Prasasti Katiden II (Prasasti Lumpang)

Prasasti Katiden II dicatat pada sebuah lempeng tembaga dengan ukuran 35 x 9,5 cm. Tulisan yang ada dalam prasasti ini menggunakan aksara dan bahasa Jawa kuno. Di sisi depan tertulis 6 baris dan di sisi belakang 3 baris. Prasasti ini dikeluarkan tahun 1317 Saka pada bulan Srawana. Sejarawan L. Ch. Damais memperkirakan pembuatan prasasti ini adalah 17 Juli hingga 15 Agustus 1395 Masehi. Prasasti ini masih belum diketahui berada dimana meskipun R.M.Ng. Poerbatjaraka mengatakan prasasti ini dikoleksi museum di Malang, tetapi pada tahun tersebut Malang masih belum memiliki museum.

R.M.Ng. Poerbatjaraka adalah orang pertama yang mengalih bahasakan aksara prasasti ini menjadi bahasa Belanda. Terjemahannya ini dimuat dalam TBG 76, lalu Th.G.Th. Pigeaud menerjemahkan menjadi bahasa inggris untuk jilid III buku Java in the Fourteen Century (1960-1963), sedangkan Muhammad Yaminlah yang menerjemahkannya menjadi Bahasa Indonesia untuk buku Tatanegara Madjapahit jilid II terbitan tahun 1962.

Isi prasasti Katiden adalah sebagai berikut:

prasasti katiden 2 kekunoan.com

Prasasti ini adalah pengumuman resmi raja Wikramawarddhana pada tahun 1317 Saka (sekira tahun 1395 M) yang ditunjukkan kepada pacatanda yang menguasai Turen dan perjabat-pejabat seperti wedana, juru dan juga buyut. Yang kedua ditunjukkan kepada masyarakat yang bertempat tinggal di sisi timur Gunung Kawi, baik yang tinggal di seberang barat maupun sebelah timur sungai Brantas (yang dalam prasasti disebut bañu), yaitu satuan masyarakat yang disebut si para same Katiden. Wikramawarddhana adalah menantu dan sekaligus penerus tahta Majapahit sepeninggal Hayam Wuruk.

Si para same Katiden diperintahkan raja untuk menjaga dan melestarikan hutan Alang-alang di lereng Gunung Lejar agar tidak terbakar. Dengan adanya tugas ini, 11 desa yang ditunjuk melaksanakan tugas tersebut dibebaskan dari berbagai macam beban pajak titisara atau uang upeti dan jalang/ palawang yang berarti pajak rumah . Mereka juga mendapat hak mengambil hasil hutan dan memanen telur penyu di pantai selatan.

Bunyi Katiden sebagaimana dipahat pada prasasti di baris keempat ini adalah nama wilayah yang sekarang disebut Desa Ketindan sebelah barat kota Lawang, sedangkan Gunung Lejar sampai saat ini belum berhasil diidentifikasi letaknya. Banyak yang beranggapan Gunung Lejar saat ini terletak disebuah dukuh di sekitar Gunung Kawi, yaitu dukuh Lajar dan kali Lajar di sebelah utara dukuh ini yang berada di Desa Pandanrejo, kota Batu.

 

(Disarikan dari : ngalam.id. Bahan Pustaka: Tafsir Baru Kesejarahan Ken Angrok – Suwardono, Prasasti Katiden – Titi Surti Nastiti, dan Dari Pura Kanjuruhan Menuju Kabupaten Malang – Habib Mustopo)

Total
8
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !