Babad Giyanti, Negarakretagama-nya Periode Kerajaan Islam

BABAD GIYANTI
PUPUH 2

(16-34)
LANJUTAN SURAT UNTUK PANGERAN MANGKUNAGARA

Prakata :
Bahagian ini masih melanjutkan surat yang dikirim oleh Pangeran Arya Pancuran kepada adiknya yaitu Pangeran Mangkunagara (Raden Mas Said) yg diberikan melalui Ki Grebong.
RM Said membentuk posko perlawanan di Desa Segawe (Matesih) di Sukowati.

Inti surat adalah merayu agar ia mau kembali ke kraton dan menghentikan perlawanan.

Keduanya adalah putra Pangeran Arya Mangkunagara yang telah dibuang ke Tg.Harapan, ayah mereka adalah saudara beda ibu dengan raja yg tengah bertahta Pakubuwana II, juga Pangeran Mangkubumi. Sama-sama putra Susuhunan Amangkurat IV, Raja Kartasura Hadiningrat.

LANJUTAN
16.

wiyose kanang kintèki yayi mas paraning trêsna mugi anirnakna bafbo bara-baraning bramatya berata kang sandea rèhning kabubuh ing sêpuhpun kadang dadya nêmpuh byat

“keluarnya surat ini, adikku, tujuan dari kecintaanku, semoga engkau menghilangkan, duh adikku, ungkapan kemarahanmu, hilangkan rasa khawatirmu. Karena terlahir sebagai saudara tua, kakakmu ini akan melakukan hal yang berat.”
=====
Setelah berakhirnya puja-puji untuk sang adik, akhirnya Pangeran Arya Pancuran mulai mengatakan apa yang menjadi tujuannya. Walau terhitung saudara tua, pilihan katanya pun bijak dan berhati-hati. Inilah kebiasaan para bangsawan yang sudah sempurna tata krama, budi bahasa.

17.

ngumbar berawaning ati ngaturakên cumanthaka sumundhul atur sêdyane dununging rèh kang sayogya lamun datan katampan sayêkti cintaka muput lir kênèng papa pantaka

“Mengumbar kehendak hati, lancang dalam perkataan, bermaksud menyela-nyela ucapan, untuk menunjukkan sesuatu yang baik. Bila tidak diterima, sungguh angan-angan yang punah, seperti terkena kematian.”

=====
Dalam bait ini Arya Pancuran mulai memainkan perasaan sang adik, bahwa apa yang dikatakan ini walau lancang tetapi bertujuan baik. Bila tidak diterima perkataannya, sungguh angan-angannya punah tak menemuii yang keinginan, laksana orang yang menemui kematian.

18.

botên pisan nêdya lamis
anyênyêla lêlêmêsan
nyênyampahi kakangane
ing karsaning kadang ingkangsampun ambêk gunawanmung matur sajatosipun
tumrapipun kaprawiran

19.

ing asmaralaga yayi
sintên kang purun tumanggah kalawan sira riningong yèn ta mung sababagirayakti dahat katrêsandening widigdanta tuhu
têmah nungku ngèstupada

“Tidak ingin berpura-pura, menyela-nyela dengan rayuan, sebagai kakak menahan-nahan, apa kehendak saudara, yang sudah sangat pintar, hanya menyarankan. Sebagai seorang perwira, di medan laga, adikku, siapa yang mampu menandingi, dengan engkau adikku. Kalau hanya orang yang setara denganmu, sungguh sangat ketakutan, dengan kekuatanmu sungguh, akhirnya tunduk bersimpuh.”

=====
Dengan sangat hati-hati agar sang adik dapat diambil hatinya, Pageran Pancuran mengatakan bahwa saran yang ditulisnya ini tidaklah berisi kepura-puraan dan juga tidak serta merta menggunakan kedudukannya sebagai saudara tua. Namun hanya mengingatkan agar pada kebaikan sang adik sendiri.

Kalau dalam keperwiraan sipa yang akan menandingi sang adik, seorang perwira yang tangguh dan pintar dalam strategi perang. Kalau hanya orang yang setara dengan sang adik, sesama pangeran dari Kartasura pasti akan tunduk bertekuk lutut.

Di sini Pangeran Pancuran kembali memuji sang adik, untuk menyatakan bahwa saran yang disampaikan kepada sang adik tulus.

20.

nanging tandukipun yayi
lamun sisip kalbèng cacadawon têmên juwaranekadi ujaran bêbasanamirong kampuh jingga
liripun balela ratu
wah mêngsah Kumpêni ingkang

“Namun, praktiknya adikku, kalau lalai menuruti hati yang cacat, sungguh buruk kemenangan itu. Seperti ujaran amirong kampuh jingga, artinya memberontak melawan Raja dan memusuhi Kumpeni.”

=====
Keperwiraan tadi seharusnya dipakai untuk hal-hal yang baik. Jangan malah dipakai untuk mengumbar keinginan hati yang cacat. Melawan raja yang sah dan memusuhi Kumpeni.

21.

kaonang-onang undhagi mring rèh ulahing ayuda tanpa wilangan balane sangkêp sakapraboning prang yèkti dede timbangan mêngsah Kumpêni lan ratu marma pun kakang kumêdah

22.

tur pamrayoga ing yayi kalamun condhong ing karsa lêhêng kondura dèn age ambêbana sihing natakadi langkung utama suwita wong tuwanipun dhasar kang madêg narendra

“Terkenal sagat kepintarannya, dalam segala olah perang, tak terhitung balatentaranya, lengkap dengan peralatan perang, sungguh bukan lawang yang setimbang dengan Kumpeni dan Raja. Oleh karena itu kakakmu ini sangat ingin menyarankan kebaikan padamu adikku. Kalau hatimu condong, segeralah pulang, menerima hadiah sang Raja. Sepertinya lebih utama mengabdi kepada orang tua, lagi pula orang itu juga berdiri sebagai raja.”

=====
Pangeran Pancuran mengatakan bahwa walaupun sang adik tangguh dan pintar dalam perang, banyak balatentaranya, itu bukan tandingan Kumpeni. Oleh karena itu lebih baik pulang dan menerima hadiah dari Raja. Hitung-hitung mengabdi kepada orang tua, karena orang tua sendiri sudah tidak ada. Lagi pula orang itu bukan sekadar paman tetapi juga raja yang harus dipatuhi perintahnya.

Hadiah yang dimaksud di sini adalah tawaran yang disampaikan sebelum kedatangan surat ini, yakni Pangeran Mangkunagara disuruh kembali ke negeri Kartasura dan akan dikawinkan dengan salah satu putri Raja, boleh dipilih salah satu antara Ratu Sekar Kedaton atau Ratu Alit, (Babad Panambangan).

23.

dene ta kalamun yayi sônggarunggi mring Walônda panggiha pun kakang dhewe wit dene kang pangandika kangjêng gurnadur jendraldatan liyan karsanipunmung amrih raharjanira

“Adapun kalau adikku masih sangsi dengan bangsa Belanda, temuilah kakakmu ini sendiri. Karena yang bicara denganku adalah Tuan Gubernur Jenderal sendiri. Tak lain kehendaknya hanya untuk kesejahteraan semua.”

=====
Di sini jelas bahwa Pangeran Pancuran menulis surat ini setelah bertemu dengan Gubernur Jenderal Kumpeni di Batavia. Menurutnya Kumpeni bermaksud baik, agar semuah mendapatkan kesejahteraan.

Yang sebenarnya Kumpeni memang enggan berperang, karena tujuan mereka di sini adalah berdagang, mencari keuntungan bukan menguasai tanah. Mereka lebih suka kalau bisa berdamai, maka apapun ditempuh, termasuk membujuk Pangeran Pancuran agar berkirim surat kepada sang adik.

Kalaupun ada peperangan, yang disukai Kumpeni adalah peperangan antar sesama Jawa. Dengan demikian Kumpeni mendapat untung dengan memasok senjata dan membantu salah satunya. Setelah perang selesai, baru bayar mahal. Begitulah trik penjajah.

24.

dhuh yayi lamun suwawi
gèn kula asung pirêmbag
dhinahara yêkti sae
upami datan arsaa
mung ngumbar drênging karsa têtêp tan ngeman sadulur tilarane kangjêng rama

“Duhai adikku, kalau disetujui dalam aku memberi saran, dipakai sungguh baik. Kalau tidak mau dan hanya mengumbar kehendak hati, artinya tidak sayang kepada saudara tinggalan dari ayah yang sudah meninggal.”

=====
Pangeran Arya Pancuran mulai lagi mengungkit sentimen keluarga. Nada-nadanya seperti akan ngambeg kalau sarannya tidak digubris.

25.

lan pun kakang atur uning ramanta ingkang sawarga
atilar putra kathahe gangsal kang jalu sakawan kang wanita sajuga ingkang jalu wayahipun kuwawa angêmbat watang

“Dan kakakmu ini memberi tahu, mendiang ayahanda yang sudah di surga meninggalkan anak yang banyak, lima orang, yang laki-laki empat yang perempuan satu. Yang laki-laki sudah waktunya kuat memainkan tombak.”

=====
Menurut Babad Panambangan Pangeran Arya Mangkunagara mempunyai putra 16 orang. Namun yang hidup sampai dewasa yang laki-laki memang hanya empat itu yang kita kenal, satu Pangeran Pancuran, dan tiga lainnya sudah disebut di atas yang berada di Kartasura, Pangeran Mangkunagara, Pangeran Pamot dan Pangeran Mangkudiningrat. Kesemua anak-anak laki-laki memang sudah waktunya memainkan tombak, artinya berperang sebagaimana seorang perwira. Bait terakhir ini sebenarnya isyarat, walau Pangeran Pancuran kecewa kalau nasihatnya tidak dipakai, kalaupun Pangeran Mangkunagara mau melanjutkan perlawanan, ya terserahlah. Karena memang sudah waktunya untuk memainkan tombak.

26.

satamating panupèksi kang kintaka jêng pangeran trênyuh widrawa ing tyase sru karantan maring kadang kang wontên ing Jakarta alola linglung wulangun dening tinilar ing rama

Setelah selesai membaca surat sang Pangeran terharu dalam hatinya, sangat sedih hatinya mengingat sang kakak yang ada di Jakarta. Yatim bingung sedih san was-was, ditinggal oleh sang ayah.

=====
Pada waktu pembuangan semua istri Pangeran Arya Mangkunagara tidak boleh dibawa, hanya dua orang selir yang boleh menyertai. Maka Pangeran Pancuran sejak kecik tak diasuh ibunya. Ketika sang ayah meninggal, kemudian menetap di Jakarta, juga di sana hidup sendiri jauh dari kerabat dan saudaranya.
Sama-sama anak seayah Pangeran Mangkunagara dan dua adiknya ditinggal di Kartasura. Namun bukan berarti di keraton hidup enak. Karana anak orang buangan, hidupnya terlunta-lunta. Tidak bisa menjalani tahapan kehidupan seperti anak-anak para bangsawan lainnya, bahkan waktunya lebih banyak dihabiskan bersama punokawan, pembantu di keraton.

Menurut Babad Panambangan, ketika remaja pangkatnya pun hanya abdi dalem gandhek anom, yakni abdi dalem yang bertugas mengantar surat. Amat jauh dari kedudukan yang semestinya sebagai anak seorang adipati. Hal itulah yang kemudia mendorong dia keluar dari keraton dan melakukan perlawanan.

27.

myang jroning tyas katêtangi mèngêt lampahaning rama kang dahat karya wirage nganti dangu tan ngandika sarwi amêtêk jaja kêmbêng-kêmbêng arawat luh tinênggak-tênggak tan kêna

Dan dalam hatinya bangkit ingatannya, tentang perjalanan hidup ayahnya yang sangat membuatnya susah hati. Sampai lama tak dapat berbicara, dan mengelus dada, airmatanya tergenang, tak mampu ditahan-tahan.

=====
Seketika ingatan Pangeran Mangkunagara melayang ke masa silam, tentang perjalanan hidup sang ayah yang disia-siakan. Dibuang ke seberang lauh yang jauh tak terkira, tanpa sebuah kesalahan yang berarti. Hal itu membuat hatinya sangat susah. Sampai beberapa saat tak mampu bicara. Tak dapat ditahan-tahan, air mata telah menggenang di kedua pelupuk mata.

28.

saberatirèng wiyadi pangeran angunandika babo limut têmên ingong yèn bêbasaning manusa lir sarah nèng samodra sarah kang minôngka manus samodra minôngka suksma
Setelah reda rasa sedih di hati, Pangeran berguman sendiri, Duh kok sampai lupa aku. Hidup manusia ini memang seperti sampah di samudera. Sampah ibaratnya manusia, dan tuhan adalah samuderanya.

=====
Perumpamaan ini juga terdapat didalam serat Sriyatna karya Mangkunagara IV. Tampaknya kearifan Pangeran Mangkunagara selalu diwasiyatkan kepada anak cucunya, sehingga di zaman Mangkunagara IV pun masih ditulis sebagai wasiyat juga kepada anak-cucu.

29.

saparan akontrang-kantring winasesa dening tirta karêp pribadi tan duwe mangkono uga manusa tan wajib yèn suwalaing takdir Hyang Mahaluhur mung kudu suka narima

Kemanapun selalu terombang-ambing oleh kuasa air lautan, kehendak sendiri tak terlaksana. Demikian juga manusia, tak wajib membantah kepada takdir Yang Maha Tinggi, hanya wajibnya menerima dengan ridha.

=====
Ibarat sampah di tengah laut yang tak berkuasa atas dirinya sendiri, hanya terombang-ambing oleh kuasa ombak lautan. Demikian itulah perumpamaan manusia kepada Tuhan. Seberapa pun usahanya takkan mamu menghalangi ketetapan yang telah digariskan oleh Yang Maha Tinggi. Maka hal terbaik yang dilakukan adalah bersikap menerima dengan ridha atas apapun yang menimpa padanya.

Sesudah kesadaran yang demikian hadir dalam hati sang Pangeran Mangkunagara, maka dia dapat bersikap tenang kembali dan berkata kepada Ki Grebong.

30.

saksana ngandika aris hèh Grêbong sira matura marang Kumêndhan Hondhorop rêmbag kang wus sun tupiksa kamot jroning nuwala abangêt panuwun ingsun
sih marmane kadang tuwa

Maka kemudian berkata pelan, “Hai Grebong, engkau laporkan kepada Komandan Hohendorff perkataan yang sudah saya baca dalam surat ini. Sangat-sangat berterma kasih saya kepada perhatian saudara tua.”

=====
Kepada Ki Grebong dikatakan bahwa sang Pangeran sudah membaca dan memahami semua yang tertulis dalam surat ini. Maka sekarang dengarkan tanggapan atas surat itu. Dan setelahnya laporkan kepada Komandan Hohendorff sebagai orang yang dititipi surat oleh Pangeran Pancuran.

31.

sayêktine ingsun pikir pamrih kang marang raharja nora pisan bêbasane

yèn mung suka angas karta tan anut rèhing rajalan Kumpêni ingkang agung apa tan ajrih Hyang Suksma

“Sebenarnya aku pun juga berpikir untuk kesejahteraan negeri, tak sekalipun ada keinginan memamerkan kemampuan dengan melawan peraturan negara atau Kumpeni yang kekuatannya besar, apalagi sampai tidak takut kepada Tuhan Yang Maha Suci.”
=====
Katakan kepada Hohendorff, “Aku pun juga memikirkan negara, tak sekali-kali hanya igin memamerkan kemampuan dalam perang dengan mencoba-coba melawan Raja dan Kumpeni yang nyata-nyata kekuatannya sangat besar. Semua pemberontak sejak zaman Amangkurat I, Amangkurat II, Pakubuwana I, Amangkurat Jawi, semua dikalahkan. Itu pun sudah kumengerti. Dan aku sekali-kali juga bukan tidak punya rasa takut kepada Tuhan, atas segala perbuatanku ini. Aku pun juga punya komitmen yang sama untuk mencapai negara yang sejahtera!”

Demikian kira-kira makna dari jawaban Pangeran Mangkunagara tadi.

32.

mung iku wangsulan mami lah uwis sira mundura angasoa maring pondhok pun Grêbong mundur tur sêmbah ngaso mring pamondhokan
ri sampuning kalih dalu
wangsul dhatêng Surakarta

“Hanya inilah jawabanku, Grebong! Sekarang engkau mundurlah untuk istirahat di pondok.” Ki Grebong mundur dengan menghormat, beristirahat di pondokan, setelah dua malam kembali ke Surakarta.

=====
Pangeran Mangkunagara telah menjawab dengan singkat dan normatif, khas seorang politikus. Ki Grebong juga sudah mundur ke pondokan. Dan esoknya kembali ke Surakarta untuk melapor kepada Hohendorff.

33.

laju tumamèng jro loji umarêk tuwan kumêndhan wus tinutur sadayane sadhawuhipun pangeran suka tuwan kumêndhan mirêng Grêbong aturipun dinalih lamun sanyata

Terus masuk ke dalam Loji, menghadap Tuan Komandan. Sudah dilaporkan semuanya apa yang menjadi jawaban pangeran. Senang Tuan Komandan mendengar perkataan Ki Grebong, dianggap kalau semua itu benar.

=====
Di sini ada gap budaya antara jawaban normatif sang pangeran dengan persepsi Tuan Hohendorff.

Sebagai orang Jawa kalau menjawab ajakan yang bernada baik pasti akan dijawab dengan baik pula. Namun cara menjawablah yang harus dicermati untuk mendapat makna yang sesungguhnya dari jawaban itu.

Kalau kita baca gambaran singkat dari cara menjawab di atas yang terkesan normatif dan mencari kesamaan, dalam hal ini tentang
sama-sama berkomitmen terhadap kesejahteraan negara, maka jelas bahwa jawaban tadi hanya abang-abang lambe. Artinya pemanis bibir untuk menyenangkan sang penanya, tetapi Hohendorff mengira ini benar. Dan senanglah ia.

34.

Grêbong nulya kinèn bali kapanggiha lan pangeran tur uning yèn tuwan mayor arsa panggihan priyôngga anèng ing Picis desapun Grêbong umangkat laju kumêndhan lumêbèng pura

Ki Grebong kemudian disuruh kembali bertemu dengan pangeran, untuk memberitahu kalau Tuan Mayor ingin bertemu pribadi di desa Picis. Ki Grebong berangkat segera, Komandan masuk dalam puri.

=====
Karena menganggap apa yang dikatakan Pangeran Mangkunagara sungguh-sungguh, maka Tuan Mayor Hohendorff kembali menyuruh Ki Grebong untuk bertemu dengan Pangeran Mangkunagara untuk menyampaikan maksud, bahwa Hohendorff ingin bertemu secara empat mata, bicara dari hati ke hati. Dalam pikiran Hohendorff pasti ada celah untuk mewujudkan jalan damai, agar sang pangeran tidak meneruskan perlawanan, bersedia kembali ke naungan Raja dan berkawan dengan Kumpeni.

Setelah Ki Grebong pergi melaksanakan tugas, Hohendorff masuk ke keraton untuk melaporkan langkahnya itu kepada sang Raja.

 

 

SERIAL BABAD GIYANTI
Pupuh II (35 – 51)

35.

praptèng byantara narpati
kumêndhan alon turira
pukulun yèn kapanujon
lan karsa sri naranata
ulun arsa pêpanggya
putra tuwan sang aprabu
Pangeran Mangkunagara

36.

samadosan wontên Picis ulun purih umantuka suwita ing ngarsa katong ywa kongsi karya rêrêsah dhatêng tyang padhusunan sri narendra ngandikarum adhi sun mangayubagya

Sesampai di hadapan sang Raja, Komandan berkata pelan, “Duh Sang Raja bila sesuai dengan kehendak paduka, saya akan bertemu dengan putra paduka Sang Adipati Pangeran Mangkunagara. Sudah berjanji untuk bertemu di desa Picis. Akan saya minta untuk pulang, mengabdi kepada sang Raja, jangan sampai berbuat rusuh kepada orang-orang di pedesaan.” Sang Raja berkata manis, “Adik saya sangat setuju!”

=====
Sangat jelas bahwa antara kedua pihak, pihak Kumpeni dan pihak Pangeran Mangkunagara mempunyai tujuan yang sama terhadap negeri
Surakarta, sama-sama menghendaki keselamatan. Menurut Kumpeni keselamatan hanya bisa dicapai kalau Pangeran Mangkunagara pulang dan bergabung kembali dengan Raja, mengabdi sebagai punggawa negara. Namun menurut Pangeran Mangkunagara tindakan yang tepat jelas bukan karena itu.

Note :
Babad Panambangan mencatat banyaknya perlawanan baik di zaman Susuhunan Amangkurat Jawi maupun di zaman Pakubuwana II adalah karena Raja yang kurang cakap dalam merengkuh kerabat para putra dan saudara Raja, akibtnya adalah timbul ketidakpuasaan di antara mereka. Juga dipicu oleh tindakan sewenang-wenang seperti yang dialami oleh ayah Pangeran Mangkunagara yang sudah dibuang ke Capetown.

Dilihat dari alasan ini, keinginan untuk kembali bergabung hanyalah mimpi di siang bolong. Dan Raja tampaknya mengetahui, sebagai sesama orang Jawa, bahwa jawaban Mangkunagara yang normatif tadi hanyalah basa-basi atau sekedar membuat lega yang mengajak.

37.

nging sumêlanging tyas mami kaya-kaya durung nyataSi Said kasaguhane adate mung nônggakrama supaya dèn umbara sapungkure kang sung rêmbug karya ru-ara wong desa

“Tetapi kekhawatiran hatiku, sepertinya kesanggupan Si Said ini belum nyata. Kebiasaannya hanya menolak dengan sopan, agar dibiarkan. Setelah pergi yang bertemu lalu membuat huru-hara di desa-desa.”

=====
Sanggakrama adalah ungkapan untuk menolak seseorang dengan sopan, contohnya adalah apa yang telah dikatakan oleh Pangeran Mangkunagara tadi.
Bagi orang yang tidak mengerti isyarat dianggap apa yang dikatakan itu benar, namun bagi yang sudah paham budaya Jawa dapat membedakannya. Orang Jawa tidak pernah berkata “tidak” untuk
sebuah ajakan baik, tetapi “iya” bagi orang Jawa belum tentu berarti ya.

38.

ewamangkana ta adhi rèhning wus jangji panggihan prayoga mangkata age
bok manawa kanyataan
nêdya mulih mring praja
iya panjênêngan ingsun
kang paring pangan lan pangkat

“Walau demikian, Adikku*, karena sudah berjanji bertemu, lebih baik berangkatlah segera. Barangkali nyata ada keinginan kembali ke negeri, aku yang akan memberi pangan dan pangkat untuknya.”

=====
Walau sang Raja sudah mengetahui bahwa itu hanyalah penolakan halus, tetapi tetap menyarankan Hohendorff (dipanggil adik oleh PB II) agar berangkat. Barangkali ada keinginan di hati, atau dia berubah pikiran oleh bujukan itu, maka sang Raja siap untuk menerima kembali dan memberi kedudukan baginya.

39.

kumêndhan gya amit mijil enjingipun lajêng mangkat mung bêkta juga upase rowang Jawa amung tiga datan samêktèng bala praptèng Picis wus kapangguh lan Pangran Mangkunagara

40.

anèng wetaning banawi pangeran tan bêkta bala amung sakawan kang dhèrèk ri sampuning anjum asta ngunjuk anggur kalihnya twan kumêndhan sangunipun nulya sami wawan sabda

Komandan segera pamit keluar, esoknya dia segera berangkat. Hanya membawa seorang opsir, pengawal dari orang Jawa hanya tiga. Tidak menyiapkan pasukan. Sesampai di Picis
sudah ketemu dengan Pangeran Mangkunagara. Di sebelah timur sungai, Pangeran tak membawa pasukan juga, hanya empat orang yang ikut. Setelah bersalaman
dan keduanya minum anggur dari bekal Tuan Komandan, kemudian bercakap-cakap.

=====
Rupanya keduanya sama-sama bersikap ksatria. Tidak curang atau berniat memperdaya. Mereka masing-masing datang dengan pengawal yang terbatas, tidak siap untuk bertempur. Ini menjadi tanda keduanya siap untuk berunding. Tuan Mayor Hohendorf makin optimis melihat kesungguhan Pangeran Mangkunagara menyambut pertemuan itu.

41.

kumêndhan wacana manis dhuh pangeran kadiparan yèn ta kalantur karsane karya risak wong padesan sintên ingkang kecalan marmatur kula kalangkung pangeran mugi dhahara

42.

pirêmbag ingkang prayogi saking Pangeran Pancuran kang sampun kamot sêrate lêpat paduka ing nata kang sampun kalampahan kula kang nanggêni tuhu yêkti antuk pangaksama

Komandan berbicara manis, “Duh Pangeran, bagaimana kalau sampai melantur keinginan pangeran untuk melawan, akan membuat rusak kehidupan orang pedesaan. Siapa yang kehilangan? Maka saya meminta dengan sangat agar pangeran mau menerima saran dari Pangeran Pancuran yang sudah termuat dalam surat. Adapun segala kesalah paduka kepada Raja yang sudah terjadi, saya yang akan menanggung bahwa akan mendapat ampunan.”

=====
Komandan Hohendorff mengingatkan kembali soal surat dari Pangeran Pancuran, dan meyakinkan kepada Pangeran Mangkunagara bahwa sebaiknya menerima saran itu. Mengenai kesalahan yang sudah lalu, yakni tindakan makar terhadap sang Raja, Hohendorff menanggung bahwa perbuatan itu akan mendapat ampunan.

43.

pangeran lêga ing galih
midhangêt pirêmbagira
Tuwan Kumêndhan Hondhoropdene sagah nanggênananglêbur sakèhing dosa
pangeran arsa mituhu
rêmbag kondur maring praja

Pangeran lega hati mendengar perkataan Tuan Komandan Hohendorff yang sanggup menanggung untuk mendapat ampunan dari segala makar yang lalu. Pangeran ingin mematuhi apa yang telah dirundingkan, kembali ke negeri Surakarta.
=====
Tampak hati Pangeran Mangkunagara sudah luluh dengan bujukan Komandan Hohendorff. Tampak dia bermaksud untuk menepati apa yang sudah disepakati bahwa dia akan kembali mengabdi kepada sang Raja.

44.

nulya ngunjuk anggur malih kumêndhan lawan pangeran pangran waspadèng tingale pêdhanging tuwan kumêndhan katingal langkung pelag kumacelu ayun wêruh kumêndhan datan lênggana

Kemudian keduanya minum anggur lagi, Komandan dan Pangeran. Pangeran memperhatikan pedang Tuan Komandan, terlihat sangat bagus. Tertarik untuk melihat. Komandan tidak menolak.

=====
Setelah apa yang menjadi inti pertemuan terang, mereka kemudian menutup pertemuah itu dengan ramah tamah. Keduanya minum anggur lagi sebagai tanda keakraban. Sang Pangeran melihat pedang Tuan Komandan yang bagus, tertarik untuk melihat. Tampaknya pedang itu sangat spesial.

45.

pêdhang ingaturkên nuli
sêdhèt tinarik ing ngarsa
pangran alon ngandikane
sudara pêdhang punika
dede pêdhang Walônda
sae pakantuk ing wangunlir pêdhang damêlan Jawa

46.

tuwan kumêndhan nauri dhasar pêdhang suduk Jawa rama paduka sang katong ingkang aparing wasiyat kala nèng Pranaraga Côndhabirawa ranipun marmanya pêdhang punika

Pedang diserahkan, segera dihunus di depan. Pangeran berkata pelan, “Saudara, pedang ini bukan buatan Belanda. Sepertinya tampak bentuknya mirip pedang buatan Jawa.”

Tuan Komandan menjawab, “Memang pedang itu dari Jawa. Ayah paduka sang Raja yang memberi. Ketika sedang di Ponorogo. Candabirawa nama pedang itu.”

=====
Ternyata pedang itu pedang Jawa pemberian Sinuhun Pakubuwana II ketika sedang di Ponorogo. Peristiwa itu terjadi ketika Perang Pacina, saat Pakubuwana II mengungsi ke Ponorogo dengan Mayor Hohendorff, pengawal Kumpeni yang sudah sangat Njawani dan setia kepada Raja. Tak aneh kalau pedang ini pun dianggap pusaka baginya.

47.

sabên ari miwah ratri
tan kenging pisah sacêngkang
tansah kula sandhing mawon
wit kathah karamatira
wasiyat ing Mataram
pêdhang nulya sinung wangsuldhumatêng tuwan kumêndhan

“Setiap siang dan malam, tak boleh berpisah sejengkalpun, selalu disanding saja. Karena banyak tuahnya, wasiat dari Mataram.” Pedang kemudian dikembalikan kepada Tuan Komandan.

=====
Rupanya orang Belanda ini (Hogendhorep) juga sudah mirip orang Jawa, percaya kepada tuah dari pusaka keraton peninggalam Mataram. Benar-benar serdadu
Belanda yang njawani, tak aneh kalau sinuhun Pakubuwana menganggapnya adik.

48.

gantya kumêndhan yun uning wangkinganipun pangeran kang katon pelag srasahe dhuwung tinampèkkên nulya tinarik mring kumêndhan sangêt ing pangungunipun myat pelaging wangunira

Ganti Komandan yang ingin mengetahui keris yang dipakai Pangeran Mangkunagara yang kelihatan bagus rangkanya. Keris diterimakan segera, dicabut oleh Komandan, membuatnya sangat heran melihat keindahan bentuknya.

=====
Kedua pembesar itu sudah minum anggur bersama, sudah toast sebagai tanda keakraban. Juga sudah saling mempercayai dengan menyerahkan senjata masing-masing. Apalagi yang menjadi mereka sangsi? Tampaknya sudah tidak ada lagi keraguan pada masing-masing terhadap lawan bicaranya.

49.

sampun sinarungkên malih katur wangsul mring pangeran ri sampun nutug kalihe dènnya sami pagunêman twan kumêndhan pamitan arsatur uningèng prabu jawat asta gya bubaran

Setelah disarungkan kembali kemudian diserakan kepada Pangeran. Sudah puas keduanya berbicara. Tuan Komandan berpamitan akan memberitahu Raja, keduanya bersalaman dan segera berpisah.

=====
Tampaknya pertemuan ini berlangsung dengan hasil yang baik sesuai harapan Hohendorff. Keduanya sudah tuntas berbicara, saling beramah tamah, saling toast dan tukar senjata. Tuan Hohendorff minta pamit akan melapor kepada Raja. Keduanya bersalaman dan berpisah, dengan membawa niat di hati masing-masing. Dan siapa yang tahu isi hari orang?

50.
twan kumêndhan nabrang Picis pangeran mring panambangan nanging sajroning galihe
pan amung anôngga krama tan nêdya mituhua
twan kumêndhan rêmbagipun wuwusên tuwan kumêndhan

Tuan Komandan menyeberang dari Picis, Pangeran kembali ke Panambangan, tetapi dalam hatinya hanya bersikap menolak halus, tan hendak mematuhi Tuan Komandan, apapun yang dikatakannya.

=====
Panambangan adalah markas yang dipakai mula-mula oleh Pangeran Mangkunagara untuk menyusun kekuatan. Pangeran kembali dengan niat tidak akan mematuhi persetujuan itu. Tepat seperti ramalah sang Raja Pakubuwana II bahwa sangat mungkin persetujuan RM Said hanyalah basa-basi untuk menolak halus.

51.

prapta Surakarta nagri
laju tur uningèng nata
purwa madya wusanane
kalanipun pêpanggihan
sawusira antara
dèn anti ing dhatêngipun
pangeran tan ana prapta

Sesampai di negeri Surakarta lalu memberi tahu sang Raja, awal tengah sampai akhir dari pertemuan itu. Setelah beberapa saat dinanti kedatangannya, sang pangeran tak juga datang.

=====
Kedaannya memang tepat seperti yang sudah diramalkan sang Raja. Pangeran tak kunjung datang untuk menepati janji. Karena itu hanyalah sanggakrama, penolakan halus untuk berbasa-basi saja. Rupanya walau Hohendorff seorang perwira yang njawani, tetapi tak cukup cerdas untuk menangkap sasmita atau isyarat hati seseorang.

 

 

 

Prakata :
Raden Mas Said pada akhirnya tetap melakukan perang di wilayah negaragung Surakarta, meskipun telah menerima rayuan abangnya, sekaligus pertemuan empat mata dengan Hogendhorep di Desa Picis. Pusat perlawanan masih dari Desa Segawe (Matesih) tlatah Sukowati.

Dalam pupuh II selanjutnya fokus cerita adalah berita resmi kedatangan gubernur jenderal (wakil Raja Belanda di Hindia Belanda) Baron Van Imhoff ke Surakarta melalui Semarang.

ISI :

52.
taksih angadêkkên baris
bahak ngrayudi padesan
wong cilik puyêngan gègèr, kathah dhusun karisakan
kapyarsa saking praja
nanging datan pinaèlu
wit sawêg gêlak pakaryan

Pangeran masih menggelar barisan, merebut menjarah desa-desa. Orang kecil heboh kebingunan, banyak desa menderita kerusakan. Terdengar dari kota tetapi tak dipedulikan, karena sedang mengejar pekerjaan lain.

=====
Pangeran masih melanjutkan perlawanannya dengan merebut desa-desa, menjarah dan menarik pajaknya untuk diserahkan kepadanya saja sebagai tanda takluk. Hal inipun sudah terdengar dari kota, tetapi sementara ini tidak dipedulikan karena sedang mengejar pekerjaan lain yang lebih penting.

53.

suyasa ingkang prayogi
karya pakuwoning jendraltuwin mêmangun liyanewit nagri sawêg bêbakalarsa tamian jendral
pangeran lan kadangipun
nutug gènnya karya rusak

Membuat pondok yang baik untuk markas Jenderal*, serta memperindah bangunan lain. Karena negara akan kedatangan Gunernur Jenderal. Pangeran dan saudaranya puas yang membuat rusak.

=====
Membuat pondok dan mempercantik bangunan lain. Ada hajat besar yang lebih penting dari mengurusi pemberontak, yakni agenda kedatangan tamu negara Gubernur Jenderal dari Batavia, yang saat itu dijabat Baron van Imhoff. Sementara di kotaraja sibuk mengurusi aneka pekerjaan, Pangeran Mangkunegara puas membuat rusak.

*pondok atau loji Belanda yang dimaksud adalah Benteng Vastenberg yang mula2 tidak berbentuk fort/benteng tetapi hanya bangunan pondok atau loji sederhana.

54.

gantya mangke kang winarni ri sampuning santun warsa jêngkaripun sang pamase saking nagri Kartasura ngalih mring Surakarta wontên sêrat prapta asung wruh tamtune ari tanggal

Ganti yang diceritakan, hari ini sudah berganti tahun dari pindahnya sang Raja darinegeri Kartasura ke Surakarta. Ada surat datang memberi tahu hari tanggal yang pasti.

=====
Setelah berganti tahun persiapan itu, sudah sdiap sedia segala yang diperlukan. Datanglah surat pemberitahuan tentang kepastian hari dan tanggal kedatangan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff.

55.

badhe rawuh ing Sêmawis jêng tuwan gurnadur jendral langkung trusthèng ing galihe Sri Narendra Surakartade wit jaman MataramKartasura praptanipunngalih praja Surakarta

56.

jêng gurnadur ing Batawi dèrèng wontên ingkang prapta pêpanggihan lan sang katong pan lagya punika ana marma jêng sri narendra dening sangêt rênanipun karsa mêthuk mring Samarang

Berita akan datangnya ke Semarang, Kanjeng Tuan Gubernur Jenderal sangat membuat gembira hati Sri Maharaja Surakarta, karena sejak zaman Mataram, Kartasura sampai negara berpindah ke Surakarta, Kanjeng Gubernur Jenderla di Batavia belum ada yang datang dan bertemu dengan sang Raja. Hanya sekarang ini ada kejadian itu, maka Kanjeng Sri Maharaja sangat bersukacita menjemput ke Semarang.

=====
Gubernur Jenderal di Batavia sudah menjadi penguasa agung di tanah Jawa setelah berhasil menumbangkan berbagai kerajaan Islam di Jawa, dari Banten sampai Madura. Kekuasaannya di Mataram sudah tertanam dalam-dalam sejak berhasil menobatkan Pakubuwana I di Semarang. Tak aneh kalau Raja Surakarta sangat gembira atas kedatangan sang Gubernur Jenderal.

57.

ngiras pêpara yun uning samodra lèr tanah Jawa sang nata wus dhawuhake mring nindyamantri kalihnya tanapi mring kumêndhan sang mantri wasesa sampunmêmatah samêktèng karya

Sambil beranjangsana melihat pesisir utara tanah Jawa. Sang Raja sudah memerintahkan kepada kedua patih dan Tuan Komandan. Sang Patih sudah menyiapkan segala sesuatunya.

=====
Tuan Gubernur Jenderal (atau disebut Gurnadur dalam bahasa Jawa) akan melihat-lihat pantai utara pula Jawa, sambil mengunjungi wilayah kekuasaannya, termasuk Surakarta. Sang Raja sudah memerintahkan kepada kedua patih untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Agar Tuan Gubernur senang hatinya selama di Surakarta.

58.

sarta dhawuh mring bupatipasisir êlèr sadayabadhe rawuhe sang katonglawan jêng gurnadur jendraldhatêng nagri Samarangmarma pasisir sadarumkinèn sowan mring Samarang

Dan juga memerintahkan kepada para bupati pesisir utara semuanya, tentang akan datangnya sang Raja dan sang Gubernur Jenderal ke negeri Semarang. Maka semua bupati pesisir utara disuruh untuk menghadap ke Semarang.

=====
Sang Raja juga telah mengabarkan kedatangan Gubernur Jenderal kepada para bupati di pesisir utara. Maka semua bupati diperintahkan untuk datang menghadap ke Semarang. Gubernur Jenderal akan disambut sejak dari Semarang sampai Surakarta.

59.

bupati jroning nagari jaba jêro sapunggawa sapalih ingkang andhèrèk kang sapalih têngga praja dene para santana akathah kang kantun tugur kang dhèrèk mung sawatara

Bupati dalam negeri, luar dan dalam beserta para punggawa, yang setengah ikut dan yang setengah berjaga di keraton. Adapun para
kerabat Raja, banyak yang berjaga di keraton, yang ikut ke Semarang hanya beberapa.

=====
Para bupati di keraton, baik yang urusan luar atau dalam, setengah dari mereka akan ikut menjemput Gubernur Jenderal, setengahnya lagi akan menyiapkan penyambutan di keraton. Adapun para kerabat, yakni para pangeran hanya sebagian kecil yang ikut, sebagian besar akan berada di Surakarta untuk mengarahkan persiapan penyambutan.

60.

bupati môncanagari ingkang cêlak Surakarta kêrigan prasamya dhèrèk sri narendra wus dhêdhawah ing ari tanggal wulan badhe têdhakipun wau anganthi tuwan kumêndhan

Bupati mancanegara yang dekat dengan Surakarta, berduyun-duyun ikut serta. Sang Raja sudah menetapkan di hari dan tanggal serta bulan, waktu sang Raja akan berangkat bersama tuan Komandan.

=====
Para bupati mancanegara yang wilayahnya dekat dengan Surakarta juga diperintahkan untuk ikut rombongan dari Surakarta menuju Semarang. Sang Raja sudah memberi tahu hari keberangkatan mereka bersama Tuan Komandan Baron von Hohendorff.

Acara penyambutan akan dibuat meriah untuk menunjukkan kebesaran kerajaan Surakarta. Mereka tak sadar akan datangnya malapetaka lain karena kedatangan Sang Gubernur Jenderal yang mereka banggakan itu.

SELESAI PUPUH II

 

Disalin tempel dari grup Facebook Sejarah Yogyakarta.

 

 

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !