi sebagai sistim pengelolaan negara.

Pilpres termutakhir memberi gambaran panasnya polarisasi antar pendukung kubu yang bertarung di seluruh negeri, terlebih setelah dikompori oleh media sosial. Akibatnya, eskalasi perseteruan makin tidak terkendali hingga sering mengabaikan nilai-nilai, etika dan semangat fair play.

Belum pernah sebelumnya kita mengalami pertemanan berubah menjadi permusuhan, saudara dan kerabat saling curiga, bahkan suami dan istri bersitegang, semua karena perbedaan pilihan semata.

Beruntung di atas semua itu, kita boleh bangga dan percaya diri bahwa kita telah lulus ujian dan hingga detik ini kita masih berdiri kokoh sebagai bangsa yang bersatu.

Kredit atas identitas dan kebanggaan yang kita miliki sekarang ini tidak lain dan tidak bukan menjadi milik para arsitek bangsa yang berhasil merancang dasar negara Pancasila yang solid. Mereka-mereka itu diantaranya adalah Soekarno, Hatta, Yamin, Soepomo, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Sam Ratulangi, dan masih banyak lagi.

Kubu umat Islam digawangi Ki Bagoes Hadikoesoemo sempat kecewa dengan dihilangkannya 7  kalimat dalam sila pertama guna mengakomodir wakil-wakil dari Indonesia bagian timur agar bersedia masuk ke dalam NKRI. Bahkan kekecewaan ini oleh pihak tertentu sempat diekspresikan dalam bentuk pemberontakan DI/TII/NII dan juga masih terus diperjuangkan melalui jalur politik hingga kini.

Setajam apapun kerikil itu, pada akhirnya sebuah kompromi telah tercapai yang hanya dapat terwujud berkat kebesaran hati para bapak bangsa yang menempatkan kepentingan bersama di atas segala perbedaan.

Sungguh suatu legacy yang tidak dimiliki tokoh-tokoh pendiri salah sebuah negara besar lain di benua Asia selatan: India.

Saat Inggris masih menjadi musuh bersama, para pemimpinnya baik dari mayoritas Hindu maupun Islam bersatu bahu-membahu berjuang mewujudkan mimpi India merdeka yang bersatu. Sayang seiring perjalanan waktu, ego masing-masinglah yang lebih mengemuka sehingga tujuan mulia tersebut gagal dicapai. Alih-alih persatuan yang diidam-idamkan, yang terjadi justru pecahnya salah satu tragedi kemanusiaan terbesar abad 20 yang tidak terperikan dan berdirinya 2 negara tetangga yang terus-menerus bersitegang.

Tentu ada beragam komponen dan modal sosio-budaya yang membedakan kita dengan India, namun kita boleh berandai-andai tentang apa yang barangkali dapat terjadi bila para pendiri negara kita gagal mencapai kesepahaman saat itu.

Partisi India-Pakistan yang Seharusnya Bisa Dihindari

Peristiwa terbelahnya India merupakan sebuah peristiwa besar yang membentuk wajah India modern masa kini, kira-kira sejajar dengan Holocaust kaum Yahudi yang memicu berdirinya negara Israel.

Setelah berakhirnya PD II, Inggris sudah tidak memiliki sumber daya yang memadai untuk memegang kendali atas asetnya yang paling berharga, yakni India. Untuk tidak lebih memperburuk keadaan, Inggris terpaksa harus memerdekakan India sesegera mungkin. Namun mepetnya waktu menjadikan proses pemberian mandat menjadi kurang terencana dan amburadul. Meskipun demikian, proses hengkangnya Inggris dari India terbilang sangat sukses karena dilakukan dengan damai dan aman. Hanya jatuh 7 korban jiwa saja dan nyaris tanpa letusan peluru. Bandingkan dengan sejarah panjang 300 tahun kolonisasinya yang banyak diwarnai peperangan melawan berbagai kerajaan lokal dan pemberontakan di sana-sini yang memakan korban ribuan jiwa.

Paling tidak, cara Inggris ini masih lebih terhormat dibandingkan dengan cara Belanda meninggalkan Indonesia yang bagai menampar mukanya di mata dunia, atau bagaimana Perancis keluar dari Vietnam dengan memalukan.

Fatalnya, Inggris gagal memperhitungkan pertumpahan darah yang terjadi sesudahnya.

Pembelahan negara berdasarkan agama ini mencetuskan salah satu migrasi penduduk terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia karena pada saat bersamaan jutaan umat muslim berpindah ke Pakistan barat dan timur (yang kelak menjadi negara Bangladesh) sebaliknya jutaan umat Hindu dan penganut Sikh bergeser ke arah timur. Dari angka tersebut, ratusan ribu orang tidak pernah sampai ke tempat yang mereka tuju karena meregang nyawa di tengah jalan.

Nehru, Mounbatten dan Jinnah dalam sebuah pertemuan di Delhi menjelang Partisi (sumber:Getty Images)

Peta politik India saat itu didominasi oleh dua kutub besar yang berseberangan. Poros pertama adalah partai Muslim League yang dipimpin oleh Muhammad Ali Jinnah berhadapan dengan Partai Kongres yang didominasi Hindu yang dipimpin Jawaharlal Nehru, murid Mohandas Gandhi.

Ketiga tokoh utama tersebut berlatarbelakang pengacara dan sempat mengenyam bangku kuliah di tanah Inggris. Jinnah dan Gandhi sama-sama berasal dari Gujarat sehingga kesamaan tempat kelahiran ini seharusnya menjadi modal yang cukup bagi keduanya untuk berkoalisi. Sayangnya, sejak awal tahun 1940-an mereka mulai tidak rukun dan saling menolak untuk berunding dalam satu meja.

Pusat perdebatan adalah pada pribadi Jinnah. Bagi kaum nasionalis India dia dianggap sebagai penjahat utama, sedangkan bagi Pakistan tentu dia dieluk-elukan sebagai bapak bangsa pendiri Pakistan.

Walaupun memiliki kelebihan sebagai seorang negosiator tangguh, Jinnah adalah pribadi yang sangat dingin dan tidak menyenangkan. Dia adalah sekularis yang dalam beberapa kesempatan ikut menenggak wisky, jarang bersembahyang di masjid, bercukur bersih tanpa jambang, klimis dan mengenakan setelan necis dan dasi sutra. Dia menikah dengan wanita non-muslim, putri seorang pengusaha Parsi yang glamour, yang terkenal karena kain sari-nya yang terbuka.

Kepribadian ini jauh dari gambaran ideal yang didambakan oleh rakyat Pakistan, yakni penampilan yang Islami, alim dan berjenggot.

Akibatnya, meskipun dia adalah pendiri negara Pakistan, arsitek utama berdirinya Pakistan, bapak bangsa Pakistan, profilnya yang lebih mirip bankir jarang ditampilkan pada mata uang negara tersebut karena khawatir menodai citra Islam.

Iring iringan kereta pengungsi de sepanjan jalan yang tidak aman
Iring iringan kereta pengungsi di sepanjan jalan yang tidak aman (sumber: pinterest.com)

Pada tahun 1916, Jinnah merupakan aset bersama milik kedua partai yang disebutkan di atas. Berbagai kesuksesan diplomatiknya dengan Inggris memberinya gelar duta besar persatuan Hindu-Muslim India. Tetapi setelah berakhirnya PD I, dia merasa tersingkir akibat melambungnya pamor Gandhi dan Nehru yang melampaui dirinya.

Sepanjang 1920an hingga 1930-an kebenciannya memuncak sehingga ia menuntut tanah air terpisah bagi minoritas muslim Asia selatan, gagasan yang ia tentang sendiri sebelumnya. Ia paham benar bahwa pemisahan tersebut akan membawa bencana. Pada bulan Agustus 1947, pada pidato pertamanya di depan Majelis Konstituante Pakistan sesaat setelah negara ini berdiri, dia menegaskan bahwa Meskipun Pakistan adalah milik orang Islam, setiap individu yang beragama apapun, dari kasta apapun boleh tinggal.

Sayangnya pidato ini sudah sangat terlambat. Saat itu intensitas kekerasan sudah demikian buruknya. Kaum Hindu dan muslim telah saling bunuh tanpa kendali di seluruh pelosok negeri.

Nehru pun setali tiga uang seharusnya memikul tanggungjawab kesalahan yang sama besarnya dengan Jinnah. Pada musim panas 1946 saat gagasan pembentukan Pakistan masih prematur, ia memiliki kesempatan untuk mempertahankan India bersatu. Sebagai tokoh kelompok mayoritas, ia seharusnya lebih mengalah dan membuka kesempatan yang lebih lebar bagi pihak minoritas. Entah mengapa ia tidak mengambil peluang emas tersebut.

Jinnah segera membuktikan pengaruhnya dengan menggerakan pemogokan besar-besaran kaum muslim di seluruh India. India sempat lumpuh dan bahkan mengakibatkan korban jiwa di kalangan Hindu.

Rangkaian kekerasan yang pertama kali meledak di Kalkuta tahun 1946. Lima ribu orang terbunuh. Saat kekerasan mulai merebak ke berbagai daerah lain, pimpinan partai Kongres yang sebelumnya juga menentang upaya pemisahan Islam-Hindu berubah pikiran.

Inggris yang sudah tidak sanggup berbuat apa-apa makin terdorong untuk segera angkat kaki dan cuci tangan. Pada tanggal 20 Februari 1947 PM Inggris Clemente Atlee mengumumkan bahwa Inggris akan memberikan mandat pada Nehru dan Jinnah bila keduanya dapat bertemu sebelum Juni 1948. Bila bukan pada ke duanya, maka akan dilimpahkan pada pihak manapun yang berwenang demi kebaikan rakyat India.

Bulan Maret 1947, seorang bangsawan bernama Lord Louis Mountbatten terbang ke Delhi dengan misi menyerahkan mandat dan sesegera mungkin angkat kaki dari India. Mountbatten menemui serangkaian negosiasi yang alot dan memakan waktu. Khawatir bila tidak segera tuntas Inggris akan terpaksa berperan sebagai wasit antara kedua pihak yang berperang, maka Mountbatten menekankan bahwa pemisahan India-Pakistan merupakan solusi akhir yang paling adil.

Masalah baru bermunculan tiap hari. Konsesi Inggris bagi separatis muslim menimbulkan kecemburuan bagi minoritas-minoritas lain. Suku Pashtun yang gemar berperang di propinsi perbatasan barat laut marah pada Jinnah dan menuntut berdirinya negara mereka sendiri, yakni Pathanistan. Suku Naga di perbukitan timur laut yang telah dipersenjatai oleh Inggris guna menghambat Jepang menuntut negara merdeka Nagastan. Kaum Sikh menuntut Sikhistan, dan orang Balukis mendeklarasikan Balukhistan.

Awal Juni, Mountbatten mengejutkan banyak pihak dengan mengumumkan bahwa 15 Agustus 1947 adalah batas akhir perpindahan kekuasaan. Sepuluh bulan lebih awal dari janji sebelumnya. Hal ini dilakukan sebagai terapi kejut agar para pemimpin India yang saling tidak mau mengalah menyadari bahwa mereka telah jauh terseret dalam jurang sengketa sektarian. Pengumuman ini sebaliknya seperti menyiram api dalam sekam sehingga menambah besar eskalasi kekerasan. Ketegangan masih dipanas-panasi oleh peran pimpinan dan tokoh-tokoh keagamaan daerah yang mengklaim bahwa hukum membunuh pihak lain atas nama kehormatan agama adalah halal.

Kekacauan akibat migrasi berjuta manusia pada saat bersamaan

Di Punjab dan Bengal, propinsi-propinsi yang berbatasan langsung dengan Pakistan barat dan timur, kekerasan mencapai puncaknya dimana pembunuhan masal, pembakaran, penculikan dan kekerasan seksual berlangsung tanpa bisa dikendalikan lagi. Tujuh puluh lima ribu wanita diperkosa, lalu kebanyakan diantara mereka dibunuh dan dimutilasi. Wanita menyusui dipotong putingnya agar ia mati perlahan-lahan kehabisan darah, sedangkan bayinya mati kelaparan karena tidak bisa minum ASI. Wanita yang hamil di tusuk perutnya hingga janinnya terburai, dan bayi ditusuk dan dipanggang di atas api.

Pembunuhan mengerikan di luar peri kemanusiaan yang terjadi bahkan membuat sejumlah tentara Inggris yang pernah menyaksikan kekejaman kamp-kamp konsentrasi Nazi bergidik.

Menjelang tahun 1948 saat migrasi hampir usai, lebih dari 15 juta orang telah tercerabut dari akar historis mereka dan dua juta di antaranya tewas.

Cyril Radcliffe, seorang hakim Inggris ditugasi membuat garis batas bakal kedua negara dan hanya diberi waktu 40 hari saja. Mustahil menyelesaikan tugas sebesar ini dalam waktu sesingkat itu. Batas yang jauh dari sempurna tersebut diumumkan hanya dua hari setelah kemerdekaan India.

Kedua pihak yang bersengketa sama-sama tidak puas. Jinnah yang telah berhasil mewujudkan keinginannya sangat menyesalkan keputusan adanya negara Islam di barat dan timur yang terpisah ribuan mil wilayah India. Ia mengingatkan bahwa pemisahan Punjab dan Bengal bagaikan menanam benih masalah di kemudian hari. Kelak pada tahun 1971, Pakistan Timur memisahkan diri dengan memproklamirkan berdirinya Bangladesh.

Pada 14 Agustus 1947 malam, dilembah bukit Raisina, di depan majelis Konstituante India, Nehru memberikan pidatonya yang sangat terkenal “ Pada saat tengah malam, saat dunia tidur, India akan terbangun dan hidup dalam kemerdekaan.”

Namun di malam yang sama di luar dinding New Delhi, teror masih terus berlangsung. Para pegawai administrasi Inggris yang tersisa di Lahore menuju ke stasiun kereta api, mereka harus disuguhi pemandangan penuh mayat bergelimpangan di sepanjang jalan. Setibanya di stasiun kereta api, mereka melihat pegawai jawatan kereta api sibuk membersihkan genangan darah dengan selang air. Beberapa jam sebelumnya, sekelompok pengungsi Hindu yang tengah duduk menunggu kereta hendak kabur dari kota dibantai oleh gerombolan muslim. Saat KA Bombay Express meninggalkan Lahore dan memulai perjalanan ke selatan, para pegawai Inggris tersebut melihat sendiri Punjab sedang berkobar dari satu desa ke desa lainnya.

Yang terjadi di Punjab yang menjadi pusat kekerasan merupakan salah satu tragedi kemanusiaan tak terperikan abad 20. Karavan dan kereta-kereta pengungsi yang menyingkir memenuhi jalanan lebih dari 50 mil panjangnya. Dapat Anda bayangkan berapa kira-kira jumlah orang yang kehilangan tempat tinggalnya, tercerabut dari akarnya. Saat para petani bermandi keringat kelelahan menyusuri jalan, gerombolan pengacau muncul dari sisi jalan dan membantai mereka tanpa ampun seperti domba. Gerbong kereta api pengungsi yang terisi penuh sering disergap di sepanjang jalan. Sering kali saat KA mencapai perbatasan, gerbong dipenuhi keheningan dan darah mengalir dari bawah papan KA.

Dalam beberapa bulan, peta Asia selatan berubah drastis selamanya. Tahun 1941 Karachi yang dijadikan sebagai ibu kota pertama Pakistan berisikan 47,6 persen orang Hindu. Delhi, ibukota India merdeka sepertiganya berpenduduk muslim. Pada akhir dekade, hampir semua orang Hindu di Karachi telah mengungsi sedangkan 200 ribu muslim terpaksa keluar dari delhi. Perubahan yang terjadi dalam kurun waktu beberapa bulan itu tetap tak terhapuskan hingga 71 tahun berikutnya.

Dampak Partisi yang Mengancam Keselamatan Dunia

Nehru dan Jinnah mungkin telah berusaha keras menghapus kebencian diantara mereka di tahun 1947 ketika menyadari bahwa kebijakan yang diambil dari ruang kamar kecil mereka telah membinasakan banyak nyawa tak berdosa di luar istana keduanya yang nyaman, namun lihatlah apa yang terjadi kini.

Tidak butuh waktu lama, kedua negara sudah tenggelam dalam sikap antipati dan curiga yang mendalam. Mereka berperang memperebutkah Kashmir-wilayah berpenduduk mayoritas muslim yang masuk negara India. Tahun 1999 setelah tentara Pakistan menyeberang perbatasan memasuki wilayah kargil di Kashmir, kedua negara hampir memicu perang nuklir. Munculnya gerakan kemerdekaan menentang pemerintah India dari dalam Kashmir tiada henti membuat wilayah ini bergejolak dan memakan ribuan korban jiwa.

Tahun 1971 mereka berperang lagi akibat pemisahan diri Pakistan Timur menjadi Bangladesh. Meskipun terdapat tanda-tanda negosiasi perdamaian, konflik Indo-Pak masihlah merupakan realitas geopolitik yang mendominasi Asia selatan hingga kini.

Nehru dan Jinnah kekunoan.com
Nehru dan Jinnah, dua figur sentral terbelahnya India-Pakistan (sumber: pinterest.com)

Sementara itu Pakistan hingga kini terus menerus dirundung masalah ekonomi dan keamanan. Perlu diketahui bahwa jumlah populasi India, ekonominya, dan anggaran pertahanannya 7 kali lipat lebih besar dari Pakistan. Pendekatan yang diambil Pakistan untuk mempertahankan diri dari keuntungan demografis dan superioritas militer India ternyata membawa dampak yang merusak baik bagi India, Pakistan sendiri maupun dunia.

Selama lebih dari 30 tahun Angkatan darat Pakistan dan lembaga intelejennya, I.S.I mengandalkan proxy jihad untuk mencapai tujuannya. Gerakan ini lebih sering membawa kerugian bagi Pakistan sendiri dan mengubah negeri ini menjadi rentan karena wilayahnya berkembang menjadi kantong-kantong basis militan fanatik.

Atraksi penurunan bendera di perbatasan India pakistan di Wardah
Atraksi penurunan bendera di perbatasan India pakistan di Wardah (sumber: pinterest.com)

Sampai kapanpun India maupun Pakistan tidak akan pernah pulih dari luka menganga.

Gudang nuklir mereka makin besar, kelompok militan makin kuat, dan media membungkam suara-suara moderat yang menggaungkan ide penyatuan kembali. Senjata nuklir Pakistan yang tidak stabil tidak hanya mengancam India, namun juga dunia karena sewaktu-waktu dapat menjadi episentrum risiko keamanan dunia yang terbesar, yakni risiko pecahnya PD III.

Secara umum kondisi India lebih baik dari Pakistan. India modern makin jauh meninggalkan Pakistan karena telah berubah menjadi kekuatan ekonomi baru nomor dua di bawah Cina. Sejumlah figur penting dalam bidang teknologi, seperti CEO Google, kini bahkan dijabat oleh keturunan India, Sundar Picay. India adalah gudangnya insinyur dan ilmuwan komputer, juga terkenal sebagai penyedia tenaga terampil bagi dunia barat. Mereka sudah mengembangkan satelit sendiri dan juga memiliki Silicon Valleynya sendiri yang terdapat di Bangalore.

Namun bagi India, pemisahan tahun 1947 tetap merupakan kesia-siaan saja karena populasi penduduk muslim India saat ini hampir sebesar populasi rakyat Pakistan.

India barangkali bisa tumbuh menjadi super power dunia sejajar dengan AS bila tidak pernah terbelah.

 

Incoming search terms:

  • sejarah pemisahan pakistan dari india
  • sejarah berdirinya pakistan
  • india dan pakistan sejarah
  • sejarah terpisahnya india
  • sejarah perang indo pakistan 1971
  • sejarah pakistan
  • sejarah india pakistan bangladesh
  • sejarah india dan pakistan
  • poros india pakistan
  • pecahnya india pakistan
  • pecahnya india dan pakistan
  • paskistan menagapa masi musu india
  • negara india adalah negara musuh islam
  • muni sebai india pakistan
  • mengapa pakistan memisahkan diri dari india
  • kekejaman muslim di negara pakistan
  • keadaan negara pakistan setelah berdiri sendri
  • terpisahnya pakistan dari india

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !