in

Laskar Perempuan Jawa

“Perhatian! Penulis merupakan seorang pengarang dan laskar perempuan yang menyelesaikan cerita dari Babad Tutur pada bulan Siyam, hari ke-22, dalam tahun Jimawal 1717 di Kota Surakarta.”

Seorang perempuan jawa yang tidak diketahui namanya, anggota korps prajurit estri Mangkunegaran menuliskan sebaris kalimat diatas dengan aksara jawa di halaman pertama buku hariannya. Bayangan kita mengenai wanita jawa yang lemah gemulai, menjadi kanca wingking saja, dan menjalani 3M (masak, macak, manak) akan buyar bila membaca lengkap catatan yang ditulis dengan aksara Jawa dan Arab pegon pada 303 lembar kertas kulit kayu tersebut. Buku harian yang menceritakan kehidupan rumah tangga dan pasukan Mangkunegaran ini “terbit” antara tahun 1781-1791, hampir seratus tahun sebelum pengarang Habis Gelap Terbitlah Terang lahir (1879).

Laskar perempuan Mangkunegaran sudah tersohor sejak turut bergerilya dan menjadi bagian pasukan Raden Mas Said melawan Belanda (VOC). Waktu itu Rubiyah dari Desa Matah, atau dikenal dengan nama Matah Ati menjadi panglimanya dan kemudian menikah dengan Raden Mas Said saat menjadi Raja Mangkunegara I (bertahta 1757-95). Kisah mengenai prajurit estri ini tidak hanya ada di kraton Mangkunegaran, di Yogyakarta zaman Sultan Hamengku Buwono II (1792-1810/1811-12/1826-28) pengawal pribadi Sultan semuanya perempuan bergelar abdi-dalem priyayi manggung atau prajurit keparak estri (atau juga disebut pasukan Langenkusumo). Mereka bersenjatakan bedil, panah beracun, tombak, tulup, dan tameng. Saat Inggris menyerbu Kraton Yogyakarta pada 12 Juni 1812, salah satu perwiranya, letnan Skotlandia dari pasukan resimen infanteri Inggris bernama Hector McLean menjadi korban yang tewas di tangan salah satu anggota prajurit perempuan ini saat pasukan Inggris merangsek masuk ke dalam Kraton.

Begitu pula di kraton Kesunanan Surakarta. Seorang penyewa tanah kesunanan dari Perancis, Joseph Donatien Boutet, yang mengunjungi Surakarta zaman Pakubuwono V (1820-23), memberi gambaran menarik tentang munculnya Korps Srikandi Surakarta.

“Empat puluhan perempuan duduk berbaris di bawah takhta (sunan) dan benar-benar bersenjata lengkap ; berikat pinggang dengan sebilah keris diselipkan disana, masing-masing memegang sebilah pedang atau sepucuk bedil […] harus diakui mereka pasukan kawal yang mengagumkan”

Nampaknya pasukan kawal perempuan ini menjadi semacam “paspampres” baik Sultan di Yogya maupun Sunan di Surakarta di awal abad 19. Bahkan saat perang Jawa pecah pada 1825, sebagian anggota pasukan Langenkusumo ini turut bergabung bersama pasukan Diponegoro. Laporan-laporan pasukan Belanda mencatat mengenai para perempuan yang tewas mengenakan seragam tempur dalam pengepungan Yogya pada Agustus 1825. Hal ini tidak mengherankan karena Bendara Raden Mas Mustahar-nama kecil Diponegoro diasuh oleh nenek buyutnya, Ratu Ageng [Tegalrejo] sejak usia tujuh tahun. Ratu Ageng merupakan garwa padmi Sultan Mangkubumi (Hamengku Buwono I). Beliau yang mendampingi Mangkubumi dalam seluruh perjuangan melawan Belanda. Setelah pendirian Kesultanan Yogyakarta, 1755, ia menjadi komandan pengawal elite perempuan atau korps prajurit estri.

Rupanya selain mengangkat senjata menurut laporan Rijklof Van Goens, duta besar luar biasa Belanda yang dikirim ke Mataram pada pertengahan abad ke-17, mereka juga bisa menari, menyanyi, dan memainkan alat musik. Mereka juga tidak jarang kemudian dinikahkan dengan para bangsawan.  Menurut catatan Ann Kumar dari Australian National University, yang menulis buku “Prajurit Perempuan Jawa”. Mantan prajurit estri yang dijadikan istri bangsawan itu tampak “bersemangat dan bangga”, karena menyadari suami mereka tidak bakal memperlakukan mereka dengan buruk.

Meski para anggota laskar perempuan ini berperan layaknya laki-laki sebagai prajurit, namun pada gilirannya mereka tidak melupakan peranan gendernya sebagai perempuan, istri, dan ibu dari anak-anaknya. Saya kira, begitu pula yang dilakukan dan diperjuangkan oleh Kartini maupun Dewi Sartika. Tatanan budaya dan masyarakat di awal abad 19 dengan awal abad 20 dari sudut pandang perempuan waktu itu sudah jungkir balik. Kartini “mendobrak” dengan tidak tunduk pada kungkungan budaya bahwa perempuan tidak perlu terlalu pintar atau tidak usah banyak membaca. Kartini justru mendirikan sekolah bagi perempuan sekaligus menjadi istri seorang Bupati. Saya kira apabila beliau diberi hidup lebih panjang, kiprahnya akan lebih besar lagi.

Sumber :

“Perempuan-perempuan Perkasa” karangan Peter Carey & Vincent Houben

“Takdir : Riwayat Pangeran Diponegoro” karangan Peter Carey

http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/04/catatan-misterius-laskar-perempuan-mangkunagaran

sumber foto :

http://hayudottie.staff.uns.ac.id

Comments

Loading…

0