in

Melanggar Tradisi Ratusan Tahun, Mataram Menjadi Kerajaan Lemah

Panembahan Senopati melepaskan diri dari Pajang karena memiliki gagasan untuk mendirikan kerajaan baru yang kuat bernama Mataram (Islam).

Raja ke tiga, Sultan Agung, masih sejalan dengan visi sang kakek menegakkan kejayaan negara dengan memperluas wilayah, merambah ke barat hingga batas Banten dan Batavia, serta ke timur hingga Blambangan (1613-1645). Cita-citanya adalah menguasai seluruh Jawa. Alih-alih, di masa-masa selanjutnya, Mataram harus rela daerah kekuasaanya menciut dan pengaruhnya melemah.

Pemberontakkan Trunojoyo memaksa penerus Sultan Agung, yakni Amangkurat I meninggalkan ibu kota Mataram, Plered. Karena sakit, Amangkurat I meninggal di Tegalarum, Tegal dalam perjalanan menuju ke Batavia untuk meminta bantuan pada kompeni. Sang putra yang mendampingi, yaitu Raden Mas Rahmat menggantikan ayahandanya sebagai Susuhunan Amangkurat II, dan sementara diangkat dalam pelarian dan tanpa istana. Ia kemudian pergi ke Tegal untuk menemui VOC. Hasilnya adalah penanda-tanganan kontrak politik Mataram-VOC yang seketika mengubah sejarah Jawa.

Baca: Amangkurat I, penerus Sultan Agung yang tidak setangguh ayahandanya sehingga harus bekerjasama dengan kompeni.

Raden Mas Rahmat yang telah diwarisi tahta Mataram kemudian ditemui oleh Cornelis Speelman yang oleh orang Jawa saat itu dipanggil sebagai Ameral Elduwelbeh (Gubernur Jenderal VOC 1681-1684).

Di alun-alun Tegal rakyat berjejal ingin melihat raja baru dan ingin melihat seperti apa wajah wong londo. Saat pertemuan ini konon terjadi salah faham budaya. Sebagaimana kelaziman orang eropa saat menghadap orang penting mereka berdiri dengan topi tentara abad 17 yang lebar dilipat dibawah lengan. Tentu saja ini berbeda dengan adat Jawa saat itu, dimana tamu harus berjongkok atau bersila di hadapan raja.

Bupati pasisir Tegal saat itu Kiai Adipati Martalaya memaksa Speelman dan orang-orang Belanda agar duduk bersila di hadapan (calon) raja.

Raden Mas Rahmat (Amangkurat II) kemudian meminta pendapat pada Kiai Mandaraka yg pernah berkunjung ke Batavia dan telah memahami adat kebiasaan orang eropa.

“Mandaraka engkau tahu adat yang berlaku bagi orang Eropa ketika kau berada di Batavia. Seperti apakah?” Demikian raja bertanya kepada Kiai Mandaraka.

Jawabnya ” Gusti, jika mereka hendak menghormati atasannya, mereka berdiri tegak dengan kaki dan lengan lurus, dan topi di bawah lengan. Dan bila mereka datang, mereka berjabat tangan dengan tangan kanan, dan mereka duduk di kursi secara berdampingan”.

Meskipun Speelman bersedia untuk mengikuti adat Jawa, tetapi akhirnya Amangkurat II berkata bahwa “Baiklah, saya mau memakai adat istiadat bertamu orang Belanda. Cepat sediakan bangku dan meja bagi mereka dan hidangkanlah apa yg mereka sukai”.

Konon inilah pertama kali terjadi pelanggaran adat bertemu raja setelah berabad-abad lamanya, bahkan sejak jaman raja-raja dari masa kerajaan Hindu-Buddha berkuasa.

Mulai saat itu orang Belanda dapat berjumpa raja dengan kebiasaan barat.

Tata cara ini sesungguhnya tidak selalu berkenan di hati raja, sebagaimana saat Daendels berkunjung ke Jogyakarta lebih dari seratus duapuluh tahun kemudian. Sultan HB II tidak menghendaki kursinya sejajar dengan Daendels sehingga hampir saja terjadi keributan.

Raden Mas Rahmat yang kelak naik tahta sebagai Susuhunan Amangkurat II, konon juga merupakan raja Jawa yang pertama kali memakai pakaian militer ala Eropa sehingga disebut Sunan Amral (Admiral).

Raja-raja Mataram selanjutnya selain memakai baju keprabon dan busana Jawa juga memakai unsur militer Eropa seperti yang banyak kita lihat dalam foto-foto tahun 1860-an.

Kembali ke Tegal, VOC yang diwakili Cornelis Speelman menyiapkan kontrak yang isinya bantuan akan diberikan dengan balas jasa berupa :

1. Daerah antara Untung Jawa dan Krawang dimasukkan ke pengawasan Kompeni.

2. Tanah sebelah timur Krawang sampai sungai Pemanukan diserahkan ke Kompeni.

3. Pengakuan hutang sebanyak 250 ribu Real Spanyol, 3000 Koyan beras, bantuan 20.000 Real/bulan sejak Juli 1677. Sampai semua lunas, pelabuhan dari Karawang ke timur digadaikan ke Kompeni.

4. VOC memegang monopoli impor kain cita dan candu di Jawa. 20 Oktober 1677.

Kontrak kemudian ditandatangani.

Dengan adanya bantuan dari kompeni, keadaan berbalik sehingga Mataram mampu mengalahkan pemberontak. Pada Desember 1679, Trunojoyo terkepung dan menyerahkan diri di lereng utara Gunung Kelud, dan terus dibawa ke Plered. Ia kemudian menemui ajalnya di ujung keris Kyai Blabar, ditusuk sendiri oleh Raja Mataram, Amangkurat II di Payak Bantul tanggal 2 Januari 1680.

Susuhunan Amangkurat II telah dapat kembali ke Mataram tetapi istana telah ternoda dan rusak, sehingga ia memilih memindahkan pusat kota ke wilayah baru dengan membuka hutan Wanakarta yang kemudian dinamai Kartasura.

Baca: Dianggap Tercemar dan Hilang Tuahnya, Keraton yang dimasuki Musuh Ditinggalkan

Sejak itu maka masuklah pengaruh VOC dalam pelbagai konflik dan hasil akhirnya selalu sama, yakni menyusutnya wilayah Mataram karena beralih kepada VOC. Selain itu, Mataram tidak pernah benar-benar lepas dari intrik-intrik politik antar pangeran atau golongan elit yang menentang campur tangan kompeni yang kurang ajar.

 

Sumber: Sejarah Jogja

Sampul: Pinjam dari Harian Merapi

Comments

Loading…

0