in

Konsumsi Daging di India Kuno menurut Ramayana dan Mahabharata

Orang India kuno menyembelih kambing untuk disantap kekunoandotkom

Banyak bukti yang menunjukan bahwa semenjak peradaban lembah Indus, orang India telah menikmati hidangan yang terbuat dari daging dan unggas, diantaranya adalah daging ternak zebu ( sapi berpunuk), gaur (bison India), biri-biri, kambing, penyu, ghariyal (reptil sejenis buaya), dan ikan. Dari 250 jenis binatang yang tertulis dalam kitab Wedha, 50 diantaranya dianggap layak untuk dikorbankan atau dengan kata lain, layak dikonsumsi.

Suasana di pasar pada jaman itu digambarkan dengan banyaknya orang yang menawarkan gogata (hewan ternak) arabika (biri-biri) shookaria (babi), nagarika (rusa) dan shakuntika (unggas). Agak terpisah dijual juga daging buaya dan penyu (giddabuddaka).

Rigwedha mencatat sejumlah binatang kurban, yakni kuda, kerbau, domba jantan, dan kambing. Bait 162 dalam Rigveda menceritakan tata cara pengorbanan kuda yang cukup rumit yang dilaksanakan oleh raja.

Masing-masing dewa membutuhkan binatang persembahan yang berbeda. Dewa Agni atau dewa api memerlukan lembu dan sapi jantan, Rudra menyukai sapi merah, Wisnu memilih sapi kerdil, Indra menyukai sapi jantan dengan tanduk miring dan tanda di kepala, sedangkan Pushan memilih sapi hitam.

Para brahmana yang menangani pengurbanan selanjutnya memutuskan bahwa untuk tamu istimewa, yang dikurbankan adalah seekor sapi atau kambing yang digemukkan. Naskah Sansekerta Taittireeya Upanishad mengisahkan pengorbanan seratus ekor lembu jantan oleh orang suci Agasthya. Ahli bahasa bahkan menciptakan kata sifat baru, goghna (pembunuhan seekor sapi), agar para tamu dihormati. Sepanjang yang kita tahu, daging tersebut kebanyakan dipanggang di atas arang atau direbus dalam tong.

Dalam Ramayana, semasa tinggal di hutan Dandakaranya, Rama, Laksmana, dan Shinta dikatakan menikmati nasi yang dicampur daging dan sayuran yang disebut Mamsambhutdana. Di istana Ayodya, saat raja Drestarastha mempersembahkan pengorbanan, resep yang digunakan sangat eksotis, yakni menambahkan jus buah masam pada daging kambing muda, babi, ayam, daging kalkun, dan cengkeh, dan biji Jintan.

Mahabharata memberi petunjuk cara memasak nasi yang dicampur Pistaudana ( potongan daging kecil-kecil) dan menceritakan aktifitas piknik dengan membawa berbagai jenis sajian daging binatang buruan dan burung yang dipanggang. Daging kerbau digoreng dalam mentega India, ditambah garam batu, jus buah, bubuk lada hitam, Asafetida (hingu) yang masih keluarga tanaman Paterseley dan biji jintan, lalu disajikan dengan hiasan lobak, biji delima, dan lemon.

Baca juga: Menu masakan babi dan anjing disantap raja pada masa Jawa kuno

Berikutnya munculah Jataka dan Brahtsamhita (abad ke-6 Masehi) yang mewariskan daftar jenis-jenis makanan non-vegetarian.

Secara umum, daging sejak masa itu hingga masa-masa selanjutnya dianggap sebagai makanan bergizi yang bahkan direkomendasikan oleh dokter terkenal Charaka untuk dikomsumsi oleh para pekerja keras dan orang yang sembuh dari penyakit yang lama.

Bagi penganut Jainisme, tentu saja menyantap segala bentuk mahkluk hidup tetap dilarang.

Bagaimana dengan para penganut Buddha?, Sang Buddha tidak melarang makan daging jika dipersembahkan kepada para bhikkhu Buddha, asalkan penyembelihannya tidak terjadi di hadapan para bhikkhu. Dosa membunnuh binatang sepenuhnya dalah tanggung jawab pemberi sedekah.

Di India selatan, pelarangan terhadap makan daging dan ikan jarang terjadi. Dalam tulisan paling awal tentang makanan yang berasal dari tahun 300 M, lada (kari) digambarkan sebagai bumbu utama untuk membumbui daging. Daging goreng memiliki tiga jenis dan daging yang direbus dengan asam dan lada disebut pulingari. Kapilar, seorang pendeta Brahmana terkenal dari zaman Sangam, secara terbuka mengatakan bahwa ia senang mengonsumsi daging dan minuman keras.

Baca juga: Makanan dan minuman yang terpahat dalam prasasti abad 9/ 10 masehi

Tamil kuno memiliki empat istilah untuk daging sapi: valluram, shushiyam, shuttiraichi, dan padithiram. Terdapat 15 nama masakan daging babi yang merupakan hidangan istimewa yang paling disuka oleh istri-istri pedagang di wilayah pesisir. Ada juga referensi tentang babi hutan, kelinci, dan rusa yang diburu bersama anjing pemburu. Babi hutan yang ditangkap digemukkan dengan tepung beras dan dikebiri agar dagingnya menjadi lebih enak. Di antara daging yang lebih eksotis adalah landak dan siput goreng. Di India selatan tidak ada tabu untuk memakan unggas domestik. Ikan dan udang sangat disukai di sepanjang wilayah pantai, sedemikian rupa sehingga kosakata untuk ikan, Meen, masuk kamus bahasa Sansekerta dan orang India bagian utara juga belajar untuk menikmati anugerah dari laut ini.

Sumber: Indiatimes

Gambar sampul: ilustrasi penyembelihan kambing oleh orang India jaman dulu

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0