Pengelana Inggris Menemukan Altar Dewa Kematian di Singasari

 

Kereta kuda meninggalkan Passeroewan (Pasuruan) di siang yang terik setelah mendapat kepastian bahwa dokumen yang diperlukan untuk perjalanan ke daerah pedalaman Jawa sudah beres. Menurut pengalamanku sejauh ini, orang Inggris yang berada di pulau Jawa perlu menguasai bahasa Perancis karena terbukti sangat bermanfaat. Kebanyakan pejabat dan petugas administrasi Belanda tidak bisa berbahasa Inggris namun sangat fasih berkomunikasi dalam bahasa Perancis. Telegraf elektronik banyak aku jumpai di pulau Jawa sehingga sangat memudahkan perjalananku karena sistim transportasi masih bersandar pada pos-pos perhentian di sepanjang jalan yang menyebabkan perjalanan menjadi lebih lambat.

Kami terpajan pemandangan yang berbeda-beda. Ada daerah terbuka lalu hutan, dataran yang bergelombang naik turun lalu rata, dan pemandangan gunung-gunung, yakni Ardjuno dan Indrokito saat keluar dari Passeroewan, kemudian digantikan oleh Kawi, Kresi dan Kloet (Kelud) saat makin mendekati Malang.

Grote Postweg bij Pasoeroean kekunoan.com
Jalan Besar Pos di Pasuruan (sumber:pinterest)

Di daerah antara Protong dan Jatasari kami berhenti untuk melihat air terjun Baong. Dari jalan besar cukup berjalan kaki 20 menit sudah sampai. Ketinggian sumber air sejajar dengan tanah tempat kami berdiri, sayangnya kami terhalang jurang lebar nan dalam dengan sisi dan dasarnya tertutup belukar. Kami melangkahkan kaki lebih jauh dan mendongak ke atas untuk menikmati pemandangan jatuhnya air yang keluar dari pepohonan berdaun lebat.

Coban Baong dekat Malang sekira th 1880-an (sumber:pinterest)

Air terjun ini kecil, tidak lebih dari 60 kaki tingginya. Di kejauhan, dari atas jurang, terbentang pemandangan lembah yang indah berselimut hutan dengan pepohonan yang besar-besar. Air terjun ini masyhur konon karena katanya harimau dan macan tutul sering muncul di situ. Namun kami diyakinkan bahwa kemunculan tersebut sangat jarang terjadi di siang hari, apalagi di dekat sumber mata air.

Walaupun ragu, kami tetap memberanikan diri berjalan di sekitar jeram untuk dapat menikmati pemandangan yang terbaik. Kami terus melangkah memasuki hutan dengan diikuti pembantu kami. Baru setengah jalan menuruni lereng terdengar gemerisik suara seperti ranting pohon yang terinjak. Tepat di depan kami, sedikit ke kanan, mendadak muncul seekor anak tutul dengan pandangan tertegun mungkin tidak menyangka akan kehadiran sosok asing. Kami juga tidak kalah kagetnya. Ia meloncat menjauh dan lenyap ditelan hutan sedetik kemudian.

Kami pun tak ingin lagi berlama-lama berada di tempat itu dan segera balik kanan. Sempat terlihat sisa kulit dan belulang seekor binatang kecil yang malang karena barusan disantap tutul.

Perjalanan menuju pos selanjutnya, yaitu Lawang, sangat tidak nyaman karena kondisi jalanan yang tidak rata. Di tengah jalan kami melewati empat pilar tinggi berbentuk persegi yang disebut Watas atau Tanda-Han, yakni penanda batas antar wilayah distrik atau residensi.

Malang berada di bawah residensi Passeroewan dan dipimpin oleh seorang asisten residen dengan dibantu oleh seorang bupati Jawa yang oleh Belanda disebut Reghent.

Kami sampai di desa Singosari yang terkenal memiliki banyak penganut agama Hindu. Dari peninggalan berupa patung-patung kuno yang tersisa, kami dapat menilai betapa tingginya ketrampilan penduduk setempat mempergunakan pahat dan palu mengukir arca. Walaupun tidak banyak, rumah-rumah di desa ini kebanyakan dimiliki oleh petani-petani kaya sehingga mampu membangunnya dengan dinding bata merah yang diplester.

Kami menyuruh kusir mengarahkan kereta sedekat mungkin dengan reruntuhan agar dapat melihat-lihat dengan jelas. Setelah 5 menit kereta berjalan kita sudah sampai di lokasi dan tinggal jalan kaki sebentar saja.

Situs ini mirip amfiteater alam dan dari posisinya yang terlindung, jelas merupakan tempat pemujaan.

Objek pertama yang kita temui adalah 2 altar batu tranchyte yang terpotong, yang tersusun dari batu yang diplester dengan lesung. Terdapat sebuah arca berukuran besar terbuat dari batu granit hitam utuh setinggi 12 kaki dengan lebar 6 hingga 8 kaki yang masih dalam kondisi sangat bagus pada salah satu altar. Dengan mata bundarnya yang mencolok, hidung yang menonjol, lengkung pada lubang hidung, mulut yang lebar dan tebal, kedua bibir sensual, dua taring atas dan dua taring bawah, semuanya yang tampak pada patung ini sangat mengagumkan.

Pada kepalanya melingkar sebuah tiara bertatahkan kepala kematian yang terpahat sangat indah, telinganya yang panjang ditindik dengan ornamen-ornamen ukir dengan kecermatan detail yang istimewa. Pada kedua tulang rawan patung terserak tengkorak-tengkorak yang menakutkan. Beberapa rantai melingkari leher dan selempang longgar menyilang pada dada yang bidang dari bahu kiri ke bahu kanan. Gelang besar dikenakan pada pergelangan dan lengan, tangan kanan sedikit terangkat dengan dua jari (telunjuk dan jari tengah) menunjuk ke atas seperti dalam sikap memberi perintah atau menegaskan nubuat. Ikat pinggang tengkorak melingkar di perut yang gendut dan tangan kiri bersandar pada tongkat kerajaan dari batu.

Altar kedua yang berjarak 50 langkah dari altar pertama keadaannya sudah sangat rusak. Pohon Suma dan jambu biji tumbuh di atasnya sehingga akar-akarnya masuk ke celah batu yang mengakibatkan bergesernya batu-batu tersebut dari posisi semula. Patung yang tadinya berada di atas altar kedua kini terjerembap miring di tanah yang lembap. Patung ini jatuh karena pedestalnya rusak.

Tidak ada satu orang Jawa pun yang lewat tahu apa nama arca tersebut saat aku tanyakan. Namun ditilik dari sikap takzim dan hormat pada kedua sosok besar tersebut, aku menduga penduduk pasti meyakini bahwa arca-arca tersebut diturunkan langsung dari surga karena Tuhan murka untuk tujuan menakut-nakuti penghuni pulau ini.

Aku menarik kesimpulan sendiri setelah mengamati banyaknya ornamen berupa tengkorak di berbagai tempat, bahwa arca ini pastilah arca dewa kematian.

Candi Singasari 1895 (sumber: google)
Candi Singasari 1895 (sumber: google)

Ada sejumlah arca lain yang kebanyakan dalam kondisi cacat atau terpotong-ada yang tangannya tergenggam seperti posisi berdoa, ada pula yang memegang senjata atau pentungan. Kereta kuda Darrawati adalah yang paling menarik. Karya ini merupakan sebuah batu persegi utuh dengan pahatan roda kereta di ke dua sisinya, mirip dengan bunga mawar yang besar. Tujuh figur kuda yang katanya bernama Sambrani, yang dimaksudkan untuk menarik kereta, terpahat di satu sisi. Dua kuda paling ujung terpahat sebagai relief, sedangkan sisanya memperlihatkan kaki depannya.

Di seberang amfiteater terdapat sebuah arca lembu besar yang penuh hiasan yang disebut Ninda (maksud ente Nandi om D’Almeida?). Pada punggungnya terpasang pelana bunga mawar sedangkan di lehernya yang lebar melingkar sebuah kalung rantai berhiaskan bunga dengan lonceng besar di bagian depan. Patung ini tingginya 4 kaki dan lebarnya 3 kaki, seluruhnya terpahat dari satu batu hitam utuh. Di dekatnya ada patung yang lebih kecil, namun sudah tanpa kepala dan terpotong.

Nandi 1880 (Universiteit Leiden Digital Library)
Nandi 1880 (Universiteit Leiden Digital Library)

Patung menonjol lainnya yang berada di samping kanan altar yang rusak, adalah patung gajah setinggi 6 kaki pada posisi duduk di atas pedestal yang dilingkari ornamen tengkorak. Kepala binatang ini  berhiaskan sebuah mahkota besar berbentuk kerucut, yang di tengahnya terdapat gambar mahkota kecil. Kaki dan tangannya adalah kaki tangan manusia sedangkan pada kupingnya yang lebar dan  melambai terdapat ornamen kepala kematian. Masing-masing tangannya memegang mangkok yang terpahat sangat indah. Salah satu mangkok sebagian tertutup belalai panjang. Patung ini bernama Siewah (Siwa) dan Durga yang banyak dijumpai di Jawa.

Kami membahas persoalan apakah gajah sungguhan yang dijadikan model patung ini dulu didatangkan dari Sumatra oleh para penganut Buddha, atau kah katanya dulu menurut orang-orang setempat Jawa dan Sumatra merupakan satu pulau yang belum terpisah laut sehingga gajah berkeliaran sampai tempat ini, kita tidak tahu. Yang jelas faktanya hari ini dan juga sejak Portugis datang ke pulau ini pertama kali pada tahun 1522 gajah diketahui bukanlah satwa asli Jawa.

Tidak jauh dari lingkaran di mana sang gajah berada, terdapat sebuah reruntuhan candi yang terjebak di antara pohon-pohon bambu dan pohon Suma yang bunganya berwarna putih di pinggir dan kuning di tengahnya. Bunga ini mengeluarkan bau harum dan selalu ada di kuil-kuil dan pemakaman. Fakta bahwa pohon bunga Suma tumbuh sangat lebat di sini makin menguatkan dugaanku bahwa tempat ini merupakan tempat pemujaan untuk dewa kematian.

Candi ini dibangun berbentuk menara yang berdiri di atas lantai dasar persegi yang besar. Lantai dasar ini tingginya 2 atau 3 kaki dari tanah dan dilengkapi dengan anak tangga. Candi ini mirip dengan bangunan tiga lantai hanya sayangnya bagian yang paling atas sudah remuk. Bagian terbawah masih dalam kondisi sempurna dan dari sini saja kami bisa mengira-ngira alangkah indahnya candi ini dahulu.

Batu yang menyusunnya merupakan batu trachyte yang dipotong dan dipahat dengan sangat terampil. Plester hampir tidak terlihat digunakan, sebaliknya yang tampak adalah rekatan antara batu yang presisi kadang menggunakan batu baji mirip dengan cara tukang kayu menyambung kayu. Lumut dan pakis melekat pada semua sisi dinding dan di sana-sini tumbuh belukar besar yang akarnya menjalar pada jendela dan pintu.

Pintu utama berbentuk melengkung dan terdapat dua ceruk di sisinya yang masing-masing berisi patung. Kedua patung itu tidak proporsional dibandingkan dengan besarnya keseluruhan bangunan candi sehingga aku menebak pastilah patung itu didapatkan di tempat lain untuk kemudian ditaruh begitu saja di sini belum lama ini.

Candi Singasari th 1907 (sumber: Indonesie Verleden Tijd)

Di atas pintu masuk, di bagian luar terdapat wajah sosok makhluk bermata bundar besar membelalak, mulut lebar dengan gigi berbentuk daun menyeringai dan kepala dengan berbagai ornamen hias. Sosok ini lebih bebas dari lumut dan lebih utuh dibandingkan dengan patung-patung lainnya. Pintu masuk di sisi kanan candi pastilah memiliki hiasan yang sama, namun sayangnya pahatan kepala tersebut telah rusak dan jatuh dari tempatnya terpahat, jadi kini tengkuknya yang kelihatan, sementara mahkotanya masih menempel di atas pintu.

Lantai kedua serupa dengan lantai pertama, hanya lebih kecil. Ceruk yang melengkung telah dihias dengan ornamen emblem daun dan bunga-bisa kukatakan sesuai dengan nama candi ini, yaitu Singa-sari yang berarti binatang singa dan bunga. Tak heran ragam hias bunga ada di mana-mana.

Sang waktu menjalankan tugasnya dengan baik, sehingga hanya tinggal sedikit kesempurnaan maha karya agung ini yang tersisa saat ini.

Ceruk di sisi kanan candi berisi patung telentang seperti tradisi khas posisi orang Jawa saat tiduran. Legenda menyatakan bahwa ia dulunya adalah seorang pangeran yang datang ke tempat ini untuk memboyong seorang putri cantik yang melayani di candi. Sayangnya penjaga memergokinya lalu membunuhnya. Tubuhnya berubah menjadi patung dan diletakkan pada ceruk candi sebagai peringatan kepada yang lain agar tidak berani melakukan hal yang sama.

Setelah satu jam lebih mengamati candi, kami kembali ke desa dan melanjutkan perjalanan ke Malang. Saat tiba di tujuan waktu sudah menunjukkan pukul 8 atau 9. Hari yang sangat melelahkan.

Malang merupakan propinsi(?) di bawah karesidenan Passeroewan. Dulu kedua distrik tersebut masih menjadi tanggungjawab residen Surabaya. Akibat meningkatnya populasi penduduk, meluasnya volume perdagangan, dan oleh sebab yang lainnya lagi maka Malang dan Passeroewan akhirnya dipisahkan, masing-masing berubah status menjadi residen.

Lembah Malang memiliki suhu yang dingin. Budidaya kopi dilakukan pada wilayah yang luas, di samping itu terdapat juga tembakau, cocoa, padi, dan bahkan gandum Eropa yang bisa tumbuh dengan baik di lereng bukit dan gunung.

Hospital te Malang 1900

Meskipun jumlah penduduknya besar, Malang termasuk kota yang berkategori bersih sehingga pemerintah mendirikan sanatorium dan rumah sakit untuk menampung para veteran nya yang sakit atau cacat. Ke arah manapun anda mengekang tali kuda, Anda akan selalu melihat pemandangan gunung. Smeroe dan Tenggerr di timur, sedangkan Kawi, Kresi, dan Ardjuno, di barat. Selain itu juga banyak terdapat bukit yang indah di mana-mana. Lembah-lembahnya mendapatkan air irigasi yang cukup. Sungai terbesar di kota yang disebut kali Malang, merupakan cabang dari sungai Kedirie.

Banyak dijumpai padang rumput yang diselingi dengan tumbuhnya pepohonan. Ini adalah pemandangan yang mirip dengan di Eropa sehingga kunjungan ke Malang ini sedikit banyak mampu mengobati kerinduan kami pada kampung halaman yang jauh.

Di muka hotel, hanya terpisah dari jalan, terdapat sebuah lapangan terbuka yang disebut alown-alown oleh penduduk yang ditanami pohon Verengen (beringin), yew, cemara dan pohon-pohon lainnya. Di sebelah kanan terdapat sebuah tembok yang hampir tertutup oleh daun-daun dari tanaman mangga, nangka, kacang pinang, dan sukun.

Di sisi luarnya lagi adalah sebuah pintu gerbang yang dijaga oleh 2 prajurit lokal. Tempat tersebut merupakan kediaman bupati Jawa yang rutin bersembahyang ke masjid dua kali sehari(?). Masjid itu sendiri berada hampir di seberang tempat tinggal bupati. Dalam perjalanannya dari dan menuju masjid, iringan bupati biasanya didahului oleh kelompok pemusiknya yang memainkan musik barat dan musik setempat, lalu pembawa payung, dan terakhir barisan orang-orang bawahannya.

Waringin stam in Malang 1880-1900
Waringin stam in Malang 1880-1900 (sumber:pinterest)

Rumah sakit Malang dirancang dengan baik dan didirikan di sebuah lahan yang luas. Terdapat sebuah rumah mandi kecil di kaki bukit di mana air deras mengalir ke bawah melalui punchuran (pancuran) yakni sebuah silinder bambu besar. Air tersebut jatuh di atas kepala orang yang mandi dan sangat baik bagi tubuh karena berkhasiat menyembuhkan reumatik. Aku sangat menyukainya.

Saat berkunjung ke rumah sakit, kami diperlihatkan sebuah ular sawah yang panjangnya mencapai 20 kaki dan tebalnya 18 inchi. Dokter berniat membawa satwa ini ke Amsterdam. Ular secara alami adalah binatang pemalu yang amat jarang menyerang manusia kecuali dalam keadaan sangat lapar.

Seorang warga setempat yang capek sehabis bekerja seharian membaringkan diri pada sebidang tanah berumput yang tanpa disadarinya berada terlalu dekat dengan seekor ular sawah. Dia belum lama tertidur saat tiba-tiba merasakan sensasi aneh pada kaki kanannya-rasanya seperti sesuatu yang hangat dan lembap sedang merayap. Saat membuka matanya dan melihat ke bawah, sontak roman mukanya berubah ketakutan. Seluruh kaki kanannya hingga mencapai betis telah berada di dalam perut ular besar.

Untuk sesaat ia terdiam tertegun, tidak dapat berbuat apa-apa, terlalu takut untuk berteriak apalagi untuk membebaskan diri. Tetapi, demi mendapati kakinya perlahan-lahan masuk ditelan rahang ular, pada satu titik ia memperoleh kesadarannya kembali dan dapat menjerit-jerit berteriak meminta pertolongan sembari mengguncang-guncang kaki agar ular tersebut lepas

Teriakan histerisnya didengar oleh pekerja-pekerja lain yang segera datang menolong. Sang ular ngotot tidak mau melepaskan gigitannya sehingga sia-sia saja upaya para penolong menarik ular agar melepas gigitannya. Terpaksa sebuah golok digunakan untuk memotong monster menakutkan itu menjadi dua.

Sang korban yang shock berat berbaring lega untuk beberapa saat dengan kaki yang lecet. Beruntung ia tidak sampai mengalami patah tulang.

 

Alih bahasa bebas dari volume I buku Life in Jawa: With sketches of Javanese karangan William Barrington d’ Almeida tahun 1864

Ilustrasi sampul adalah litografi alam Malang kerya Abraham Salm. Seratusan litografi sejenis dapat anda nikmati di tautan ini.

Incoming search terms:

  • litografi desa masa lalu
Total
315
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !