Prasasti Katiden I dari Masa Keemasan Majapahit

Terdapat dua prasasti pada masa kerajaan Majapahit yang diberi nama Prasasti Katiden, yaitu Prasasti Katiden I bertarikh 1314 Saka dan Prasasti Katiden II tahun 1317 Saka. Tidak disebutkan nama Raja dari ke dua prasasti tersebut.

Didalam Prasasti Katiden I hanya terdapat kalimat sira sang mokta ri kŗttabhuwana (ia yang meninggal di Kŗttabhuwana) dimana kalimat ini menunjuk pada Raden Kudamerta atau yang dikenal sebagai Bhre Parameśwara, yaitu raja kerajaan bawahan atau vasal Majapahit di Wengker.  Ia berkeraton di Pamotan dengan nama abhiseka Śrī Wijayarājasa. Gelarnya adalah Pāduka Bhatāra Matahun Śrī Wijayarājasāntawikramottunggadewa sebagaimana terbaca dari Prasasti Kuśmala bertarikh 14 Desember 1350 Masehi atau 1272 Śaka.

Kedua prasasti bernama Katinden ini dikeluarkan disaat pemerintahan Majapahit dipegang oleh Wikramawarddhana dan berisi peneguhan kembali suatu kebijakan yang dulunya dikeluarkan oleh Bhre Wĕngkĕr Śrī Wijayarājasa, kakek Kusumawarddhani yang adalah permaisuri Wikramawarddhana.

Bhre Wĕngkĕr Śrī Wijayarājasa menikah dengan Tribhūwanottunggadewi (Bhre Kahuripan) yang memiliki nama Rājadewi Mahārājasa (Bhre Daha). Dari pernikahan dengan Rājadewi Mahārājasa ia memiliki anak perempuan yaitu Rājasaduhitendudewī yang kelak menjadi Bhre Lasem I. Dengan istrinya yang lain, ia memiliki anak bernama Pāduka Sorī. Pāduka Sorī adalah permaisuri raja Hayam Wuruk. Dengan begitu Śrī Wijayarājasa adalah paman dan sekaligus mertua raja Hayam Wuruk, jadi masih termasuk keluarga dekat elit istana.  Śrī Wijayarājasa wafat pada tahun 1388 Masehi atau 1310 Śaka lalu didharmakan di Mañar yang dikenal sebagai Wiṣṇubhawanapura.

Lokasi asal prasasti katinden di Lawang Malang

Prasasti Katiden yang pertama atau yang kita sebut prasasti Katiden I dicatat pada sebuah lempengan berukuran 35,7 x 9,7 cm menggunakan aksara dan bahasa Jawa kuno. Bagian depannya memiliki 5 baris tulisan sedangkan bagian belakangnya 1 baris tulisan. Prasasti Katiden I dikeluarkan tahun 1314 Saka pada bulan Caitra atau kalau menurut perkiraan L Ch. Damais adalah 24 Maret hingga 22 April 1392 Masehi.  Sekarang prasasti ini dikoleksi oleh Museum Nasional.

Prasasti Katiden dialih suarakan dan diterjemahkan dalam bahasa Belanda oleh W.F. Stutterheim dalam JBG 1937 dan selanjutnya untuk penerbitan katalog Prasasti Koleksi Museum Nasional (1985) terjemahan Bahasa Indonesianya dilakukan oleh Boechari dan Wibowo.

Diketahui dari Prasasti Katiden I bahwa Bhre Wĕngkĕr Śrī Wijayarājasa adalah sosok yang sangat peduli dan berwawasan lingkungan. Hal tersebut sesuai dari keterangan Nagarakretagama yang mengatakan suatu peristiwa dimana Bhre Wĕngkĕr Śrī Wijayarājasa mengajak para petinggi lainnya untuk memperhatikan dan peduli kepada lingkungan dan mencintai rakyat.

Beginilah isi prasasti Katiden I:

Meskipun kedua prasasti ini tidak dikeluarkan secara bersamaan, tetapi isi pesan yang ada didalam kedua prasasti tersebut adalah perintah yang diteguhkan kembali pada masa pemerintahan Wikramawarddhana. Dengan begitu, meskipun Śrī Wijayarājasa telah meninggal perintahnya masih ditaati oleh penduduk Katiden. Bhre Wĕngkĕr Śrī Wijayarājasa memang sosok bijaksana dan kebapakan yang lebih berperan sebagai guru bangsa dan negarawan. Tidaklah mengherankan bila dalam beberapa generasi selanjutnya namanya tetap harum dan tetap dikenang.

 

(Disarikan dari: ngalam.id. Sumber: 1. Prasasti Katiden – Titi Surti Nastiti, 2. Dari Pura Kanjuruhan Menuju Kabupaten Malang – Habib Mustopo, 3. Tafsir Baru Kesejarahan Ken Angrok – Suwardono)

Total
26
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !