in

Minggat 19.000 Km Jauhnya dari Tanah Kelahiran Akibat Kena Werk

kuli kontrak asal jawa di suriname kekunoan dot kom

Daratan itu diberi nama Guyana Karibania oleh para kartografer atau penggambar peta. Sebuah wilayah yang terletak di pesisir utara benua Amerika Selatan. Guyana artinya tanah yang luas dengan banyak sungai, sedangkan Karibania berasal dari kata Caribs yang merupakan penduduk penghuni asli wilayah tersebut.

Secara bergantian Spanyol, Inggris, Perancis, Belanda hingga Portugal menjajah wilayah ini sampai akhirnya Guyana atau Guinea terbagi menjadi 3. Bagian barat dimiliki oleh Inggris dan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi sehari-hari. Bagian tengah dimiliki Belanda, yang dikenal sebagai Suriname, sedangkan bagian timur dikuasai Perancis.

Pemerintah Belanda kekurangan tenaga kerja untuk menjalankan perkebunan-perkebunannya yang banyak dan luas di Suriname. Menurut arsip, saat itu jumlah perkebunan/ perusahaan mencapai 99 banyaknya.

Guna memenuhi krisis tenaga kerja ini, sejak 1890 hingga 1939 pemerintah Belanda merekrut puluhan ribu kuli dari Jawa.

Dokumen Belanda menginventaris pengiriman kuli sebanyak 23.373 jiwa yang terbagi atas 14.629 laki-laki dan 8725 perempuan. Tidak ditemukan  atau tidak jelas datanya sebanyak 19 orang.

Karesidenan Banyumas menyumbang jumlah terbesar sebanyak 15.400-an orang, Purbalingga (231), Purwokerto (82), Purworejo (115), Kroya (353) dan sejumlah kecil dari Madura, Batak dan Sunda.

Suriname merdeka dari Belanda pada 25 November 1975. Sebagian keturunan Jawa diperbolehkan pindah ke Belanda, sebagian memilih tinggal di Suriname, sedang sebagian lagi kembali ke Indonesia.

Sayangnya fasilitas yang diberikan pemerintah Indonesia saat itu hanya sekedarnya saja, bahkan mereka ditempatkan di Sumatera karena Jawa dianggap terlalu padat. Kebijakan ini seperti mengulang sejarah saja, sehingga banyak yang kecewa dan memutuskan kembali ke Suriname.

Kisah para tenaga kerja asal jawa ini selalu berkaitan dengan perpisahan dan pertemuan yang mengharukan. Kata merekrut kuli barangkali kurang tepat, karena banyak diantara kuli tersebut didapat dengan paksaan, penipuan, atau ancaman. Saat itu merupakan masa kelam karena banyak keluarga kehilangan anggotanya, seperti raib ditelan bumi saja. Setelah beberapa generasi, mereka pun terlupakan.

Seorang warga Suriname keturunan Jawa bernama Raymond Soegiman Nojoredjo (70), menuturkan ulang bagaimana bapaknya bisa sampai ke tempat yang jauhnya 19.000 KM dari tanah Jawa. Ia adalah warga yang tinggal di Distrik Lelydorp, distrik yang banyak dihuni warga keturunan Jawa karena daerah ini memang dulunya merupakan perkebunan yang banyak memperkerjakan kuli asal Jawa.

”Sik ijik cilik pak’e dikongkon ngarit karo wong tuwane”, (saat masih kecil ayah disuruh mencari rumput oleh orangtuanya. Sampai di rumah, bapak dimarahi oleh orangtuanya).

Baju disampirkan ke bahu begitu saja, lalu bapak pergi meninggalkan rumah. Ia tidak pamit dan sejak itu tidak pernah kembali lagi,” kata Soegiman dalam bahasa Jawa yang diselingi kata-kata bahasa Inggris atau belanda

Di jalan, Wagijo bertemu dengan seseorang yang lantas mengajaknya pergi. Rupa-rupanyanya, Wagijo terkena ‘werk’ yang tidak lain dan tidak bukan adalah adol uwong alias human trafficking. Ia mengira Suriname adalah tanah seberang yang tidak jauh, yakni Sumatera.

Werk adalah bahasa Belanda yang berarti kerja.

Di-werk-kan adalah istilah yang berarti orang yang terkena ”pemaksaan” agar bekerja, dalam peristiwa ini maksudnya adalah bekerja sebagai pekerja kontrak di Suriname.
Wagijo lantas dikirim ke depo di Batavia untuk didata dan diperiksa kesehatannya.

Dalam proses pendataan, nama lahir Wardijo salah ditulis sebagai Wagijo dan kemudian nama terakhir inilah yang menjadi nama resminya.

Pada 30 Maret 1929, ia dikirim ke Suriname dengan kapal bernama Djambi. Ia kemudian dipekerjakan di perkebunan Wederzorg di Distrik Commewijne, Suriname, untuk masa kontrak lima tahun dari 9 Mei 1929 sampai 9 Mei 1934.

Sekitar dua bulan berselang, seorang gadis berusia 18 tahun bernama Semen Kartosemito mengalami nasib serupa Wagijo. Gadis bertinggi 144 asal Desa Karang Gedang, Kecamatan Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah, itu dikapalkan dari Batavia ke Suriname pada 22 Mei dengan menggunakan kapal Simaloer II. Semen dipekerjakan pula di perkebunan yang sama dengan Wagijo.

Jalan hidup mempertemukan Wagijo dan Semen sebagai pasangan suami istri hingga mempunyai 14 anak. Sampai hari ini 9 di antaranya masih hidup. Pasangan Wagijo dan Semen kini tumbuh sebagai keluarga besar yang terdiri dari anak, cucu, buyut dan cicit yang total berjumlah 108 orang.

Soegiman bercerita tentang sang ibu yang terpisah dari sanak kerabat di Banyumas tanpa pernah mengetahui kabar sanak saudaranya di Jawa.
”Namun, entah mengapa mak’e (ibu) mempunyai perasaan bahwa adiknya juga di-werk. Ia melacak-lacak dari satu teman ke teman lain. Dan, setelah 40 tahun kemudian, ibu bertemu dengan adiknya yang bernama Biru,” tutur Soegiman.

Tahun 1985 Soegijo sempat berkunjung ke Boyolali dan bertemu sanak saudaranya.
Soegijo menutup mata pada tahun 2006 dalam usia 94.

Begitulah Soegiman Nojoredjo menceritakan kisah bapaknya, yakni Wagijo Nojoredjo yang berasal dari desa Bantulan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Adapun sang ibu, Semen Kartosemito, berasal dari Desa Karang Gedang, Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah.

 

Balada Cinta Parno dan Maona

Pairoon Somoredjo (64), seorang pensiunan pegawai kantor pajak  juga bertutur tentang balada cinta kakek-neneknya.

”Mbahe cerita, yen deweke di-werk (kakek bercerita bahwa dia di-werk),” kata Pairoon yang berbicara menggunakan bahasa Jawa.
”Diajak uwong niku mbahe kok nggih ngungkluk mawon… ngertos-ngertos pun wonten depo” (diajak orang itu kok kakek ya menurut begitu saja … tahu-tahu dia sudah berada di Depo),” kata Pairoon.

Berikut ini adalah ringkasan dari penuturan Pairoon:
Seorang gadis remaja menangis tersedu-sedu di sudut depo atau tempat penampungan calon tenaga kerja di Batavia yang akan dikapalkan menuju ke Suriname. Ia meratapi nasib karena tiba-tiba telah berada di tempat tersebut dan tidak bisa lagi keluar dari tempat penampungan, apalagi kembali ke desa. Perempuan itu bernama Maona.

Nasib yang sama menimpa Parno Somoredjo, remaja itu juga merasa tiba-tiba telah berada di depo yang sama. Parno mendatangi Maona. Mereka saling berbagi cerita tentang keterpisahan tiba-tiba dengan keluarga; tentang negeri tujuan yang asing dan tidak pernah mereka dengar sebelumnya.

Parno dan Maona bersama puluhan orang senasib kemudian berada dalam satu kapal menuju Suriname. Mereka dipekerjakan sebagai buruh perkebunan tebu Waterloo di Distrik Nickerie, Suriname. Dua insan senasib itu jatuh cinta dan kemudian menikah di negeri baru itu. Mereka mempunyai dua anak bernama Painah dan Painem.

Pairoon Somoredjo adalah anak dari Painah. Mereka beranak-pinak dan kini telah lahir generasi kelima.

Setiap keluarga keturunan Jawa di Suriname memiliki hikayat serupa ini.

 

Diunggah ulang dari sumber: gusmujab.blogspot.com, banjoemas.com

Sampul: Kuli asal Jawa di atas kapal menuju Suriname

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0