Museum Panorama Angkor Bikin Belajar Sejarah Tambah Asyik

Kemegahan kerajaan Angkor era 802-1431 Masehi tersaji secara kolosal pada hamparan mural setinggi 13 meter dengan panjang mencapai 123 meter. Bentuk mural adalah cyclorama yang memutar 360 derajat.

Pengunjung yang terkagum-kagum berulang-ulang berdecak, enggan bergerak dari tempatnya. Walaupun mereka berdiri pada jarak beberapa meter dari dinding, namun lukisan yang terpampang tetap mampu memberi kesan kedalaman 3 dimensi yang hidup. Saking bagusnya, sebagian pengunjung sampai curiga, menduga-duga apakah ada teknologi proyeksi video atau komputer grafis lain yang tersembunyi yang digunakan, selain tentu saja cat, kuas dan semen.

Museum Panorama Angkor dekat Kompleks Candi Angkor Wat Kambodia
Museum Panorama Angkor dekat Kompleks Candi Angkor Wat Kambodia

Setelah melewati pintu masuk dan menaiki dek melingkar, pengunjung disuguhi panorama hutan yang terbuat dari pohon buatan, batu, gubuk buatan dan patung yang menyatu dengan lukisan pada dinding yang dikesankan menyambung tanpa bingkai.

Suasana museum dengan cyclorama 360 derajat sungguh memanjakan mata pengunjung.

Adegan awal adalah rekonstruksi pembangunan candi Bayon dengan lukisan manusia memanggul batu, memahat patung, ada gajah, kuda, dan lembu menarik batu-batu raksasa dan sebagainya. Adegan lainnya menggambarkan para prajurit menunggang kuda, berperang menggunakan tombak, desa yang membara dan korban tewas dalam pertempuran. Tidak ketinggalan juga gambaran kehidupan sehari-hari orang Khmer yang tengah menikmati kemakmuran ala-ala sila ke 5 Pancasila; gemah ripah loh jinawi, lahan pertanian yang subur, buah-buahan berlimpah dan semua orang tampak berbahagia.

Pemandu dengan bangga memaparkan keunggulan museum dalam memperkaya konteks kesejarahan Angkor lewat sajian lebih dari 4000 gambar prajurit kuno, penduduk, petani, binatang, alam, dan bangunan yang digoreskan.

Selamat datang ke museum yang sukses membuat saya sangat sangat iri; Museum Panorama Siem Reap Kambodia made in Korea Utara.

Sebentar…. apa kaitan museum yang letaknya hanya sepelemparan batu dari kompleks candi Angkor wat di Kamboja ini dengan Republik Demokratik Rakyat Korea,…. ini Korea yang bukan penghasil budaya K-Pop itu lho ya, ini Korea yang kuper?

Ya, Angkor Panorama Museum ini memang merupakan buah kerja sama antara pemerintah Kamboja dengan Korea Utara.

Tidak main-main, sebanyak 4000 pekerja tuntas bermandikan peluh membangun museum seluas 120.000 meter persegi dengan 80.000 meter perseginya merupakan bangunan dalam ruangan (Indoor). Seribu orang di antaranya adalah seniman. Biaya yang dihabiskan mencapai USD $24 juta.

Proyek ini dikerjakan oleh Studio Seni Mansudae milik pemerintah Korea Utara. Studio Mansudae digagas sejak tahun 1959 untuk memayungi seniman-seniman paling berbakat se-Korea Utara. Tujuan awalnya apalagi kalau bukan untuk menyokong revolusi rejim yang berkuasa. Jadi hampir seluruh patung dan media propaganda di seluruh negri merupakan buatan Mansudae.

Pada perkembangannya, studio ini banyak menggarap berbagai proyek di luar negri yang mendatangkan pemasukan bagi pemerintahan negara yang ekonominya terhimpit ini. Proyek-proyek yang pernah ditangani kebanyakan adalah proyek mercusuar; besar, megah ,mahal tapi tidak jelas apa manfaatnya, semuanya bernilai jutaan dolar. Proyek-proyek tersebut antara lain Botswana’s Three Dikgosi Monument, Monumen diktator Kongo Laurent Kabilla, Mural raksasa pemimpin Syria All-Assad, dll.

Kemesraan Kamboja dengan Korea Utara mulai bersemi sejak pertemuan raja Kamboja Norodom Sihanouk dengan pemimpin Korut Kim Il Sung pada konferensi negara-negara Non Blok awal 1960-an.

Saat pemerintahan Sihanouk jatuh akibat kudeta yang ikut disponsori AS tahun 1970, Korut menawarkan suaka pada raja Sihanouk beserta keluarganya. Kim Ill Sung membangun istana Changsuwon di Pyongyang untuk tempat tinggal Sihanouk dari tahun 1970an hingga 80an, lengkap dengan pengawalnya.

Museum ini bukan hanya simbol kemesraan ke dua negara semata, melainkan sebuah rencana investasi ambisius yang dilakukan Korut untuk mendapatkan keuntungan finansial. Sesuai kesepakatan, Korut mengambil penuh keuntungan dari pemasukan tiket museum selama 10 tahun pertama, kemudian berbagi 50% nya dengan kambodia dari tahun ke 11. Memasuki tahun ke 20 dan seterusnya, museum sepenuhnya akan dimiliki oleh Kamboja.

Ada ungkapan berbunyi “A picture is worth a thousands of words”.

Gambar konon katanya mampu menyampaikan pengertian-pengertian atau informasi dengan cara yang lebih nyata atau lebih konkrit dari pada apa yang mampu disampaikan oleh kata-kata yang diucapkan, dicetak maupun ditulis.

Jadi, sepanjang…….eh.. sependek pengetahuan saya, pembelajaran sejarah mungkin dapat menjadi lebih efektif bila menyertakan gambar karena kesanggupan manusia dalam berpikir tentang hal-hal abstrak hanya dapat diperoleh dari latihan dan dibangun dari pengalaman-pengalaman terdahulunya dengan realita yang nyata.

Wah …, mau enggak ya Korut juga bikin museum serupa di Indonesia, museum Majapahit atau museum Jawa kuno gitu….. membayangkannya saja sudah cukup membuat saya ngiler….

If they do, I will surely be the gate keeper.! he..he…(AGU)

 

(Sumber: theguardian.com dan google)

Total
204
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !