Satu Seperempat Abad Naskah Kuno tapi Baru; Pararaton dan Negarakrtagama

Serat Pararaton yang disusun oleh Dr. J.L.A. Brandes adalah salah satu produk sastra Jawa Kuno yang paling menarik perhatian karena sebagai naskah sejarah, ia tidak ada padanannya.  Pararaton sejatinya adalah naskah hasil pengumpulan rekaman tradisi lisan. Naskah tertua ditulis setelah tahun 1403 Saka atau 1481 M pada masa pemerintahan raja Girindrawardhana Dyah Rana Wijaya, yaitu sebagai tahun yang dicatat terakhir dalam Pararaton (Djafar, 2009:20).

Naskah-naskah yang dijadikan sumber oleh Brandes adalah naskah-naskah rontal yang pada waktu itu disimpan di Museum Nasional Jakarta, yaitu kropak no.337, kropak no 550, serta kropak no. 600. Naskah-naskah tersebut sekarang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI, yaitu naskah dengan no.337 (terdiri dari 17 lempir), naskah no. 550 (47 lempir bertahun penyalinan 1535 Saka atau 1613 Masehi), naskah no.600 (53 lempir dan bertahun penyalinan 1522 Saka atau 1600 Masehi ), ditambah sebuah koleksi naskah salinan baru yang diberi no.600b (87 lempir bertahun 1915 Saka atau 1993 Masehi).

Setelah diterbitkan tahun 1896, serat ini segera saja menjadi peletak dasar baru bagi penulisan sejarah Jawa kuno di masa itu. Siapapun yang berkecimpung dalam bidang sastra Jawa maupun Melayu sungguh-sungguh merasakan loncatan besar yang membedakan masa sebelum dan sesudah munculnya serat ini.

Dalam Pararaton garapannya ini, Brandes menambahkan catatan-catatan (aanteekeningen) yang panjang dan lengkap yang merupakan hasil upayanya menimba bahan-bahan dari Pararaton yang di dalamnya terkandung mutiara ke-empu-an yang sangat penting.

Lima belas tahun setelah Brandes meninggal, atau 24 tahun setelah Pararaton pertama terbit, lahirlah Serat Pararaton baru karya Dr. N.J. Krom dengan dibantu oleh ilmuwan lain seperti Prof. J.C. Jonker, H. Kraemer, dan ilmuwan bumi putera Poebatjaraka. Edisi kedua ini sangat penting karena setelah 1896 ada penambahan bahan-bahan baru yang penting berupa prasasti-prasasti dan yang paling utama tentu adalah penambahan dari ditemukannya Negarakrtagama.

Negarakretagama ditemukan oleh Brandes sendiri di bawah puing-puing istana Cakranegara di Lombok bulan November 1894. Belanda tengah mengirimkan ekspedisi militer ke Lombok untuk memerangi penguasa Puri Cakranegara. Sejak 1894, yang bertahta di puri Cakranegara Lombok adalah raja Karangasem Bali. Dengan kata lain, Lombok dan Karangasem Bali berada di bawah satu penguasa. Dua puluh lima ribu orang Bali di Lombok berkuasa atas penduduk Lombok suku Sasak muslim yang dua belas kali lipat banyaknya.

Orang Sasak memberontak karena merasa tertekan oleh penguasa Bali akibat pemungutan pajak dan upaya pengiriman orang sasak ke Karangasem untuk diikutsertakan dalam perang antara Karangasem melawan Klungkung. Perlawanan orang Sasak terhadap penguasa Bali ini terjadi tahun 1891.

Gubernur jendral Belanda yang baru, C.H.A. van der Wijck, yang penganut kebijakan ekspansionis, meluncurkan ekspedisi militer ke Bali setelah menerima laporan dari pejabat Belanda bawahannya di daerah. Tujuan operasi militer ini diumumkan adalah untuk menghentikan penindasan terhadap rakyat Sasak. Namun dibalik semua itu, Belanda mencium adanya bahaya bahwa raja Karangasem tidak hanya bakal menguasai Bali timur, bahkan berpeluang menjadi besar karena berpotensi menguasai seluruh Bali. Perang ini berakhir dengan berdarah-darah melalui puputan dengan jatuhnya puri Cakranegara 18 November 1894.

Brandes berada di Lombok sebagai seorang Pejabat Bahasa (Taalambteenar) yang sedang berusaha mendapatkan naskah-naskah lama Jawa kuno yang penting, di lingkungan kerajaan-kerajaan Bali. Bila bukan naskah yang asli, sekurang-kurangnya salinannya.

Bali diketahui merupakan ‘cagar’ naskah-naskah lama dari Jawa. Bali takluk oleh Majapahit tahun 1343 dan tata pemerintahan Jawa pun diberlakukan di Bali. Hubungan khusus kedua wilayah inilah yang menjamin kelangsungan budaya klasik Jawa dalam perkembangan sejarah selanjutnya, khususnya setelah masuknya Islam.

Naskah Negarakretagama karya Mpu Prapanca baru diterbitkan kembali dalam bentuk cetakan dengan huruf Bali sesuai aslinya pada tahun 1902.

Dari awal ditemukan pada tahun 1894, serat Negarakretagama disangka sudah tidak ada salinannya yang lain. Baru pada tahun 1979 H.I.R. Hinzler dan J. Schoterman menemukan naskah Negarakretagama yang lain juga di Bali. Oleh karena itulah praktis semua terjemahan dan kajian Negarakretagama didasarkan dari ‘Manuskrip Brandes’.

Penggarapan pertama dilakukan oleh Prof  Kern yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda selama 11 tahun (1903-1914). Negarakretagama karya Kern ini diterbitkan tahun 1919. Empat tahun kemudian Purbatjaraka menerbitkan catatan-catatan Mengenai Kretanegara (Aanteekeningen op de Nagarakretagama).

Dalam Negarakretagama tahun 1919 ini dimuat pula ringkasan isi Pararaton yang dilanjutkan dengan garis besar isi Negarakretagama.

Pararaton diawali dengan kisah legendaris Ken Angrok, mulai dari lahir hingga kematiannya di ujung keris buatan Mpu gandring yang banyak mengandung unsur mistis. Ken Angrok dan Ken Dedes memiliki keturunan bernama Raden Wijaya yang akhirnya menjadi pendiri Majapahit bergelar Kertarajasa jayawardhana (1294-1309). Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada sebagai patihnya. Pada masa Hayam Wuruk inilah Mpu Prapanca menggubah Desawarnana yang lebih dikenal sebagai Negarakretagama.

Penggarapan Negarakretagama dalam bahasa Indonesia dilakukan oleh Prof Dr Slamet Muljono dan diterbitkan tahun 1953.

Naskah ini sesungguhnya bernama Desawarnana, sebagaimana yang terdapat pada naskah karya Prapanca. Dr Brandes lah yang mengintrodusir penamaan Negarakretagama yang dikutipnya dari kolofon atau kata-kata penutup yang diciptakan oleh si penyalin naskah aslinya. ‘Kretagama artinya ‘based upon’ atau ‘established in the holy tradition’.

Tahun 1956 balai Pustaka menerbitkan buku ‘Menuju Puntjak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit, juga karya Slamet Muljono.

Ada sarjana lain yang menggarap Negarakretagama, tidak cukup dalam satu jilid saja, melainkan lima jilid, yakni Prof Dr Pigeaud dengan memakai judul Jawa in the Fourteen century. Ia menyelesaikan bukunya selama 15 tahun, dari 1948 hingga 1963. Baru pertama kali ini Negarakretagama diterjemahkan dalam bahasa Inggris.

Stuart Robson kurang puas dengan penerjemahan Pigeaud.

Ia memberi kritik keras dengan menganggap terjemahan ke dalam bahasa Inggris adalah suatu kemunduran, bukan saja karena bahasa Inggrisnya sulit dipahami, melainkan juga karena pilihan katanya sering meleset. Di sana-sini memang didapatkan gagasan bagus, namun banyak juga bagian yang tidak disepakati.

Robson lantas menggarap naskah Negarakretagamanya sendiri mulai 1979 dan diterbitkan tahun 1995. Robson sendiri mengakui bahwa tidak selalu mudah memahami arti kata dan kalimat Jawa kuno Prapanca. Ada beberapa bagian yang sederhana dan jelas maknanya. Ada juga bagian-bagian yang terasa gelap sehingga sulit menerjemahkan artinya, oleh sebab itulah Robson merasa perlu menganjurkan penggarapan lebih lanjut.

Ia sangat mengharapkan agar penerjemahan dilakukan dari kalangan putra dan putri Indonesia sendiri dan memulainya langsung dari menggarap naskah Jawa Kuno nya.

Menerjemahkan dari terjemahan bahasa Inggris atau bahasa lainnya justru akan menjauhkan diri dari esensi karya Prapanca itu sendiri.

 

(Disarikan dari: ‘Dari Buku ke buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu’ karya P Swantoro dengan sedikit tambahan dari artikel ‘Jejak-jejak Arkeologis di Polowijen..’ tulisan Suwardono)

 

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !