Koalisi Dua Agama Besar Wujudkan Era Baru Singhasari

Ken Angrok tidak sekedar anomali orang dari kalangan rakyat jelata naik menjadi raja. Lebih dari itu, ia juga berperan melahirkan sebuah era baru.

Sependeknya umur kerajaan Singhasari yang hanya 70 tahun, terdapat sebuah keistimewaan yang melekat padanya, yakni bertemunya agama Hindu-Siwa dengan Buddha Mahayana sehingga memunculkan apa yang disebut sebagai Siwa-Buddha. Perkawinan Angrok dengan Ken Dedes merupakan metafora perpaduan dua agama besar pada masa masyarakat Jawa kuno tersebut. Berpadu dalam artian saling bekerjasama berjalan beriringan, bukan sinkretisme yang bermakna bercampur baur menjadi satu.

Pendiri dinasti Rajasa Ken Angrok, berdasarkan uraian Pararaton, memeluk agama Hindu-Siwa, sedangkan Ken Dedes tidak diragukan lagi berasal dari penganut Buddha Mahayana karena diceritakan dia merupakan putri tunggal pendeta Buddha Mahayana Mpu Purwa dari Panawijen (sekarang daerah polowijen Malang) yang ‘putus ilmunya’.

Ken Dĕdĕs, dalam Pararaton, disebut oleh Danghyang Lohgawe sebagai strî nāreśwarî, seorang perempuan utama yang dari rahimnya akan dilahirkan raja-raja. Orang Biasa pun, apabila memperistri perempuan dengan ciri ini akan menjadi raja besar penguasa dunia (Padmapuspita 1966: 18).  Ken Dĕdĕs sebagai strî nāreśwarî dapat disamakan dengan Mahāmayā, ibu pangeran Siddharta dari Kapilavastu yang dari rahimnya itu lahirlah tokoh besar yang dikenal oleh manusia seluruh dunia yaitu Siddharta Gautama. Demikianlah tokoh Ken Dĕdĕs dimetaforakan sebagai Mayadevî, ia adalah ikon dari seorang dewi sempurna yang melahirkan tokoh agung pembawa ajaran Buddha,  dengan demikian Ken Dĕdĕs sepenuhnya lambang agama Buddha Mahāyana.

Sejak jaman Medang, baik pada masa pemerintahan Pu Sindok, Dharmmawangsa Tguh, maupun Kahuripan-nya Airlangga dari abad 11 M hingga Kerajaan Kadiri dari abad 12 M, kedua agama yakni Hindu-Siwa dan Buddha Mahayana hidup dan berkembang sendiri-sendiri secara terpisah.

Singhasari memberi warna yang tegas pada sejarah klasik Indonesia yang membedakannya dengan kerajaan-kerajaan sebelumnya. Perpaduan dua agama tersebut memberi dampak besar karena menciptakan fenomena nyata yang tidak terbayangkan. Ia melahirkan nafas baru, aliran seni gaya baru yang bahkan tidak ditemui di tempat asalnya di tanah India.

Seni pahat pada masa ini sungguh indah sehingga sering disebut sebagai puncak keemasannya. Jamak didapati detil pola batik yang rumit serta halus seolah-olah batu digosok dengan amplas. Banyak arca-arca berukuran besar dibuat pada masa ini yang mengindikasikan dikuasainya teknologi angkut batu besar dan pemrosesannya secara paripurna.

Bangunan candi Siwa-Budda menjadi gaya unik di luar candi-candi Hindu dan Buddha yang telah dikenal terlebih dahulu. Candi-candi ini diasumsikan didirikan sebagai tempat pendharmaan untuk memuliakan atau memuja seseorang yang telah meninggal. Kebiasaan baru yang terus berlanjut hingga masa Majapahit dan menjelang runtuhnya.

Contoh candi jaman Singhasari dan Majapahit yang demikian diantaranya adalah:

  • Candi Singasari,  terletak di utara Malang, relung kaki candinya diisi dengan arca-arca dewa Hindu-śaiva. Diduga di bagian tubuh candi yang relungnya kini telah kosong dahulunya diisi dengan arca-arca Buddha.
  • Candi Jawi (Jajawi), berada di Pasuruan, kemuncak atapnya berbentuk stupa yang bernafas Buddha, sedangkan relung-relung di  tubuh candi berisikan arca-arca Hindu-śaiva meskipun sekarang arca yang tersisa sekarang tinggal Yoni dan Durga Mahisāsuramardinî.
  • Candi Jabung (Bajrajinaparamitapura),terletak di Probolinggo, namanya jelas menunjukkan nafas Buddhanya, jina berarti pendeta dalam Buddha yang telah mencapai ilmu keBuddhaan tingkat sempurna, namun relief ceritanya adalah kisah Śrî  Tanjung yang sangat kental nafas pemujaan kepada Hindu-śaiva, terutama kepada Dewi Parvatî sebagai Ra Nini.
  • Candi Jago (Jajaghu),terletak di Malang, dilengkapi dengan arca Amoghapaśa dan 4 pengiringnya yang bernafaskan Buddha Mahāyana-Tantrayana, sedangkan relief-relief ceritanya berisi kisah Parthayajna, Arjunawiwaha, Krysnayanan dan tantri kamandaka yang yang bernafaskan Hindu-śaiva

Sejumlah arca masa Singhasari yang menonjol diantaranya:

  • Arca Ganesha berdiri di Karangkates yang melambangkan dewa penjaga ketentraman. Penguasa Singhasari meletakannya di daerah-daerah kekuasaannya.
  • Arca Amoghapasa yang dibawa ke kerajaan Malayu di Dharmasraya , di provinsi Sumatera Selatan sekarang, pada saat melaksanakan ekspedisi menggempur pasukan dari Mongolia
  • Sepasang arca Dwarapala kolosal di sebelah barat candi Singhasari
  • Arca Amoghapasa dengan wujud dewa bertangan delapan yang ditemukan di  Candi Jago di Desa Tumpang Malang

 

(Sumber: kajian Terkini Terhadap Beberapa Permasalahan Sejarah Indonesia Kuno, Agus Aris Munandar)

Gambar sampul: Foto lama candi Singhasari

 

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit