VOC Pedagang Berpedang vs. Tionghoa Pedagang Gigih

VOC dan Tionghoa awalnya sama-sama berdagang di Jawa, namun perbedaan mereka terletak pada sistim yang dianut.

Kompeni memilih jalur perdagangan dengan konsesi-konsesi yang mereka dapat dari para penguasa lokal. Konsesi tersebut tentu saja didapat dari upaya investasi menanamkan pengaruh dan kekuasaan. Sering kali kekuasaan diperoleh dari kekuatan militer dan pertumpahan darah.

Piranti militer adalah sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang Tionghoa, sehingga mereka tidak dapat mengungguli cara-cara yang ditempuh kompeni. Maka dari itu, hanya ada dua pilihan: bekerja sama atau bersaing dengan kompeni. Orang Tionghoa mengambil pilihan yang pertama walaupun dengan konsekuensi secara hukum mereka berstatus kawulo atau orang jajahan kompeni.

Tionghoa

Pulau Jawa yang disebut She Po atau Zhao Wa, adalah salah satu tujuan utama orang Tionghoa merantau. Daya tarik Jawa yang memikat adalah tanahnya yang teramat subur sehingga terkenal sebagai gudang beras dan letaknya yang strategis.

Kedatangan orang Tionghoa yang pertama tercatat atas nama Faxian, seorang biksu perantau yang singgah di Jawa tahun 414 Masehi.

Sketsa studi tentang orang Tionghoa karya Cornelis de Bruyn (mungkin), ca. 1701 - ca. 1711
Sketsa studi tentang aktifitas orang Tionghoa dalam perdagangan dan ritual menyembah altar karya Cornelis de Bruyn (mungkin), 1701 – 1711

Bangsa Tionghoa sangat pawai dalam bidang maritim. Kapal-kapal mereka yang disebut Jung (dialek jawa menyebutnya Wangkang) telah berlalu-lalang di samudera luas sejak ribuan tahun.

Imigran Tionghoa datang secara bergelombang di jawa menurut kelompok suku atau daerah asal mereka. Dari jung-jung yang tiba, dapat dengan cepat dikenali dari mana mereka berasal. Apabila di bagian kepala jung bercat hijau, maka dapat dipastikan bahwa kapal tersebut berasal dari daerah Hokkian (Mandarin: Fujian), sedangkan warna merah menandakan  berasal dari Kwang Tung (Mandarin: Guang Dong). Para imigran kebanyakan berasal dari wilayah Hokkian, Fukien, Canton (Guangzhou) dan daerah lain di sebelah selatan Tiongkok. Selain penumpang, armada yang berlayar juga membawa barang dagangan berupa: porselin, sutra, tekstil, kertas, dll.

Frekuensi kedatangan kapal-kapal Tiongkok ke Jawa makin lama makin meningkat, terutama sejak jatuhnya dinasti Ming dan terbukanya kembali perdagangan antara Tiongkok dengan Asia Tenggara tahun 1683. Pada awalnya, hanya 3 atau 4 jung pertahun kemudian jumlahnya meningkat hingga mencapai 20 jung. Kebanyakan kapal-kapal tersebut mendarat di banten atau Batavia kemudian tersebar ke pelabuhan-pelabuhan penting seperti Jepara, Juwana, Tuban, Gresik, dan Pasuruan. Tak jarang sebagian mereka juga menuju ke daerah pedalaman karena selain pedagang profesi para imigran ini adalah tukang dan pengrajin.

Orang Tionghoa adalah penggerak roda industri karena menjadi pelopor berdirinya pabrik-pabrik gula di jawa walaupun masih menggunakan teknik yang sederhana. Untuk menghasilkan gula mereka menggiling tebu dengan tenaga kerbau yang memutar batu pengiling. Penduduk pribumi yang sebelumnya hanya mengenal gula kelapa lama kelamaan menyukai gula buatan orang Tionghoa. Akibatnya gula tebu laku keras dan merangsang tumbuhnya pabrik-pabrik baru. Para produsen menyewa lahan dari penduduk dan penduduk yang mengetahui bahwa tebu adalah komoditas berharga ikut menanam tebu. Pabrik-pabrik tersebut merupakan embrio pabrik gula modern yang menjamur di abad 19.

Industri lain yang tak kalah pentingnya adalah kerajinan pembuatan genteng dan batu bata. Tradisi orang Jawa dalam membuat rumah selama ribuan tahun selalu menggunakan kayu, baik untuk dinding maupun atap. Orang jawa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana orang Tionghoa membangun rumah mereka. Mereka menyaksikan bahwa batu bata yang tadinya hanya digunakan membangun pagar istana atau benteng sekarang juga digunakan sebagai dinding rumah orang Tionghoa atau Belanda. Dalam perkembangannya, bangunan yang terbuat dari batu bata oleh orang Jawa disebut loji. Proses pembangunan loji memerlukan adonan pasir dan kapur. Guna mendapatkan material ini, mereka membuka daerah pedalaman di perbukitan yang selama ini belum dirambah manusia. Para imigran selain mengimpor barang-barang kebutuhan dari Tiongkok juga berusaha memproduksi sendiri dengan bahan-bahan yang tersedia di Jawa. Pada awal abad 18 Lasem telah dikenal sebagai daerah pembuatan kertas berbahan baku sekam padi.

Dengan berkembangnya sentra-sentra industri, maka pemukiman orang Tionghoa mulai menyebar dan berkembang pesat. Kepala loji kompeni di Jepara yang bernama Jan Albert Sloot di awal abad 18 melaporkan: “Hampir tidak ada satu desa pun yang tidak dihuni oleh orang Tionghoa. Bahkan di desa yang letaknya jauh di pedalaman sekalipun”.

Sketsa arang tentang orang-orang Tionghoa di Jawa karya Cornelis de Bruyn (mogelijk), 1701 – 1711

Karena tuntutan perdagangan yang makin tinggi, mobilitas orang Tionghoapun makin meningkat. Mereka terpaksa harus menempuh jalan-jalan yang sunyi dan berbahaya dalam menjajakan dagangan. Biasanya mereka didampingi oleh satu atau dua orang Jawa sebagai rekanan yang membantu mengangkut barang dagangan. Tidak jarang mereka harus menghadapi gerombolan perampok yang ingin merampas barang atau uang. Untuk mengatasi hal ini, orang Tionghoa sering mengajarkan ilmu beladiri kepada orang Jawa. Ilmu silat yang diajarkan meliputi bela diri dengan tangan kosong, tongkat, thie-pie atau chiu-kin, yaitu sejenis selendang atau kain panjang.

Beberapa pembanguan sarana fisik juga dilakukan orang Tionghoa dengan maksud mengembangkan perekonomian Jawa. Dengan cara swasembada mereka membangun sentra-sentra ekonomi seperti pasar, pelabuhan, dan irigasi.

Interaksi kedua budaya ternyata juga menular pada aspek-aspek lain yang lebih luas. Kini orang Jawa mengenal arak, candu, dan judi dengan menggunakan kartu. Tafsiran jumlah orang Tionghoa pada waktu itu adalah 100.000 sedangkan penduduk Jawa 2,5 juta jiwa.

Belanda

Belanda pertama kali berlayar ke timur dalam upaya mencari rempah-rempah yang harga sekantungnya di Eropa waktu itu lebih mahal dari sekantung emas dengan bobot yang sama. Kala itu negara ini sangat miskin dan merupakan propinsi jajahan super power Eropa yaitu kerajaan Spanyol. Seorang pengkotbah Kristen sekaligus kartografer Plancius mengkampanyekan gagasan supaya Belanda mengarungi lautan mencari sumber rempah agar terlepas dari kemiskinan.

Bulan Juni 1596 sebuah armada pimpinan Cornelis de Houtman yang membawa 249 awak dilengkapi dengan 64 pucuk meriam membuang sauh di pelabuhan Banten, pelabuhan lada yang terbesar di ujung barat pulau Jawa. Namun de Houtman tidak dapat bertahan lama karena serangan Portugis dan penduduk setempat. Armada ini kembali ke negerinya tanggal 14 Agustus 1597 dengan menyisakan 89 orang selamat dan keuntungan Florin 80.000 dari modal investasi Florin 290.000. Walaupun mengecewakan pemodal, de Houtman berhasil membuktikan prospek cerah perdagangan di Hindia timur pada masyarakat Belanda. Dominasi Portugis yang tadinya terkesan sebagai kekuatan dagang yang tidak bisa ditembus ternyata dapat disusupi oleh armada dagang belanda. Hal ini tak pelak menimbulkan niat untuk mencoba kembali peruntungan di Hindia timur.

Ilustrasi sekelompok pekerja mengumpulkan kayu dengan latar belakang benteng kota Batavia karya Dirk Langendijk, naar Hendrik Kobell, 1780

Ekspedisi dengan armada 22 buah kapal kembali dikirim di bawah pimpinan Jacob van Neck tahun 1598. Ekspedisi ini merupakan kapal Belanda yang pertama kali berhasil mendarat di Maluku yang terkenal dengan rempah-rempahnya. Saat kembali ke Belanda, para pemodal merasa sangat senang karena keuntungan yang diperoleh mencapai 400%. Sejak itu perusahaan-perusahaan seantero Belanda berlomba dan bersaing secara ketat mengirim armada niaga ke Hindia Timur.

Lama-kelamaan mereka sadar bahwa selain bersaing dengan sesama bangsanya,mereka juga harus bersaing dengan bangsa lain yaitu Inggris, Spanyol, dan Portugis. Maka mereka bergabung dan mendirikan VOC agar segala daya dan upaya dapat di arahkan untuk mengalahkan pesaing dari negara lain. VOC (Veerenigde Oost-Indische Compagnie) yang memiliki arti harfiah Maskapai dagang untuk Hindia Timur berdiri tanggal 20 Maret 1602. Lidah jawa kesulitan melafalkan kata bahasa Belanda sehingga lazim menyebutnya Kompeni.

VOC adalah gabungan dari 6 perusahaan dagang yang sebelumnya bersaing ketat. Perusahaan yang sudah ada sebelum terbentuknya VOC pun bergabung, diakomodasi dalam kamer atau kamar. Para direktur perusahaan terdahulu diangkat sebagai direktur kamar di kota yang berbeda-beda. Pimpinan tertinggi VOC adalah dewan pimpinan yang disebut Heeren XVII yang anggotanya dipilih dari perwakilan-perwakilan kamar dagang. Jumlah perwakilan kamar bergantung pada besaran modal yang diinvestasikan.

Armada VOC yang pertama berlayar ke Hindia timur dipimpin oleh laksmana Steven Van der Hagen tahun 1603. Armada ini menampakkan sifat militerisme yang kuat dengan perlengkapan yang lebih mirip armada perang daripada armada dagang. Bangsa Belanda adalah perintis pendirian korps Marinir dengan menempatkan prajurit bersenjata di atas kapal dagang.

VOC memiliki paradigma bahwa kegiatan perdagangan akan memberi keuntungan apabila berlangsung aman tanpa gangguan. Untuk tujuan ini VOC memerlukan suatu tempat untuk dijadikan benteng atau pemukiman yang lahannya dapat diperoleh dengan berbagai cara seperti kontrak, membeli, maupun penaklukan. Sunda kelapa, sebuah daerah di timur Banten terpilih untuk pijakan awal tersebut.

Sejak itu perusahaan dagang ini berkembang menjadi lembaga yang menancapkan kedaulatan politik di suatu wilayah. Kelak setelah keamanan tercapai, VOC mendirikan perkebunan-perkebunan yang luas, membuka pertambangan mineral, memaksakan sistim tanam paksa, kerja rodi yang semuanya bertujuan untuk mendapatkan keuntungan ekonomis sebesar-besarnya.

Sistim transportasi seperti jalan raya dan rel kereta api juga infrastruktur lain semacam jembatan, rumah sakit, pembangkit listrik, dll memang dibangun, namun dengan menitikberatkan kepentingan Belanda semata, bukan atas nama kesejahteraan pribumi.

Perbedaan pendekatan dagang kedua pihak ini mewariskan hal yang berbeda bagi tanah Jawa.

Karena lebih memegang peranan sebagai pemerintah atau administrator, Belanda banyak meninggalkan produk hukum dan sistim ketatanegaraan yang sebagian besar masih kita anut hingga kini. Arsitektur bangunan megah eks gedung pemerintah masih tersisa di berbagai kota.

Pemandangan Jawa yang indah karya abad 17

Orang Tionghoa yang lebih membaur dalam masyarakat menciptakan akulturasi budaya baru sebagai perpaduan unsur budaya Tionghoa dan Jawa. Banyak kosa kata Tionghoa masuk menjadi kosa kata bahasa Indonesia sekarang seperti anglo yang berarti tungku, cat, niowa yang berarti nyonya, dan lain-lain. Silang budaya Jawa-Tiongkok ini terus berlanjut ke masa kini dan merambah ke berbagai barang seni dan kerajinan. Corak batik Jawa pesisir Cirebonan bermutu tinggi berbaur dengan corak Tiongkok dengan munculnya gambar Kilin, yaitu hewan kahyangan dalam mitologi Tionghoa. Warna kesukaan Tionghoa, yaitu merah menjadi pakem batik pesisir Lasem.

Arsitektur Tionghoa tampak medominasi pada bangunan Masjid Demak, dan masjid-masjid tua di sepanjang pantai utara Jawa terutama pada susunan atapnya. Hiasan keramik kesultanan Cirebon dan ukiran asli Jepara pun menampilkan perpaduan seni hias Jawa-Tionghoa. Selanjutnya tentu saja jangan melupakan segala macam kuliner khas Tiongkok yang membuat lidah orang Jawa menari-nari 😀

 

Total
68
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !