Babad Giyanti, Negarakretagama-nya Periode Kerajaan Islam

Babad Giyanti merupakan karya sastra klasik yang banyak dikutip para sejarawan dan banyak mendapat pujian. Selain karena tatabahasanya yang indah karya ini juga merupakan karya raksasa. Dalam versi Balai Pustaka karya ini diterbitkan dalam 21 jilid yang setelah diterjemahkan di sini masing-masing memuat kira-kira 100 halaman.

Arti penting Babad Giyanti adalah karena ditulis oleh seorang yang mengalami sendiri aneka peristiwa yang diceritakan alam Babad ini. Awal dimualainya kisah ini hampir bersamaan dengan Kyai Yasadipura mulai mengabdi di keraton Kartasura, yang konon beliau mengabdi sejak peristiwa geger Pacina.

Meski banyak cerita dalam babad ini tidak terkonfirmasi oleh sumber-sumber dari VOC, kami berpendapat bahwa ini menjadi keunggulan dari Babad ini. Tidak semua peristiwa dicatat oleh VOC dan dengan demikian apa yang tertulis di Babad ini dapat melengkapi catatan yang sudah ada. Mengenai kevalidan cerita dapat dikatakan bahwa babad ini dikatakan oleh sejarawan MC Ricklefs sebagai cukup akurat. Hal ini dilihat dari beberapa peristiwa yang juga tercatat oleh VOC, mempunyai kesamaan dengan apa yang tertulis dalam babd ini.

Babad Giyanti ditulis dalam bahasa Jawa dalam kurun waktu lebih dari dua ratus tahun yang lalu. Tentu orang-orang zaman sekarang sedikit sulit memahami, apalagi yang kurang mahir dalam bahasa Jawa.

Terjemahan ini ditujukan agar kita memahami bahasa Jawa sastra sedikit banyak, walau pun mungkin mulai terasa asing ?

 

PUPUH I

SERI BABAD GIYANTI (1-3)

Hingga kini, setidaknya naskah Babad Giyanti yang dikenal pula sebagai Serat Babad Surakarta itu ditemukan dalam tiga versi. Satu naskah Babad Gianti anonim yang ditulis pada tahun 1820 dan dua versi sama dengan terbitan berbeda dari N.V. Boedi Oetama tahun 1916 sampai dengan 1918, serta oleh Bale Pustaka tahun 1937 sampai dengan 1939.

Buku Babad Giyanti terbitan N.V. Boedi Oetomo terdiri atas 4 jilid yang diterbitkan sepanjang tahun 1916 sampai dengan 1918. Disebutkan pada bagian pembuka buku itu bahwa naskah yang didasarkan pada karya tulis R.T. Yasadipura tersebut mengisahkan tentang kisah Kompeni Belanda, Kraton Surakarta, Yogyakarta, dan Mangkunagaran.

Berikut ini transkrip naskah Jilid 1 Babad Giyantiversi tim N.V. Boedi Oetomo:

*********************************

Sêrat Babad: Surakarta Ingkang Katêlah Dipun Wastani Babad Giyanti Mawi Sêkar Macapat.

Anyariyosakên lêlampahanipun: Kumpêni Walandi, Karaton Surakarta, Ngayogyakarta, tuwin Mangkunagaran. Babon asli saking suwargi Radèn Tumênggung Yasadipura, pujôngga ing Karaton Dalêm Surakarta Adiningrat.

Kacithak saha kawêdalakên dening Namlosê Penutsêkap Budi Utama ing Surakarta, taun Je: 1846, taun Walandi: 1916.

Jilidan ôngka: I.

BABAD GIYANTI 1
Raden Ngabehi Yasadipura I

KARTASURA BÊDHAH,
KRATON NGALIH DHATÊNG SALA

 

PUPUH 1: DHANDHANGGULA

1.

mêmanise tyas rêsêp migati
ing pangulah mring rèh kasarjanan anêtêpi ing ugêre
jênêngirèng tumuwuh
sinung têngran budi mumpuni dera sang amurwèngrat ngumala sumunu tumraping jagad lir surya nyênyunari niskara sèsining bumi kang nyata lan kang samar

Manisnya hati menyenangkan, memberi semangat dalam mempelajari segala pengetahuan. Menetapi aturan sebagai orang yang berkehidupan. Mempunyai ciri budi yang mumpuni oleh Yang Maha Kuasa. Seperti permata yang bersinar bagi kehidupan, seperti matahari menyinari semua isi dunia, yang terang dan yang samar-samar.

Keterangan :
Bait ini menjelaskan bahwa hati yang manis, yang jauh dari sifat-sifat tercela, akan menyenangkan, akan membuat seseorang bersemangat dalam menuntut pengetahuan.
Sebagai kewajiban bagi orang yang hidup di dunia, untuk mencapai budi yang mumpuni, anugrah dari Yang Menguasai Jagad.

Laksana sebuah permata yang bersinar, seperti itulah manusia hidup. Perumpamaannya di alam semesta, seperti matahari yang bersinar, membuat terang isi dunia, membuat jelas antara yang terang dan yang samar.

2.

minôngkaa kastawaning dasih
myang pracihnaning panglingga murda têrus ing lair batine
marang lumèbèripun
sihirèng Hyang kang tanpa têpi marma kacèlu dahat
ing tyas amêmangun
wuryaning kanang carita
praja wutah ing rah sinawung kakawin mahambêk widayaka

Sebagai perhormatan dari kawula dan bukti adanya puji-pujian yang sangat, tulus lahir dan batin, kepada turunnya belas kasih dari Tuhan yang tanpa batas. Oleh karena tergerak dalam hati untuk membuat permulaan cerita ini. Tentang negara tumpah darah dengan dibingkai tembang, seperti karya seorang pujangga.

Keterangan :
Penggubah Babad Giyanti, Ki Yasadipura I, ingin mempersembahkan karya ini sebagai penghormatan seorang kawula, dan sebagai ungkapan puji syukur atas belas kasih Tuhan yang turun tanpa batas. Hatinya tergerak untuk menuliskan awal kisah ini. Tentang negara tumpah darahnya, dengan dibingkai dalam tembang layaknya karya seorang pujangga.

3.

yèku adêging kraton kêkalih Surakarta lan Ngayogyakarta Adiningrat pinangkane turutaning pangapus anukili ing saananing pêpèngêtan kadhatyan pamudyaning ulun mêmalar sinamadana

barkahira sanggyaning para winasis ingkang pratamèng sastra

Yaitu tentang berdirinya dua kerajaan, Surakarta dan Yogyakarta Adiningrat, asal muasalnya. Urutan penulisan secara ringkas dalam peristiwa yang terjadi di keraton. Harapanku agar supaya mendapat berkah dari semua para pujangga yang utama dalam susastra.

Keterangan :
Yakni menceritakan tentang berdirinya dua kerajaan, Surakarta dan Yogyakarta, asal-muasalnya, sejarah dan latarbelakangnya. Urutan penulisan mengambil kejadian yang terjadi secara ringkas di dalam keraton. Harapan penulis agar mendapat berkah dari para pujangga yang utama, yang mumpuni dalam susastra.

Bait ini merupakan ungkapan sopan santun dari Ki Yasadipura sebagai seorang penulis yang rendah hati. Karena Ki Yasadipura sendiri merupakann pujangga yang mumpuni tersebut.

4.

purwakaning pawarti winardi
nurutakên babad Kartasura
duk wiwit ing jumênênge Kangjêng Ingkang Sinuhun Pakubwana kang kaping kalih
nèng nagri Kartasura
bôndha tur abandhu
asugih pratiwa wadya binathara
ing jagad anyakrawati wibawa paribawa

Sebagai permulaan cerita yang maksudnya
melanjutkan Babad Kartasura,
ketika mulai tahta Kanjeng Sinuhun Pakuwana II
di negara Kartasura.
Raja yang kaya harta dan kaya saudara,
banyak mempunyai punggawa, panglima dan bala tentara.
Layaknya dewata menguasai dunia, berwibawa dan berkarisma.

Keterangan :
Permulaan cerita ini melanjutkan apa yang sudah tertulis dalam Babad Kartasura, ketika dimulai tahta Kanjeng Susuhunan PakubuwanaII di Kartasura. Beliau adalah Raja Kartasura yang naik tahta menggantikan ayahnya, Susuhunan Prabu Amangkurat Jawi.

Seorang raja yang kaya harta dan kaya saudara, banyak mempunyai punggawa, panglima dan balatentara. Kebesaran sang Raja layaknya dewata yang menguasai dunia, berwibawa dan berkharisma. Membuat tunduksemua rakyat, berlindung di bawah kuasa sang Raja.

5.

tuhu ratu agung ambawani ing bawana tlatah nuswa Jawa
tanpa petungan balane
pra santana nung-anung
aprakosa maring ajurit
samya sumungku suka
jroning tyas gumulung
andêrpati abipraya
pra kawula ing jro myang jabaning nagri tan pae anggêpira

Sungguh seorang raja besar yang menguasai di seluruh daerah pulau Jawa.
Tak dapat dihitung prajuritnya,
para kerabat raja dan para pembesar, dan para panglima yang perkasa dalam perang.
Semua berkhidmat dengan sukarela, dalam hati bergabung pasrah
hidup mati seiya sekata.
Para kawula di dalam dan luar negara tanpa beda perasaannya.

Keterangan :
Bait ini adalah ungkapan pujian kepada sang pemilik cerita. Gaya ini lazim dipakai dalam penulisan sastra Jawa, dikenal dengan istilah “panyandra”. Dalam dunia pewayangan pada awal pakeliran sang dalang akan memuji-muji negara tempat cerita itu terjadi. Terlebih-lebih dari segi kemakmuran dan keindahan negeri serta kebesaran sang raja.

6.

nadyan silih pra bala Kumpêni kang rumêksa wontên Kartasura
datan pendah panganggêpe lan wadyabala prabu
dene ingkang para radpêni sampun lambang prasêtya pawong mitran tuhu salami lan sri narendra
marma arjèng praja anjrah ingkang janmi
murah sandhang lan boga

Walau banyak para balatentara Kumpeni yang menjaga di Kerajaan Kartasura,
tidak berbeda perlakuannya dengan balatentara sang Raja.
Adapun para ekspatriat sudah berjanji setia sebagai sahabat sejati selama-lamanya dengan Sang Raja.
Oleh karena itusejahteralah negara dan para rakyat yang bernaung,
murah dalam sandang dan pangan.

Keterangan :
Kalau kita perhatikan alangkah indahnya gambaran negeri Kartasura ini. Walau ada Kumpeni di mana-mana mereka adalah para penjaga negeri, tak beda dengan prajurit sendiri. Para pendatang mancanegara pun sudah berjanji setia sebagai sahabat dengan sang Raja. Tak aneh kalau negeri Kartasura adalah negeri sejahtera, banyak para pedagang dan pendatang, menggerakkan perdagangan di negara itu. Ekonominya berkembang, murah sandang dan pangan. Namun sekali lagi, ini hanyalah panyandra tadi.

7.

suprandene yèn sampun pinasthi apêsipun jayaning narendra tuhu yèn angebatake
yèku duk praptanipun parangmuka têmpuh ngajurit kalawan bôngsa Cina
nadyan wontênipuning satru kadi tan gôndra suprandene kêkês kang para bupati sirna kamayanira

Walau demikian kalau sudah menjadi kehendak Tuhan, tertimpa kesialan kejayaan sang Raja. Sungguh sangat mengherankan, ketika datangnya pemberontak dengan pasukan menyerang dibantu bangsa Cina.
Walau keadaan musuh seperti tidak meyakinkan, namun miris para bupati hilang kesaktiannya.

Keterangan :
Walau Kartasura negeri besar pewaris kerajaan Mataram dengan pasukan yang tak terhitung. Dan masih dibantu pasukan Kumpeni, tetapi kalau sudah menjadi kehendak Tuhan, sudah takdirnya, tertimpalah kesialan. Sungguh sangat mengherankan negeri sebesar itu dapat diserang oleh pemberontak yang dibantu orang-orang Cina yang notabene bukan tentara terlatih.

Keadaan musuh sungguh tak meyakinkan kalau mempunyai kemampuan untuk merebut keraton, namun kenyataannya para punggawa, bupati, panglima, para prajurit semua miris, seakan hilang kesaktiannya. Keraton dapat direbut dengan tiba-tiba.

 

GEGER PACINA

8.

pra punggawa myang para prajurit prawiranung andêling ranangga lir kabuncang sudirane

karkate têlas murud têka uwas giris amiris mung nêdya ngungsi gêsang nora lawan mungsuh
tan pae lan wadu jana

wus dilalah karsaning Kang Murbèng Bumi rusaking Kartasura

Para punggawa dan para prajurit perwira andalan dalam perang seperti terbuang keberanianya.

Harga-dirinya hilang surut, malah penuh was dan rasa takut, hanya berpikir mengungsi untuk hidup. Tidak melawan musuh, tak beda dengan perempuan.

Sudah menjadi kehendak Yang Menguasai Dunia, rusaklah keraton Kartasura.

Keterangan :
Dalam Babad Giyanti ini tidak diceritakan detail pemberontakan orang Cina ini, sebagai gambaran singkat kami uraikan secara ringkas di bawah ini.

Peristiwa ini dalam sejarah disebut Geger Pacina (Pecinan). Asal muasalnya timbulnya pemberontakan orang Cina dipicu terjadinya pembantaian orang-orang Cina di Batavia oleh Kumpeni. Orang-orang Cina kemudian lari ke timur sepanjang pesisir utara. Peristiwa ini kemudian memicu pemberontakan di Semarang. Susuhunan Pakubuwana II semula mendukung pemberontak Cina dan mengirim pasukan untuk membantu. Namun para pemberontak dapat dikalahkan oleh Kumpeni. Merasa keadaan akan berbalik arah, Susuhunan kemudian minta ampun dan mengadakan perdamaian dengan Kumpeni.

Sisa-sisa para pemberontak kecewa dengan langkah Pakubuwana II ini. Bersama dengan orang-orang Jawa yang membenci Kumpeni mereka kemudian menobatkan R.M. Garendi, seorang bocah yang baru berusia 12 tahun sebagai raja begelar Sunan Amangkurat V. Raden Mas Garendi adalah putra Pangeran Tepasana dan cucu Amangkurat III, raja yang terusir dan diasingkan Kumpeni ke Sri Lanka.

Pasukan gabungan Cina dan Jawa kemudian
menyerang keraton dan berhasil mendudukinya selama 6 bulan. Namun Kumpeni dengan dibantu Panembahan Cakraningrat IV dari Madura berhasilmenumpas para pemberontak.

Sunan Pakubuwana II kembali ke Kartasura sebagai raja, setelah sebelumnya meneken perjanjian dengan Kumpeni dengan kompensasi yang amat besar untuk harga tahtanya itu.

Kembalinya Susuhunan Pakubuwana II ke Kartasura memang atas jasa Kumpeni. Dan inilah awal cengkeraman kuat Kumpeni ke pusat kerajaan di tanah Jawa.

Kembalinya Raja ke Kartasura memang mendudukkan kembali Raja ke tahtanya, namun dengan kompensasi yang sangat besar.

Pertama, jabatan Patih harus diangkat atas persetujuan Kumpeni.

Kedua, daerah pesisir sepanjang pulau Jawa diserahkan pengelolaannya kepada Kumpeni. Kepada Raja cukup diberikan uang sewa atau bagi hasil yang besarnya akan ditentukan setelah pengambilalihan daerah terlaksana.

9.

kawarnaa kangjêng sri bupati sasirnane wau mêngsah Cina wus kondur malih ngadhaton

miwah wadyabalagungpra santana mantri bupatitanapi wong Walônda
wus samya umantukmring wismane sowang-sowang

nanging dahat risakipun kang nagari tangèh môngga puliha

Alkisah Kanjeng Sri Bupati (Raja) setelah hilangnya para pemberontak sudah kembali ke keraton. Beserta para punggawa dan balatentara, para mantri, bupati dan orang-orang Belanda juga sudah kembali semua ke rumahnya masing-masing.

Namun mereka melihat sangat rusaknya keraton dan bangunan mereka. Mustahil dapat dipulihkan kembali.

Keterangan :
Setelah pemberontakan berhasil ditumpas dan keraton kembali direbut, raja dan para punggawa serta para balatentara kembali ke keraton dan kediaman masing-masing. Namun mereka mendapati tempat mereka sudah rusak parah, porak poranda. Mustahil untuk ditempati kembali, tak mungkin dipakai sebagai kotaraja pusat pemerintahan. Kesucian bangunan istana telah dicemari oleh musuh.

 

“TUWAN HOGENDORP”

10.

duk puniku pangagêng Kumpêni kang rumêksa anèng Kartasura Tuwan Baron Hogêndhorop
pangkat kumêndhan mayur

tuhu wantêr maring ajurit cukat cakêt ing karya wasis anênuju
barang rèh karsa narendra

kala bêdhahipun Kartasura nagri katon sih sungkêmira

Ketika itu pembesar Kumpeni yang bertugas di Kartasura adalah Tuan Baron Von Hohendorff, seorang komandan berpangkat mayor.

Dia sungguh sangat perhatian terhadap prajurit. Seorang yang cakap dan pekerja keras, pintar dalam menyenangkan raja.

Ketika hancurnya Kartasura tampak pengabdiannya kepada raja.

Keterangan :
Perwakilan Kumpeni yang bertugas sebagai komandan garnisun Kartasura ketika itu adalah Mayor Johan Andries Baron von Hohendorff.

Mayor Hohendorff baru bertugas di Kartasura setelah diutus sebagai perwakilan Kumpeni untuk mengadakan perjanjian dengan raja. Hal itu terjadi akibat sikap Pakubuwana II yang mendukung pemberontakan Cina di Semarang. Semula Pakubuwana II menentang Kumpeni dan mengirim pasukan untuk membantu pemberontak. Ketika akhirnya Kumpeni menang Pakubuwana menyesal dan minta perdamaian. Hohendorff dikirim sebagai wakil untuk meneken perjanjian damai tersebut. Akhirnya Hohendorff ditempatkan sebagai Komandan Garnisun Kartasura. Zaman itu belum ada jabatan Residen, perwakilan Kumpeni yang tertinggi adalah Komandan pasukan. Jabatan Residen baru ada setelah zaman Raffles dan kemudian dilestarikan oleh para penggantinya.

11.

ing saparan tut pungkur sang aji sêdya labuh sabaya antaka
tan mambu yèn bôngsa seje

ngêsorkên sungkêmipun
para wadya punggawa mantri

marma sangêt sihira
kangjêng sang aprabu
mring wau tuwan kumêndhan

nganti karsa amundhut kadang taruni angadhi kramanira

Ketika raja mengungsi selalu ikut serta di belakangnya, hendak bela sampai mati. Sikapnya tak menunjukkan kalau seorang yang lain bangsa.

Memasrahkan baktinya sehingga para balatentara punggawa dan mantri sangat menyukainya.

Kanjeng Sunan kepada Tuan komandan tadi sampai mengambilnya sebagai saudara muda, menganggapnya sebagai adik.

Keterangan :
Kesetian Tuan Baron von Hohendorff terbukti ketika raja harus mengungsi keluar istana saat Perang Pacina. Pertama ke Laweyan dan istirahat di sana, kemudian melanjutkan perjalanan ke Ponorogo. 
Tuan Baron selalu ikut serta dengan setia dan siap sedia melindungi raja. Para punggawa, bupati dan mantri senang kepadanya. Karena sangat terkesan sampai-sampai sang raja berkenan mengambil tuan komandan Baron von Hohendorff sebagai saudara muda, dianggap sebagai adik.

Baron von Hohendorff ini sangat berperan ketika menyelamatkan raja di pengungsian Ponorogo. Dialah yang mengontak kekuatan Kumpeni dan mengorganisir perebutan kembali Kartasura. Tak aneh kalau kemudian dekat dengan Raja.

“PANGERAN MANGKUBUMI”

12.

dene kadang narendra kang kêni kinanthi ing samubarang karya Dyan Mas Sujana timure diwasanya jêjuluk
Jêng Pangeran Amangkubumi

mahambêg martotama otamane kasub
ing rèh pangulahing praja

tata titi nastiti salir pakarti
cakêt karsaning raka

Adapun saudara Raja yang bisa diajak dalam sembarang pekerjaan adalah Raden Mas Sujana. Itu adalah nama kecilnya, kelak ketika dewasa bergelar Kanjeng Pangeran Mangkubumi.

Seorang yang berwatak utama. keutamaannya sudah termasyhur dalam ulah praja,

sangat rapi dan teliti dalam semua pekerjaan. Selalu dekat dengan kehendak Raja.

Keterangan :
Raden Mas Sujana atau kelak bergelar Kanjeng Pangeran Mangkubumi adalah adik Raja Pakubuwana II lain ibu. Terlahir dari istri selir Amangkurat Jawi (Amangkurat IV) yang bernama Mas Ayu Tejawati, seorang yang berasal dari desa Kapundhung putri seorang petani bernama Ki Drepayuda.

Perihal pertemuan antara Amangkurat Jawi dan Tejawati dikisahkan dengan cara yang sangat romantis.

Suatu ketika Amangkurat sedang blusukan ke pedesaan dengan menyamar sebagai seorang pengemis. Dia berjalan melewati seorang yang punya hajat menikahkan anaknya. Amangkurat Jawi terpesona melihat pengantin perempuan yang duduk di pelaminan. Dia kemudian mengemis ke rumah itu. Segala pemberian ditampik olehnya. Dia hanya ingin minta pengantin perempuan.

Orang-orang mentertawakan ulahnya. Namun umumnya kalau orang Jawa mengusir seseorang biasanya dengan meminta syarat yang mustahil dapat dipenuhi. Keluarlah ucapan dari ayah si pengantin sebagai upaya menolak halus. “Engkau boleh membawa pengantin wanita asal kau sanggup menjemput dengan kereta kencana yang ditarik kuda seperti kepunyaan raja!”

Amangkurat yang sedang mengemis menyanggupi. Tentu saja yang hadir tambah terbahak-bahak. Namun mereka semua kaget ketika tak lama kemudian si pengemis itu betul-betul datang dengan membawa kereta yang diminta.

Akhirnya Amangkurat Jawi berhasil membawa pengantin perempuan tersebut, itulah Mas Ayu Tejawati yang kelak melahirkan Pangeran Mangkubumi. Adapun pengantin prianya diberi ganti boleh memilih wanita manapun diseluruh kerajaan dan diberi hadiah harta yang melimpah atas kerelaan melepas calonistrinya itu, (Anton Satyo Hendriatmo, Giyanti 1755, CS Books, 2006).

Kembali kepada pokok kajian kita. Pangeran Mangkubumi adalah seorang yang cakap dalam banyak pekerjaan. Beliau adalah arsitek, administratur dan penglima perang yang tangguh. Seorang yang berwatak utama dan ksatria. Rapi dan teliti dalam sembarang pekerjaan. Selalu dapat diandalkan sesuai kehendak Raja.

13.

amungkasi yèn tinuduh jurit sabên aprang linulutan wadya kèringan satru kalane
tan kewran glaring mungsuh

Martapura duk madêg baris nèng tanah Sukawatya

apan sampun wudhu
pra bupati datan lawan
dupi pangran kang tinuduh nanggulangi Martapura kasoran

Menyelesaikan kalau ditunjuk berperang. Setiap perang selalu disukai balatentara, dihormati musuh. Tidak gentar dengan strategi musuh.

Ketika Martapura menggelar (memberontak) pasukan di Sukawati, semua bupati sudah tak dapat melawan.
Ketika Pangeran Mangkubumi yang ditunjuk membendung, Martapura kalah.

Keterangan :
Peristiwa ini merupakan buntut dari perang Pacina. Ketika itu sisa-sisa pemberontak Cina dari kalangan bangsawan masih melanjutkan perang, antara lain di Sukowati yang dipimpin oleh Tumenggung Martapura. Martapura ini sangat tangguh dan termasuk dalam golongan senapati senior yang pintar. Semua bupati dan prajurit sudah dikalahkannya. Namun ketika Pangeran Mangkubumi yang diutus membendung, Martapura kalah.

Kekalahan Tumenggung Martapura sesungguhnya adalah kekalahan diplomasi. Martapura sesungguhnya sedang mencari jago untuk memimpin perlawanan kepada Kumpeni. Ketika melihat wibawa Pangeran Mangkubumi dia berpikir inilah orangnya. Maka dia menyingkir. Kelak Martapura ini menjadi pendukung Pangeran Mangkubumi ketika mengadakan perlawanan kepada Kumpeni dan menjabat sebagai senapati perang dengan gelar Pangeran Adipati Puger.
(Budiono Herusasoto, Banyumas: sejarah, budaya, bahasa dan watak, LkiS, 2008).

14.

marma langkung trêsna sri bupati tanah Sukawati tigang nambang sinungkên dadya lênggahe

môngka ganjaranipun
gènnya sampun labêt nagari mungkasi parangmuka lawan

malihipun karsaning raka narendra
jêng pangeran pinatah nyenapatèni sabên wontên lurugan

Karena itu sangat kasih sang Raja kepadanya, tanah Sukawati tiga ribu cacah diberikan sebagai lungguh.

Sebagai hadiah karena sudah berjasa kepada negara, menghentikan pemberontakan.

Dan lagi kehendak sang Raja, Kanjeng Pangeran ditugaskan sebagai senapati kalau ada musuh datang.

Keterangan :
Atas jasanya memadamkan pemberontakan Martapura sang Raja bermaksud memberi tanah Sukowati seluas 3.000 cacah kepada Pangeran Mangkubumi. Suatu apanage yang terlalu luas untuk seorang pangeran.

Namun sang kakanda Raja mempunyai maksud lain, yakni sang Pangeran Mangkubumi diberi tugas menjadi senapati perang kalau sewaktu-waktu musuh datang.

 

TOKOH-TOKOH

SUSUHUNAN PAKUBUWANA II
Bin AMANGKURAT IV
Bupati nata kaping V ing Kartasura Hadiningrat (raja ke 5 di Kartasura setelah Amangkurat II, Amangkurat III, Pakubuwana I dan Amangkurat IV/Jawa)

*Saudara2 Raja :

PANGERAN MANGKUBUMI
Bin AMANGKURAT IV
Saudara raja lain ibu, diangkat sebagai
Panglima Perang dan arsitek kraton. Kelak menjadi Sultan HB I di Yogyakarta

PANGERAN ARYA MANGKUNEGARA
Bin AMANGKURAT IV
Saudara raja lain ibu, yang diasingkan ke Batavia & Srilanka.
Mempunyai putra : Raden Mas Said Arya Suryakusuma (kelak menjadi Mangkunegara I, Kadipaten Mangkunegaran), Pangeran Mangkudiningrat & Pangeran Arya Pamot.

PANGERAN BUMINATA
Bin AMANGKURAT IV
Saudara raja lain ibu

PANGERAN SINGASARI
Bin AMANGKURAT IV
Saudara raja lain ibu

*Pejabat2 Raja :

ADIPATI PRINGGALAYA
Bupati Jawi Kartasura Hadiningrat (pemuka mantri dan pemimpin bupati, saudara ipar raja)

ADIPATI SINDUREJA
Bupati Lebet Kartasura Hadiningrat.

BUPATI PANARAGA
Wedana bupati mancanagari bang wetan

PANEMBAHAN CAKRANINGRAT IV
Bupati Madura, ipar raja/Pakubuwana II karena adik Pakubuwana diperistri beliau di Madura Barat

SERI BABAD GIYANTI
“SEPUTAR TOKOH2 : KERABAT RAJA & PEJABAT KERAJAAN”

15.

mantrimuka manggalèng bupati Radèn Adipati Pringgalaya lan sang nata wadya ipe patih lêbêt winuwus
nama Sindurêja Dipati

kunêng mangsuli kôndha
duk ing alamipun
barusah ingkang nagara
kadang miwah santana jêng sri bupati kèh lolos saking praja

Pemuka para mantri dan pemimpin para bupati, Raden Adipati Pringgalaya, dengan sang Raja adalah saudara ipar.
Patih dalam dikatakan bernama Adipati Sindureja.

Demikian keduanya mengatakan ketika peristiwa hancurnya negara banyak saudara dan kerabat Raja yang meloloskan diri.

Keterangan
Raden Adipati Pringgalaya adalah patih luar dan Adipati Sindureja adalah patih dalam. Keduanya mengatakan kalau pada peristiwa perang Pacina banyak kerabat dan saudara Raja yang meloloskan diri dari istana dan membentuk pasukan. Banyak dari mereka yang belum kembali bergabung setelah sang Raja kembali.

Yang sesungguhnya terjadi adalah, dari sekian kerabat yang lolos itu sebagian enggan kembali karena setelah peristiwa perang Pacina ini kekuasaan Raja sudah dipreteli oleh Kumpeni. Banyak dari para kerabat itu yang tidak puas dan hendak membangkang.

16.

madêg baris nèng kidul nagari

kadang nama Pangran Buminata Singasari ing kalihe
sarta pulunan prabu
Pangran Pamot lan Dyan Mas Said Arya Suryakusuma
kang sampun jêjuluk
nama Pangeran Dipatya
Arya Mangkunagara arine malih Pangran Mangkudiningrat

Mereka menggelar pasukan di selatan negara.

Saudara Raja Pangeran Buminata dan Pangeran Singasari, serta keponakan Raja Pangeran Pamot dan Raden Mas Said Arya Suryakusuma yang sudah bergelar Pangeran Adipati Arya Mangkunagara, serta adiknya Pangeran Mangkudiningrat.

Keterangan :
Para kerabat Raja itu, antara lain adik Raja, Pangeran Buminata dan Pangeran Singasari, keduanya menggelar pasukan di bagian selatan. Kelak mereka berdua menobatkan diri sebagai sultan.

Kerabat yang lain adalah keponakan Raja, Raden Mas Said yang telah bergelar Pangeran Adipati Arya Mangkunagara dan adiknya, Pangeran Mangkudiningrat serta Pangeran Arya Pamot, mereka juga menggelar pasukan. Beberapa riwayat menyebut Mas Said malah ikut terlibat dalam perang Pecina sebagai senapati perang pihak pemberontak, (Babad Panambangan).

17.

para pangeran pulunan katri
sami putranipun Jêng Pangeran
Mangkunagara kadange
sêpuh jêng sang aprabu
ingkang kendhang dhatêng Batawi

wau ta cinarita
ing sasampunipun
nata kondur mring Tasura
ri sêdhêngnya pêpêkan sagung bupati pasisir môncapraja

Para pengeran keponakan itu ketiganya, adalah putra dari Pangeran Mangkunagara, kakak Raja yang sudah dibuang ke Batavia.

Berganti cerita sesudah kembalinya Raja ke Kartasura, ketika menghadap lengkap segenap bupati pesisir dan mancanegara.

Keterangan :
Pangeran Arya Mangkunagara adalah kakak Raja dari istri selir RA Sepuh, sehingga tidak menggantikan kedudukan sebagai Raja. Ketiga keponakan tadi yakni Pangeran Pamot, RM Said dan Pangeran Mangkudiningrat adalah anak-anak Pangeran Arya Mangkunagara. Peristiwa pembuangan Pangeran Arya Mangkunagara itu sendiri akibat Pangeran Arya Mangkunagara menyukai dan meminta salah seorang selir Raja. Raja marah dan

menyuruh Patih Danureja untuk menyerahkannya pada Kumpeni. Dia ditangkap dan kemudian dibuang ke Batavia. Setelah menetap tiga tahun di Batavia akhirnya dibuang ke Tanjung Harapan, (Babad Panambangan).

Sekarang ganti yang diceritakan, ketika sang Raja sudah kembali ke Kartasura pertemuan lengkap segera digelar, melibatkan para bupati dari pesisir dan wilayah mancanegara, yakni wilayah yang jauh dari kotaraja.

18.

ari Soma sang nata tinangkil ingayap pra sarimpi badhaya asri tinon busanane ngampil pacara prabu
nata lênggah ing dhampar rukmi wontên ing sitibêntar

kang cakêt ing ngayun Jêng Gusti Pangran Dipatya Anom Mêngkunagara sudibya luwih rajaputra Mataram

Pada hari Senin sang Raja tampil diiringi penari bedaya Serimpi, kelihatan indah busananya. Sang Raja memegang kendali
acara dengan duduk di singgasana emas di sitibentar.

Di dekatnya duduk Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Mengkunegara Sudibya Rajaputra Mataram.

Keterangan :
Pada hari senin sang Raja tampil dengan segenap simbol-simbol kebesaran kerajaan, diiringi para penari bedaya Serimpi, kelihatan indah busananya.

Sang Raja memegang kendali pertemuan dengan duduk di singgasana emas (dhampar kencana) di sitibentar.

Sitibentar atau sitihinggil artinya tanah yang ditinggikan, layaknya panggung besar agar sang Raja kelihatan sampai jauh di luar arena pertemuan. Pada Sitihinggil ini terdapat bangsal sitihinggil yang mempunyai atap yang megah agar para abdi dalem punggawa yang hadir tertampung di dalamnya.

Duduk didekatnya adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Mengkunegara Sudibya Rajaputra Mataram. Ini adalah gelar bagi putra mahkota kerajaan Mataram.

Incoming search terms:

  • Buku Babad ponorogo
  • Surat pengasingan Voc

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit