Huawei Kejepit Dalam Perang Dagang antara AS dengan China

Bila dua gajah bertarung maka pelanduk mati di tengah. Bila dua kekuatan raksasa dunia bertikai, negara-negara lain yang tidak terlibat ikut merasakan akibatnya. Kira-kira, begitulah kondisi sekarang ini.

Aktifitas ekonomi masyarakat dunia tampak lesu akibat citra pertumbuhan ekonomi ke depan yang suram. Inilah dampak dari perang dagang yang sengit antara AS dan China.

Alih-alih bakal berakhir, perang justru makin memanas. Kasus Huawei yang menyeruak di awal tahun 2019 ibarat amunisi tambahan, nafas baru bagi pihak berseteru untuk terus saling menjatuhkan.

Tahun sebelumnya Huawei memecahkan rekor penjualan telepon pintar terbesar sebanyak 200 juta unit di seluruh dunia. Ia kini termasuk dalam jajaran perusahaan teknologi komunikasi terkemuka di planet bumi dengan memperkerjakan lebih dari 180.000 karyawan. Tadinya Huawei hanya ingin meniru jejak Apple, sekarang ia malah memiliki angka penjualan melampaui Apple sendiri.

Bagaimanakah kasus Huawei bermula?

Pihak berwajib Kanada melakukan cegah tangkal terhadap direktur keuangan Huawei, Meng Wanzo dan putri tertua pendiri Huawei, Reng Chen di pelabuhan udara Vancouver. Penahanan ini merupakan titipan AS yang menuduh Reng Chen telah melakukan bisnis dengan Iran sehingga dianggap melanggar kebijakan sanksi AS terhadap Iran.

Dua bulan berselang, Departemen Kehakiman AS menyeret Huawei dan Meng ke pengadilan atas dua kejahatan. Dakwaan yang pertama adalah bahwa Huawei melalui manajer keuangannya, dianggap telah memberi laporan palsu terhadap kegiatan bisnisnya di Iran pada bank dan pemerintah AS. Dakwaan yang kedua menyangkut pidana menghalangi penegakan hukum dan upaya pencurian rahasia dagang.

Tuduhan pencurian rahasia dagang didasarkan pada sebuah piranti otomatis yang dikembangkan oleh T-Mobile yang bernama Tappy. Sesuai yang tertera pada dokumen resminya, Huawei mencoba membeli piranti yang mampu meniru kinerja sidik jari manusia dengan cara mengetuk layar telpon pintar dengan cepat untuk menguji responnya. Salah satu karyawan Huawei di AS diduga berupaya menyelundupkan Tappy ke dalam tasnya agar ia dapat mengirim rincian jeroannya, kepada temannya di China.

Ini bukanlah tuduhan pertama terhadap Huawei. Selama bertahun-tahun perusahaan seperti Cisco, Nortel, dan Motorola telah mencurigai Huawei atas upaya pencurian rahasia dagang.

Namun pemerintah AS mengendus bahwa kasus Huawei lebih dari sekedar mata-mata industri belaka. Selama lebih dari satu dekade, pemerintah AS telah mencurigai perusahaan ini sebagai kaki tangan Partai Komunis China. Terlebih setelah ditemukannya teknologi generasi ke 5 yang membuat kemampuan mengunduh lebih cepat 10-20 kali lipat dibandingkan dengan kemampuannya sekarang, dan makin besarnya kekuatan koneksi antar gawai.

Sebagai penyedia infrasktruktur telekomunikasi terbesar di dunia, Huawei adalah salah satu perusahaan terbaik yang membangun jaringan generasi ke 5 yang baru. Namun AS telah memperingatkan pihak intelijen negara-negara Eropa bahwa mempercayakan pembangunan infrastruktur tersebut pada Huawei sama saja dengan memberi peluang China untuk dapat memata-matai Eropa.

Vodafone pernah menemukan satu celah keamanan yang rapuh dalam salah satu piranti milik Huawei. Terdapat cara rahasia di dalam sebuah program milik Huawei untuk mendapatkan akses ilegal untuk meretas jaringan fixed-line milik Vodafone di Italia. Meskipun Vodafone menyatakan bahwa masalah tersebut telah terselesaikan beberapa tahun yang lalu, namun penemuan tersebut seperti membenarkan tuduhan AS.

Baca tentang ekspedisi perang Cina menyeberang lautan untuk menghukum raja Jawa 

Pada bulan Januari, agen intelijen Polandia menangkap salah satu karyawan Huawei atas tuduhan melakukan kegiatan mata-mata bagi China. Huawei langsung memecat karyawan tersebut dan sepenuhnya menyangkal tuduhan berada di balik kejahatan tersebut. Sang karyawan disebut bertindak atas kemauannya sendiri. Inggris, Jerman, dan Kanada kini sedang melakukan peninjauan untuk mencari bukti apakah produk Huawei berpotensi menjadi ancaman keamanan bagi mereka.

Apa yang terjadi bila tidak segera berakhir?

Pemerintahan AS telah mencatat Huawei dalam daftar hitam dan segera melaksanakan pembatasan sehingga mempersulit raksasa teknologi China ini untuk melakukan perjanjian bisnis dengan perusahaan-perusahaan AS.

Perusahaan Google menghentikan operasi bisnisnya dengan Huawei yang berakibat pada hilangnya akses Huawei pada setiap update sistem operasi Android. Ini juga berlaku bagi gawai yang berada di luar China. Layanan-layanan yang penting seperti Gmail dan Google Play store akan lenyap dari Huawei.

Pihak Huawei telah menjawab kekhawatiran para penggunanya dengan mengatakan bahwa aplikasi-aplikasi Google masih tetap akan bisa dipakai. Kementerian Perdagangan AS memberi kesempatan hingga 19 Agustus.

Huawei mencoba bangkit dengan berusaha mengembangkan sistem operasinya sendiri, namun tentu bukan hal yang mudah dilakukan. Kita tentu ingat bagaimana nasib sistem operasi Microsoft untuk telpon pintar yang mati akibat kalah bersaing dengan Android. Huawei juga banyak bergantung pada perusahaan teknologi AS dengan membeli sebagian besar komponen-komponen utama pirantinya. Tahun lalu, Huawei mengimpor komponen senilai $70 milyar, termasuk $11 milyar untuk selusin produk dari perusahaan-perusahaan AS yang mencakup chip komputer dari Qualcomm dan Broadcom, sistem operasi Windows dan Androids.

Tentu pasar AS akan turut merugi akibat kehilangan pemasukan rutin dari Huawei, terutama karena Huawei telah mendunia dan menjelma sebagai pemakai Android terbesar. Google juga ikut rugi. Bila situasi tetap seperti ini, AS terpaksa harus berpikir keras mencari pengganti Huawei, yang sangat sulit dilakukan pada masa kini. Tidak bisa dibantah bahwa kedua belah pihak akan sama-sama menjadi korban perang dagang.

Kita tunggu saja perkembangan yang akan terjadi beberapa saat ke depan.

 

(Disadur dari cabridealert.com, ilustrasi sampul: sumber yang sama)

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit