in

Pandangan Baru tentang Sejarah Asal Usul Kota Malang

Prasasti Pamotoh
Di Museum Mpu Tantular (Sidoarjo) tersimpan delapan lempeng tembaga yang ditemukan di perkebunan Ukirnegoro di lereng barat Gunung Kawi pada tahun 1974.14 Koleksi ini terdiri dari dua piagam dari masa Kaḍiri dan satu dari periode Majapahit. Semuanya menyangkut daerah Malang. Kedua prasasti yang lebih tua berkaitan dengan anugerah yang turun dari seorang Jijaya-rĕsi, atau Rāja-rĕsi, kepada warga Pamotoh. Dalam prasasti pertama (Pamotoh I), salah satu warga bernama Dyah Limpa menerima sejumlah tanah di 20 tempat berbeda,
dengan total 100 jung. Selain itu, ia dapat menarik pajak dari sekitar 30 desa yang terbagi dalam empat wilayah, yaitu Rĕdi Lĕgara, Patang, Dunggulan dan Palakan. Sedangkan dalam prasasti Pamotoh II Jijaya-rĕsi memberikan berbagai hak istimewa kepada empat warga Pamotoh, termasuk Dyah Limpa, sekaligus mengangkat mereka menjadi ‘Rakryan Patang Juru’. Dalam hal ini Jijaya-rĕsi dibantu oleh seorang pejabat terhormat bergelar Rakryan Pamotoh, yang dijuluki tunggul buntulu Pañjalu. Mengenai penanggalannya, Pamotoh I bertarikh Śaka 1120 (1198 M), sedangkan Pamotoh II tidak memperlihatkan angka tahun yang jelas. Sekalipun demikian, dapat dipastikan bahwa kedua piagam ini berasal dari satu masa, yang ternyata bertepatan dengan kisah dalam Pararaton di atas. Kalau kita berasumsi bahwa Ken Angrok lahir pada tahun 1182, seperti
dilaporkan Prapañca, berarti ia berusia 16 tahun waktu prasasti Pamotoh dikeluarkan, dan mungkin sudah tinggal di rumah tuwan Sahaja di Sagĕnggĕng.(15)

Sementara itu Dyah Limpa berhak menarik pajak dari desa Sagĕnggĕng, sehingga mungkin saja pernah berurusan dengan tuwan Sahaja, atau bahkan dengan Ken Angrok sendiri! Selain itu Dyah Limpa telah menerima tanah seluas 13 jung di desa Ngayuga, yang dalam Pararaton menjadi tempat sawah milik Gajahpara, yaitu suaminya Ken Ĕndok (ibu Ken Angrok) yang terusir dari rumah
setelah istrinya dihamili oleh Dewa Brahmā. Sekalipun toponimi Ngayuga belum ditemukan, kiranya lokasinya berdekatan dengan desa kelahiran Ken Angrok di Pangkur, yang mungkin sekali terletak di bagian selatan kabupaten Malang.(16)

Tampaknya kedua prasasti Pamotoh ini memberikan informasi berharga mengenai struktur pemerintahan di daerah wetan ing Kawi pada masa Kaḍiri akhir, sekaligus mengundang berbagai spekulasi. Pertanyaan utama menyangkut identitas Jijaya-rĕsi. Siapakah tokoh ini, yang dapat memberikan anugerah kepada warga masyarakat melalui seorang penguasa lokal, yaitu Rakryan Pamotoh? Kiranya ia bukan pemimpin kerajaan, karena dalam prasasti Pamotoh II nama Śrī Mahārāja tampil secara terpisah, berkaitan dengan sebuah ritual tahunan yang dihadiri semua pejabat dan dipimpin oleh Rakryan Pamotoh.(17)

Yang dimaksudkan dengan Śrī Mahārāja dalam konteks ini tentunya raja Kaḍiri, mengingat bahwa Rakryan Pamotoh sendiri adalah tunggul buntulu Pañjalu (= Kaḍiri). Jadi tidak ada pilihan lain kecuali memandang Jijaya-rĕsi sebagai pemimpin rohani yang sangat dihormati, bahkan mungkin seorang raja atau kerabat kerajaan yang telah turun takhta dan menjadi bhagawān.(18)

Mengenai Pamotoh, sekalipun toponiminya belum ditemukan, ada petunjuk bahwa wilayahnya membentang ke selatan dari kota Malang dan mencakup sisi timur dan selatan Gunung Kawi. Apakah daerah inilah yang disebut Kuṭarāja dalam Deśawarṇana, dan Tumapĕl dalam Pararaton? Untuk memperoleh jawaban kita perlu mempertimbangkan perspektif tekstual masing-masing serta konteks sejarahnya. Dalam Pararaton, misalnya,
disebutkan bahwa Ken Angrok menjadi raja di Tumapĕl dengan ibukotanya Singhasāri, sedangkan menurut Deśawarṇana justru Wiṣṇuwardharna yang menggantikan nama Kuṭarāja menjadi Singhasāri pada tahun 1254. Lain halnya dengan sumber prasasti, yang tidak pernah menyebutkan nama Singhasāri, melainkan Tumapĕl, tetapi nama terakhir ini baru disebutkan sejak tahun 1255.(19)

Jadi mungkin saja ‘daerah luas di sebelah timur Gunung Kawi’ yang oleh Prapañca dinamakan Kuṭarāja, sebenarnya tidak lain dari Pamotoh dalam prasasti yang dikeluarkan oleh Jijaya-rĕsi. Dan seandainya demikian, kiranya masuk akal jika Rakryan Pamotoh, sang tunggul buntulu Pañjalu, dianggap sama dengan Tunggul Amĕtung, penguasa di Tumapĕl dalam Pararaton.

Damalang atau Damalung?
Masih ada satu hal lagi yang menarik untuk dibahas. Dalam prasasti Pamotoh I disebutkan bahwa Dyah Limpa menerima sebidang tanah di desa bernama Damalang, sekaligus berhak atas hasil pajak dari desa tersebut. Dalam kakawin Deśawarṇana (76: 3d) dikenal juga sebuah desa Damalang yang terdaftar sebagai pusat agama Buddha (ḍarma kasogatan kawinaya lĕpas), tetapi tidak ada petunjuk mengenai lokasinya. Kalau kita berasumsi bahwa kedua referensi ini menunjuk kepada tempat yang sama, dan letaknya di daerah Malang, kiranya patut untuk bertanya, apakah Damalang ini dapat dihubungkan dengan nama Damalung, yang disebutkan dalam sebuah prasasti pendek dari Candi Singosari? Tulisan tersebut sudah lama mengundang spekulasi sejak pertama kali diterbitkan oleh J.L.A. Brandes pada tahun 1904.(20)
Berikut kalimatnya yang tampak pada batu berbentuk ambang atas (Fig. 1): ‘wināya rĕṣi bhaṭāra damalung an pinuna jiwa parhyanganira wkas tangan samgĕt watu karas makakasir angga…’, berarti: [Pada tahun] wināya rĕṣi tempat pemujaan bhaṭāra Damalung dihidupkan kembali. Hasil karya sang pengurus batu tulis, bernama Angga….’21

Tulisan ini tentunya menjadi pertanyaan, karena nama Damalung biasanya dikaitkan dengan Gunung Merbabu di daerah Jawa Tengah.(22)

Upaya untuk mencari hubungan antara gunung tersebut dan bhaṭāra Damalung di Singosari sekaligus menimbulkan keraguan mengenai tanggal prasasti, yang terbatas pada kedua angka terakhir, terkandung dalam unsur wināya [6] dan rĕṣi [7], berarti Śaka ??76. Akan tetapi, jika diterima bahwa kata Damalung dalam prasasti sesungguhnya adalah varian dari Damalang, yang sudah diketahui adalah nama desa di wilayah Malang, lagi pula sebuah pusat agama, ada alasan untuk mengaitkan bhaṭāra Damalung dengan tempat tersebut. Singkatnya, ‘tempat pemujaan’ di prasasti tidak lain dari ḍarma kasogatan Damalang dalam Deśawarṇana. Ini berarti tokoh suci yang dipuja di Damalung/Damalang adalah bhaṭāra setempat, dan tidak ada hubungan dengan Gunung Merbabu. Dan karena itu juga tanggal prasasti tidak perlu diragukan lagi. Perbandingan dengan gaya tulisan yang tampak di sebuah batu dari Trawas (Mojokerto) bertarikh Śaka 1168 (Fig. 2) 23 kiranya cukup untuk meyakinkan kita bahwa batu dari Singosari ditulis pada abad ke-13, dan dengan demikian menunjukkan tahun Śaka 1176 (1254-5 M).

Ternyata tanggal tersebut sangat signifikan untuk sejarah wangsa Rājasa. Menurut Prapañca (DW 41: 3), dalam tahun tersebut raja Wiṣṇuwardhana mengangkat putranya (Kṛtanagara) sebagai raja dalam sebuah upacara besar, yang disaksikan semua pejabat desa (sāmya) dari seluruh wilayah Janggala dan Kaḍiri. Pada saat itu juga nama ibukota kerajaan secara resmi menjadi Singhasāri.

Rupa-rupanya salah satu bagian penting dari acara tersebut adalah ‘menghidupkan kembali tempat pemujaan bhaṭāra di Damalung/Damalang’.

Sebagai rekapitulasi, terlihat bahwa sebuah desa bernama Damalang sudah dikenal di daerah sebelah timur Gunung Kawi sejak abad ke-12. Tempat tersebut kemudian berkembang, sehingga memiliki bhaṭāra yang dihormati oleh para penguasa di Singhasāri. Di masa Majapahit pun desa Damalang tetap berfungsi sebagai ḍarma kasogatan, seperti dicatat Prapañca dalam kakawin Deśawarṇana. Boleh jadi nama Damalang tidak pernah dilupakan, hanya disingkatkan menjadi Kota Malang sekarang.

 

Catatan kaki:

    1. Boechari, 1980: 55-70. Koleksi lempeng tembaga ini ditemukan pada tahun 1975, kini tersimpan di Museum
      Nasional, Jakarta, No. E.90. Transkripsi lengkap oleh T.S. Nastiti diterbitkan dalam Sidomulyo, 2010: 106-114.
      Lihat juga Boechari, 1985/1986: 182-191.
    2. Sidomulyo, 2010: 77-85.
    3.  DW 78: 7 (Pigeaud, 1960: 60). Yang lain adalah Sukayajña dan Sāgara.
    4. Pigeaud, 1924: 90, 114.
    5. Sidomulyo, 2014: 111-112.
    6. BM 1044-1046 (Noorduyn dan Teeuw, 2006: 263, 452-453).
    7. Pigeaud, 1924: 112, 118. Dalam Tantu Panggĕlaran dikisahkan bahwa aliran Bhairawa pertama-tama dianut oleh para wiku di pegunungan, kemudian memasuki pusat kerajaan pada masa Kaḍiri. Ini tidak bertentangan dengan data prasasti. Sejauh saya ketahui, dokumen tertua yang menunjuk kepada penganut Bhairawa dilingkungan kraton bertarikh Śaka 1057 (1135 M). Dalam piagam tersebut (Prasasti Hantang) dicatat bahwa raja bernama Mapañji Jayabhaya mempunyai guru (pangajyan śrī mahārāja) yang mahir dalam yoga beraliranBhairawa (Sedyawati, 1994: 211). Tidak mustahil bahwa guru tersebut justru berasal dari salah satu maṇḍala di daerah Malang.
    8. Pigeaud, 1924: 121. Kelima maṇḍala tersebut dinamakan Brajahning, Argamaṇik, Jangkanang, Bhamana dan Gumantar. Ada kemungkinan bahwa Brajahning dapat diidentifikasikan dengan dusun Selobrojo, termasuk desa Banjarejo, Kec. Ngantang. Di dusun tersebut masih terlihat sebuah prasasti batu yang mencatat nama beberapa maṇḍala (transkripsi dalam Krom, 1913: OJO 88). Untuk peninggalan lain di Gunung Kawi, lihat
    9. Maurenbrecher, 1923a: 89-90. Maurenbrecher, 1923b: 178-179; NBG, 1904: CLXXX dst. Koleksi benda perunggu kini tersimpan di Museum Nasional, Jakarta, Kat. (Inv.) no. 807a (4592), 808b (4602), 816d (4593), 824b (4601), 836b (4591), 892u (4595), 936a (4597), 942d (4594), 943c (4596), 944a (4599), 952c (4598), 1078b (4590), 1747c (4600).
    10. Maurenbrecher, 1923b: 179; Crucq, 1929: 279; Damais, 1949: 10-12.
    11. Masih ada dusun Junwatu di desa Junrejo, dekat Batu, sedangkan rabut Katu tentunya sama dengan Gunung Katu sekarang, termasuk kecamatan Wagir. Rabut Gorontol mungkin terletak di dusun Grontol di desa Tlogosari, Kec. Tutur (Pasuruan), di sebelah timur Singosari.
    12. Piagam tersebut bernama prasasti Lumpang, terdiri dari satu lempeng tembaga bertarikh Śaka 1317 (1395 M.). Lokasinya sekarang tidak diketahui. Transkripsi dalam Pigeaud, 1960-1963 (I): 123. Perhatikan bahwa Pigeaud mencampuradukkan dokumen ini dengan prasasti Katiḍen, yang kini tersimpan di Museum Nasional, Jakarta, No. E.65 (bandingkan Damais, 1952: 78-79).
    13. Seandainya identifikasi ini benar, tidak mustahil bahwa pemandian kuno yang belum lama ditemukan di dasar lembah di desa Ngawonggo (Kec. Tajinan) dapat dihubungkan dengan rabut Kĕdung Panitikan. Posisi Ngawonggo tidak jauh di sebelah utara desa Turen.
    14. Transkripsi dalam Issatriadi, 1975; Suhadi dan Kartakusuma, 1996/1997: 8-12.
    15. Par. 3: 30 dst. (Brandes, 1920: 6). Menurut Pararaton Ken Angrok tinggal lama di Sagĕnggĕng, hingga menjadi dewasa. Di desa tersebut ia mendalami bahasa dan sastra, serta ilmu sengkalan. Masih ada dusun bernama Segenggeng di desa Wonokerso, termasuk kecamatan Pakisaji. Letaknya tidak jauh di sebelah barat Lumbangsari yang disebutkan di atas.
    16. Tempat lain di daerah tersebut yang dicatat dalam prasasti Pamotoh adalah Palakan dan Paniwen, kini desa Palaan (Kec. Ngajum) dan Peniwen (Kec. Kromengan), di sisi selatan Gunung Kawi.
    17. Menarik bahwa hari yang ditetapkan untuk acara tersebut adalah Was, Wage, Rabu, di wuku Warigadyan. Ternyata Ken Angrok menerima wangsit di Gunung Lĕjar pada hari yang sama (Par. 8:8). Sampai sekarang Buda Cĕmĕng (Wage) Warigadyan adalah hari penting bagi masyarakat Bali.
    18. Mungkin sekali tokoh Jijaya-rĕsi ini ada hubungan dengan sekelompok pertapa disebut pangarĕmbani dewarĕsi, yang tampil sebagai penerima anugerah raja dalam prasasti Mariñci II, bertarikh Śaka 1304 (1382 M). Prasasti tersebut, yang ditulis atas satu lempeng tembaga, merupakan piagam ketiga dalam koleksi dari Ukirnegoro. Kiranya bukan secara kebetulan kedelapan lempeng ini dikumpulkan menjadi satu di masa lalu. Dapat diduga bahwa kedua prasasti Pamotoh, yang merupakan tinulad, atau tiruan, justru disalin kembali di masa Majapahit untuk kepentingan para pertapa di Mariñci, dalam rangka memperkuatkan status desa mereka sebagai sīma. Kenyataan bahwa prasasti Mariñci sendiri diperbarui dalam tahun berikut (Śaka 1305) memperkuatkan dugaan tersebut. Tentunya masalah ini memerlukan studi lebih lanjut. Untuk diskusi tentang prasasti Mariñci I, lihat Weatherbee, 1985: 349-352. Lihat juga Boechari, 1985/1986: 111-112 (Museum Nasional, Jakarta, No. E.49).
    19. Sejauh saya ketahui, nama Tumapĕl pertama kali disebutkan dalam prasasti Mūla Malurung (IIIb: 4). Lihat Sidomulyo, 2010: 107 (transkripsi T.S. Nastiti).
    20. Brandes, 1904: 2; lihat juga Brandes, 1909: 35, 39 dan Pl. 66b.
    21. Terjemahan berdasarkan Brandes, 1909: 39.
    22. Lihat misalnya, Setyawati, Kuntara Wiryamartana dan Van der Molen, 2002.
    23. Tulisan pada batu dari Trawas merupakan candrasengkala yang berbunyi gajah gaṇa rūpa śaśi (cf. Bosch, 1915: 223, No. 1753).

Salin tempel dari makalah berjudul:

Mengungkap sejarah daerah Malang di masa lampau dengan membandingkan
berbagai sumber tertulis (Hadi Sidomulyo)

Ilustrasi sampul: lukisan candi Papak di Singosari

Comments

Leave a Reply

    One Ping

    1. Pingback:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Loading…

    0