in

Menelusuri Hari Ulang Tahun Majapahit

Replika model rumah jaman Majapahit kekunoan.com

Satu-satunya naskah yang menyebut tanggal pelantikan Raden Wijaya sebagai raja pertama Majapahit ialah Kidung Harṣawijaya (pupuh VI) yang kalimatnya berbunyi “ri pūrṇeng kārttikamāsa iku abĕcik …” (bait 84-b) serta “tan dwa prāpta pañcadaśī śukleng kacatur …” (bait 85-b). 

Jadi, menurut naskah tersebut, Raden Wijaya dinobatkan pada bulan purnama di masa Kārttika atau tanggal lima belas terang keempat. 

Entah bagaimana rumusnya, para sejarawan mengkonversi tanggal tersebut ke dalam kalender Masehi menjadi 12 November (tapi ada pula yang menafsirkan 10 November).

Kidung Harṣawijaya hanya menyebutkan tanggal saja, tanpa disertai angka tahun atau kalimat sengkalan. 

Pada bagian akhir (bait 119-b) disebutkan bahwa naskah ini adalah turunan dari Pararaton (“tangeh yan kathākĕna sararasira munggwing carita pararaton”). 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa angka tahun pelantikan Raden Wijaya dalam Kidung Harṣawijaya mengikuti tahun yang disebutkan dalam Pararaton.

Naskah Pararaton (bab VII) mengisahkan penobatan Raden Wijaya dalam kalimat “samangka raden wijaya añjĕnĕng prabhu i śaka rasa-rupa-dwi-śitangśu”. Pada kalimat tersebut terdapat sengkalan yang bernilai:rasa = 6rupa = 1dwi = 2śitangśu = 1Apabila disusun, maka angka tersebut menjadi tahun Śaka 1216 (1294 Masehi). Jadi, Pararaton hanya menyebutkan tahun saja, sedangkan tanggalnya dijelaskan oleh Kidung Harṣawijaya.

Sumber lain yang lebih kuno, yaitu kakawin Nāgarakṛtāgama (pupuh XLV), menyebut pelantikan Dyah Wijaya dalam kalimat “masa-rūpa-rawi śākābdha rika narārya sira ratu”. Pada kalimat tersebut terdapat sengkalan yang bernilai:masa = 6rūpa = 1rawi = 12Apabila disusun, maka angka tersebut menjadi tahun Śaka 1216 (1294 Masehi).

Jadi, Nāgarakṛtāgama dan Pararaton sepakat menyebut Kerajaan Majapahit berdiri pada 1294 Masehi. Apabila angka ini dipadukan dengan tanggal pelantikan Raden Wijaya dalam Kidung Harṣawijaya, maka diperoleh tanggal 12 November 1294 sebagai hari jadi Kerajaan Majapahit. Akan tetapi, tanggal di atas tertabrak oleh prasasti Kudadu yang dikeluarkan Śrī Kṛtarājasa Jayawardhana (gelar penobatan Raden Wijaya) pada tahun Śaka 1216, masa Bhadrapāda, tanggal 5 Kṛṣṇapakṣa, hari Haryang-Umanis-Śanaiścara, wuku Maḍangkungan. 

Para arkeolog telah mengkonversi tanggal tersebut ke dalam kalender Masehi (tarikh Julian) menjadi 11 September 1294. Dengan demikian, tanggal berdirinya Kerajaan Majapahit, yaitu 12 November 1294 menjadi gugur karena seharusnya lebih tua daripada tanggal prasasti Kudadu.

Solusi yang ditempuh ialah dengan mengambil informasi dari berita Cina dalam naskah Yuánshǐ. Naskah ini mengisahkan pasukan Dinasti Yuán (Tatar-Mongol) meninggalkan Pulau Jawa setelah dipecundangi oleh Raden Wijaya pada tahun ke-30 pemerintahan Kaisar Shìzŭ (Khubilai Khan), bulan ke-4, tanggal 24, yang apabila dikonversi ke dalam kalender Masehi (tarikh Julian) ekivalen dengan 31 Mei 1293.

Jadi, tanggal pelantikan Raden Wijaya dan berdirinya Kerajaan Majapahit harus berada di antara kepergian tentara Mongol (31 Mei 1293) dan penerbitan prasasti Kudadu (11 September 1294). Karena di atas telah diperoleh informasi bahwa Raden Wijaya dinobatkan pada purnama masa Kārttika (menurut Kidung Harṣawijaya), maka diputuskan bahwa hari jadi Kerajaan Majapahit ialah 12 November 1293 (ada pula yang menafsirkan 10 November 1293).

NB : Penelusuran di atas adalah untuk mencari hari jadi Majapahit universe 1 yang didirikan oleh Raden Wijaya, bukan Majapahit universe 2 yang didirikan oleh Raden Susuruh. Pada umumnya masyarakat kita lebih suka mencampur sejarah model prasmanan, misalnya pendiri Majapahit disebut Raden Wijaya, sedangkan raja terakhir disebut Brawijaya V, padahal mereka berdua beda universe.Ya sudahlah ….

Ditulis oleh : Heri Purwanto – KediriSenin Pon Mawulu, 8 November 2021

Comments

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0