Napak Tilas Rute Pelarian Raden Wijaya ke Madura

 

Kerajaan Singhasari yang didirikan Ken Angrok ternyata hanya sampai pada tahun ke 70. Kejayaanya berakhir pada tahun 1292 Masehi akibat serangan dari raja kerajaan bawahannya sendiri, yakni Glang glang yang dipimpin Jayakatwang. Prasasti Singhasāri (Gajah Mada) yang bertarik 1351 M memberitakan bahwa serangan Jayakatwang ini dilancarkan pada bulan Jyesta 1214 Saka atau antara pertengahan bulan Mei dan pertengahan bulan Juni 1292 Masehi.

Sisa reruntuhan kerajaan Glang glang bisa ditemukan di dusun Gelang dan dusun Ngrawan, Desa Dolopo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun.

Adalah sosok adipati Songeneb Arya Wiraraja yang ikut mendalangi kisah yang mengharu biru layaknya sinetron silat ini.

Pada masa pemerintahan ayahanda Kertanegara, yakni Wisnuwarddhana, Arya Wiraraja adalah pejabat penting berpangkat demung (Nayapati) atau penasehat bidang pertahanan dan keamanan di pura kerajaan. Negarakretagama dan Kidung Panji Wijayakrama menyebut Arya Wiraraja sebagai tokoh wreddhamantri yang memiliki pengetahuan politik dan internasional yang bagus. Tak heran karirnya cemerlang dan mendapatkan kedudukan yang tinggi sejak usia muda.

Kertanegara menurunkan pangkatnya menjadi hanya bupati Songeneb dan praktis mengeluarkannya dari lingkaran dalam istana. Arya Wirarajaya yang sakit hati pada Kertanegara mengetahui bahwa Jayakatwang sedikit banyak memiliki warisan dendam sejarah masa lalu terhadap Kertanegara.

Arya Wiraraja menghasut Jayakatwang dengan mengirim surat yang bunyinya lebih kurang sebagai berikut: “Patik memberitahukan kepada sang prabu. Padukanata dapat disamakan dengan orang yang berburu. Sekarang inilah saat yang paling baik dan paling tepat. Tegal sedang tandus, tidak ada rumput, tidak ada ilalang, daun-daun sedang gugur berhamburan di tanah. Bukitnya kecil-kecil, jurangnya tidak berbahaya. Satu-satunya yang tinggal adalah seekor harimau yang sudah tua renta, yakni pu Raganatha.”

Awalnya Jayakatwang ragu karena merasa diperlakukan sangat baik oleh Kertanegara. Namun patihnya yang bernama Mahisa Mundarang ikut mengompori bahwa moyang Jayakatwang; “Prabhu Dangdang Gendis (Kertajaya), binasa akibat pemberontakan seorang petani dari Pangkur, anak Ni Ndok. Dia itulah raja Singhasari yang pertama dan bergelar Raja Rajasa”. Jayakatwang diingatkan akan kewajibannya membalas kekalahan tersebut dan membangun kembali kerajaan Kadiri.

Diantara Glang glang (Madiun) dan Singhasari (Malang) terdapat pembatas alam berupa gunung Wilis, sehingga mustahil mengambil jalan lurus ke timur. Pasukan yang menyerbu Singhasari dibagi dua, yakni pasukan induk yang melewati jalur selatan yang dipimpin langsung oleh patih utama Kebo Mundarang, dan pasukan pancingan yang mengambil rute melingkari utara gunung Wilis dibawah pimpinan senapati Jaran Guyang dengan dibantu oleh Bango Dolok, Prutung, Pencak Sahang, Licing Kangkung, dan Kampinis.

Kidung Harsawijaya menambahkan bahwa pasukan sampai di Jurang Ansoka, sebuah daerah jajahan Singhasari, setelah tujuh hari perjalanan dan sebelum gelap sampai di Kali Turan untuk berhenti memasang tenda. Keesokan harinya, pasukan melewati Desa Wewedon, yaitu Bukit Wedon sekarang di desa Turirejo, Kecamatan Lawang, 9 km di sebelah utara Singosari, lalu sampai di desa  Měměling,yang tidak lain adalah dusun Meling desa Bedali, 6 Km di utara Singosari sekarang. Mereka berhenti di tempat ini dan membuat kegaduhan dengan membunyikan macam-macam gong, bende dan panji-panji perang.

Rakyat Desa Měměling menjadi ribut, lari ketakutan sambil bertubi-tubi membunyikan titir tanda bahaya akan datangnya musuh.

Menurut prasasti Kudadu, saat mendengar pasukan Jayakatwang telah sampai di daerah Jasun Wungkal, raja Singhasari Kertanegara segera mengutus Nararya Sanggramawijaya, atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya, untuk melawannya. Ikut bersama rombongan Raden Wijaya, menantu Kertanegara bernama Ardharaja yang adalah anak kandung Jayakatwang. Entah apa dasar pertimbangan Kertanegara ikut mengirimkan Ardharaja untuk menghadapi ayahnya sendiri.

Jasun Wungkal secara harfiah berarti bawang Batu. Jasun adalah bawang dan wungkal artinya batu. Ada yang berpendapat bahwa Jasun Wungkal sekarang bernama desa Watukosek yang berada di kecamatan Gempol kabupaten Pasuruan. pendapat lain menyatakan bahwa Jasun Wungkal adalah dusun Bangkal kecamatan Ngoro kabupaten Mojokerto. Akan tetapi bangkal sendiri artinya adalah pangkal, tentunya berbeda dengan Wungkal yang artinya batu. Watukosek tampaknya lebih mendekati kebenaran hanya perlu penelitian lebih lanjut mengapa Bawang Batu bisa berubah menjadi Watukosek.

Pertempuran pecah pertama kali di Kedung Peluk yang berakhir dengan kemenangan Raden Wijaya. Pasukan Glang glang mundur kembali ke arah utara.

Terdapat sebuah desa bernama Kedung Peluk di kecamatan Candi Sidoarjo, namun tempat ini terlalu jauh di utara. Kedung Peluk sesuai isi prasasti seharusnya berada diantara kecamatan Singosari Malang dan kecamatan Gempol Pasuruan. Untuk sementara tempat ini belum ditemukan.

Raden Wijaya mengejar hingga ke Lembah, namun tidak menemukan keberadaan musuh di wilayah itu.

Lembah masih harus dicari lokasinya. Ada sebuah desa bernama Lemahbang, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan yang dikaitkan dengan Lembah, namun pendapat ini masih harus dibuktikan kebenarannya.

Perburuan berlanjut hingga terdeteksi lokasi pasukan musuh di Batang dan lagi-lagi pasukan musuh kabur. Batang pun sementara ini juga masih belum ditemukan.

Di barat Kapulungan, perang tak dapat dihindari lagi. Bentrokan dahsyat menyebabkan banyaknya korban jiwa dan korban luka dari pihak Glang glang. Pasukan Glang-glang mundur lagi sehingga makin jauh dari Singhasari.

Untuk identifikasi Kapulungan tidak terlalu sulit, karena sampai saat ini masih ada Desa Kepulungan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan yang terletak di utara Kecamatan Singosari dan di sebelah selatan Desa Carat yang merupakan toponimi Rabut Carat.

Tiba-tiba tersiar kabar mengejutkan dari ibu kota. Secara tidak terduga, musuh juga menghantam Singhasari dari arah selatan dan berhasil menembus tembok istana.

Perlu diketahui bahwa setelah Raden Wijaya dan pasukannya bergerak ke utara meninggalkan Singhasāri, raja tidak yakin bahwa tentara Singhasari cukup kuat mengalahkan tentara Glang glang. Oleh karenanya ia segera memerintahkan Kebo Anengah untuk mengirim pasukan tambahan menyusul ke Měměling. Mpu Adhyaksa Raganatha dan menteri Angabhaya Wirakerti mengingatkan Kertanegara bahayanya mengerahkan semua kekuatan ke utara karena Singhasāri menjadi kosong. Namun raja mengabaikan nasehat tersebut.

Pasukan Glang glang yang muncul dari selatan bergerak diam-diam dengan tidak membawa bunyi-bunyian dan bendera-bendera. Mereka melalui pinggir Aksa (Sungai Lekso di sebelah timur Blitar yang merupakan perbatasan Janggala dan Kadiri), Lawor (mungkin Lahor sekarang) dan terus menuju Sridahabhawana untuk selanjutnya sampai ke Singhasāri.

Kertanagara yang tengah berada di dalam pura bersama patih Angragani sangat terkejut, tidak berapa lama datanglah pu Raganatha dan Wirakerti melaporkan bahwa pasukan musuh sudah ada di Manguntur.

Kidung Harsawijaya menceritakan tentang Raganatha dan Wirakerti yang memberi nasehat kepada raja, “Terkutuklah bagi seorang raja bila sampai mati terbunuh di tempat keputrian. Marilah bersama-sama kami, Tuanku mengadakan perlawanan.” Kali ini Kertanagara mendengarkan penasehatnya walaupun sudah terlambat karena tentara musuh sudah mendekat. Prabu Kertanagara, Mpu Adhyaksa Raganatha, menteri Angabhaya Wirakerti beserta Patih Angragani, melawan hingga gugur sebagai ksatria melawan musuh.

Jelas sudah bahwa siasat jebakan jayakatwang memancing Raden Wijaya untuk menjauh dari Singhasari berhasil dengan gemilang.

Kembali ke utara, gerak ofensif pasukan raden Wijaya harus berakhir di  rabut Carat. Musuh dari arah barat hampir tumpas saat terlihat bendera musuh berkibar-kibar di sebelah timur; Haniru, merah dan putih warnanya. Melihat panji-panji ayahnya itu, Sang Ardharaja menyarungkan senjata, lalu melarikan diri menuju Kapulungan. Carat sekarang ini adalah sebuah desa di kecamatan gempol kabupaten Pasuruan.

Pengkhianatan ini mengganggu keseimbangan pasukan Raden Wijaya dan merusak strategi yang dijalankan. Kekuatan pasukan menjadi berkurang drastis. Namun demi bhaktinya kepada kertanegara, Raden Wijaya dan pasukannya yang berjumlah 600 orang tetap tinggal di rabut Carat dan selanjutnya bergerak ke utara hingga sampai di Pamwatan Apajeg di seberang utara sungai. Berdasarkan kemiripan toponimi, saat ini masih terdapat Desa Pamotan di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, yang lokasinya berada di utara Desa Carat, sehingga sesuai dengan berita pada prasasti.

Pagi hari buta, secara tak terduga musuh datang menyergap. Pertempuran ini menyebabkan jumlah kekuatan Raden Wijaya makin berkurang karena selain jatuh korban, kembali sebagian anggota pasukan melarikan diri meninggalkan raden Wijaya.

Sang pemburu kini berbalik menjadi buruan.

Raden Wijaya terpaksa melarikan diri ke Terung guna meminta bantuan akuwu Terung bernama  Rakryan Wurwagraja yang dulu dilantik oleh Kertanegara. Ia berharap akan mendapat bala bantuan dari sekitar timur Terung. Para pengikut pun ikut senang atas rencana ini. Di masa sekarang, lokasi ini terdeteksi bernama Terung Kulon dan Terung Wetan di Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo. Posisinya terletak di arah barat laut Desa Pamotan.

Perjalanan ke Kuwalan dilakukan dengan diam-diam di malam hari untuk mengelabui musuh. Sayang sesampainya di sana, mereka justru bertemu dengan pasukan musuh yang jumlahnya sangat banyak.

Kemungkinan besar, Kulawan saat ini terletak di Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo. Mengapa terletak di Tulangan? Karena dalam prasasti disebutkan bahwa rencana ke Terung gagal karena bertemu musuh di Kulawan, sehingga pasukan Raden Wijaya berbelok ke utara menuju Kembangsri

Raden Wijaya menghindari kejaran dengan melarikan diri ke arah utara menuju Kembangsri. Kembangsri ternyata tidak aman, sehingga dengan tergopoh-gopoh raden Wijaya dan pengikutnya berenang menyeberang sungai. Banyak yang tewas hanyut di sungai dan dikejar-kejar musuh lalu ditusuk tombak. Mereka yang selamat berlarian tak tentu arah tercerai berai.

Secara toponimi, di sebelah utara kecamatan Tulangan terdapat desa bangsri di Kecamatan Sukodono kabupaten Sidoarjo. Sungguh kebetulan di desa bangsri ini kini masih terdapat sungai pecahan Kali Brantas.

Jumlah pengikut kini hanya tersisa 12 orang saja, diantaranya adalah Lembu Sora, Ranggalawe, Nambi, Dangdi, Banyak Kapok, Pedang, Mahisa Pawagal, Pamandan, Gajah Pagon dan Wiragati. Gajah Pagon yang terluka tertusuk tombak dititipkan pada kepala desa Pandakan.

Rombongan sampai di Kudadu di siang hari dalam keadaan letih, lapar dan berduka.Ternyata kepala desa Kudadu masih setia pada kertanegara sehingga selain mempersembahkan makan dan minum, mereka juga mencarikan tempat persembunyian yang aman agar tidak ditemukan musuh. Tak sampai di situ, kepala desa Kudadu bahkan mengantarkan Wijaya sampai ke Rǝmbaṅ, untuk kemudian berlayar menyeberang ke Pulau Madura.

Bila Kermbangsri sama dengan Bangsri, maka Kudadu mungkin sama dengan desa Bringinbendo atau desa Sambibulu atau desa Gilang yang posisinya terletak diantara bangsri dan Rembang.

Adapun Rembang secara toponimi dapat diperkirakan sebagai desa Krembangan kecamatan Taman kabupaten Sidoarjo yang terletak di utara Bangsri. Selain itu, krembangan juga terletak di dekat Kali Mas, yakni pecahan sungai Brantas yang mengalir menuju kota Surabaya dan akhirnya bermuara di selat Madura. Artinya desa Krembangan sangat cocok sebagai lokasi Rembang yang tercatat dalam prasasti Kudadu.

Kisah perjuangan Raden Wijaya ini tertulis secara panjang lebar di bagian sambadha prasasti tembaga (tamra praśasti)  yang ditemukan di lereng gunung Buthak yang masuk dalam jajaran pegunungan Putri Tidur di wilayah perbatasan Kabupaten Blitar dan Malang. Prasasti Kudadu atau dikenal juga sebagai Prasasti Gunung Buthak ini dikeluarkan oleh Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawardha Anantawikramottunggadewa dan bertarikh 1216 Saka atau bertepatan dengan 11 September 1294 Masehi. Aksara yang digunakan adalah aksara Kawi Majapahit. Prasasti ini sudah diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes di dalam catatan-catatan edisinya mengenai Pararaton.

 

 

Disarikan dari tulisan pegiat sejarah Heri Purwanto di grup FB Majapahit dan ngalam.id

Bahan bacaan:

Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti-Boechari, 2012

Nusa Jawa: Silang Budaya Jaringan Asia 2-Denys Lombard, 1996

Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Kuno
Tafsir Sejarah Nagarakretagama – Prof. Dr. Slametmuljana
Pararaton – Drs. R Pitono Hardjowardojo
Pengantar Sejarah Jawa Timur – Abdurachman
Sejarah Indonesia IC – Dra. Satyawati Suleiman

Ilustrasi: Pramono Estu

 

Incoming search terms:

  • dokumentasi dari kisah pelarian raden wijaya dari kejaran pasukan jayakatwang
  • pelarian keturunan majapahit ke madura
Total
972
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !