Parahyangan i Tigaharyyan – Tlo Ron, Negeri Tiga Daun Hidup Lagi

Jumat malam 24 September 1993, belasan pekerja penggali pasir di dusun Kedulan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman tiba-tiba melihat seonggok batu putih yang terlihat mengkilat terkena lampu. Truk tidak bisa digerakkan walau rodanya tidak terperosok. Setelah pasirnya diturunkan lagi, barulah truk bisa dipinggirkan ke jalan.

Lokasi penggalian merupakan tanah tidak subur dan tidak produktif untuk bercocok tanam sehingga pemerintah desa memutuskan untuk mengambil pasirnya dan menjualnya sebagai tanah urug atau bahan bangunan. Lumayan duitnya bisa untuk mengisi kas. Sebelumnya warga yang menyewa lahan itu merugi akibat beberapa kali menanam palawija tapi tidak menghasilkan, sehingga akhirnya dibiarkan saja.

Keesokan harinya salah seorang pekerja melapor ke kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala DIY. Kepala SPSP (nama lembaga sebelum berganti BPCB) mengutus stafnya untuk mengunjungi temuan pada hari itu juga. Penghujung November 1993 dilakukanlah upaya penggalian bekerjasama dengan Jurusan Arkeologi UGM. Hasilnya adalah temuan  arca Ganesha, arca Durga, dan lingga ciri bahwa Kedulan adalah candi Hindu. Denah candi berupa bangun bujursangkar, dengan sisi sepanjang empat meter. Diduga ada pagar luar yang mengelilingi candi. Sejak itulah kisah panjang penyelamatan dan pelestarian Candi Kedulan yang hadir di tanah kas desa itu dimulai.

Candi Kedulan hidup lagi setelah pemugaran hampir rampung pemugaran
Candi Kedulan hidup lagi, ibarat bangkit dari kematian setelah pemugaran hampir rampung

Tampaknya candi Kedulan adalah candi yang memiliki prasasti terlengkap di Indonesia karena tiga prasasti ditemukan di kompleks itu. Prasasti tersebut adalah Panangaran, Sumundul (ditemukan tahun 2001) dan yang kondisinya terbelah yakni Tlu Ron (ditemukan tahun 2015). Ketiganya beraksara Jawa kuno dengan menggunakan perpaduan bahasa Jawa kuno dengan Sansekerta.

Prasasti Sumundul, salah satu dari tiga prasasti yang ditemukan di kompleks Kedulan
Prasasti Sumundul, salah satu dari tiga prasasti yang ditemukan di kompleks Kedulan

Hasil pembacaan epigraf UGM Tjahjono Prasodjo menyatakan bahwa Prasasti Panangaran dan prasasti Sumundul bertarikh 15 Agustus 868 Masehi, sedangkan prasasti Tlu Ron 30 Maret 900 M.

Dengan menggunakan rujukan Prasasti Mantyasih bertarikh 907 Masehi yang ditemukan di Magelang, dan Prasasti Wanua Tengah III bertarikh 908 Masehi dari Temanggung yang berisi silsilah raja-raja Mataram Kuno, terang benderang diketahui pada masa pemerintahan siapa prasasti-prasasti tersebut diterbitkan. Prasasti Panangaran dan Sumundul dikeluarkan pada masa pemerintahan Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala yang berkuasa pada 855-884/5 M, sementara Prasasti Tlu Ron dirilis pada masa Rakai Watukura Dyah Balitung, yang bertakhta pada 898-910 M.

Ketiga prasasti berisi tentang kebijakan raja berkaitan dengan proyek pembangunan bendungan untuk mengairi tegal milik Bhatara agar menjadi sawah. Hasil panen hendak digunakan untuk biaya pemeliharaan bangunan suci. Maksud sebutan Bhatara dalam prasasti Tlu Ron adalah yang diperdewakan pada bangunan suci,” ungkap Tjahjono Prasodjo.

Diperkirakan candi Kedulan sudah terlebih dahulu dibangun sebelum bendungan, sebelum Prasasti Panangaran dan Sumundul dipahat.

Tjahjono melanjutkan, ada beberapa sebutan yang disematkan pada Candi Kedulan. Prasasti Pananggaran dan Sumundul menyebutnya sebagai Parhyanan i tigaharyyan, sementara Prasasti Tlu Ron menamakannya Parahyanan haji i tlu ron yang seluruhnya mempunyai arti sama: ‘Bangunan suci milik kerajaan.’

Baik Tigaharyyan maupun Tlu Ron sama-sama memiliki arti Tiga Daun. Jadi, candi ini adalah bangunan suci kerajaan yang berdiri di lokasi yang bernama Tiga Daun.

Menurut Yoses Tanzaq, staf unit pemugaran BPCB DIY, harryan berarti daun pisang, sementara ron adalah daun. Tiga daun selain merupakan nama tempat bisa juga merujuk pada pemujaan terhadap Siwa yang senjatanya seperti trisula, mirip daun maja bertangkai tiga.

Nama Rakai Padan Pu Manohari yang mendapatkan mandat membangun bendungan terpahat dalam prasasti. Pada prasasti Tlu Ron, tercatat pula bahwa pembangunan itu menemui ganjalan yang diduga diakibatkan oleh bencana alam letusan Merapi atau gempa.

Kemudian, proyek itu dikerjakan oleh Rakai Padan Pu Manohari yang juga tak dapat menuntaskannya. Bahkan, ketika dikerjakan oleh Rakai Hino Pu Aku, pembangunan saluran tersebut belum juga sempurna.

Akhirnya air pun mengalir ke tanah tegalan di Kalikalihan secara baik dan sempurna setelah proyek diselesaikan oleh Makudur San Relam, melanjutkan upaya San Lumah di Tanar, seorang pembangun pertama (yang disemayamkan di Tanar), dalam kurun waktu satu tahun lamanya.

Demi proyek pembangunan yang terakhir ini, Raja Balitung menitahkan penggunakan dana abadi milik bangunan suci berupa emas sebanyak 10 suwarna (satu suwarna kira-kira setara dengan 38,601 gram). Dana tersebut sekaligus juga dialokasikan untuk pemberian pasak atau semacam hadiah kepada orang berpangkat yang menghadiri upacara agar mendukung keberadaan pengelolaan bangunan itu.

Raja juga memperbolehkan masyarakat sekitar memanfaatkan sistem pengairan itu untuk kebutuhan mereka, agar rakyat merasa ikut memiliki dan tidak merusak saluran air dan sawah milik Bhatara.

Pada suatu masa, Sri Maharaja Sri Bahuwikramabajradewa pergi ke hutan untuk berburu. Beliau menjerat burung perkutut di lokasi timur bangunan suci kerajaan yang berdiri di Tlu Ron. Selepas berburu menjerat burung, ia mandi di Pancuran. Sepulangnya kembali ke istana, raja bertanya kepada Sang Pamgat Tiruan Pu Siwas, mengapa pancuran di candi di Tlu Ron terlihat pudar seperti tak terurus? Bukankah ada dana abadi? Bukankan ada sawah Bhatara?

Setelah raja melakukan perjalanan di Negeri Tiga Daun, ia melihat bahwa pembangunan sebelumnya tidak berjalan seperti yang diharapkan. Situasi bangunan terlihat kurang terurus, sehingga raja merasa perlu melaksanakan proyek baru.

Penulis artikel ini untuk majalah National Geographic, yaitu Transpiosa Riomandha dan fotografer Dwi Oblo menyempatkan diri menapaki jejak kekunoan negeri Tiga Daun.

Sesuai catatannya, sebelah timur candi Kedulan masa kini adalah Dusun Segaran, yang masuk wilayah Desa Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Di sini pernah ditemukan Jaladwara, yakni bagian candi yang berfungsi sebagai mulut saluran air jauh sebelum candi ditemukan. Terdapat belik Segaran dengan beberapa batuan candi lepas di depannya, yang sering dimanfaatkan untuk mandi atau mencuci pakaian oleh warga. Ada kesaksian bahwa dulu mata airnya sangat deras sehingga mengeluarkan bunyi ‘kopyak-kopyak’ seperti ombak lautan. Sekira 100 meter selatan belik segaran terdapat belik Jongkangan yang terletak di Dusun Jongkangan. Epigraf Tjahjono meyakini bahwa Belik inilah yang dulunya merupakan pancuran Balitung. Keberadaan sebaran batu-batu yang ukurannya lebih besar tampak di sana. Terdapat pula batu pipi tangga candi yang kini digunakan sebagai alas mencuci pakaian. Menurut seorang warga, dusun Segaran dan Jongkangan konon sebetulnya masih turunan dari satu moyang, yakni Kyai Wanasegaran. Wana berarti hutan dan Segara berarti lautan. Bisa dibayangkan dari nama itu dulu Negeri Tiga Daun pastilah sebuah kawasan dengan hutan luas dan sumber air yang besar.

Situs kedulan yang berada 6 meter di bawah permukaan tanah selalu tergenang air
Situs kedulan yang berada 5 meter di bawah permukaan tanah hampir selalu tergenang air

Ke arah utara, terdapat Dusun Pondok yang menyimpan yoni, lumpang, dan potongan batu andesit di lokasi berpagar besi yang selalu tergembok. Patok bertuliskan Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch-indie (Jawatan Purbakala di Hindia Belanda) di sudut pagar memberi petunjuk bahwa jejak peninggalan Hindu ini telah ditemukan sejak zaman Belanda, jauh lebih lampau daripada temuan Candi Kedulan.

Ke arah selatan Candi Kedulan terdapat Dusun Plasan yang pada awal September 2018 ketiban rejeki. Saat warga bergotong-royong membuat kolam ikan dengan menggali tanah di pinggir Sungai Wareng, pada kedalaman 5 meteran mereka justru menemukan pohon jati besar melintang. Ada dua pohon yang ditemukan dengan panjang sekitar 20 meter serta penampang hampir 2 meter. Warga menyebut temuan ekofak yang sejaman dengan candi kedulan itu sebagai jati pendem.

Masih ada bekas abu vulkanik kehitaman seperti terbakar yang menempel, bahkan bau sangitnyapun masih tercium. Jati pendem laku terjual hampir 200 juta rupiah. Sebagian besar dananya dimanfaatkan untuk memperbaiki dan menambah jalan kampung. Jati pendem bisa jadi merupakan jejak keberadaan hutan di Negeri Tiga Daun, dan siapa tahu mungkin di tempat inilah dahulu Balitung berburu perkutut.

 

Sumber : National Geographic Maret 2019, Lelakon Negeri Tiga Daun, Transpiora Riomandha, foto: Dwi Omblo. Jerih payah Riomandha dan Oblo memadupadankan hasil karya keduanya berbuah manis. Tulisan dan foto mereka menjadi feature yang enak dibaca yang menjadi fokus utama majalah National Geographic Indonesia edisi Maret 2019.

Ilustrasi sampul: Foto situs Kedulan sebelum dipugar karya Dwi Oblo

 

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit