Perburuan Pangeran Pembangkang Singasari Menyasar Hingga ke Malang

Melalui kabar dari mata-mata, Kapten Tropponegoro segera mengirimkan 186 Prajurit Eropa, 500 Madura, dan 1600 Prajurit Surabaya, Bangil, dan Pasuruan untuk memburu Malayakusuma. Letnan Gondelag bertugas menjaga Malang dengan 47 Prajurit Eropa dan 1000 Prajurit Surabaya.

Kapten Tropponegoro sangat kecewa karena Malayakusuma telah mundur dari Wulu Laras sebelum Belanda tiba. Satu-satunya jembatan di Sungai Lembal telah dirusak oleh pemberontak untuk menghambat gerak maju kompeni. Ditempat ini Belanda membunuh 17 orang perempuan dan anak-anak karena tidak mau menunjukkan tempat persembunyian Malayakusuma. Meski demikian serangan ke Wulu Laras ini tidak sepenuhnya sia-sia karena berhasil mengumpulkan informasi tentang keberadaan putra Pangeran Singasari yakni Raden Mas.

Pada tanggal 9 Oktober 1767 Kapten Tropponegoro tiba di Batu dan membangun kamp disana. Dengan mengerahkan 500 Prajurit Madura dan 36 Prajurit Eropa, Kapten Tropponegoro menyerang Raden Mas di Rajeg Wesi. Sebelumnya, Belanda harus membersihkan seluruh jebakan yang dibuat raden Mas dan orang-orangnya berupa batu-batu besar di atas pohon, di sepanjang jalan menuju Lodalem. Setelah beberapa jam pertempuran Belanda dapat menguasai Rajeg Wesi dan mendirikan sebuah benteng kecil. Belanda bertahan selama 8 hari sambil mengumpulkan perbekalan bagi prajuritnya.

Raden Mas yang tinggal memiliki 60 prajurit melarikan diri ke selatan untuk bergabung dengan para pemimpin pemberontak lain seperti Tumenggung Antang, Wangsanegara, Mas Pangulu dan Jayakusuma. Kini dengan kekuatan 2000 Prajurit Kaveleri, mereka kembali masuk ke Malang dan mengambil alih kota.

 

Jalan raya dengan jejak gerobak atau cikar di Malang 1890. Diperkirakan jalan malang-Surabaya masa kini. (Sumber: Mengingat Malang)

Sementara itu Bupati Malayakusuma dan adiknya Tirtanegara dilaporkan sedang berada di Sambi Geger, barat daya Samperak. Raden Mas dan ayahnya juga berada diperkirakan berada di Samperak di sebelah utara Lodalem.

Belanda mendapat tambahan amunisi segar dari Bupati Kediri yang berjanji untuk menyerang Samperak.

Tanggal 3 November pasukan koalisi Belanda berjalan dari Sarengat menuju Blitar. Siang harinya mereka tiba di Pagulungan dan di sore harinya mereka menyerang posisi musuh di Selagurit.

Raden Adipati Martadiningrat tiba dari Panaraga dan menunjukkan rute menuju ke target mereka.

Dipagi harinya ketika mereka masih berada diperbukitan tersebut, mereka mendengar suara tambur yang dibunyikan oleh musuh disertai suara tembakan. Pasukan yang berisi 12 Prajurit Eropa, 1 penembak meriam dan hampir 80 Prajurit Jawa bersenjata api dan tombak yang dipimpin seorang mantri bawahan Bupati muda Sarengat dengan cepat maju memasuki hutan. Kemudian seorang kurir yang dikirm Raden Adipati Martadiningrat menginformasikan bahwa tuannya tersebut telah terlibat pertempuran dengan musuh dan mereka telah dikalahkan.

Beberapa menit kemudian mereka melihat serombongan orang dibawah pimpinan Raden Mas dan dari kejauhan Raden Adipati Martadiningrat dari Panaraga berteriak kepada Kapten bahwa orang yang tidak menggunakan payung berwarna kuning itulah Raden Mas.

Kapten segera saja menyiapkan serangan mortir. Terlambat, Raden Adipati Martadiningrat lalu datang dan mengatakan bahwa musuh telah jauh berada diluar jangkauan.

Belanda baru menyadari bahwa musuh ternyata sangat kuat karena Raden Mas tidak sendirian melainkan didukung oleh Tumenggung Wengsanegara beserta seluruh keluarga Malayakusuma yang lain, serta memiliki 2000 Prajurit Kavaleri.

Dalam gerak mundur melepaskan diri dari kepungan tersebut pasukan Raden Mas yang dihujani berondongan mortir terpaksa menceburkan diri ke sungai dimana banyak tentaranya yang tenggelam. Ia melarikan diri menuju ke posisi ayahnya di Kalijingga, Sarengat. Sekitar 25 Prajurit Kaveleri terbaiknya berhasil ditangkap beserta 1000 ekor kerbau, 200 kuda, mesiu, senjata api, dan sejumlah besar tombak pusaka serta keris.

Ilustrasi Perundingan Gubernur Semarang dan Gubernur Surabaya Dalam Rangka Penyerangan ke Malang (Sumber: ngalam.id)

Sebuah laporan dari Blitar mengatakan bahwa Pangeran Singasari tengah bertempur melawan Pasukan Jawa dari Yogyakarta. Dalam pertempuran ini pemimpin Pasukan Jawa yakni Ngabehi Pace, Suradiwirya dan 3 orang lain dari Kediri terbunuh. Sementara dipihak lain 3 pemberontak dilaporkan tewas dan sejumlah orang lainnya terluka.

 

Laporan ini membantah rumor sebelumnya yang menyebutkan bahwa Pangeran Singasari telah meninggal karena kelaparan. Berita ini diperkuat oleh Bupati Pasuruan Nitinegara di akhir November ketika ia bertemu dengan 2 orang Jawa dari Malang yang mengatakan bahwa mereka telah bertemu Pangeran Singasari. Kedua orang ini menginformasikan bahwa Raden Mas berada di Langsi bersama 1000 pasukan, Malayakusuma memiliki 100 pasukan dan Pangeran Singasari sendiri berada di Lodalem bersama 500 prajurit. Mereka semua dikatakan berencana menuju Blambangan melalui pesisir selatan jawa.

Kapten Tropponegoro memerintahkan Letnan Gondelag yang berada di Malang untuk memotong jalan menuju Blambangan guna mencegah musuh bergerak kearah timur.

Tanggal 5 Desember 1767 pasukan Letnan Gondelag yang bergerak dari Ureg-Ureg diserang oleh 500 Prajurit Kavaleri Malayakusuma di Gunung Sumba dari berbagai arah. Pertempuran berlangsung hingga jam 11 siang. Korban dipihak musuh tidak diketahui, namun dipihak kompeni tidak ada seorang prajurit pun yang terluka atau terbunuh.

Keesokan harinya pecah lagi pertempuran di Gunung Cangkring di selatan Gunung Gumba. Sekitar 20 hingga 50 prajurit Malayakusuma menyerang dengan menunggang kuda. Kali ini pasukan Belanda gagal mempertahankan posisinya.

Setelah pertempuran ini Malayakusuma dan keluarganya bersiap menuju Blambangan yang rencananya melewati rute disepanjang pesisir selatan Jawa dari Malang hingga Lumajang dan kemudian Blambangan.

Setelah berperang selama hampir satu tahun sebagian besar pemimpin pemberontak berhasil ditangkap atau terbunuh. Pada tanggal 16 Juli 1768 Pangeran Singasari menyerah di Dapat, di tenggara Lodalem, Kabupaten Malang. Putranya yakni Raden Mas dan Tirtanegara, adik Malayakusuma yang bersembunyi ditempat yang sama berhasil melarikan diri walaupun keduanya terluka parah. Dalam penyergapan ini 25 orang kepercayaan Pangeran Singasari terbunuh dan beberapa wanita dan anak-anak ditangkap.

Tanpa membuang waktu para tawanan tersebut dikirim ke Semarang dan tiba tanggal 5 Agustus 1768. Gubernur Belanda membentuk komisi khusus untuk memutuskan hukuman apa yang pantas diterima bagi para pemberontak. Dihadapan komisi tersebut Pangeran Singasari menyatakan bahwa ia akan menyerah pada Susuhunan Mataram di Kartasura meskipun Susuhunan sendiri berpesan agar gubernur Belanda tidak mengampuninya dan membuangnya. Sultan Yogyakarta juga mempunyai permintaan khusus agar saudara tirinya itu dikirim ke Yogyakarta dimana ia sendiri akan melaksanakan hukuman tersebut atau sebaliknya kompeni sajalah yang memberi hukuman setimpal padanya.

Pada Agustus 1768, sebulan setelah ayahnya tertangkap, Raden Mas berhasil dikepung oleh prajurit kompeni di Rawa (kini Tulungagung) namun masih bisa lolos. Disekitar Rawa prajurit sultan Yogya yang memburunya mendekatinya dengan sembunyi-sembunyi dan membujuknya agar menyerah dengan dijanjikan untuk dibiarkan tetap hidup. Raden Mas yang terluka serius akhirnya menyerah dan bersama-sama mereka menuju ke Yogyakarta. Ditengah jalan, adik Raden Mas yang berusia 3 tahun meninggal. Sultan memberi perintah untuk dikuburkan di Pasar Gede.

Sultan mengirimkan kabar pada Gubernur Belanda di Semarang tentang penangkapan Raden Mas dan mohon pengampuan. Sultan juga menyampaikan keinginannya untuk merawat Raden Mas dan adiknya yang lain yang masih remaja di Yogyakarta.

Pasukan koalisi Belanda-Jawa yang menyerbu Malang 1767 (Sumber: ngalam.id)

Pemerintah Belanda menolak dengan sopan karena beralasan bahwa Raden Mas jauh lebih berbahaya daripada ayahnya. Raden Mas dan adiknya diserahkan ke Belanda di Semarang diatas kapal ‘t Huis ten Donk dimana ibunya dan saudara-saudaranya yang lain serta beberapa pengikut ayahnya juga ditahan. Sementara itu Pangeran Singasari beserta dengan 2 anak perempuannya dan seorang putra remajanya dikirim ke Batavia menggunakan kapal De Erfprins.

Sementara itu Letnan Gondelag bersama dengan 6 Prajurit Belanda dan beberapa prajurit pribumi terus mengejar Malayakusuma di pesisir selatan Jawa setelah terdengar kabar bahwa sang buronan dan keluarganya bersembunyi di desa Blandit di barat daya Malang. Setelah seminggu berjalan kaki Letnan Gondelag tiba di Blandit namun hanya menemukan seorang tua bernama Trunala salah seorang pengikut Malayakusuma.

Pasukan meneruskan pencarian ke arah barat sampai akhirnya menemukan Malayakusuma bersama keluarganya yang sebagian besar terdiri dari wanita dan anak-anak di Sabak dekat Lodalem. Malayakusuma meletakkan senjata tanpa perlawanan berarti.

Pada tanggal 7 November ditengah perjalanan ke Malang, pasukan memutuskan untuk beristirahat di pantai. Saat para prajurit lengah, mendadak Malayakusuma merebut sebatang tombak dan membunuh Kopral Smid van Stam. Komandan Prajurit Surabaya berusaha merebut kembali tombak yang jatuh. Ditengah perkelahian tanpa diduga salah satu punakawan melompat ke arah Malayakusuma dan menghujamkan keris yang digenggamnya. Tubuh Smid dikuburkan ditempat itu sedangkan tubuh Malayakusuma dilemparkan ke laut. Pada tanggal 12 November mereka tiba di Wanapala dimana 2 orang anak Malayakusuma yang masih muda dibunuh sementara sisanya 6 wanita, 1 anak dan seorang budak dikirim ke Surabaya.

 

Bahan bacaan: Perebutan Hegemoni Blambangan, Sri Margana)

Ilustrasi sampul: Foto pengadilan dalam keraton Yogyakarta masa lalu (Sumber: pinterest.com)

Total
264
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !