Peran Penting Malang dalam Percaturan Sejarah Jawa Kuno

Kota Malang pantas dijuluki sebagai kota bersejarah karena memegang peranan cukup penting dalam percaturan sejarah Jawa selama 7 abad lamanya pada masa Hindhu-Buddha. Nama Malang sama sekali tidak berkaitan dengan nasib malang, melainkan karena posisi geografisnya, khususnya posisi gunung purba Malang (Buring) yang melintang di dasar eks danau purba di Malang.

Malang terletak di dataran tinggi yang diiris-iris oleh banyak sungai, besar dan kecil, sehingga memerlukan adaptasi ekologis sebagai strategi hidup dan kembangnya secara tepat.

Dinamika sosial-budaya di Malang cenderung terjadi di wilayah sekitaran sungai, terutama di DAS Metro dan Brantas. Sungai seolah menjadi pengikat antar daerah. Jika bukan tinggal di bantaran sungai, maka pilihannya adalah di tempat tertentu yang memiliki kantong sumber air yang melimpah.

Candi Badut yang dibangun atas perintah raja Gajayana penguasa kerajaan Kanjuruhan

Embrio peradaban di Malang diawali setelah masuknya pengaruh Hindu-Buddha dan berdirinya kerajaan Kanjuruhan. Prasasti Dinoyo bertarikh 21 November 760 Masehi menyebut sebuah kerajaan bernama “Kanyuruhan” (…..puram kanjuruhan mahat”, …. yang artinya: kerajaan Kanyuruhan yang besar) yang berturut-turut diperintah oleh Raja Dewa Simha, putranya Gajayana, dan selanjutnya Utteyana (Poerbatjaraka, I, 1952:61-62).

Toponimi Kanjuruhan sesuai dengan nama dusun lama Kejuron di lembah kali Metro. Nama ini juga dikenali sebagai nama watak yang terletak di bagian barat kota Malang, yang dalam sejumlah data epigrafis sejak abad X disebut ‘watak Kanuruhan’ yang dipimpin oleh pejabat setingkat Rakai. Selain dari data tekstual, data artefaktual yang menunjang juga didapati pada keberadaan candi Badut dan candi Gasek di Karangbesuki serta struktur bata dan pecahan yoni di dusun Kejuron. Setelah itu, lama tidak terdapat data arkeologis perihal masa-masa selanjutnya.

Dua abad berlalu, tepatnya tahun 929 M Malang kembali tampil sebagai kadatwan Mataram pada masa pemerintahan Mpu Sindok (Sri Isyana). Prasasti Turyyan (929 M) yang masih in situ di lembah kali Karuman desa Tanggung Kec. Turen Malang selatan menceritakan tentang berpindahnya kadatwan Mataram dari Jawa tengah ke Jawa timur. Ibukotanya yang pertama adalah Tamwlang (Casparis, 1989:39-52).

Sejarawan Boechari menyebutkan bahwa Tamwlang kini adalah Tambelang di Jombang. Pendapat ini disanggah oleh sejarawan lain Dwi Cahyono dengan bukti bahwa toponimi ‘Tamwlang’ lebih memiliki kemiripan kuat dengan ‘Tembalangan’. Konsonan W sering tertukar dengan B, sehingga boleh jadi Tembalangan berasal dari nama arkhais Tembalang-Tamwlang.  Klaim ini diperkuat dengan bukti bahwa penyebutan ‘Tamwlang’ sebagai ibu kota Mataram masa dinasti Isyana hanya ditemukan pada prasasti Turyyan saja.

Kampung Tembalangan kini masih ada dan berada di utara kali Brantas. Yang patut disayangkan adalah kurangnya data artefaktual di Tembalangan karena wilayah ini keburu menjadi daerah pemukiman padat penduduk sehingga melumatkan tinggalan-tinggalan yang ada.

Bukti berikutnya adalah ditemukannya 8 buah prasasti di wilayah Malang raya dari masa-masa awal pemerintahan Mpu Sindok. Umumnya prasasti-prasasti tersebut memuat penetapan status desa sima/ tanah perdikan. Ini menggambarkan bahwa pada masa awal pemerintahannya di tempat baru, Mpu Sindok perlu menarik simpati dan dukungan dari masyarakat setempat dengan memberikan anugerah (waranugraha). Ini merupakan upaya politis yang strategis.

Arca Nandi di areal candi Singosari

 

Jika benar demikian, maka untuk kedua kalinya Malang terpilih menjadi ibu kota kerajaan besar di nusantara.

Pilihan terhadap daerah utara Brantas sebagai ibu kota negara ini didasari beberapa pertimbangan:

  1. Telah adanya sistim sosial budaya yang teratur di daerah ini sejak abad VIII dengan keberadaan kerajaan Kanjuruhan sebelumnya, sehingga lebih mempermudah pengembangan kerajaan karena tidak harus memulai dari awal lagi.
  2. Lokasi Malang yang diiris-iris oleh sungai sangat cocok dijadikan kedatwan/ kedatuan karena Mpu Sindok membutuhkan lokasi yang aman sebab basis pemerintahan baru saja dipindahkan dari Jawa tengah ke Jawa timur
  3. Sejak masa pemerintahan Balitung, Kanjuruhan bukan lagi sebagai kerajaan melainkan turun status menjadi kerajaan vasal, atau kerajaan bawahan Mataram. Ini mengindikasikan bahwa Mataram telah memiliki basis kekuatan di daerah Malang sedari satu abad sebelumnya. Kemungkinan pada saat itu Mataram telah menaklukan kerajaan yang lebih kecil yaitu Kanjuruhan dan dengan demikian mengakhiri status kerajaan tersebut menjadi kerajaan bawahan saja.

Pada abad XIII Malang kembali tampil dalam kancah sejarah Jawa, yakni dengan menjadi ibukota kerajaan Tumapel. Antara masa pemerintahan Ken Angrok hingga awal pemerintahan Wisnuwardhana ibu kota Tumapel berada di Kutha Raja.

Kakawin Negarakretagama menuliskan sebagai berikut:

“Suatu daerah yang subur makmur di sebelah timur gunung Kawi// disitulah putra Girindra menjadi pemimpin// menggirangkan budiman, menaklukan para penjahat, mendirikan negara, semua rakyat patuh kepadanya//Ibukota negara bernama Kutha Raja, Ranggah rajasa nama gelarnya” (Pigeaud, 1960b: 45)

Berdasarkan informasi itu, Kutharaja berlokasi di sebelah timur gunung Kawi bukan di timur gunung Arjuna. Bila mencermati penuturan “pararaton’, daerah di timur gunung Kawi itu mengarah pada bentang wilayah dari kota Malang ke selatan, bukan sebaliknya dari kota Malang ke utara. Daerah Malang utara lebih tepat bila dinyatakan berada di timur gunung Arjuna. Pendapat ini untuk menjelaskan bahwa pusat kerajaan Tumapel belum tentu di Singosari, sebelah utara Malang sebagaimana diakui secara luas kini.

Baca juga: Dikelilingi Benteng Alam, 5 Kerajaan Pernah Berpusat di daerah Pedalaman Ini

Lalu dimanakah lokasi Kutharaja dahulu berada?

Penempatannya di kota Malang memiliki beberapa alasan. Pertama, kota Malang berada tepat di timur gunung Kawi, sedangkan Singosari berada di di timur gunung Arjuna. Kedua, peta rupa bumi terbitan tahun 1811 menyebut kota lama dengan nama “koetoredjo”, unsur nama ‘redjo’ bisa memiliki dua kemungkinan: (a) berarti ramai, (b) perubahan dari ‘radja’ menjadi ‘redjo’. Jika kemungkinan kedua benar, berarti kadatwan Tumapel yang berada dalam Kakawin Negarakretagama disebut ‘Kutharaja’ bisa dilokasikan di dusun Kuthobedah Kelurahan Kota Lama. Ketiga, di wilayah kota Lama bertemulah sungai Brantas di sebelah barat dan kali Bango di timur. Sebelum bertemu Brantas, kali Bango yang mengalir dari utara ke selatan bertemu dengan kali Amprong yang mengalir dari timur ke barat. Topografi Kutobedah yang membukit, ditambah dengan 3 aliran sungai menjadikannya cocok untuk pertahanan.

Patung tinggalan Hindu di pemakaman Cina di Malang
Patung peninggalan masa Hindu-Buddha di pemakaman Cina di Malang

 

Patung peninggalan masa Hindu-Buddha di pemakaman Cina di Malang

Pada awal berdirinya, kerajaan Tumapel yang tampil di panggung sejarah dengan mengalahkan kerajaan Panjalu atau Kadhiri terbilang belum sepenuhnya aman dari serangan balasan Kadhiri, yang berlokasi di sebelah barat Malang. Oleh karena itu bukit Kuthobedah cocok bagi pengamanan kadatwan Tumapel yang sengaja dirancang sebagai keraton berbenteng kota pada masa Hindhu-Buddha. Sayang area tersebut kini telah musnah dilumat areal kampung perumahan.

Catatan sejarah berikutnya ditorehkan oleh negara bawahan (vasal) Majapahit yang berkedatwan di lereng barat bukit Buring yang masuk dalam wilayah kota Malang. Dibandingkan vasal-vasal lain, vasal Majapahit Kabalan adalah yang paling penting mengingat penguasanya adalah putri mahkota Hayam Wuruk yaitu Kusumawarddhani yang bergelar ‘Paduka Bhatharra’ (disingkat Bhre).

Menurut Prapanca dalam Negarakretagama, Kusumawarddhani dinobatkan menjadi rajakumari dan mendapatkan  daerah kekuasaan (apanage) di Kabalan. Lantaran kedudukannya tersebut, dia disebut ‘Bhre Kabalan’ (Mustopo, 1984:70-72).

Berita tentang vasal Majapahit di Kabalan juga diberitakan dalam prasasti Waringin Pitu (1447 M) yang dikeluarkan oleh Wijayaparakramawarddhana atau Dyah Kretawijaya atau Bhre Tumapel III. Kala itu, penguasa di Kabalan adalah Dhyah Saviti dengan gelar abisekhanya Mahamahisi (Stutterheim, 1938:117-119).

Kabalon dalam tuturan Pararaton adalah sentra perajin emas semasa pemerintahan akuwu Tunggul Ametung. Pada masa keemasan hingga akhir Majapahit naik posisinya menjadi kadatwan atau negara vasal Majapahit yang utama. Keutamaan Kabalan dalam tata pemerintahan Majapahit tergambar dari penempatan putri mahkota Hayam Wuruk bernama Kusumawarddhani sebagai rajakumari (kumararaja=yuvaraja) di Kabalan. Putri mahkota ini seperti menjalani pelatihan atau magang sebelum kelak siap menggantikan ayahandanya. Bisa jadi pada masa itu vasal ini adalah yang terbesar dalam aspek luas wilayahnya, jumlah populasinya, serta tatanan struktur sosial masyarakatnya diantara vasal-vasal yang ada apabila menengok sejarah panjangnya sebagai bekas pusat 3 kerajaan besar sebelumnya.

(Sumber: Wanwacarita, Kesejarahan Desa-Desa Kuno di Kota Malang, Acarya Sengkaling, 2013, terbitan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang). Ilustrasi sampul karya Pramono Estu, Jogjakarta

 

Total
152
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !