Pandangan Baru tentang Sejarah Asal Usul Kota Malang

Malangkuçeçwara , nama sebuah bangunan suci sebagaimana disebutkan dalam prasasti Mantyasih  yang dikeluarkan semasa pemerintahan Raja Dyah Balitung tahun 907 dan sebuah prasasti yang ditemukan dekat Singosari bertarikh 908 M, telah lama menjadi rujukan sejarah asal mula nama kota Malang.

Bahkan kata yang kurang lebih bermakna ‘Tuhan menghancurkan yang bathil’ ini juga telah sangat populer sebagai semboyan kota Malang itu sendiri.

Dalam perhelatan Seminar Internasional Pernaskahan Nusantara di Daerah (Bahasa dan Aksara Jawa) yang diselenggarakan di hotel Savana Malang pada 16-17 November, salah satu nara sumber yakni Hadi Sidomulyo menyuguhkan pandangan yang sama sekali baru dalam mengungkap masa lalu kota Malang. Teorinya ini makin melengkapi khasanah kesejarahan Malang yang memang telah menjadi pusat peradaban sejak jaman kuno.

Berikut selengkapnya isi makalah beliau:

Pada kesempatan ini saya (Hadi Sidomulyo) akan coba memberikan sedikit keterangan tentang beberapa masalah berkaitan dengan sejarah dearah Malang di masa lampau dengan membandingkan berbagai sumber tertulis, baik dari sastra maupun prasasti. Adapun kurun waktu yang akan dibahas adalah abad ke-12 sampai ke-13, yaitu masa peralihan dari Kaḍiri ke Singhasāri. Periode ini masih diselimuti misteri, terutama karena kekurangan bahan dokumentasi. Fokus utama tentunya tidak lain dari pendiri wangsa Rājasa, yang lebih dikenal dengan nama Ken Angrok. Di kalangan akademis, pandangan terhadap tokoh legendaris ini telah berubah sejak Boechari pertama membahas isi prasasti Mūla-Malurung pada tahun 1980.(1)

Piagam tersebut, yang bertarikh Śaka 1177 (1255 M.), menunjuk kepada seorang kakek penguasa di Singhasāri (Wiṣṇuwardhana) bernama Bhaṭāra Namaś Śiwāya, yang oleh Boechari diidentifikasikan dengan Śrī Rājasa atau Ken Angrok. Argumen tersebut semakin kuat setelah ditemukan tiga lempeng pelengkap prasasti Mūla-Malurung dalam tahun 2001. Kini dapat dipastikan bahwa figur yang dalam prasasti disebutkan dengan nama Bhaṭāra Parameśwara, atau Bhaṭāra Namaś Śiwāya, tidak lain dari Śrī Ranggah Rājasa, cikal bakal kerajaan Singhasāri yang dicandikan di Kagĕnĕngan.(2)

Singkatnya, meskipun identitasnya tetap merupakan teka-teki, tidak perlu kita ragukan bahwa Ken Angrok adalah tokoh yang nyata. Atas dasar keyakinan tersebut saya akan mulai dengan menampilkan pemandangan
geografis di wilayah tempat tinggalnya, kemudian memperkuatkan gambarnya dengan data
prasasti.

Menurut kakawin Deśawarṇana, Śrī Ranggah Rājasa (Angrok) lahir pada tahun Śaka 1104 (1182-3 M.). Waktu itu kekuasaan utama di Jawa Timur dipegang oleh raja-raja di Kaḍiri, yang beribukota Daha, sedangkan wilayah Malang (bhūmi wetan ing Kawi) merupakan tempat tinggal banyak orang pertapa dan tokoh-tokoh spiritual. Tampaknya memang demikian keadaannya di daerah tersebut sejak dahulu kala, mungkin karena letaknya berdekatan dengan gunung suci Mahāmeru. Di sekitarnya terdapat dua maṇḍala yang tentunya amat berpengaruh, bernama Kukub dan Kasturi (lihat peta).

peta Malang kuno kekunoan.com

Kedua tempat ini termasuk golongan yang dinamakan caturbhasma oleh Prapañca, berupa empat maṇḍala
pokok di pulau Jawa.(3) Menurut naskah Tantu Panggĕlaran, Kukub adalah maṇḍala paling ‘senior’ di Jawa Timur, tempat tinggalnya Bhatāra Guru sendiri.(4) Lokasinya berada di sisi barat-daya Gunung Semeru, tidak jauh dari Dampit sekarang.(5) Adapun Kasturi terletak di Tūryan, kini desa Turen di sebelah selatan kota Malang.(6) Maṇḍala tersebut didirikan oleh seorang wiku amat sakti bernama Mpu Barang, penganut Śaiwa aliran Bhairawa.(7)

Dijelaskan lebih lanjut bahwa maṇḍala Kasturi memiliki banyak cabang yang tersebar di seluruh wilayah Jawa Timur. Di daerah Malang tercatat lima buah maṇḍala di lereng Gunung Kawi disebut Kasturi Gĕnting.(8)

Kiranya nama Gĕnting ini dapat dihubungkan dengan dusun Genting di desa Merjosari (Lowokwaru), termasuk kota Malang sekarang. Pada tahun 1923 seorang controleur bernama E.W. Maurenbrecher melaporkan sejumlah objek purbakala di Merjosari, bahkan di Genting sendiri pernah ditemukan koleksi alat-alat ritual dari perunggu.(9)

Perlu disebutkan juga sebuah batu prasasti dari Merjosari yang kini tersimpan di Museum Nasional, Jakarta. Tulisan pada batu ini berkaitan dengan peresmian sebuah maṇḍala pada tahun Śaka 1138 (1216-7 M).(10)

Dukung Kekunoan berkarya di karyakarsa.com/kekunoan

Beralih sekarang ke naskah Pararaton, kisahnya dimulai dengan kedatangan seorang anak muda dari Jiput ke tempat kediaman wiku Tapa-wangkĕng, yang sedang mendirikan asrama. Anak tersebut mengatakan sanggup menjadi korban bagi ‘penunggu’ pintu bangunan, asal ia dapat menjelma kembali dalam kelahiran mulia di sebelah timur Gunung Kawi. Permohonan dikabulkan dan ia kemudian lahir di desa Pangkur dengan nama Ken Angrok. Menarik perhatian bahwa tokoh Mpu Tapa-wangkĕng ditemukan juga dalam Tantu Panggĕlaran. Bersama dengan rekannya bernama Tapa-palet, ia digambarkan sebagai tangan kanan Mpu Barang. Seperti halnya dengan gurunya, Tapa-wangkĕng memiliki kesaktian luar biasa, bahkan mampu menahan matahari agar tidak terbenam. Mengenai Mpu Tapa-palet, kiranya ia tampil di Pararaton dengan nama Mpu Palot, pemimpin maṇḍala di Tūryan. Menurut cerita, pada suatu saat Ken Angrok berada di desa Lulumbang dan memberikan
bantuan kepada Mpu Palot, yang sedang dalam perjalanan pulang dari Kabalon sambil membawa lima tahil emas. Sebagai tanda apresiasi, Mpu Palot mengangkat Ken Angrok sebagai muridnya di Tūryan.

Nama Lulumbang menarik perhatian, karena desa tersebut merupakan tempat tinggal pandai besi bernama Mpu Gandring. Di kemudian hari Ken Angrok kembali ke Lulumbang untuk memesan sebuah keris yang digunakan untuk membunuh Tunggul Amĕtung, penguasa di Tumapĕl. Mengenai lokasinya, seandainya Kabalon diidentifikasikan dengan dusun Kebalon di desa Cemorokandang (Kec. Kedungkandang), di sisi timur kota Malang, maka Lulumbang mungkin sekali dapat dihubungkan dengan desa bernama Lumbangsari (Kec.
Bululawang), yang terletak di jalan menuju Turen. Dapat ditambahkan bahwa Pararaton menyebutkan beberapa nama maṇḍala serta tempat keramat (rabut) yang pernah disinggahi Ken Angrok waktu ia masih remaja, di antaranya maṇḍala Lĕbak, Oran, Kapuṇḍungan, Luki dan Junwatu, serta rabut Jalu, Gorontol dan Katu.
Sebagian masih dikenal sampai sekarang.(11) Salah satu peristiwa yang menentukan dalam riwayat hidup Ken Angrok adalah pengalamannya di rabut Gunung Lĕjar. Di tempat tersebut, tepat pada hari Rabu Wage dalamwuku Warigadyan, ia mendapat wangsit, sehingga mengetahui bahwa ia sudah ditakdirkan menjadi raja di Jawa. Menurut Pararaton, Ken Angrok dapat hadir di Gunung Lĕjar berkat bantuan seorang nenek (ranini) dari rabut Kĕdung Panitikan, yang bertugas menyapu di gunung dan mengetahui terlebih dahulu bahwa para dewa akan mengadakan konferensi di puncaknya.

Kiranya Gunung Lĕjar dapat disamakan dengan bukit yang masih dikenal dengan nama Lejar, atau Layar, di sebelah barat-daya desa Turen. Perkiraan ini didukung oleh sebuah piagam raja (rājamudra) dari masa Majapahit yang menunjuk secara khusus kepada seorang pacataṇḍa i Turen, sekaligus memberikan berbagai hak kepada warga yang merawat alangalang di Gunung Lĕjar.(12) Dukungan lain adalah keberadaan sebuah desa bernama Talok di sekitarnya. Ini sesuai dengan urutan cerita dalam Pararaton, yang menyebutkan bahwa Ken Angrok segera bertemu dengan brahmana Dang Hyang Lohgawe di Taloka sehabis turun dari gunung.(13)

Upaya rekonstruksi di atas bermaksud membuktikan bahwa, lepas dari berbagai unsur mitos, cerita Ken Angrok dalam Pararaton serta asal mula maṇḍala-maṇḍala di Tantu Panggĕlaran bersandar pada sejarah yang nyata, sehingga dapat digunakan sebagai kerangka kerja. Kini tinggal memperkuatkan gambar dengan menambahkan data dari sumber-sumber lain, khususnya prasasti.

Total
4
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit