in

Mata-mata Belanda Membandingkan Orang Melayu dan Jawa 1596

pakaian orang jawa kuno kekunoan.com

Dari segi pencapaian, mungkin nama seorang pedagang Belanda Jan Huyghen van Linschoten (1563 – 8 Februari 1611) bisa disejajarkan dengan Eli Cohen, mata-mata terhebat Israel yang nyaris menjabat menteri pertahanan Suriah. Hasil kerja mereka berdampak besar membelokkan wajah sejarah.

Akibat aksi ‘spionasenya’ yang brilian ia berhasil mematahkan dominasi dan monopoli perdagangan yang dinikmati Portugis selama bertahun-tahun atas Hindia Timur.

Jauh sebelum berdirinya imperium koloni Inggris, Perancis, atau Belanda, Portugis telah lebih dahulu bercokol nyaman di Asia. Satu-satunya saingan terdekat hanya Spanyol dan itupun tidak abadi karena kelak akibat kawin-mawin antar bangsawan, keduanya mengakhiri perselisihan.

Mengapa bisa demikian? berkah kegigihan dan keuletannya, Portugis telah terlebih dahulu berhasil melakukan eksplorasi ke berbagai wilayah di Asia. Loncatan besar terjadi tahun 1510 setelah mereka menaklukan Goa, sebuah kota dekat Bijapur di India. Banyak orang Portugis menetap disana dan mengambil istri wanita setempat sehingga beranak-pinak. Disamping sebagai pusat pemerintahan dan pos dagang, Goa juga menjadi basis Kristenisasi Portugis di wilayah itu. Sejak itulah Portugis memiliki pijakan yang mantap di Asia.

Jan Huyghen van Linschoten terlahir dari keluarga berkecukupan di Haarlem pada 1562 di Enkhuizen yang merupakan kota dengan industri perikanan yang berkembang pesat di Belanda. Minatnya pada travelling tumbuh dari seringnya mendengar cerita-cerita petualangan seru nan eksotis dari pelaut atau pengembara-pengembara yang singgah di penginapan milik ayahnya. Ia belajar Matematika dan bahasa latin di sekolah.

Pada usia 16 tahun ia mengikuti kakak tirinya berangkat ke Sevilla Spanyol untuk belajar berniaga. Kebiasaan yang lazim bagi pemuda di kelas sosialnya pada masa itu.

Selanjutnya Van Linschoten pindah ke Lisabon Portugis dan bekerja pada João Vicente da Fonseca, uskup yang kemudian ditempatkan di Goa.

Di kota ini ia bergaul dengan berbagai kalangan dan berjumpa dengan Dirck Gerritsz Pomp (1544-1608), pedagang Belanda yang berbisnis di Jepang dan Cina. Kelak dari Dirck ini Von Linschoten memperoleh materi yang luas tentang negara-negara Asia yang berada di timur jauh.

Sebenarnya ia sendiri pernah mendapat kesempatan untuk ikut ekspedisi dagang ke Cina, namun ia lewatkan karena mempertimbangkan resiko kerugian yang besar.

Mata mata Belanda yang berjasa bagi VOC Jan Huygen van Linschoten kekunoan.com
Jan Huygen van Linschoten

Meskipun hidup enak di Goa, kehidupan Von Livschoten berubah setelah kematian kakak tiri dan sang uskup yang merupakan mentor utamanya. Ia memutuskan kembali ke Belanda dan bekerja sebagai bendahara.

Tahun 1596 ia menerbitkan sebuah buku berjudul Itinerario. Buku ini kemudian terbit dalam edisi bahasa Inggris berjudul Discourse of Voyages into The East & West Indies yang dipenuhi gambar detail peta perjalanan ke Hindia Timur, khususnya India.

Rupa-rupanya, selama tinggal di Goa ia menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk dengan cermat menyalin halaman demi halaman, bagan demi bagan data bahari seperti arus air laut, kedalaman laut, pulau-pulau dan karang yang sangat vital untuk keamanan navigasi, serta gambaran garis pantai untuk memandu jalan.

Bahkan seperti spion masa kini, ia juga sering mewawancarai pelaut yang kapalnya sedang bersandar di dermaga di Goa untuk mendapatkan informasi penting. Ia tidak sendirian, banyak pihak yang dimintai tolong menjadi nara sumber. Ia juga dibantu oleh sejumlah ilustrator dan pembuat peta terbaik jaman itu.

Pendeknya, semua rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh Portugis tentang jalur pelayaran yang aman ke Hindia lengkap dengan kartografi peta navigasinya kini bisa diakses oleh umum.

Cornelis Houtman mengandalkan bukunya ini sebagai panduan resmi bagi armadanya untuk melakukan ekspedisi pertama kerajaan Belanda ke nusantara yang dilaksanakan tahun 1595 hingga 1597. Pencetakkan buku yang terbit 3 jilid ini baru selesai jilid pertama saja saat itu, namun itu sudah cukup bagi de Houtman.

Kelak sejarah mencatat bahwa sepanjang abad 17 perusahaan dagang Dutch East India Company atau VOC membawa pulang kekayaan berlimpah sehingga menghantar Belanda memasuki masa keemasannya atau yang dikenal sebagai ‘Dutch Golden Age’. Bisnis berkembang pesat, keuntungan berlipat-lipat, dan kelas menengah tumbuh signifikan. Masa itu juga merupakan puncak kejayaan seni lukis dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal yang memungkinkan semua itu terwujud dengan cepat tak lain dan tak bukan adalah karena Itinerario yang juga mendapat julukan ‘Kunci menuju ke timur’.

Dari sekian banyak penggambaran tentang Hindia Timur di dalam bukunya tersebut, terdapat satu litografi yang membandingkan antara penduduk Melayu dengan Jawa.

pakaian orang jawa kuno kekunoan.com
Litografi perbedaan cara berpakaian orang Melayu dengan orang Jawa dari buku Itinerario

“Orang Melayu pembawaannya sopan, pintar berkata-kata, bahasanya halus, serta yang paling romantis di Hindia Timur. Sebaliknya, orang Jawa sifatnya keras kepala dan kasar.” Inilah kesan yang ditangkap oleh Jan Huyghen van Linschoten.

Ada sebab yang jelas mengapa penggambarannya terhadap orang Jawa cenderung merendahkan sementara terhadap orang Melayu ia banyak memuji.

Walaupun orang Belanda, ia bekerja pada Portugis sehingga tidak berbeda dengan orang Portugis lain pada masa itu.

Portugis lebih mengenal kultur bangsa Melayu secara menyeluruh dibandingkan dengan orang Jawa karena berkuasa di Melayu selama seabad lebih, sedangkan untuk mendapatkan pijakan di Jawa saja mereka mengalami kesulitan.

Jangan terlalu dimasukkan ke hati, Von Linschoten juga keliru menilai tentang orang Jepang dan Cina. Menurutnya orang Jepang sungguh membenci Cina sampai ke ubun-ubun sehingga apa saja yang mereka lakukan selalu berbanding terbalik dengan apa yang menjadi adat dan kebiasaan orang Cina. Kenyataan yang terjadi tidaklah sejauh itu. Terlalu berlebihan.

Baca juga tentang bagaimana pengelana Inggris salah menduga Dwarapala candi Singosari sebagai dewa kematian di tautan ini.

Akibat kurangnya pemahaman, terdapat banyak gambaran yang salah tentang Hindia Timur dan Jawa pada khususnya di mata para pedagang barat abad itu. Namun demikian, catatan perjalanan macam ini masihlah sebuah referensi sejarah yang bisa diandalkan.

 

Sumber: BBC Library.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0