Babad Giyanti, Negarakretagama-nya Periode Kerajaan Islam

19.

gya Jêng Pangran Arya Mangkubumi senapati ngalaga Tasura
nulya pra santana andhèr
ing kanan kering prabu

twan kumêndhan lan para upsir inggih samya sumewa
ing ngarsa sang prabu
munggèng ing kursi satata
anèng ngandhap sing bangsal manguntur tangkil
jro tratag sitibêntar

Segera Kanjeng Pangeran Arya Mangkubumi senapati perang Kartasura, serta para kerabat Raja, memenuhi kiri-kanan sang Raja.

Keterangan :
Tuan komandan dan para opsir Kumpeni juga semua menghadap. Mereka duduk di kursi berderet di bawah bangsal manguntur tangkil, di dalam atap sitibentar.

Di dekat Raja setelah putra mahkota berjajar senapati perang Kartasura Pangeran Arya Mangkubumi, serta kerabat Raja. Para tuan komandan dan opsir pasukan Kumpeni juga menghadap. Mereka duduk berjajar di bawah bangsal manguntur tangkil di dalam atap sitibentar.

Bangsal manguntur tangkil adalah bangsal kecil tempat dhampar rukmi (singgasana emas). Di sinilah Raja bertahta.

Dan para punggawa menghadap di kiri-kanan bangsal tersebut. Bangsal ini terletak di dalam bangsal sitihinggil.

20.

wong kaparak gandhèk kanan kering tinindhihan bupati kaparak

prajurit jro baris andhèr
tata sajuru-juru
de kang manggèn paglaran sami kalih sang mantrimuka alênggah ing ngayun
Dyan Dipati Pringgalaya Sindurêja nulya pra nayakèng aji sagung bupati jaba

Para keparak dan gandhek di kanan-kiri, ditutup para bupati keparak.

Prajurit dalam berbaris rapi dengan para juru. Adapun yang bertempat di pagelaran, dua patih duduk di muka, Adipati Pringgalaya dan Sindureja, lalu para nayaka segenap bupati luar.

Keterangan :
Keparak adalah abdi dalem yang bertugas menyiapkan segala keperluan raja dan keluarga, mulai pakaian, makanan dan peralatan lain yang diperlukan, biasa didominasi abdi dalem perempuan. Gandhek adalah abdi dalem pembawa pesan. Bupati keparak adalah bupati yang bertugas menyampaikan perintah kepada para bawahan di lingkup keraton. Juru adalah abdi dalem berpangkat rendah. Pagelaran adalah area di depan sitihinggil, terdapat bangsal pagelaran utuk tempat para bupati njaba dan bupati mancanegara. Bupati njaba adalah bupati untuk urusan luar. Mantrimuka adalah pemuka para mantri, yang dimaksud adalah patih.

Ada banyak jabatan dan tugas di dalam kraton. Mengenai masing-masing jabatan dan tugas tersebut diperlukan penjelasan yang lebih detail. Semoga kelak kita bisa mempelajari lebih lanjut.

21.

sinambungan kang para bupati ing pasisir myang môncanagara samya sowan sadayane
pra punggawa supênuh

Ingkang botên sumiwèng aji Dipati Pranaraga Ingkang dadya tunggul
wadananing pra bupatya
môncapraja ing bang wetan lawan malih Panêmbahan Cakrèngrat

Disambung para bupati dari pesisir dan mancanegara, semuanya menghadap, para punggawa memenuhi bangsal.

Yang tidak menghadap adalah Adipati Ponorogo yang menjadi pemuka para bupati di mancanegara timur dan Panembahan Cakraningrat.

Keterangan :
Para bupati dari pesisir dan mancanegara juga turut hadir dalam pisowanan itu. Namun Bupati Ponorogo yang merupakan koordinator atau wadana bupati di wilayah timur dan Panembahan Cakraningrat IV bupati Madura, keduanya tidak hadir dalam pisowanan tersebut.

22.

ing Madura ingkang madanani pra bupati pasisir bang wetan samya rumêksa tlatahe rèhning jaman dahuru
pra santana amadêg baris
dadya sandeyèng driya
tilar nagrinipun

de êrèh ing pra bupatya
ing pasisir kalawan môncanagari kêbut mring Kartasura

***
(Cakraningrat) di Madura yang menjadi wedana para bupati pesisir tidak hadir karena menjaga wilayahnya sendiri. Oleh karena zaman huru-hara para kerabat menggelar pasukan sendiri-sendiri.
Khawatir dalam hati kemudian meninggalkan negara.

Atas perintah para bupati pesisir mereka kemudian segera menghadap ke Kartasura.

Keterangan :
Panembahan Cakraningrat IV adalah koordinator atau bupati wedana yang membawahi para bupati pesisir timur. Pada waktu huru-hara perang Pacina para komandan saling menggelar pasukan sendiri-sendiri akibat kosongnya komando dari pusat. Ketika keadaan sudah reda atas perintah para bupati mereka segera melapor ke Kartasura.

Perihal ketidakhadiran Cakraningrat IV sebenarnya bukan karena menjaga wilayahnya, tetapi karena yang bersangkutan enggan menghadap.

Cakraningrat IV adalah panglima yang berjasa atas kembalinya Pakubuwana II
ke tahtanya.

Cakraningrat sebenarnya membenci Pakubuwana II, yang juga saudara iparnya sendiri. Motif dia menumpas pemberontakan adalah agar Madura diberi kemerdekaan dari Kartasura, dan dijadikan negeri bawahan Kumpeni. Namun pada akhirnya nanti justru Cakraningrat IV yang digebuk Kumpeni. Demikianlah intrik politik.

 

SERI BABAD GIYANTI
23 – 33
TITAH BUPATI NATA AGAR DICARI TEMPAT BARU DI TIMUR KOTANEGARA SEBAGAI LOKASI KRATON BARU

Setelah kraton Kartasura hancur maka diutus satu tim survey ke timur mencari tempat yang tepat sebagai lokasi kraton baru.

Awalnya di pilih Desa Kadipolo lalu Desa Sanasewu/Sangkrah/Bekonang dan akhirnya disetujui Desa Sala.

Selengkapnya monggo dibaca….

—————————————————————————-

23.

miyosira kangjêng sang siniwi datan pae lawan saban-saban duk maksih rêja jamane nanging jro tyas ngêndhanu sanityasa amangonêngi risakipun kang praja tanapi kadhatun
saisine rajabrana
aprasasat brastha syuh sirna binasmi dening kang mungsuh Cina

***
Keluarnya sang Raja hari itu tidak berbeda dengan kebiasaan ketika masih zaman ramai. Namun suasana hati seperti tertutup mendung, selalu sedih melihat rusaknya negara dan keraton. Semua harta benda laksana sirna terbakar oleh sang musuh Cina.

Keterangan :
Walau pisowanan hari itu tampil seperti kebiasaan zaman dahulu ketika masih jaya, tetapi suasana hati sang Raja seperti tertutup mendung, sedih melihat kerusakan negara. Hampir semua harta benda dan lambang lambang kebesaran kerajaan sirna dibakar oleh si musuh Cina. Demikian juga semua punggawa, nayaka dan prajurit yang hadir, mereka merasakan hal yang sama. Semestinya mereka gembira karena berhasil kembali ke keraton, tetapi perasaan mereka tidak demikian.

24.

yèn ginagas saya angranuhi yèn rinasa tansah karêrônta ing Kartasura risake patih dinuk ing wuwus rêngênta hèh sira dipati kadarpaning tyas ingwang tan kêna sinayut arsa angalih nagara
desa êndi kang prayoga wetan iki sun arsa kuthagara

***
Kalau dipikir semakin menjadi-jadi kesedihannya, kalau dirasakan semakin sakit hatinya melihat rusaknya negeri Kartasura. Bersabda sang Raja kepada Patih, “Dengarkan engkau Patih, kehendak hatiku tak bisa ditunda lagi. Akan memikirkan negara agar lebih baik. Carilah desa mana yang baik di sebelah timur untuk dijadikan kotanegara!”

Keterangan :
Sang Raja tampak kesedihannya. Semakin memikirkan rusaknya negara semakin menjadi-jadi kesedihannya. Semakin dirasakan semakin sakit di hatinya. Akhirnya sang Raja bersabda kepada Patih, “Wahai Patih dengarkanlah. Keinginan hatiku sudah tak bisa ditunda-tunda lagi. Agar keadaan negara segera membaik seperti sedia kala. Carilah desa di sebelah timur yang pantas untuk dijadikan ibukota negara, sebagai pengganti kota yang rusak!”

25.

adipati lawan sira adhi Hogêndhorêp padha lumakua pikirên ngêndi bêcike patih kalih wotsantun
tur sandika dhatêng nglampahi sang nata nulya jêngkar kondur angadhatun
kang sewaka gya luwaran
twan kumêndhan lawan dipati kêkalih myang pra nayaka jaba

***
“Adipati dan engkau adik Hohendorff kalian berjalanlah sambil mencari tempat dimana yang baik.” Kedua patih menyembah dan bersedia segera menjalankan perintah. Sang Raja bergegas kembali ke kedaton. Yang menghadap segera bubar, tuan komandan dan kedua patih serta para para nayaka di luar.

Keterangan :
“Engkau Adipati dan Dik Hohendorff, kalian berjalanlah menyisir daerah untuk mencari-cari tempat yang baik sebagai pengganti keraton.”
Kedua patih menyembah (wotsantun), dan segera sedia untuk menjalankan perintah. Sang Raja segera pergi (jengkar) kembali ke dalam kedaton yang sudah rusak. Para punggawa yang menghadap segera bubar kembali ke tugas masing-masing. Demikian juga kedua patih dan Adik Komandan, serta para nayaka di luar.

26.

abudhalan pan sarêng saari anênitik desa wetan praja wusnya atas pamriksane kumêndhan rêmbagipun papan ingkang wiyar waradin amung ing Kadipala
kang dinalih patut
dèn dêgi pura narendra
nayogyani risang mantrimuka kalih desa nulya binabad

***
Segera berangkat hari itu juga memeriksa desa di timur kerajaan. Setelah selesai memeriksa komandan mempunyai usulan kalau tempat yang luas dan rata dan cocok sebagai tempat kediaman raja hanya di Kadipala. Kedua patih setuju, desa segera dibersihkan.

Keterangan :
Kedua Patih dan Hohendorff sepakat desa yang cocok untuk kediaman raja sekaligus sebagai ibukota adalah desa Kadipala. Tempat yang disebut desa Kadipala letaknya sekarang di belakang museum Radya Pustaka.

27.

dipun ukur badhening kang puri nanging wontên sêmanging wardaya pra nujum Jawa rêmbage mupakat Dyan Tumênggung Ônggawôngsa Puspanagari Tumênggung Mangkuyuda
têmbe jangkanipun
yèn nagri nèng Kadipala
langkung arja winongwong jinayèng jurit cacade enggal risak

***
Kemudian diukur calon bangunan kraton, tetapi ada keraguan di dalam hati. Para ahli nujum semua sepakat, Tumenggung Anggawangsa, Puspanagara dan Tumenggung Mangkuyuda meramalkan kalau tempat itu dijadikan keraton kelak akan sejahtera da jaya tetapi akan segera rusak.

Keterangan :
Walau desa Kadipala bagus, letaknya strategis dan topografinya datar, jika dipilih kelak akan menjadi kota yang ramai dan sejahtera. Namun menurut jangka atau penglihatan para ahli nujum tempat ini akan segera rusak.
Ahli Nujum kerajaan adalah Tumenggung Anggawangsa, dibantu Raden Tumenggung Puspanagara dan Tumenggung Mangkuyuda.

28.

Dyan Tumênggung Ônggawôngsa angling dhuh ki lurah sing panawang kula dhusun Sala prayogine
kinaryaa kadhatun badhe têtêp tulus basuki yèn lama wimbuh arja kukuh tur abakuh mulyaning talatah Jawa ambêludag dunya sabrang angajawi sirna lêlakon yuda

***
Raden Tumenggung Anggawangsa berkata, “Duh ki Lurah (patih), menurut penglihatan hamba desa Sala lebih baik dipakai sebagai keraton. Akan tetap lestari selamat, makin lama makin sejahtera. Kuat dan kokoh mulia di tanah Jawa. Kelak akan ramai dikunjungi orang dari seberang. Akan hilang segala peperangan.”

Keterangan :
Tumenggung Anggawangsa mempunyai pendapat yang berbeda sesuai dengan kemampuannya meramalkan masa depan. Yang terbaik menurutnya adalah desa Sala. Desa sala ini terletak di tepi bengawan besar dan daerahnya berawa-rawa. Dari segi topografi kurang strategis. Namun dari segi spritual lebih baik dari desa Kadipala.

29.

dyan dipati kalih angrujuki jangkanipun Tumênggung Gawôngsa kumêndhan alon dêlinge
sudara kalihipun
myang sagunging para bupati lamun ing desa Sala sangêt awonipun
papan lêdhok datan wrata
lawan malih kacêlakên ing banawi sae ing Kadipala

***
Raden patih keduanya menyetujui ramalan Tumenggung Anggawangsa. Komandan pelan berkata saudara dan para bupati, kalau desa Sala sangat buruk lokasinya, tempatnya rendah dan tidak rata, dan lagi terlalu dekat
dengan sungai besar, lebih baik di Kadipala saja.

Keterangan :
Raden Adipati Pringgalaya dan Adipati Sindureja setuju dengan ramalan Tumenggung Anggawangsa, mungkin karena sesama Jawa jadi sama-sama paham perhitungan ramalan. Namun Tuan Komandan Hohendorff tidak setuju. Dia hanya melihat dari keadaan desa Sala yang rendah, berawa-rawa, tidak rata dan terlalu dekat sungai besar yakni kelak disebut Bengawan Solo. Menurutnya lebih baik bila dipilih desa Kadipala tadi saja.

30.

ewamakatên yèn tan prayogi lan suwawi anitik mangetan ingkang pakantuk papane patih lan pra tumênggung nayogyani mariksa malih wetan banawi Sangkrah orêg pra wadyagung praptèng papan lêmpar wiyar
Sanasèwu tuwan kumêndhan ngrêmbagi sae kinarya praja

***
“Walau demikian kalau tak baik marilah kita memeriksa lagi ke timur sampai mendapat tempatnya.” Patih dan para tumenggung setuju memeriksa lagi di sebelah timur sungai Sangkrah. Heran para pasukan ketika sampai di sebuah tempat yang luas. Sanasewu itulah tempatnya, tuan komandan menyebutnya bagus untuk kotaraja.

Keterangan :
Hohendorff tetap menyarankan lebih baik di Kadipala daripada di Sala. Namun bila dianggap kurang cocok lebih baik mencari lagi tempat lain ke timur sampai ketemu.

Para rombongan setuju untuk mencari lagi. Mereka kemudian menemukan tempat bernama Sanasewu yang dirasa cocok sebagai calon kotaraja. Letaknya di Sangkrah, di sebelah timur sungai Bengawan Solo. Kalau sekarang kira-kira di daerah Bekonang.

31.

risang mantrimuka têtanyaris
maring Dyan Tumênggung Ônggawôngsa kadiparan prayogane
Ônggawôngsa turipun dhuh ki lurah lamun suwawi tan liyan dhusun Sala
saking petang ulun
yèn wontên wetan bangawan
tiyang Jawi badhe wangsul Buda malih tansah tukar lan rowang

***
Sang Patih bertanya kepada Raden Tumenggung Anggawangsa, “Bagaimana baiknya?” Anggawangsa berkata, “Duh Ki Lurah kalau selain desa Sala, dari perhitungan hamba jika berada di sebelah Timur bengawan orang Jawa akan berbalik menjadi beragama Budha kembali, dan akan selalu bertengkar dengan sesama teman.”

Keterangan :
Ternyata Sanasewu juga mengandung kelemahan dari sisi spritual menurut penerawangan Tumenggung Anggawangsa. Pengaruh agama Budha akan menguat kembali karena sebelah timur bengawan adalah bekas pusat kerajaan Hindu-Budha sejak zaman Mpu Sindok sampai Majapahit. Banyak penduduk setempat yang masih melestarikan kepercayaan lama. Dikhawatirkan akan berbenturan dengan budaya Islam yang dianut oleh kerajaan Mataram Kartasura.

32.

wau risang kalih nindyamantri lan kumêndhan kalane miyarsa tansah lêgêg gèdhèg-gèdhèg jro tyas kalangkung ngungun mring waskithanipun kang galih Tumênggung Ônggawôngsa nging pakèwêdipun
de kang jinôngka prayoga
papan rawa lêdhok mandhukul tur sungil prênah têpi bangawan

***
Sang kedua Patih dan komandan ketika mendengar uraian Anggawangsa hanya geleng-geleng kepala. Dalam hati begitu kagum dengan wawasan Anggawangsa yang jauh ke depan. Oleh karena yang dituju adalah tempat yang lebih baik untuk negara maka tak ada tempat yang lebih baik selain tempat berawa, rendah dan tidak rata, yang sulit dilalui di tepi bengawan.

Keterangan :
Setelah ketiga tempat dipertimbangkan dengan segala kekurangan masing-masing. Setelah mengingat bahwa misinya adalah mencari tempat yang baik sebagai kotaraja yang lestari dalam kesejahteraan, maka yang tersisa dan menjadi pilihan adalah tempat berawa dan tidak rata, rendah dan sulit dilalui, serta letaknya tidak strategis karena di pinggir sungai besar, yakni desa Sala tadi.

33.

ri sampuning kang para bupati lan kumêndhan pêpatih kalihnya gêlêng gumolong rêmbuge kang kinarya kadhatun
èstu Sala ingkang pinilih
amung miturut jôngka
amamrih rahayu
samana sigra bubaran
patih kalih kumêndhan myang pra bupati wangsul mring Kartasura

***
Pada hari itu sudah setuju para bupati dan komandan serta kedua patih tentang tempat yang akan dipilih sebagai keraton. Akhirnya Sala yang dipilih, hanya karena sesuai ramalan agar menemi selamat sejahtera. Segera bubar kedua patih dan komandan dan para bupati, kembali ke Kartasura.

 

 

SERI BABAD GIYANTI
(34 – 38)
“PERSIAPAN BOYONG KEDATHON”

Rangkuman isi :

Pada bait sebelumnya dikisahkan raja mengutus Patih Pringgalaya, Patih Sindureja ditemani Mayor Hogendorp untuk melakukan survey ke timur kotanegara sbg lokasi kraton yang baru. Tiga lokasi yang dipilih yaitu Kadipolo, Bekonang dan Sala. Setelah pelbagai argumen dipilih Desa Sala sebagai lokasi kraton yang baru, ibukota kerajaan Mataram Islam.

Pada bait 34 – 38 dikisahkan rombongan kembali ke kuthagara di Kartasura.

  1. Di hadapan sang Raja rombongan menyampaikan hasil memeriksa daerah-daerah yang akan dipakai sebagai kotaraja.

Segala pertimbangan telah disampaikan dari awal sampai akhir, untuk meminta persetujuan Raja. Sang Raja juga menyetujui tempat itu dan memerintahkan untuk segera dilaksanakan.

  1. Setelah Raja setuju perintah segera dilaksanakan tanpa ditunda-tunda.
    Patih memerintahkan kepada para bupati di dalam kraton dan bupati mancanegara di pesisir agar menyiapkan segala sesuatunya. Harta tenaga dan keahlian yang diperlukan untuk membangun keraton baru.
  2. Esok harinya rencana boyong kraton sudah dilaksanakan. Kedua Patih dan tuan serta para bupati berangkah ke desa Sala.
    Penduduk lokal disuruh pindah ke desa lain dengan diberi ganti rugi yang pantas.
    Suasana sangat riuh ketika itu.
    Hajat besar ini memerlukan banyak biaya dan tenaga karena pekerjaan yang diperlukan juga banyak.

37.Setelah ditata dan dirancang, semua tanah dinormalisasi, yang rendah diurug yang tinggi ditebas agar rata.
Yang mendesak dilakukan adalah membuat pagar keliling keraton (Baluwarti). Karena perlu pindah cepat maka sementara hanya berpagar bambu saja.
Semua balatentara ikut bekerja, jumlahnya ada puluhan ribu.
Bentuk kraton dan bangunan mengikuti bentuk kraton Kartasura. Konon arsitek perancangnya adalah Pangeran Mangkubumi.

  1. Adat dan tatacara pindah negara sudah bukan hal baru lagi bagi raja-raja trah Mataram. Mereka sudah berkali-kali melakukan.
    Sejak pertama kali didirikan oleh Panembahan Senapati di Kotagedhe, Mataram sudah berpindah ke Karta di zaman Sultan Agung, kemudian pindah ke Pleret di zaman Amangkurat I. Kemudian pindah ke Kartasura di zaman Amangkurat II.
    Dan sekarang akan pindah lagi ke Sala. Kali ini acaranya akan dibuat meriah karena pindahnya sesudah perang selesai. Juga disertai harapan agar kelak kraton baru terhindar dari segala bencana.
    Ada rasa optimis di kalangan mereka.

Isi
34.

laju marêk byantara narpati ngaturakên lampahing dinuta purwa madya wasanane rêmbaging punggawagung dhusun Sala ingkang prayogi kinaryaa nagara tulus kêkahipun

sri narendra angandika
hèh dipati ingsun iya amarêngi nuli sira rakita
***
Segera menghadap Raja, para rombongan yang diutus. Menghaturkan hasil pemeriksaan sejak awal sampai akhir. Pertimbangan mereka dan keputusan mereka sampai memilih desa Sala sebagai tempat yang terbaik untuk kotaraja, agar lestari kokohnya negara.

Sang Raja bersabda, “Wahai Patih aku setujui dan kuperintahkan padamu untuk segera mempersiapkan!”

35.

kalihipun risang nindyamantri twan kumêndhan lan para niyaka lèngsèr sing ngarsa sang katong pêpatih sigra dhawuh
mring sagunging para bupati nayaka jroning praja myang para tumênggung bupati môncanagaraing pasisir samya samakta ing kardi

bôndha bau myang kriya
***
Kedua Patih dan tuan komandan serta para nayaka segera lengser dari hadapan Raja. Sang Patih segera memerintahkan kepada segenap punggawa nayaka di dalam kraton dan kepada para bupati mancanegara di pesisir untuk mempersiapkan pekerjaan.

Harta dan tenaga serta berbagai keahlian.

36.

enjang bidhal risang patih kalih
twan kumêndhan myang para bupatya tan winarna ing lampahe praptaning Sala dhusun
ambabadi badhening puri
tinata binabanjar
ing sapantêsipun

wong cilik ing desa Sala
kinèn ngalih marang ing desa lyan sami orêg samya boyongan
***
Keesokan harinya berangkat kedua Patih dan tuan komandan serta para bupati. Tak diceritakan perjalanannya, akhirnya sampai di desa Sala. Mereka segera membersihkan calon keraton. Ditata dan dijajar sepantasnya.

Penduduk yang tinggal di desa Sala disuruh pindah ke desa lain. Riuh mereka memboyong rumah mereka.

37.

wus tinata-tata rinarakit sakèh siti lêdhok ingurugan ingukur ômba dawane nging rèh karya kasusu pagêr buminira kang puri mung jinaro kewala

wadyalit kumêrut
lêksan kang anambut karya
dene kôntha-kanthane ingkang nagari anelad Kartasura
***
Sudah ditata dan dirancang, semua tanah rendah diurug, diukur lebar dan panjangnya. Yang mendesak dilakukan adalah pagar sepanjang keraton. Hanya dipagar bambu dahulu.

Balatentara semua ikut, puluhan ribu yang bekerja. Adapun gambaran bangunan mencontoh kraton Kartasura.

38.

paripurnaning pangupakarti Adipati Pringgalaya lawan Sindurêja marêk age
ing ngarsa sang aprabu tur uninga sampating kardi gènnya badheni pura wau

sang aprabu
gya dhawuhkên tata-tata anêtêpi adat watoning narpati lamun angalih praja
***
Setelah selesai menyiapkan segala perabotan, Adipati Pringgalaya dan Sindureja menghadap Raja. Melaporkan bahwa pekerjaan bakal kraton sudah selesai.

Sang Raja segera memerintahkan untuk bersiap-siap mematuhi tatacara adat kebiasaan bagi seorang raja ketika pindah negara.

Bersambung

 

 

SERI BABAD GIYANTI
36-53

Ringkasan :
BOYONG KADATUAN

Sungguh acara boyong keraton dilaksanakan dengan megah dan meriah. Sang Raja, permaisuri dan putra-putri, serta para punggawa memakai pakaian yang indah-indah. Bertatakan berlian permata yang berkilauan sinarnya. Para penari bedhaya dan srimpi pun tak ketinggalam memakai pakaian yang elok, sangat mempesona. Bedhaya dan Srimpi adalah genre tarian adat keraton yang sakral dari kraton yang melambangkan kebesaran Raja. Ada beberapa varian dari masing-masing genre itu, kadang setiap raja menciptakan jenis varian sendiri-sendiri.

Dari gambaran di atas terlihat betapa mewah dan meriahnya prosesi acara boyong kedaton tersebut. Segala kebesaran kerajaan Kartasura seakan dipamerkan di sepanjang jalan menuju Sala. Tak tampak kalau negara baru saja rusak diterjang musuh. Juga tak ada yang mengira kalau kelak huru-hara tak berhenti oleh upacara nan meriah ini.

Hari perpindahan itu sangat meriah, semua orang berdesakan memenuhi jalan ke desa Sala. Waktu perpindahan diperingati pada hari Rabu pagi, tanggal 17 Sura tahun Je. Dengan angka tahun sesuai sengkala kombuling pudya kapyarsi ing nata atau tahun 1670 AJ. Dalam angka tahun Masehi 1745 AD.

Tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan betapa meriahnya perjalanan boyong kedaton itu. Setelah tembakan senapan disambut gelegar meriam yang membikin merinding berbunyilah aneka kemeriahan itu. Terompet tambur bersahutan, seruling meliuk-liuk memanjakan telinga, bender barung bersahutan, irama monggang kodok ngorek berbunyi sepanjang jalan. Gending carabalen dari para penabuh gamelan terdengar merdu di telinga. Heboh orang senegara seperti diguncang gempa. Ini prosesi terbesar pindah keraton yang pernah ada.

Begitulah meriahnya perjalanan sang Raja, seolah membelah tiga dunia. Di barisan depan dibawa bibit pohon beringin kurung yang akan ditanam di alun-alun sebagai simbol negara, dibawa dari Kartasura.
Bangsal pangrawit adalah bangsal kecil untuk melantik pejabat. Dibawa secara utuh dari Kartasura, mungkin sebagai simbol kekuasaan.

Di belakangnya kendaraan kerajaan dan pawangnya. Baru kemudian Raja naik kuda dengan diiringi gamel, yakni petugas pemelihara kuda. Di belakangnya para punggawa, mantri, panewu dan abdidalem anon-anon (abdi dalem non karir), naik kuda dipayungi, mengiringi pasukan.
Patih Pringgalaya dan Sindureja mengiringi di belakang rombongan Raja dengan segenap prajurit kraton dengan piranti upacara lengkap. Rangkaian rombongan pindah kraton tak behenti pada para prajurit kraton. Di belakangnya prajurit Kumpeni mengiringi dipimpin oleh seorang mayor yyang naik kuda, siapa lagi kalau bukan adik Raja Baron von Hohendorff. Di sebelahnya adalah putra mahkota Pangeran Adipati Anom.

Di belakang iringan prajurit Kumpeni dan putra mahkota adalah abdi dalem keagamaan, para penghulu, khatib dan ulama, mereka disebut abdi dalem suranata. Di belakang mereka diusung pusaka Kyai Cengkal Baladewa. Di belakangnya para pangeran diringi keparak (abdi dalem perempuan) yang membawa peralatan upacara bermacam-macam.

Para abdi dalem keparak tadi membawa peralatan upacara. Banyak dalang, wadah berbentuk angsa. Sawung galing, wadah berbentuk ayam jago. Ardawalika, wadah berbentuk naga. Dan peralatan simbolis sejenisnya dipimpin bupati keparak.

Di belakangnya ada tandu joli jempana berurutan rama sekali, itulah wahana yang dinaiki permaisuri dan istri para punggawa. Pada akhir bait ada kata swami, dalam bahasa Jawa artinya pasangan, jadi bisa berarti suami atau juga istri.

Abdi dalem gedong adalah abdi dalem yang mengurusi perbendaharaan kraton. Gedong kiwa dan gedong tengen adalah jenis harta benda yang diurusi, jenisnya tergantung pada zamannya.

Semua harta benda keraton Kartasura dibawa serta beserta pusaka keraton yang diletakkan dalam peti-peti. Dinaungi dengan payung warna kuning dijaga para prajurit di belakangnya.

Para prajurit membawa panji-panji kebesaran dengan segala peralatan upacaranya. Bendera. Umbul-umbul dan payung kebesaran. Para bupati membawa penabuh gamelan yang memainkan musik sepanjang jalan dengan irama yang enak didengar. Pawai ini sekaligus kampanye, unjuk kekuatan dari negara baru yang akan berdiri di Sala. Diharapkan dengan pamer kekuatan dan kebesaran rakyat berbondong-bondong tunduk kepada kerajaan baru ini.
Pawai pindah keraton sekaligus show of force dari keraton Kartasura menuju kerajaan baru sangat meriah sampai tumpah dari jalanan, memenuhi lapangan sekitar. Kalau dilihat banyaknya barisan yang lewat seperti samudera yang airnya tumpah.

Polah para prajurit yang ikut boyong kedaton sudah berputar-putar tidak karuan. Ingin mereka segera sampai di kota baru. Bawaan mereka tampak semerawut sepanjang jalan seperti pemain reyog karena bawaannya banyak sekali. Ketika sudah sampai di Sala, bangsal pangrawit segera dirakit di tempat yang sudah dihias (tarub) di pagelaran. Para punggawa rombongan boyong segera menghadap sang Raja.

Bangsal pangrawit yang dibawa dari Kartasura telah dirakit. Sang Raja duduk bertahta di dalam bangsal sebagai singgasana sementara. Para opsir dan komandan berdiri di kanan bangsal. Para prajurit Kumpeni dan Jawa berbaris di alun-alun untuk mendengar titah sang Raja. Raja bersabda kalau mulai hari ini desa Sala menjadi pusat keraton yang baru. Nama negara pun baru yakni Surakarta Adiningrat, dengan tetap melestarikan tradisi Mataram sebagai leluhur mereka.

 

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !