Maharaja Surakarta Girang Menyambut Eyang Kanjeng Tuwan Gurnadur Jendral

55. badhe rawuh ing Sêmawis jêng tuwan gurnadur jendral langkung trusthèng ing galihe Sri Narendra Surakarta de wit jaman Mataram Kartasura praptanipun ngalih praja Surakarta

56. jêng gurnadur ing Batawi dèrèng wontên ingkang prapta pêpanggihan lan sang katong pan lagya punika ana marma jêng sri narendra dening sangêt rênanipun karsa mêthuk mring Samarang

Cuplikan dari Pupuh II babad Giyanti di atas kurang lebih begini terjemahannya:

“Berita akan datangnya Kanjeng Tuan Gubernur Jenderal ke Semarang sangat membuat gembira hati Sri Maharaja Surakarta, karena sejak jaman Mataram, Kartasura sampai negara berpindah ke Surakarta, Kanjeng Gubernur Jenderal di Batavia belum ada yang datang dan bertemu dengan sang Raja. Hanya sekarang ini ada kejadian itu, maka Kanjeng Sri Maharaja sangat bersukacita menjemput ke Semarang.”

Gubernur Jendral Batavia Baron Van Imhoff rencananya akan berkunjung ke Sala untuk meninjau keraton yang baru, sambil memeriksa desa-desa yang rusak akibat perang Cina. Namun alasan yang tertulis ini sebenarnya hanyalah basa-basi. Tujuan sebenarnya adalah untuk merealisasikan perjanjian Ponorogo karena Kompeni telah berhasil membantu Raja kembali ke tahtanya.

Gubernur Jenderal di Batavia sudah menjadi penguasa agung di tanah Jawa setelah berturut-turut sukses menumbangkan berbagai kerajaan Islam di Jawa, dari Banten sampai Madura. Kekuasaannya di Mataram bahkan telah tertanam dalam-dalam sejak berhasil menobatkan Pakubuwana I di Semarang. Tak heran Sri Susuhunan Paku Buwono II menyebut Gubernur Jendral (disebut Gurnadur oleh orang Jawa) di Batavia dengan panggilan penuh hormat, yakni Eyang (kaki), sedangkan untuk Letnan Gubernur yang menjabat di Semarang (Gubernur Pantai Timur), dipanggilnya Bapa. Komandan Garnisun Kumpeni di Kartasura (kelak diganti dengan jabatan residen) dipanggilnya saudara atau adik.

Demikianlah penghormatan raja Jawa Susuhunan Pakubuwono II yang merupakan raja terakhir kasunanan Kartasura, sekaligus raja pertama Kasunanan Surakarta pada Belanda.

Mengherankan bagi kita yang hidup pada masa sekarang. Sungguh terlalu berlebihan panggilan itu, seperti tidak menghargai diri sendiri, terlalu merendahkan diri.

Namun kita tidak boleh berburuk sangka atau menghakimi sepihak tanpa mengetahui geopolitik Jawa abad 18. Masa-masa itu adalah titik terendah dalam sejarah panjang Mataram karena sesungguhnya kedudukan raja tidak lebih tinggi dari residen.

Sebabnya karena Paku Buwono II merasa sangat berhutang budi pada Kompeni. Mengapa bisa begitu?

Sejenak kita kembali menengok ke belakang, merunut beberapa peristiwa yang mendahuluinya. Ceritanya panjang.

Pada pertengahan Oktober 1740 pecah huru-hara besar di Batavia yang dikenal sebagai Geger Pecinan. Lebih dari sepuluh ribu warga TiongHoa menjadi korban. Mereka yang selamat mengungsi ke arah timur, diantaranya menuju Mataram.

 

Agar Lebih Jelas, Baca artikel Kronologis Perang Jawa-Tionghoa Melawan VOC 1740-1743 di tautan ini.

 

Peristiwa di Batavia merembet ke berbagai daerah, menyebabkan pemberontakan dan gangguan keamanan hingga ke Semarang. Sisa laskar Tionghoa yang kabur dari Batavia dengan dibantu warga Tionghoa di Jawa bagian tengah mulai menyerang pos-pos jaga VOC di pantai utara.

Di Yogyakarta muncul berbagai reaksi yang intinya memberi simpati pada orang Tionghoa. Sebagian anggota elit kekuasaan Jawa mempunyai pemikiran bahwa perlawanan Tionghoa terhadap VOC yang dahsyat ini merupakan pertanda jaman, bahwa kompeni yang berkuasa selama 100 tahun akan runtuh pada tahun wawu ini.

Orang Tionghoa yang tinggal di Yogya sendiri telah lama merasakan penderitaan akibat cara berdagang VOC yang tidak sesuai dengan prinsip dagang yang wajar.

Awalnya sunan Paku Buwono II tidak terlalu merisaukan konflik itu karena menganggap kompeni sebagai pedagang. Baginya siapapun yang berdagang di Mataram asal tidak mengganggu kewibawaannya dianggap sebagai mitra. Dibayangkannya bila Tionghoa yang menang, tentu mereka yang akan mengganti kedudukan kompeni sebagai pedagang utama.

Bagus bila Tionghoa menang karena mereka tidak berambisi menguasai wilayah seperti Kompeni. Segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah penguasaan tanah merupakan hal yang sensitif bagi seorang raja Jawa.

Dari sinilah sejenak terbersit gagasan untuk berpihak pada Tionghoa.

Ketidaksukaan Paku Buwono II pada VOC pada dasarnya adalah karena persaingan sebagai sesama penguasa. Semua suratnya yang ditulis pada pihak VOC selalu didahului dengan kalimat: …” Susuhunan Pakubuwono Senapati Ing Ngalaga Abdulrahman Sayidin Panatagama, yang berkeraton di Surakarta Adiningrat, yang memiliki hak atas seluruh tanah Jawa….”

Pihak kompeni melanjutkannya dengan kalimat: ..”dan diangkat menjadi raja atas berkat Tuhan….dan pertolongan Kompeni”. Konsep bikinan kompeni sebagai sebuah pengakuan seorang raja Mataram di Kartasura terhadap keunggulan Kompeni.

Kompeni juga tidak pernah mau membantunya menangkap bupati Madura Cakraningrat IV yang ingin merebut kekuasaannya. Pakubuwono II dan Cakraningrat IV saling membenci satu sama lain.

Setelah beberapa lama terdengar kabar dari medan perang yang menunjukkan kemajuan di pihak Tionghoa. Perkembangan yang demikian makin membesarkan hati Susuhunan untuk memihak pemberontak. Faktor yang menghalangi hanyalah sikap para bupati, para petinggi dan penasihat keraton yang belum bulat mendukungnya, terutama para bupati di daerah pesisir yang menyarankan agar tidak melawan VOC

Bulan Agustus 1741 pasukan Tionghoa tiba di Kartasura dan mengepung benteng Kompeni. Komandan benteng melalui perantaraan seorang peniup terompet meminta ijin raja agar pasukan Belanda dibiarkan selamat untuk keluar benteng dan mundur menuju Semarang. Alih-alih, Pakubuwono II justru menggerakkan pasukan ikut mengepung benteng. Bendera putih dikibarkan dari dalam benteng pada tanggal 10 Agustus 1741. Sang raja memasuki benteng dengan kuda kebesarannya untuk menerima penyerahan langsung pasukan garnisum Kompeni tersebut dan mendapat rampasan 417 pucuk senapan dan 3 meriam. Dengan demikian Kartasura resmi telah mengambil sikap memerangi Kompeni saat itu juga.

Sementara itu Jawa bagian tengah dan utara tengah membara. Pertempuran antara koalisi Jawa-Tionghoa melawan VOC terjadi di Semarang, Blora, Gresik,Jipang, Mataun, Lamongan, Sedayu, Tuban, Japan, Salatiga, dan masih banyak lagi.

Menjelang bulan November masih di tahun yang sama, yakni 1741, keunggulan strategi, kerapian organisasi, koordinasi, dan suplai logistik Kompeni mulai menunjukkan buahnya. Hasil perang di berbagai laga berbalik. Kompeni mulai memenangkan banyak peperangan. Situasi yang demikian membuat gundah Sunan Pakubuwono II. Khawatir akan nasibnya, timbul keinginannya berhenti melawan VOC.

VOC yang menyadari tidak akan mampu semata-mata menggantungkan kekuatan militernya dalam menyelesaikan kemelut mencoba berunding dengan Susuhunan.

Bulan Desember tiba-tiba tersiar kabar bahwa Kartasura telah memisahkan diri dari orang-orang Tionghoa  dan bahkan berbalik memeranginya. Sejumlah pembantu raja di lapangan tegas menolak titah tersebut dan terus berjuang di sisi laskar Tionghoa.

Sebagai respon, pada bulan Pebruari 1742, laskar Tionghoa dan beberapa bupati Mataram yang berontak mengangkat RM Garendi sebagai raja tandingan dengan gelar Amangkurat V. Mereka memutuskan untuk menyerbu Mataram dari arah barat.

Bala tentara Amangkurat V tidak melewati perlawanan berarti dan menang telak dekat Salatiga. Menghadapi gerak maju musuh yang makin tak terbendung, Pakubuwono II mengirim beberapa pangeran untuk menghadang laju musuh. Mereka kepergok pasukan Amangkurat V di desa Banyudana sekira 5 Km barat keraton dan malah lari tunggang-langgang ketakutan.

Tanggal 30 Juni 1742 laskar gabungan Tionghoa sudah masuk Kartasura dan menyerbu keraton. Suasana sangat kacau. Pakubuwono berdiri kebingungan sambil memegang tombak pusaka. Banyak penghuni keraton yang terluka karena berdesak-desakkan hendak melarikan diri. Orang-orang yang pingsan menumpuk dekat pintu gerbang.

Komandan garnisum Belanda di kartasura Baron Von Hohendorf melarikan Pakubuwono II meninggalkan istana melewati persawahan menuju bengawan Solo di timur. Kelak dikemudian hari raja memanggil Von Hohendorff sebagai adik.

Sempat beristirahat di desa Laweyan, 10 Km dari keraton, raja meneruskan perjalanan menuju Magetan terus naik ke gunung Lawu. Selanjutnya raja menuju Ponorogo dengan pertimbangan besarnya kekuatan militer bupati Ponorogo Surobroto. Von Hohendorff pergi meminta bantuan ke Semarang dengan melewati Surabaya dan dilanjutkan jalan laut ke Semarang yang dirasa aman.

Seorang raja Mataram telah kehilangan keratonnya yang oleh orang Jawa ditandai dengan candrasengkala yang berbunyi pandhito enem angoyog jagad. Pada waktu melarikan diri dari istana, Susuhunan bahkan harus merangkak melalui lubang kecil membobol tembok keraton. Sungguh nasib yang sangat memilukan bagi seorang penguasa Jawa. Raja juga sangat terhina karena ia mendengar musuh-musuhnya menjulukinya Sunan Ponorogo.

Saat bermeditasi di gunung Sawoo di Ponorogo, Pakubuwono II mengalami pengalaman spiritual. Ia mendapat bisikan ghaib yang mengatakan bahwa ibarat tanaman, ia sudah disundul bibitnya sehingga kekuasaannya nampak layu. Sekembalinya dari gunung ia menobatkan anaknya sebagai raja dan beralih nama menjadi panembahan Brawijaya.

Enam bulan berlalu, laskar Tionghoa terdesak di berbagai medan, sehingga Kompeni mulai dapat bergerak menuju Kartasura.

Sementara itu, melalui sejumlah diplomasi kompeni akhirnya berhasil membujuk bupati Madura Cakraningrat IV agar mengirim pasukan menyerbu Kartasura.

Panembahan Brawijaya beserta putranya yang menyusun kembali kekuatan berniat menyerang Kartasura begitu mendengar kabar bahwa orang yang sangat dipercayainya, yakni Von Hohendorff tengah bersiap menyerbu keraton dari Semarang.

Amangkurat V terpaksa harus menghadapi 3 musuh sekaligus walaupun motif masing-masingnya berbeda. Panembahan Brawijaya beranggapan bahwa Kompeni sengaja mengirim pasukan Madura untuk menumpas tahta Mataram dari muka bumi. Cakraningrat IV sendiri sebenarnya bertekad merdeka dari kekuasaan Mataram dan berkeinginan membangun tentara yang kuat agar di belakang hari kompeni tidak memperlakukannya semena-mena. Untuk itu ia membutuhkan dana yang besar. Bupati Madura ini mengira di kartasura masih tersimpan banyak harta. Kompeni pun sebenarnya tidak berfokus pada upaya penyelamatan Panembahan Brawijaya. Kompeni hanya harus memastikan bahwa Kartasura masih terus ada agar kepentingan ekonominya bisa terus berjalan dan berkembang. Tanpa Kartasura akan terjadi kekacauan dimana-mana, Kompeni akan rugi.

Karena dikepung dari 3 jurusan, Amangkurat V dan laskarnya terpaksa menyingkir dari keraton, namun perlawanannya masih terus berlanjut untuk beberapa lama.

Susuhunan Pakubuwono II atau Panembahan Brawijaya akhirnya mendapatkan kembali tahtanya, namun ongkosnya sangat mahal.  Pada saat masih dalam pengungsian di Ponorogo, ia membuat kontrak politik penting dengan Kompeni melalui van Imhoff yang waktu itu masih wakil gubernur jendral, tanpa meminta pertimbangan dari keluarga kerajaan seperti pangeran Mangkubumi. Pada saatnya nanti Pangeran Mangkubumi akan berbalik menentangnya.

Perjanjian Ponorogo (1743), isinya antara lain adalah penyerahkan seluruh daerah pesisir pada Kompeni, dan pengangkatan patih harus melalui persetujuan Kompeni.

Akibat  perjanjian tersebut, hubungan Kartasura dengan daerah-daerah di seberang lautan terhenti. Satu-satunya pilihan adalah dengan menjual seluruh hasil buminya kepada pemerintah kolonial karena keraton sudah tidak lagi memiliki akses ke laut.

Selain itu, kemampuan di bidang perdagangan maupun armada laut praktis hilang karena seluruh pelabuhan telah dikuasai oleh kompeni.

Dalam bidang pemerintahan, raja sesungguhnya kehilangan kekuasaannya karena Patih Dalem yang merupakan pelaksana roda pemerintahan keraton sehari-hari adalah orang kepercayaan Kompeni.(AGU)

 

Sumber: Babad Giyanti, grup FB Sejarah Yogjakarta, dan Geger Pacinan karangan Daradjadi

Sampul: Pinterest.com

 

Total
30
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit