Babad Giyanti, Negarakretagama-nya Periode Kerajaan Islam

Versi lain
Boyong Kedaton

Raja dan Ratu tampil di singgasana ( sitihinggil ) diiring semua penari perempuan ( Bedhaya Serimpi ) dan para pengikut. Mereka disambut serentak oleh tembakan meriam, bunyi gamelan dan tiupan terompet.

Lalu mereka mulai berjalan dan sang pujangga mendiskripsikan dengan teliti urut-urutan panjang itu, yang secara simbolis berarti “Berpindah Karaton sampai ke desa Sala“ ( ngalih kadhaton mring dhusun Sala ).

Susunan barisan berikut :

  1. Waringin kurung sakembaran ( dua batang pohon beringin ) diberi kain cinde diapit oleh Abdi Dalem dari desa-desa.
  2. Bangsal Pangwarit diiringi oleh Abdi Dalem Prajurit Kalang, Gowong, Undhagi, Selakerti.
  3. Gajah kenaikan Sunan, diapit oleh Abdi Dalem Srati.
  4. Kuda kenaikan Sunan diiringi oleh Abdi Dalem Gamel.
  5. Para Abdi Dalem Bupati Nayaka Jawi Kiwo dan Tengen: Panumping, Panekar, Sewu Numbak Anyar, Siti Ageng Kiwo Tengen, Bumi, Bumija, diiringi oleh Abdi Dalem Kliwon, Panewu, Mantri, naik kuda dengan berpayung.
  6. Abdi Dalem Bupati Anom Anon-Anon beserta Panewu, Mantrinya, terdiri dari: Abdi Dalem: kemasan, greji, pandhe, sayang, gemblak (gembleg), puntu, samak, tukang laras, tukang warangka, tukang ukir, jlagra, slembar, gupyuh, tukang cekathak, tukang pasppor, tukang landheyan (tempat tombak), undhagi, bubut, kendhi, niyaga, badhut, dhalang, tukang sungging, tukang natah wayang, tukang cat, tukang prada, tledhel, kebon dharat, mengiringi gamelan terdiri dari: Kyai Surak, Kyai Sekar Delima, Kyai Sekar Gadhung, diberi payung kuning.
  7. Selanjutnya diikuti oleh tukang song-song (payung), tukang pasar, tukang tulup, tukang jemparing (panah), tukang jungkat (sisir), teluk, gebyar, tukang musik, (batik), Patih Raden Adipati Pringgalaya dan Patih Raden Adipati Sindureja disertai benda-benda upacara kepatihan.
  8. Prajurit Kompeni lima kompi dengan berkuda.
  9. Benda-benda upacara Kadipaten Anom diiringi oleh para Abdi Dalem Punakawan, emban, cethi, nyai.

Kemudian Raden Adipati Anom naik kuda, berpayung berjajar dengan Mayor Hagendrop, diiringi oleh Abdi Dalem Kadipaten Anom dan ditutup oleh Pepatih dan Wedana Kadipaten: RT. Wirapraja.

  1. Abdi Dalem Prajurit Sarageni dan Sarantaka, disambung dengan bedhug dengan diiringi Abdi Dalem Merbot, Penghulu, Khetib, Ulama, pradikan, berkuda dan berpayung. Disambung: Cekal Kyai Baladewa dibawa oleh Abdi Dalem Kebayan lengkap.
  2. Para Sentana, Panji, Riya Pangeran, putra, berkuda, berpayung, ditutup oleh Abdi Dalem Suranata, juru besarta anak buahnya.
  3. Para punakawan, Hurdenas, ponylompret Belanda, tombak milik Sunan, kiri kanan mengapit benda-benda upacara kerajaan: banyak dhalang sawung galing dibawa oleh Abdi Dalem Gandhek Mantri Anom, berpayung kuning.

Disambung benda-benda pusaka kerajaan: bendhe (canang) Kyai Bicak.
Pembawanya naik kuda berpayung kuning. Disambung Abdi Dalem Gajah Mati dengan membawa Carak Kyai Nakula Sadewa, cemeti milik raja, Kyai Pecut, Kemudian Raja diiringi oleh Abdi Dalem Keparak kiwa Tengen dengan membawa benda-benda upacara Kerajaan.

Kemudian para prajurut Tamtama, kiri kanan masing-masing dua ratus orang prajurit. Disambung oleh Abdi Dalem Prajurit Mertalulut dan Singanagara, membawa pusaka oleh Abdi Dalem Keparak Kiwa Tengen berjumlah empat pulih orang, berkuda diiringi benda-benda upacara Kabupaten.

  1. Abdi Dalem Keputren: Nyai Tumenggung atau Nyai Lurah Keparak Jawi dan Lebet naik tandu/kremun atau tandu kajang dan ada yang berkuda, beserta anak buah. Disambung para Wedana, Panewu, Mantri, Kliwon beserta anak buah. Kemudian istri Patih Pringgalaya dan Patih Danurejo.

Disambung Abdi Dalem Bedaya Srimpi Manggung Ketanggung atau pembawa benda-benda upacara, para Ratu serta para emban dan para Nyai. Kemudian Permaisuri Sunan diiringi oleh Abdi Dalem Gedhong Kiwa Tengen empat orang, Abdi Dalem Kliwon, Panewu, Mantri Jajar.

Disamping putera-puteri Sunan dan para Selir (Priyatun Dalem), para istri Bupati Mancanagara, semua Keputren ini sebagian besar naik tandu, kremunjoli atau jempana.

  1. Benda-benda pusaka Kerajaan, dimasukkan ke dalam gendhaga (bokor), serta buku-buku Kerajaan dibawa oleh Abdi Dalem Keparak, diiringi oleh Abdi Dalem Kasepuhan, Bupati, Kliwon, Panewu, Mantri, para prajurit dan para panahan.
  2. Para Abdi Dalem Perempuan, bekerja dapur beserta perlengkapan dapur, Abdi Dalem Krapyak, dengan membawa beras, ayam, dan sato iwen lain, upeti para Adipati Mancanagara.

Kemudian Abdi Dalem Jajar beserta perlengkapan rumah tangga, Abdi Dalem Pamajegan membawa kayu bakar, arang, sapit, sajen, tampah (niru), tebok, ancak, seruk (bakul), tumbu, sapu, godhong (daun), ethong, lesung, lempong, alu ujon, kukusan, irus, solet, dan sejenis peralatan dapur lainnya.

Kemudian pusaka Dalem Dandang Kyai Dhudha, pusaka Panjang Kyai Blawong, Kendhil Kyai Marica, dijaga oleh Nyai Gandarasa yang naik tandu, diiringi oleh Bupati Gading Mataram besarta anak buahnya. Kemudian disambung oleh Galadhag Pacitan membawa batu, tempat minum harian milik Raja, Sela Gilang, teras bagi Siti Hinggil Sela Gilang di Bangsal Pangrawit, Bangsal Manguntur Tangkil dan batu-batu pasalatan (untuk sembahyang), padasan, para perdikan Mancanagara, mimbar, bedhug Masjid Besar Kyai Rembeg.

Semua benda-benda pusaka tersebut diberi payung kuning, diletakkan di atas gendhaga.

  1. Pohon beringin pukuran (yang ditanam di alun-alun Selatan/pukuran) diiringi oleh Abdi Dalem Pancar Mancanagara.
  2. Abdi Dalem Dagang, sudagar, kriya, pangindung, blatik (pedagang kambing), mudel, umbal, mranggi, pangukir, rakyat jelata Karaton Kartasura.
  3. Binatang ternak milik para putera sentana, para Bupati, Kliwon, Panewu Mantri beserta anak buahnya.
  4. Abdi Dalem Pandhelegan, tukang mencari ikan, tukang baita (perahu), pambelah, jurumudi, jagal (penyembelih hewan).
  5. Narindu milik Raja dijaga oleh Abdi Dalem Tuwa Baru dan Abdi Dalem Mancanegara Kilen.
  6. Abdi Dalem Mancanagara wetan dan kulon, membawa pusaka meriam Nyai Setomi dan meriam-meriam lainnya.

Yang turut di dalam perpindahan tersebut kurang lebih ada 50 ribu orang (limang leksa). Didalam perjalanan tersebut sangat lambat. Jarak antara istana Kartasura sampai desa Sala memakan waktu kurang lebih tujuh jam.

Jalan yang dilalui, mula-mula merupakan jalan setapak melewati hutan dan semak belukar. Hutan dan semak belukar itu ditebas untuk dijadikan jalan perpindahan. Jalan itu sekarang adalah jalan Pasar Klewer ke barat terus sampai ke kartasura, melalui alun-alun Kerajaan Pajang, dan berangkat dari Alun-alun Kartasura.

Setelah sampai di desa Sala, segera diadakan pengaturan pembagian tempat. Sementara para “:Pandherek” masih berkumpul di alun-alun.

Setelah istirahat beberapa lama, diadakanlah upacara menghadap Raja (pasewakan agung). Tempatnya di Tratag Rambat (sekarang pagelaran).

Pada pasewakan agung itu bersabdalah Sunan Paku Buwana II kepada segenap hadirin:

Heh kawulaningsun, kabeh padha ana miyarsakna pangandikaningsun! Ingsun karsa ing mengko wiwit dina iki, desa ing Sala ingsun pundhut jenenge, ingsun tetepake dadi negaraningsun, ingsun parigi jeneng Negara Surakarta Hadiningrat. Sira padha angertekna sakawulaningsun satalatah ing Nusa Jawa kabeh.

(Hai hambaku, dengarkan semuanya sabda saya. Saya berkeinginan sejak hari ini, desa di Sala saya ambil namanya, saya tetapkan menjadi negara saya, saya beri nama negara Surakarta Hadiningrat. Kalian siarkanlah ke seluruh rakyatku di seluruh wilayah Tanah Jawa seluruhnya).

Kemudian diadakan doa syukur oleh ulama kauman, dan diadakan penanaman pohon beringin kurung sakembaran di alun-alun utara (muka) dipimpin oleh Patih Pringgalaya dan Patih Sindureja. Beringin itu diberi nama: sebelah Timur, Kyai Jayandaru dan sebelah Barat, Kyai Dewandaru.

Sedang pohon beringin kurung sekembaran yang ditanam di alun-alun selatan (pungkuran, belakang) dilaksanakan oleh Bupati Mancanegara.

Setelah selesai diadakan selamatan selesailah upacara perpindahan pusat kerajaan dari Kartasura ke Surakarta Hadiningrat.

Lama pembangunan bangunan Kompleks istana memakan waktu sekitar delapan bulan, sering dilakukan kerja siang malam.

Selanjutnya selama lebih kurang satu bulan warga kota baru itu diperkenankan mengadakan “bujana handrawina”, berpesta pora di rumah masing-masing atau bersama-sama dengan para lurah (pemimpin) mereka.

(Pawarti Surakarta 1939/26).

 

 

SERI BABAD GIYANTI
54 – 59
TAMAT PUPUH 1

RINGKASAN
53. Bangsal pangrawit yang dibawa dari Kartasura telah dirakit. Sang Raja duduk bertahta di dalam bangsal sebagai singgasana sementara. Para opsir dan komandan berdiri di kanan bangsal. Para prajurit Kumpeni dan Jawa berbaris di alun-alun untuk mendengar titah sang Raja. Raja bersabda kalau mulai hari ini desa Sala menjadi pusat keraton yang baru. Nama negara pun baru yakni Surakarta Adiningrat, dengan tetap melestarikan tradisi Mataram sebagai leluhur mereka.

54.Ringin kurung adalah pohon beringin kembar yang ditanam di alun-alun. Satu pasang untuk alun-alun utara dan satu pasang untuk alun-alun selatan. Dua alun-alun mempunyai fungsi masing-masing. Alun-alun utara yang luas merupakan tempat para rakyat menghadap Raja dan mengadakan upacara gerebeg. Adapun alun-alun selatan merupakan tempat olah keprajuritan.

55.Karena sifatnya masih sementara dan bangunan belum permanen mereka membuat pondok sementara sambil membenahi bangunan yang ada kelak. Perlu banyak ditata agar sesuai dengan tatakota keraton yang baku. Namun semua telah bersuka cita karena mempunyai negara yang baru, yang bebas dari jamahan musuh, yang diharapkan membawa kesejahteraan seluruh rakyat Surakarta Adiningrat.

56.Keraton baru sudah terbantuk, sang Raja sudah hilang kesedihannya. Walau keadaan di Sala tinggi-rendah tak beraturan, tetapi karena disokong dengan kesetiaan para punggawa negara menjadi kuatlah negara. Mereka sudah mapan dan bertempat tinggal masing-masing. Sekarang yang dipikirkan hanya membangun negara untuk kesejahteraan rakyat. Itulah cita-cita Raja dan segenap punggawa negara.

57.Gurnadur adalah ejaan Jawa untuk gubernur jenderal di Batavia (Governor). Sebutan bagi Raja kepada sang jenderal adalah eyang, sebagai penghormatan untuknya. Sedangkan kepada kepala garnisun disebut sodara, seperti Hohendorff yang dipanggil saudara muda oleh Raja. Gubernur Jenderal yang waktu itu dijabat Gustaav Willem Baron van Imhoff (menjabat 1742-1750), ingin mengunjungi negara yang baru saja dibangun. Sekaligus akan menjelajah loji yakni markas serdadu garnisun Kumpeni di sepanjang pantai dan di Surakarta, juga akan memeriksa tanah yang dikuasai Kumpeni.

Kita tahu sekarang luas tanah yang dikuasai Kumpeni sudah lebih luas dari kerajaan Surakarta sendiri, membentang disepanjang pesisir utara dari Batavia sampai Surabaya. Dan luas wilayah semakin bertambah setelah orang Jawa saling berperang, begitulah yang terjadi.

58.Loji dan tanah adalah aset Belanda yang penting untuk mengendalikan tanah jajahan. Ketika perang Pacina banyak menderita kerusakan. Letak Loji yang terbesar di Semarang, yakni markas garnisun tentara Kumpeni yang sangat terkenal itu. Tuan Jenderal ingin memeriksa sambil berkunjung ke kedaton yang baru. Itulah bunyi surat dari Gubernur Jenderal Baron van Imhoff kepada mayor Baron von Hohendorff. Sang mayor segera menghadap Raja dengan raut muka penuh kegembiraan.

————————————–
ISI
53.

nata lênggah ing bangsal pangrawit para upsir kalawan kumêndhan samya ngadêg nèng kanane bangsal lênggahan prabu
pra prajurit banjêng abaris Kumpêni miwah Jawa anèng alun-alun

sri narendralon ngandika dhusun Sala ingalih nama nagari Surakartadiningrat

***
Raja duduk di bangsal pangrawit, para opsir dan komandan berdiri di kanan bangsal tempat duduk Raja. Para prajurit urut berbaris Kumpeni dan prajurit Jawa di alun-alun.

Sang Raja bertitah, desa Sala berubah nama menjadi negara Surakarta Adiningrat.

54.

ki pangulu ngulama lan kêtib sigra donga wilujênging praja

jêng sri nata dhawuhake nanêm waringin kurung beringin, kang lèr ingkang jênêngi kalih sang mantrimuka dene kanthinipun
bupati bêkêl nayaka kang jênêngi wringin kidul wadananing bupati môncapraja

***
Ki pengulu, ulama dan khatib segera memanjatkan doa untuk keselamatan negara.

Kanjeng Raja memberi perintah menanam pohon ringin kurung. Yang sebelah utara disaksikan oleh kedua patih dan bupati bekel nayaka. Adapun ringin selatan disaksikan bupati wedana mancanegara.

55.

ri sampuning tinanêm kang wringin kinurmatan drèl maryêm sanjata Kumpêni Jawa arame pradôngga munya umyung barung tambur slomprèt lan suling

sang nata gya ngadhatyan luwaran wadyagung
mring pondhoknya sowang-sowang wong Kumpêni sinung pakuwon wetaning lun-alun lèr kadhatyan

***
Kala sudah selesai penanaman pohon beringin, ditandai penghormatan dengan tembakan meriam. Prajurit Kumpeni dan Jawa bersorak ramai. Penabuh gamelan membunyikan alat musik, tambur, terompet dan seruling.

Sang Raja masuk kedaton, para punggawa bubar ke pondok mereka masing-masing. Orang Kumpeni membuat pondok di sebelah timur alun-alun, sebelah utara kedaton.

56.

têtêp prasida sri narapati ngadhaton nèng nagri Surakarta datan ana sangsayane satata amêmangun prayogane rakiting nagri

nadyan papan ing Sala alêdhok mandhukul
awit dening sinantosan pra santana bupati punggawa mantri samya atata wisma

***
Tetap lestari si Raja berkeraton di negeri Surakarta, tidak ada kesusahannya. Giat membangun untuk kebaikan negara.

Walau tempat di Sala rendah-tinggi tak beraturan, karena disokong para kerabat bupati punggawa mantri semua sudah menetap semua.

57.

nahan wusing antara tri sasi wontên sêrat sing gurnadur jendral mring tuwan mayor jujuge gatining srat sung wêruh lamun jendral arsa pêpanggih ing kangjêng sri narendra de ngalih kadhatun

dadya kêdah uningaa lan malihe arsa jajah tanah Jawi mriksa loji lan tanah

***
Singkat cerita sudah tiga bulan berlalu, ada surat datang dari gubernur jenderal kepada tuan mayor. Keperluan surat memberitahu kalau jenderal ingin menemui sang Raja yang baru saja berpindah kedaton.

Menjadikan beliau ingin melihat sendiri sambil menjelajah tanah Jawa memeriksa markas dan tanah.

58.

ingkang risak duk prang Cina nguni wusnya tamat pamaosing sêrat tuwan kumêndhan ge-age anyanthèlakên atur nyuwun sowan jêng sri bupati

ri sampunnya ngandikan mayor sigra laju malêbêt ing dhatulaya tan winarna ing marga praptaning puri mayor èsmu kasmaran

***
Loji dan tanah garapan tersebut rusak ketika perang Pacina. Sudah tamat dibaca isi surat dari jenderal, tuan komandan segera berpesan untuk menghadap kepada sang Raja.

Setelah selesai berpesan mayor segera masuk ke kedaton. Tak diceritakan di jalan ketika sampai di puri mayor sangat senang.

SELESAI PUPUH 1

 

 

PUPUH II

 

Dalam pupuh ke II (dalam macapat dilagukan Asmaradhana) akan diceritakan konflik mulai terjadi antara para pangeran di kraton akibat semakin berkuasanya pengaruh VOC.

 

BABAD GIYANTI
PUPUH 2 : ASMARADANA

(1 – 7)
KEDATANGAN TUWAN JENDERAL

1.
dhuh pukulun sri bupati
ambatur uningèng tuwan

yèn ulun tampi sêrate
pun kaki jêng tuwan jendralraosipun kang sêratmanawi parêng ing kayunarsa prapta nagri tuwan

***
“Duh Paduka sang Raja, hamba memberi tahu tuan, kalau hamba menerima surat dari eyang Kanjeng Tuan Jenderal, inti surat jikalau diijinkan akan datang ke negeri tuan.”

2.
sowan ing jêng padukaji rèhne mêntas karya kitha nênggih pun kaki lampahe mangetan jujug Madura ngiras amêmariksa sakathahing dhusun-dhusun kang risak kala prang Cina

***
“Menghadap kepada paduka Raja, karena baru saja membuat kotaraja baru. Adapun eyang berjalan ke timur menuju Madura sambil memeriksa desa-desa yang rusak ketika perang Cina.”

3.
saking wetan rawuh ngriki ri sampuning pêpanggihan konduripun amangilèn mêdal ing tanah Mataram sang nata angandika
iya bangêt rênaningsun
dene kaki sarjuning tyas

4.
têtinjo mring jênêng mami besuk apa gone prapta tuwan kumêndhan ature rawuhipun tuwan jendral dèrèng mawi têmbaya kalamun parêng sang prabu kawula arsa siyaga

***
“Dari timur akan datang ke sini, sesudah pertemuan akan pulang ke barat keluar dari tanah Mataram.” Sang Raja menjawab, “Iya sangat senang hatiku bahwa eyang berkenan datang ke sini mengunjungiku.

Besok kapan beliau datang?” Tuan komandan menjawab, “Kedatangan tuan jenderal belum kepastian, jika berkenan sang Raja hendaknya menyiapkan”

5.
bôndha kinarya badhèni
suyasa ingkang prayoga
kagêm pakuwon rawuhe
pun kaki jêng tuwan jendral

sri narendra ngandika adhi panjênêngan ingsun wus marêngi aturira

***
“Harta untuk membuat tempat yang baik untuk pondok kedatangan eyang Kanjeng Tuan Jenderal.”

Sang Raja bersabda, “Adik aku sudah mengijinkan permintaanmu.”

6.
sira sarêmbuga nuli anane wong lawan bôndha lan dipati sakarone kumêndhan matur sandika jawat astamit mêdal samana sarêmbag sampun lawan sang mantri wasesa

“Engkau segera berundinglah dengan kedua patih mengenai kebutuhan harta dan tenaga!” Komandan menerima perintah, berjabat tangan kemudian keluar. Kemudian berunding dengan pemuka mantri.

7.
risang dipati kêkalih dupi wus kaprasadonan dening Kumêndhan Hondhorop parentah samêktèng karya marang para bupatya

datan lami sampat sampun bôndha bau tuwin kriya

***
Sang patih keduanya ketika sudah diberitahu oleh Komandan Hohendorff memerintahkan bersiap siaga segala pekerjaan kepada para bupati.

Tak lama sudah siap harta benda dan tenaga.

CATATAN KAKI :
1. Eyang (kaki) adalah sebutan untuk Gubernur Jenderal di Batavia, sedangkan untuk Letnan Gubernur yang menjabat (Gubernur Pantai Timur) di Semarang dipanggil Bapa, dan komandan Garnisun Kumpeni di Kartasura (kelak diganti dengan jabatan residen) dipanggil sodara. Jadi kedudukan raja Kartasura sebenarnya hanya setingkat residen.
2. Dikatakan bahwa tujuan Gubernur ke Sala adalah untuk meninjau keraton yang baru, sambil memeriksa desa-desa yang rusak akibat prang Cina. Namun alasan yang tertulis ini sebenarnya hanyalah basa-basi. Tujuan sebernarnya adalah untuk merelealisasi perjanjian Ponorogo ketika Kumpeni membantu Raja kembali ke tahtanya*.
3/4. Sesuai rencana, perjalanan Jenderal akan dimulai dari timur, menuju Semarang, ke Sala kemudian melewati Mataram, terus melalui Banyumas.
5. Mengenai kapan waktu kedatangan Gubernur, belum ada kepastian, tetapi Mayor sudah mengajukan persiapan penyambutan. Acara yang disuguhkan, tempat pondokan, dan segala sesuatunya hendaknya dipersiapkan lebih dahulu. Raja sudah menyetujui usulan Mayor dan memerintahkan untuk segera dilaksanan persiapan, berapapun biayanya.
6. Mayor kemudian berunding dengan kedua patih untuk menyiapkan segala sesuatunya.
7. Anggaran untuk itu segera turun dan bahan serta tenanga dapat disiapkan. Tampak Tuan
Mayor adalah seorang admintratur yang cakap dan cekatan, tanggap dan penuh inisiatif.

*PERJANJIAN PONOROGO (1743)
Semasa Mataram dipimpin oleh rajanya yang ke-10, Sri Susuhunan Paku Buwono II (1727-1749), dan berkedudukan di Kartasuro, pada tahun 1742 terjadi pemberontakan oleh orang-orang Tionghoa, yang kemudian dikenal dengan sebutan Geger Patjina. Pemberontakan ini dipimpin oleh Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyowo, menantu Pangeran Mangkubumi.

Pada saat pemberontakan terjadi, Paku Buwono II menyelamatkan diri ke Ponorogo bersama Van Hohendorf dan Wakil Gubernur Jenderal Belanda Van Imhoff. Dengan bantuan VOC sengkongkolannya itu, pemberontakan Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyowo berhasil ditumpas.

Setelah huru hara antar keluarga kerajaan mataram mereda, PB II meminta bantuan VOC lagi untuk merebut kembali ibukota Mataram di Kartasura. Maka dibuatlah Perjanjian Ponorogo (1743), kontrak politik antara PB II dengan VOC tanpa melibatkan keluarga kerajaan mataram lainnya seperti Pangeran Mangkubumi.

ISI
antara lain, menyerahkan seluruh daerah pesisir pada VOC, dan menyetujui dalam pengangkatan patih harus ada persetujuan VOC.

AKIBAT
Dengan adanya perjanjian tersebut, hubungan Kartasura dengan daerahdaerah di seberang lautan terhambat. Satu-satunya pilihan untuk mempertahankan Kartasura adalah dengan menjual seluruh hasil produksinya kepada pemerintah kolonial karena keraton sudah tidak lagi memiliki akses ke laut.

Selain itu, kemampuan di bidang perdagangan maupun armada laut dan seluruh pelabuhan telah dikuasai oleh pemerintah kolonial.

Dalam bidang pemerintahan, pemerintah kolonial pun semakin menjadi dalam keterlibatannya untuk menentukan Patih Dalem yang merupakan pelaksana roda pemerintahan keraton.

 

 

BABAD GIYANTI
PUPUH 2

(8-15)
SURAT UNTUK PANGERAN MANGKUNAGARA

Kilas balik Geger Pacinan :
Ketika orang2 Cina yg dibunuh VOC di Batavia mulai banyak yang melakukan eksodus ke Mataram, mereka mulai menyerang pos2 jaga VOC di pantai utara. Melihat situasi seperti ini Raja Mataram, Pakubuwono II memutuskan untuk menyerang benteng VOC di Semarang.

Keputusan Pakubuwono didasari ketidak puasan Mataram atas perjanjian Jepara (setelah perang Trunojoyo) yang merugikan Mataram karena wilayah pesisir utara Jawa menjadi wilayah dalam kekuasaan VOC. Tentara Kasunanan Mataram bekerjasama dengan laskar Tionghoa bersama-sama menyerang Semarang pada tahun 1741. Keputusan Pakubowono II ini mendapat dukungan dari Bupati Grobogan Martopuro dan Bupati Pati Mangoen oneng dan beberapa bupati lain di Jawa bagian tengah dan timur.

Dari dalam keraton, Raden Mas Said (yang kelak bergelar Pangeran Sambernyowo) dan Pangeran Mangkubumi mendukung keputusan Sunan. Mereka berdua ikut memimpin pasukan melawan VOC.

Sayangnya, ketika serangan ke Benteng VOC di Semarang gagal, Pakubuwono II justru mengambil kebijakan yang berbalik arah. Sunan justru mendukung VOC untuk memerangi Laskar Tionghoa.

Tidak semua pihak Jawa menuruti kehendak Sunan untuk berbalik arah. Buktinya Raden Mas Said, Pangeran Mangkubumi, Bupati Martopuro dan Bupati Pati tetap berperang melawan VOC. Sisa-sisa tentara Mataram tetap bergabung untuk melawan VOC. Bahkan Laskar Tionghoa bersama dengan Bupati Martopuro dan prajurit Jawa lainnya mengangkat Raden Mas Garendi (cucu Amangkurat III) menjadi Raja Mataram dan bergelar Amangkurat V. Laskar gabungan Tionghoa-Jawa ini berhasil masuk ke keraton Kartasura dan mendudukkan Pangeran Garendi sebagai Sunan, walau hanya 6 bulan. Selain bergelar Sunan Amangkurat V, Pangeran Garendi juga dijuluki sebagai Sunan Kuning, karena beliau diangkat sebagai raja Mataram oleh orang Tionghoa.

Dengan bantuan VOC dan Cakraningrat IV, Pakubuwono bisa kembali ke Keraton Kartasura. Dan melakukan boyong kedaton dari Kartasura ke Sala, atau Surakarta.

Dalam pupuh II-8 dan seterusnya, Pangeran Mangkunagara (RM Said)* mendapat surat dari abangnya yaitu Pangeran Arya Pancuran, dirayu agar menghentikan perang dan kembali ke istana.

*basis perlawanan Raden Mas Said adalah di Desa Segawe (Matesih), Sukowati.

8.
ri saksana dèn wiwiti
pandamêle kang suyasa
tan winarna rêroncène

nêdhênge anambut karyakasaru praptanira
garêbong carakanipun
Pangeran Arya Pancuran

***
Hari itu segera dimulai pembuatan pondok, tak dapat digambarkan perinciannya.

Ketika sedang berlangsung pekerjaan mendadak terhenti oleh kedatangan Ki Grebong, utusan Pangeran Arya Pancuran.

9.
sarwi amundhi kintaki têrang jêng gurnadur jendral gatining rèh nandukake pamapas cipta angkara Pangran Mangkunagara pinurih mangimur-imur ayu myang widadèng karsa

***
Serta membawa surat, jelas perintah Kanjeng Gubernur Jenderal agar memutus kehendak
angkara Pangeran Mangkunagara. Diupayakan agar dibujuk-bujuk supaya selamat dan lestari.

10.
pênêda mring jêng Kumpênisarta bêktia mring nataTuwan Kumêndhan Hondhorop
wus anduga karsanira
para rad ing Jakarta

duta sampun kinèn laju
garêbong sigra umangkat

***
Berbaiklah dengan Kumpeni serta berbakti kepada Raja. Tuan Hohendorff sudah menduga keinginan para penasihat di Jakarta.

Utusan sudah disuruh melanjutkan perjalanan, Ki Grebong segera berangkat.

11.
dhumatêng ing pakuwoning Pangeran Mangkunagara datan winarna lampahe ing ênu sapraptanirapustaka wus tinampanbinuka sinuksmèng kalbu
mangkana ungêling sêrat

***
(Ki Grebong segera berangkat) ke markas Pangeran Mangkunagara. Tak diceritakan selama perjalanan. Ketika sampai surat sudah ditrima, dibuka dengan penuh perasaan, inilah isi surat itu.

12.
pustaka pinandara ring
saliring pudya raharja
sing manah êning rumêmbesaking kadang para wrêdhakang winilut sangsayanèng Jakarta ajêjulukPangeran Arya Pancuran

***
“Surat yang dihias dengan segala puji keselamatan, dari hati yang menderita. Dari saudara tua yang selalu dirundung derita di Jakarta, bernama Pangeran Arya Pancuran.”

13.
mugi katura ri mami
kang dadya wod tyas kasrêdan satriyagung bêbisike Pangeran Mangkunagara kang ambêg santa budya budiman anrus martayu tumuse ngasturi ngambar

“Dihaturkan kepada adinda, yang menjadi pegangan kecintaan hati, bergelar Pangeran Mangkunagara. Yang berbudi halus, bijaksana dan sabar penuh kebaikan”

14.
mardu mardawa arjanti
jujur ing saparibawa
ambawani pangulahe
kridhaning tyas parotama

tumanêm ing silarja
jajahaning budi mêngku
mêmaniking tyas ngumala

***
“Sangat halus budi terpilih, jujur semua perilaku, berwibawa solah-tingkah, gerak hati selalu menuju yang utama,

tertanam dalam laku yang elok, sanggup merengkuh bawahan, hati laksana permata.”

15.
maladi kontabing bumi buntas marang kabudayan digjayane ing palugon dening gunane mring aprang kèringan parangmuka linulutan pra wadyagung tuhu prajurit utama

***
“Tekun meraih kemasyhuran di dunia, paripurna menguasai budaya, tangguh dalam perang, oleh karena pintar dalam gelar peperangan, disegani pemberontak, disukai para pengikut, sungguh prajurit utama.”

CATATAN KAKI :
8. Di tengah sibuknya pekerjaan membuat pondok datanglah utusan dari Pangeran Arya Pancuran dari Batavia. Pangeran Arya Pancuran adalah kakak kandung Raden Mas Said atau Pangeran Mangkunagara. Nama Arya Pancuran diambil dari tempat dia tinggal, yakni daerah Pancoran Jakarta. Namanya yang lain adalah Pangeran Tirtakusuma.

Nama kecilnya adalah Raden Mas Ngali (Ali), dia ikut dibawa ke pengasingan oleh ayahnya, Pangeran Harya Prabu (Arya) Mangkunagara ketika ayahnya terlibat perselisihan dengan Pakubuwana II di tahun 1728. Pangeran Arya Pancuran menetap di Batavia setelah orang tuanya meninggal di Tanjung Harapan, walau jenazah orang tuanya kemudian dikirim ke Imogiri.

Tentang sebab pembuangan Pangeran Arya Mangkunagara, Babad Panambangan mencatat karena adanya persoalan wanita antara Pangeran Arya Mangkunagara dengan Sunan Pakubuwana. Seorang selir Pakubuwana yang berasal dari Semarang, berwajah cantik, berkulit kekuningan karena peranakan Cina, Mas Ayu Larasati, putri Demang Cakrayuda, disukai oleh Pangeran Arya Mangkunagara. Selir tersebut sebelumnya sudah tidak dikehendaki oleh Pakubuwana dan karena itu diminta sekalian oleh Arya Mangkunagara. Tetapi permintaan itu membuat Raja sakit hati dan menangkap Arya Mangkunagara. Kemudian diserahkan kepada Kumpeni dan dibawa ke Jakarta. Selanjutnya dibuang ke Batavia dan kemudian ke Tanjung Harapan.

  1. Dalam bab I sudah disinggung tentang beberapa kerabat Raja yang lolos dari istana pada waktu perang Pacina, dan membentuk pasukan sendiri. Salah satunya adalah Mas Said yang kemudian bergelar Pangeran Adipati Mangkunagara, ia adalah putra Pangeran Harya Prabu (Arya) Mangkunagara (jadi ia adik dari Arya Pancuran, sama2 putra Pangeran Harya Prabu (Arya) Mangkunagara). Dia termasuk salah satu komandan perang yang disegani oleh karena itu sangat diharapkan agar dia menghentikan perlawanan dan merapat ke Surakarta. Salah satu cara untuk membujuknya adalah melalui surat dari sang kakak Pangeran Arya Pancuran ini.
  2. Mayor Hohendorff tentu setuju dengan cara ini. Bagaimanapun Mangkunagara bukan lawan enteng. Lebih baik jika dia mau menjadi kawan dan membantu Kumpeni. Maka dia menyuruh Ki Grebong agar segera berangkat.

11/12. Dalam pembukaan surat ini, Pangeran Arya Pancuran mencoba membangkitkan sentimen kekeluargaan di antara kakak-beradik itu. Dengan mengingatkan kembali akan derita yang selama ini ia alami di pengasingan menemani ramanda.

  1. Setelah membangkitkan sentimen, kemudian Arya Pancuran mulai memuji-muji sang adinda. Tentu hal ini dilakukan untuk mengambil hati sang adik.
  2. Maaf kalau terjemahan ini kurang pas, kami kesulitan mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia. MC Ricklefs berkata benar ketika menyebut karya Yasadipura yang satu ini sulit diterjemahkan. Kami hanya bisa geleng-geleng kepala dengan susunan kalimat dalam bahasa Jawa yang luar biasa ini. Sudah berjam kami terpaku dan membisu. Jari-jari kami kaku. Kami harus mencet tombol yang mana?
  3. Dua bait di atas menyanjung-nyanjung Pangeran Mangkunagara dengan sangat berlebihan. Bagi orang Jawa yang sudah menguasai sasmita, pasti sudah paham kemana arah pembicaraan ini. Inilah yang dalam budaya Jawa disebut ngrogoh ati (mengambil hati).

 

 

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !