in

Pararaton Itu Nyata, Bukan Buatan Belanda. Ini Buktinya.

Dewa Brahma Turun ke Bumi Menghamili Ken Endok yang kelak melahirkan jabang bayi Ken Arok raja pendiri Singhasari sesuai Pararaton kekunoan.com

Menjelaskan tentang keaslian Pararaton sebagai sebuah karya sastra peninggalan leluhur bukan perkara gampang, apalagi terhadap mereka-mereka yang terlanjur ‘die-hard’, ngotot, dan emosional mempercayai bahwa serat tersebut abal-abal dan dibuat oleh  Belanda untuk mengadu domba Jawa dengan Sunda.

Siapa tahu, barangkali artikel berformat tanya-jawab di bawah ini bisa melunakkan hati sekeras batu karang :-D.

Memplesetkan sedikit kata-kata Karni Ilyas sang presiden ILC: ‘Kami uraikan, anda yang simpulkan sendiri”. Sila membaca.

Siapakah penulis Pararaton?

Anonim. Tidak diketahui siapa nama penulisnya.

Tidak ada nama penulisnya kok dipercaya? bodoh banget?

Tahu prasasti kan?, cuma batu berukir, tidak ada nama penulisnya, namun malah dipercaya sebagai sumber sejarah primer oleh para sejarawan dan cendikia

Mengapa penulisan sastra sepenting itu tidak mencantumkan nama pengarangnya?

Beda masa, beda pula kebiasaan.

Konsep ini yang susah dipahami banyak orang. Jangan mengukur apa yang berlaku di masa sekarang dengan apa yang lazim terjadi di masa lalu.

Pada sastra Jawa Kuno tertulis nama pujangganya. Contohnya:

    • Nagarakrtagama dikarang oleh Prapanca
    • Sutasoma dikarang oleh Tantular
    • Arjunawiwaha oleh Dharmaja
    • Mahabarata oleh Wyasa
    • Banawasekar oleh Tanakung, dsb

Nama-nama pujangga tersebut juga masih nama samaran, jadi sesungguhnya kita tidak tahu pasti siapa orangnya. Nama pengarang Negarakrtagama, Prapanca andalah nama samaran yang berarti: lima kekurangan. Tanakung berarti tanpa cinta, Tan tular maknanya tak terpengaruh, Wyasa = sang penyusun, Panuluh = penyuluh, dll

Pararaton termasuk sastra Jawa Pertengahan. Sudah jamak sastra Jawa Pertengahan tidak menuliskan nama pengarangnya. Contohnya:

    • Kidung Sunda
    • Sorandaka
    • Kidung Ranggalawe
    • Panji Wijayakrama
    • Harsawijaya
    • Wangbang Wideya
    • Tantu Panggelaran

Semuanya tidak menyebut siapa penulisnya.

Karya sastra Jawa baru ada yang menuliskan nama pengarangnya, ada yang anonim juga.

Tapi Pararaton isinya kan banyak dongeng gaibnya yang tidak masuk akal, jadi tidak bisa dijadikan rujukan sejarah dong?

Struktur serat Pararaton bagian awalnya seperti novel fantasi, namun bagian belakang mirip laporan sejarah.

Dalam sebuah penelitian sejarah, ada sebuah metode yang disebut dengan kritik sumber. Selama ini para ahli menggolongkan Pararaton sebagai sumber sejarah sekunder, artinya bisa dipakai untuk cross check atau perbandingan  dengan data primer semisal yang berasal dari prasasti.

Bagaimana memahami sejarah kalau ceritanya tidak masuk akal seperti itu?

Jangan lupa bahwa pada saat Pararaton dibuat, masyarakat hidup dalam alam lingkungan kepercayaan agama Hindu yang tebal, mungkin begitu nalar dan cara bertutur kala itu.

Sejarawan Suwardono lewat bukunya berjudul ‘Tafsir Baru Kesejarahan Ken Angrok’ mencoba menjembatani unsur mistis dengan membuat rasionalisasi atau tafsir baru yang logis.

    • Ken Angrok yang dalam Pararaton merupakan anak dewa Brahma ditafsirkannya sebagai Angrok adalah anak petinggi kerajaan dari Kediri. Raja pada masa itu sering mencari legitimasi dengan mengaku sebagai dewa, atau titisan dewa.
    • Suara dari angkasa agar tidak membunuh Ken Angrok diartikannya sebagai perintah sang petinggi kerajaan kepada rakyatnya
    • Para dewa yang berkumpul di gunung Lejar untuk mengangkat Angrok sebagai raja ditafsirkan sebagai para bangsawan, agamawan, dan pemimpin gerakan perlawanan terhadap keraton Kediri yang berkumpul mengadakan rapat untuk menunjuk Angrok sebagai pemimpin gerakan

Kalau kamu juga baca ‘Babad Tanah Jawi’ dan ‘Babad Gresik’ mungkin bisa menangkap atau merasakan cerminan kondisi sosial budaya masyarakat Jawa yang berbeda dari masa ke masa.

Pararaton apa bukan dibuat oleh Belanda?

Ya memang diterbitkan oleh orang Belanda, namanya JLA Brandes.

Ia bukan tentara, melainkan ilmuwan, tepatnya sejarawan yang mencurahkan hidupnya untuk mempelajari sejarah kuno kita secara total, karena memang memiliki minat tinggi terhadap kepurbakalaan. Dia juga yang menerbitkan Negarakrtagama yang tersohor itu, monografi tentang candi Jago, Singhasari dan juga Penataran, lengkap dengan gambar bagan candi yang terperinci dan mengagumkan.

Monografi candi Jago karyanya bisa dilihat di dekat pintu masuk Perpustakaan Kota Malang di jln Ijen, tersimpan dalam lemari kaca.

Baca juga artikel Satu Seperempat Abad Naskah Kuno tapi Baru Pararaton dan Negarakrtagama

Mempelajari sejarah Jawa kuno kok percaya pada orang Belanda, harusnya belajar pada orang kita sendiri! (Ini pernyataan konyol seseorang dari grup FB Majapahit Bali)

Kenapa tidak?  Yang kita pegang bukan status kewarganegaraannya, namun kepakarannya.

Brandes ini orang Belanda yang melakukan penelitian dengan kaidah ilmiah; ia mendatangi lokasi reruntuhan candi, membaca inskripsi dalam batu prasasti (saya tegaskan sekali lagi, ia membaca huruf-huruf kuno yang banyak dari kita sendiri orang Jawa asli tidak bisa lakukan) , membuat hipotesis, dan membandingkan data dengan sumber data lain.

Kalau merunut latar belakang keilmuannya rasa-rasanya tidak mungkin Brandes mengada-ada. Ia sudah mempelajari epigrafi dan tulisan bahasa Jawa kuno sejak tahun 1880an saat masih tinggal di Belanda. Tindakannya ini didasari oleh rasa tidak percayanya sendiri pada babad yang penuh keganjilan, jadi ia bertekad membaca huruf-huruf pada prasasti dan mengalihbahasakan ke dalam bahasa belanda.

Selengkapnya bisa dibaca di artikel berjudul Menaruh Syak pada hasil Penelitian si bapak Studi Historiografi Jawa

Ah, bagaimanapun ia tetap orang Belanda, bangsa penjajah, sama saja!

Ia bukan Snouck Hurgronje.

Belanda yang datang ke nusantara walaupun kebanyakan tentara namun ada juga yang berprofesi lain, misal pedagang, misionaris, seniman, peneliti, ilmuwan, dll. Bahkan ada statistik milik VOC yang mengungkapkan bahwa dari 1 juta orang yang terlibat dalam misi ke koloni Hindia Timur di abad 17, hampir sepertiganya bukan orang Belanda, melainkan rekrutan dari Jerman, Perancis dan sekitarnya.

Jangan Belandaaaaaaaaa terus yang disalahkan.

Pararaton saya yakin buatan Belanda, tetapi kalau Negarakrtagama saya percaya itu valid.

Negarakrtagama dan Pararaton sama-sama buah tangan dingin Brandes, masak yang satu dipercaya sementara satunya lagi ditolak? kenapa begitu?

Isi Pararaton memiliki kemiripan dan juga perbedaan dengan yang ada dalam Negarakrtagama.

Coba amati daftar berikut ini:

Daftar raja-raja Tumapĕl/Singhasari menurut Sĕrat Pararaton:

    • Rajasa Sang Amurwabhumi (Ken Angrok)
    • Anusapati
    • Tohjaya
    • Wiṣṇuwardhana
    • Kĕrtanagara

Daftar raja-raja Tumapĕl/Singhasari menurut Kakawin Nāgarakṛtāgama:

    • Ranggah Rājasa
    • Anusanātha
    • Wiṣṇuwardhana
    • Kṛtanāgara

Nama Tohjaya ada dalam Pararaton, tetapi tidak ada dalam Nāgarakṛtāgama. Mereka yang meyakini Pararaton sebagai naskah baru buatan Belanda mungkin akan menyimpulkan bahwa Tohjaya adalah tokoh fiktif karena menyimpang dari Nāgarakṛtāgama. Mereka mungkin menuduh Belanda mengarang nama Tohjaya dan mengisahkannya sebagai raja jahat yang memimpin Tumapĕl, membunuh Anusapati, dan merencanakan pembunuhan terhadap Ranggawuni dan Mahiṣa Campaka.

Akan tetapi, pada tahun 1975 ditemukan Prasasti Mula Malurung di daerah Kediri. Prasasti ini dikeluarkan oleh raja Tumapĕl bernama Narārya Sminingrāt pada tahun 1255. Jika kita cross check datanya dengan data yang ada di Prasasti Maribong tahun 1248, maka Sminingrāt ini adalah nama lain Wiṣṇuwardhana. Uniknya, nama Tohjaya jelas tertulis dalam prasasti ini, yaitu raja yang memerintah sebelum Sminingrāt. Itu artinya, Tohjaya bukan tokoh fiktif yang hanya terdapat dalam Pararaton, melainkan tokoh sejarah yang benar-benar ada dan tercatat dalam prasasti. Justru yang menjadi pertanyaan, mengapa tokoh ini tidak tertulis dalam Nāgarakṛtāgama? Apakah terlewat atau sengaja tidak ditulis oleh Mpu Prapañca penulis Nāgarakṛtāgama?

Yang lebih menarik lagi, Pararaton juga menyebut pembantu Tohjaya, yang bernama Praṇaraja, serta pendukung Wiṣṇuwardhana, yang bernama Pañji Pati-Pati. Ternyata dua nama itu pun tertulis dalam Prasasti Mula Malurung. Jika benar Pararaton adalah karangan Belanda, lalu dari mana Belanda memperoleh ide untuk menciptakan nama Tohjaya, Praṇaraja, dan Pañji Pati-Pati sedangkan Prasasti Mula Malurung baru ditemukan pada masa Orde Baru (1975)?

Sedikit perbedaan: Pararaton menyebut Tohjaya meninggal pada tahun 1250, sementara Prasasti Mula Malurung ditulis pada tahun 1255. Hanya selisih lima tahun dari kejadiannya.

Beberapa kemiripan yang lain adalah:

  • Pararaton menyebut Rajasa pendiri Singasari setelah mati dicandikan di Kagenengan. Ternyata ini cocok dengan Nagarakrtagama dan Prasasti Mulamalurung.
  • Anusapati dicandikan di Kidal, Wisnuwardhana dicandikan di Jajago juga cocok dengan Nsgarakrtagama dan prasasti.
  • Urutan raja Majapahit juga cocok dengan Nagarakrtagama. Malah lebih lengkap, karena Nagarakrtagama berhenti di Hayam Wuruk.
  • Pararaton menyebut ada raja bernama Kertawijaya yg memerintah tahun 1447 – 1451, ternyata cocok dengan prasasti Waringinpitu.
  • Perang Paregreg tahun 1401 – 1406 ternyata cocok dengan catatan Tiongkok era Dinasti Ming.

Lalu perbedaan keduanya ada dimana?

  • Separuh bagian awal pararaton menceritakan tentang Ken Angrok dengan panjang lebar, namun penuh dengan kisah gaib kedewataan yang tidak masuk akal. Kisah Ken Angrok tidak ditemui di Negarakrtagama
  • Negarakrtagama ditulis pada saat peristiwa sedang berlangsung, bentuknya mirip seperti catatan perjalanan, jadi lebih akurat, hanya sayang kurang objektif karena isinya hanya memuji penguasa dan menyembunyikan kekurangannya (pujasastra). Karena penulisan dilakukan pada masa Hayam Wuruk, maka tidak terdapat catatan tentang raja-raja selanjutnya, jadi harus melihat di Pararaton
  • Pararaton mulai ditulis 250 tahun setelah kejadian, jadi data-data kesejarahan yang berkaitan dengan Ken Angrok sudah mulai agak kabur

Brandes mengarang Pararaton untuk mengadu domba antara Jawa dengan Sunda

Brandes menerjemahkan Pararaton ke dalam bahasa Belanda, artinya tujuannya untuk bahan bacaan orang Belanda.

Kemudian di era modern ini muncul kaum yg menuduh Brandes ingin mengadu domba Sunda dan Jawa melalui Pararaton, terutama terkait perang Bubat yang tidak nyata.

Perlu diketahui bahwa di Carita Parahyangan juga tertulis peristiwa ada raja Sunda yg tewas di Majapahit karena terbawa anaknya. Naskah ini ditulis pada abad ke 15 sebelum Belanda datang.

Lha ini kan aneh. Kalau niatnya untuk adu domba, kenapa tidak langsung diterjemahkan ke bahasa Jawa dan Sunda saja?

Bila Pararaton bukan buatan belanda, coba ceritakan asal-usulnya!

Serat Pararaton adalah karya sastra yang ditulis oleh anonim, dari masa ke masa. Berdasarkan tradisi istana sejak Era Klasik, penulis prasasti atau kitab rontal itu pujangga kerajaan atau citralekha.

Jaman dulu hanya sedikit orang yg mampu baca-tulis; apalagi yg ahli menulis, karena memang ekslusif. Berbeda dengan jaman sekarang dimana siapa saja bisa belajar lewat buku, jaman dulu masyarakat awam tidak punya akses belajar semudah itu. Jadi kemampuan ini dimonopoli golongan tertentu dan hanya diajarkan pada kalangannya saja.

Profesi bergengsi di lingkaran dalam istana ini sering diwariskan turun temurun. Prapanca menjadi pujangga istana menggantikan ayahandanya.

Karya sastra ditulis di atas rontal. Usia rontal biasanya sampai 100 tahun.

Dari masa ke masa, isi rontal disalin oleh orang yang terpilih melalui pengawasan yang ketat dengan menerapkan hukum adat. Keyakinannya kalau ada yang berani melanggar akan celaka atau mati. Kebiasaan menyalin naskah yang terbuat dari daun lontar masih bertahan hingga sekarang di Bali.

Serat Pararaton itu disalin dari masa ke masa. Tahu dari mana? Pada bagian belakang halaman rontal terdapat kolofon. Di kolofon itulah dituliskan tahun penyalinannya.

Nah, yang harus diketahui oleh mereka-mereka yang menganggap Pararaton itu buatan Belanda adalah bahwa Serat Pararaton itu tidak hanya 1, tapi ada banyak yang ditemukan; yang tertua yang sampai pada kita bertahun 1600 dan 1613 Masehi dan kini disimpan di PerpusNas.

Naskah tertua ditulis setelah tahun 1403 Saka atau 1481 M pada masa pemerintahan raja Girindrawardhana Dyah Rana Wijaya, yaitu sebagai tahun yang dicatat terakhir dalam Pararaton (Djafar, 2009:20).

Tentunya ada versi-versi tahun antara 1481 hingga  1600 yang kita asumsikan telah rusak termakan usia.

Tiga buah salinan Pararaton yang ditemukan di Bali, yakni bertahun 1600 dan 1613 di bawa ke Batavia dan disimpan di Bataviasche Genotschap (Masyarakat Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia), yakni sebuah lembaga kebudayaan yang didirikan di Batavia pada tahun 1778 oleh Jacob Cornelis Matthieu Radermacher.

Sampai di sini kamu paham kan bahwa tidak semua orang Belanda penjajah jahat seperti yang sudah saya terangkan di atas. Ini ada orang Belanda yang mendirikan sebuah lembaga kebudayaan di Batavia, tujuannya untuk melestarikan budaya kita.

Sarjana yang pertama kali menaruh perhatian khusus terhadap Serat Pararaton adalah Dr. J.L.A Brandes, yang kemudian menerbitkan karyanya dengan judul Verhandeling van het Bataviaasch Genootschap deel XLIV, 1896 dengan judul: Pararaton (Ken Angrok) of het Boek der Koningin van Tumapel en Madjapahit.

Inilah Pararaton yang kita kenal dan kita komsumsi secara luas hingga sekarang.

Inilah yang diklaim sebagian orang sebagai serat palsu dongeng buatan Belanda untuk mengadu domba orang Jawa dengan Sunda, namun sesungguhnya benar-benar ada.

Dalam karyanya ini, Brandes menggunakan pokok sajian naskah A, B, dan C yang adalah naskah yang tertua dan terlengkap. Naskah-naskah tersebut adalah:

    • Kropak no. 377, sejumlah 17 halaman dengan panjang lontar 52 cm.
    • Kropak no. 550, sejumlah 47 halaman, panjang lontar 47 cm. Dalam kolophon kropak B tercantum angka tahun 1525 Caka (1613 Masehi) penanggalanya Sabtu Pahing, wuku Warigadyan, kedua (2) panglong (krsnapaksa), bulannya mangsakaro, waktu bertepatan dengan 3 Agustus 1613 Masehi.
    • Kropak no.600, sejumlah 58 halaman, panjang lontar 50 cm. Masing — masing terdapat 3 baris; pada kolophonnya tercantum angka tahun 1522 Caka (1600 Masehi).

Naskah — naskah tersebut ditulis dengan aksara Bali, kecuali naskah C. Adapun bahasa lain yang dipakai adalah bahasa Jawa Madya, yaitu peralihan dari bahasa Jawa Kuna ke bahasa Jawa Baru. Dari sini saja bisa diketahui walaupun namanya sama-sama Serat Pararaton tapi angka tahunnya berbeda-beda.

Setelah Brandes meninggal dunia, karyanya tersebut diterbitkan lagi oleh Dr.N.J.Krom dengan bantuan Prof.Mr.Dr.C.G.Jonker, H. Kraemer, dan R.M.Ng. Poerbotjaroko.

Apakah manuskrip Serat Pararaton hanya 3 itu saja? Jawabannya ternyata tidak, masih banyak.

Di Bibliothek Universitas Leiden, masih tersimpan delapan naskah Serat Pararaton lainnya. Naskah tersebut merupakan warisan koleksi dari Dr. H. N. Van der Tuuk. Naskah-naskah ini kita sebut saja naskah kelompok D karena belum diteliti lebih lanjut kecuali dalam satu tulisan yaitu Manuscript Bibliothek Universitas Leiden yang disusun oleh Dr. H. H. Juynboll pada tahun 1907.

Naskah-naskah manuskrip Serat Pararaton lainnya yaitu :

    • Naskah dengan kode 4410, tersimpan di Bibliothek Univesitas Leiden; pada kolophonnya tercantum candrasengkala; cakakalaning sinurat larapaksamisayeku, 1522 caka (1600 Masehi). Jadi sama dengan naskah kelompok C.
    • Naskah dengan kode 4402, pada kolophonnya terdapat angka tahun penuturannya yaitu 1764 caka (1842 Masehi), inilah naskah yang berhuruf Jawa. Lainnya ditulis dalam aksara Bali.
    • Naskah dengan kode 4403, naskah ini diturun sendiri oleh Van der Tuuk dengan aksara latin, berasal dari suatu turunan dari tahun 1673 caka (1751 Masehi).
    • Naskah dengan kode 4404, pada halaman terakhir yaitu halaman 31 baris ke 2 terdapat keterangan, bahwa naskah ini merupakan edisi salinan.
    • Naskah dengan kode 4405. Naskah ini tidak lengkap. Dimulai dengan sejarah Bhatara Ciwa Budha, diakhiri dengan kalimat”… sira aduwe suta stri roro juga temokena ring raden Wijayakrama…”.
    • Naskah bagian kedua dari naskah dengan kode 3865. Pada bagian akhirnya tertulis ; wus sinurat ing dina 6 cakra wara manahil, tanggal 12, kasih rapa, rah 4 tanggal 7.
    • Naskah yang merupakan cakupan yang dibentuk dari beberapa halaman dengan kode naskah 3124 b.

Jadi  dari fakta-fakta di atas, terbukti bahwa Pararaton bukan buatan Belanda, melainkan benar-benar nyata karya nenek moyang kita sendiri, hanya diterbitkan ulang oleh sarjana Belanda, itupun cuma sebagian saja.

Kalau masih ngotot bilang palsu, silakan diteliti sendiri, ini mumpung masih ada 8 naskah Pararaton yang belum digarap lo !!! (AGU)

 

Sumber:

  • Utas dan berbagai tulisan tentang perbandingan Negarakrtagama dengan Pararaton, serta perdebatan seputar Pararaton (Purwanto Heri)
  • Tafsir Baru Kesejarahan Ken Angrok (Suwardono)
  • Dari Buku ke buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu (P Swantoro)
  • Mengenal Jenis-jenis Serat Pararaton (Shri Werdhaning Ayu)

Gambar sampul: Ilustrasi Dewa Brahma turun ke bumi hendak membuahi Ken Endok, salah satu babak dalam dongengnya Pararaton.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0