Prapanca Sang Pelopor Arkeologi Sejarah Indonesia

 

Nama resmi pengarang kakawin Negarakretagama atau yang juga disebut Desawarnana ini adalah Dhang Acarya Nadendra. Namanya terpahat sebagai dharmadyaksa ring kasogatan dalam dua piagam masa pemerintahan raja Hayam Wuruk, yakni prasasti Canggu tahun 1358 M dan prasasti Sekar yang dikeluarkan beberapa tahun kemudian. Ia menggantikan kedudukan ayahnya yang bernama Dhang Acarya Kanakamuni yang telah mengabdi selama 30 tahun.

Sebagai penyair muda yang baru saja dilantik, Prapanca belum memiliki rasa percaya diri dan masih hidup dalam bayang kebesaran orang tuanya. Hal ini tercermin dalam pupuh 17:9c-d dalam kakawinnya saat penyair mengakui bahwa “ ia masih belum tahu cara menghasilkan syair yang baik dan hampir tidak mungkin dapat menciptakan komposisi tertulis.”

Memang jika dibandingkan dengan para pendahulunya, Prapanca bukanlah masuk kategori pujangga besar. Ia belum menghasilkan karya yang bersumber dari kitab agama ataupun sastra tradisi besar (keraton). Bandingkan dengan Empu Kanwa yang menggubah Arjuna Wiwaha atau Empu tantular dengan Sutasoma-nya.

Dalam konteks kepujanggaan masa itu, menulis kakawin memerlukan ketrampilan memilih kata disertai kaidah laga (metrum) tertentu, yang berisi pujian kepada dewa maupun raja. Kakawin padat berisikan kata-kata indah yang tersusun penuh makna dan bahkan dapat dibaca sambil dilagukan/ dinyanyikan.

Namun justru rasa kurang percaya diri ini menciptakan sikap “ngrumangsani”atau “tahu diri”, sehingga membuatnya telaten mencatat nama-nama tempat suci, desa-desa yang dilaluinya ketika bersama rombongan raja, maupun waktu berkelana sendirian. Inilah yang membuat Desawarnana (aneka ragam desa) memiliki keistimewaan tersendiri sebagai salah satu suber rujukan sejarah yang maha penting karena karakter kakawinnya yang berbeda dibanding karya sejenis.

Desawarnana masihlah merupakan pujasastra yang tidak bisa tidak, tetap bersifat subyektif dengan memuliakan dan memuji-muji raja junjungan yang berkuasa saat itu serta menutup-nutupi kekurangannya. Namun dibalik itu, kakawin ini juga berfungsi sebagai dokumen penting kenegaraan karena Prapanca membuat semacam deskripsi dan inventarisasi perihal berbagai jenis peninggalan purbakala yang ada pada zamannya. Prapanca telah melakukan semacam survey lapangan (field survey), suatu hal yang menguntungkan bagi dunia ilmu pengetahuan. Kiranya tidaklah berlebihan bila Prapanca dianggap sebagai bapak pelopor arkeologi Indonesia dan pendahulu arkeologi sejarah (historic archeology).

Bak seorang jurnalis handal, Prapanca dengan runut mencatat dan mendeskripsikan kejadian serta tempat yang dilaluinya. Dicatatnya raja-raja yang pernah memerintah, keadaan keraton, wilayah-wilayah jangkauan Majapahit, dan perjalanan raja Hayam Wuruk tahun 1359 M.

Prapanca adalah jurnalis pertama nusantara yang mendobrak tradisi karena biasanya para pujangga hanya bercokol di menara gadingnya, di seputaran keraton saja. Ia bersusah payah terjun ke lapangan, mengikuti perjalanan rombongan hayam Wuruk berkeliling wilayah kerajaan, dan bahkan bila diperlukan ia akan memisahkan diri dari rombongan. Belum pernah ada penulis yang melakukan hal itu sebelumnya.

Sebagai satu-satunya sumber yang tiada bandingannya tentang keberadaan Majapahit, Negarakretagama hanya bisa dilahirkan dari sebuah visi yang berani melawan kemapanan bukan hanya dalam bidang penulisan sastra, tapi juga kemapanan politik.

Karya sastra ini adalah tanda baktinya pada Prabu Hayam Wuruk walaupun saat menuliskan kakawin ini Prapanca sudah tidak lagi tinggal dalam lingkaran keraton Majapahit. Ia telah menanggalkan jabatannya dan hidup menyingkir di desa Kamalasana di lereng gunung sebagai petapa. Empu Prapanca mendapatkan fitnahan dari seorang bangsawan dan menyebabkan Hayam Wuruk mencelanya lalu mencopot posisinya. Majapahit sedang besar-besarnya pada waktu itu sehingga persaingan politik dan intrik diantara lingkaran dalam kerajaan juga sedang sangat sengit-sengitnya.

Namun Prapanca sama sekali tidak menaruh dendam pada raja, sebaliknya bahkan memuja keagungan Hayam Wuruk. Konon saat raja Lasem berkuasa di Lombok, naskah itu dibawa dari Bali ke Lombok sehingga disimpulkan bahwa Prapanca setelah meninggalkan Majapahit lalu menetap di desa Karangasem Bali. Desa Kamalasana adalah nama sansekerta dari nama asli Karangasem. Secara tidak terduga pada pertengahan tahun 1978 di desa Karangasem Bali ditemukan naskah Desawarnana yang lain yang sekarang disimpan di Griya Pidada Karangasem Bali.

Bali memang berperan sebagai “cagar alam” untuk sastra Jawa Kuna, sejak Majapahit mengalami kemunduran dan akhirnya lenyap dari panggung sejarah pada permulaan abad ke-16. Kakawin ini semula dikira hanya tersisa satu naskah tunggal saja yaitu yang diselamatkan oleh J.LA Brandes, seorang ahli Sastra Jawa Belanda, yang ikut dalam ekspedisi penyerbuan Istana Raja Lombok pada tahun 1894. Ketika itu saat tentara KNIL membakar istana, Brandes menyelamatkan isi perpustakaan raja yang berisikan ratusan naskah lontar. Salah satunya adalah lontar Nagakretagama ini.

Nama Prapanca adalah nama samaran. Prapanca terdiri dari unsur Pra dan Panca yang artinya pra lima yaitu Prapanca, Prapongpong, Pracacad, Pracacab dan Pracongcong yaitu cacat badaniah pengarangnya yaitu jika tertawa akan terbahak bahak sampai matanya mengelayu seperti orang kurang tidur lalu pipinya sembab dan cara bercakapnya agak ganjil alias lucu. Nama prapañca kemungkinan juga merupakan nama pena dan artinya adalah bingung.

Desawarnana bukanlah naskah pertama yang ditulisnya. Sebelumnya Prapanca telah menulis Parwasagara, Bhismasaranantya, Sugataparwa, dan dua kitab lagi yang belum selesai, yaitu Saba Abda dan Lambang. Namun sayang sekali semua naskah tersebut sampai sekarang belum ditemukan atau memang sudah hancur tidak sampai kepada kita.

 

Incoming search terms:

  • prapanca artinya

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !