in

PU WĀHANA : Patih Kedua Majapahit yang Terlupakan

Pu Wahana patih kedua Majapahit kekunoandotkom
Siapakah nama patih pertama Kerajaan Majapahit?
Tentunya banyak yang menjawab Nambi. Namun, jika ditanya, siapakah nama patih kedua yang menggantikan Nambi? Umumnya banyak yang menjawab Dyah Halāyudha, yaitu merujuk pada buku-buku Prof. Slamet Muljana. Padahal, jawaban ini keliru.
Dalam naskah Pararaton dikisahkan bahwa Raden Wijaya (bergelar Śrī Kṛtarājasa) mendirikan Kerajaan Majapahit pada 1294. Kemudian ditunjuklah Nambi sebagai patih (perdana menteri) yang mendampingi pemerintahannya. Penunjukan ini memicu pemberontakan Rangga Lawe di Tuban yang sebelumnya telah dijanjikan sebagai patih tetapi batal. Ada tokoh licik bernama Mahapati yang melaporkan pemberontakan ini ke Majapahit, sehingga Rangga Lawe dapat ditumpas pada 1295.
Setelah kematian Rangga Lawe, penasihat Raden Wijaya yang bernama Arya Wiraraja pulang ke Lamajang, tidak mau lagi menghamba di Majapahit. Tiga tahun kemudian terjadilah peristiwa Sora, pengikut setia Raden Wijaya yang terkena fitnah Mahapati juga. Pararaton mengisahkan Sora akhirnya tewas pada 1300.
Setelah kematian Sora, Mahapati ganti memfitnah Nambi. Hubungan Nambi dengan Raja menjadi renggang. Kebetulan ada berita bahwa Arya Wiraraja sakit keras. Nambi segera mohon pamit menjenguk ayahnya itu di Lamajang, tetapi tidak pernah kembali ke Majapahit, malah membangun benteng. Arya Wiraraja kemudian meninggal dunia.
Selanjutnya Pararaton mengisahkan terjadi pemberontakan Juru Dĕmung pada 1313 dan Gajah Biru pada 1314. Kemudian terjadi pula pemberontakan orang-orang Maṇḍana pada 1316 yang ditumpas langsung oleh Jayanagara, raja kedua Majapahit (putra Raden Wijaya). Jayanagara lalu bergerak ke timur menggempur Lamajang. Nambi pun tewas pada 1316 pula.
Demikianlah, Pararaton mengisahkan Nambi pergi meninggalkan Majapahit pada 1300 dan meninggal pada 1316. Itu artinya, ia menjadi r
aja Lamajang selama enam belas tahun menggantikan Arya Wiraraja, ayahnya. Adapun Arya Wiraraja memimpin Lamajang hanya lima tahun, yaitu dari 1295 sampai 1300.
Sekarang mari kita bandingkan dengan naskah lainnya, yaitu Nāgarakṛtāgama yang selesai ditulis oleh Prapañca pada 1365 (era pemerintahan Hayam Wuruk, cucu Raden Wijaya). Dalam naskah ini, Nambi dikisahkan tewas sebagai musuh yang ditumpas langsung oleh Jayanagara pada 1316 (sama seperti Pararaton). Namun, asal-usul Nambi sama sekali tidak diceritakan oleh Prapañca, begitu pula dengan peristiwa Rangga Lawe, Sora, Juru Dĕmung, Gajah Biru, dan Maṇḍana juga tidak disebut.
Sumber ketiga ialah Kidung Sorāndaka yang mengisahkan tokoh licik bernama Mahapati mengadu domba Lĕmbu Sora dengan Śrī Kṛtarājasa (Raden Wijaya). Akhirnya, Lĕmbu Sora tewas bersama dua sahabatnya, yaitu Juru Dĕmung dan Gajah Biru, karena dikeroyok pasukan Majapahit yang dipimpin Patih Nambi. Akan tetapi, Patih Nambi juga tersingkir oleh fitnah Mahapati. Ia dikisahkan tewas di tangan Śrī Kṛtarājasa yang menggempur Lamajang. Jadi, kematian Sora dan Nambi menurut Kidung Sorāndaka terjadi secara berurutan, berbeda dengan Pararaton yang menyebut dua peristiwa itu berselang enam belas tahun.
Prof. Slamet Muljana dalam bukunya yang berjudul “Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya” (1979) serta “Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit” (1983) berpendapat bahwa Nambi difitnah Mahapati dan penyerangan ke Lamajang, semua terjadi pada 1316. Tidak hanya itu, ia juga menyebut Mahapati menjadi patih Majapahit menggantikan Nambi. Maka, Prof. Slamet Muljana mengidentifikasi tokoh licik Mahapati sama dengan Dyah Halāyudha, yaitu patih Majapahit yang tertulis dalam prasasti Sidatĕka (Tuhañaru) tahun 1323.
Pada 1992 ditemukan prasasti Adan-Adan yang kemudian disimpan di Museum Mpu Tantular (Sidoarjo). Prasasti ini dikeluarkan oleh raja pertama Majapahit, yaitu Śrī Kṛtarājasa Jayawardhana (Raden Wijaya) pada 1301. Yang menarik ialah, nama patih dalam prasasti Adan-Adan tertulis Pu Wāhana. Prasasti ini membuktikan Pararaton benar, bahwa Nambi meninggalkan Majapahit pada 1300.
Sayangnya, Prof. Slamet Muljana telah meninggal pada 1986 sehingga tidak sempat membaca prasasti Adan-Adan.
Jadi, kronologi yang dapat kita susun ialah sebagai berikut:
– Kerajaan Majapahit berdiri pada 1294 menurut keterangan Nāgarakṛtāgama dan Pararaton.
– Śrī Kṛtarājasa Jayawardhana mengeluarkan prasasti Kudadu pada 1294. Nama Arya Wiraraja dapat ditemukan dalam prasasti ini.
– Rangga Lawe memberontak pada 1295. Setelah itu, Arya Wiraraja menetap di Lamajang, tidak mau kembali ke Majapahit. Berita ini tertulis dalam Pararaton.
– Śrī Kṛtarājasa Jayawardhana mengeluarkan prasasti Sukāmṛta pada 1296. Pu Nambi tertulis sebagai rakryan apatih (perdana menteri), Pu Wāhana sebagai rakryan tumĕnggung (panglima perang), sedangkan Pu Sora sebagai rakryan apatih ring Daha (patih Kota Daha). Adapun nama Arya Wiraraja sudah tidak ada, dan ini membuktikan Pararaton benar.
– Pada 1300 Sora dibunuh. Hubungan Śrī Kṛtarājasa Jayawardhana dengan Nambi menjadi renggang. Kebetulan Arya Wiraraja sakit keras dan kemudian meninggal dunia. Ini menjadi alasan Nambi untuk pulang ke Lamajang dan menolak kembali ke Majapahit.
– Pada 1301 Śrī Kṛtarājasa Jayawardhana mengeluarkan prasasti Adan-Adan. Dalam prasasti itu tertulis Pu Wāhana sebagai rakryan apatih, sedangkan nama Pu Nambi dan Pu Sora sudah tidak ada. Hal ini membuktikan Pararaton benar, bahwa Sora tewas pada 1300 dan Nambi pergi meninggalkan Majapahit.
– Pada 1309 Śrī Kṛtarājasa Jayawardhana meninggal dan digantikan putranya yang bernama Śrī Jayanagara sebagai raja Majapahit. Berita ini tertulis dalam Nāgarakṛtāgama.
– Pada 1313 Juru Dĕmung tewas, kemudian disusul Gajah Biru tewas pada 1314. Berita ini tertulis dalam Pararaton.
– Pada 1316 Śrī Jayanagara menumpas pemberontakan orang-orang Maṇḍana, kemudian ia bergerak ke Lamajang menewaskan Nambi. Berita ini tertulis dalam Pararaton.
– Nāgarakṛtāgama juga menyebut Nambi tewas sebagai musuh pada 1316. Saat itu status Nambi sebagai raja Lamajang, sehingga wajar apabila Prapañca menyebut ia adalah musuh Majapahit.
Demikianlah rekonstruksi yang dapat kita susun setelah prasasti Adan-Adan ditemukan, sekaligus ini menjadi koreksi untuk pendapat Prof. Slamet Muljana yang terlanjur populer bahwa Nambi menjadi patih Majapahit mulai 1294 hingga 1316, kemudian digantikan Dyah Halāyudha yang dikira sama dengan Mahapati. Padahal, yang benar ialah Nambi pindah ke Lamajang pada 1300, sedangkan kedudukannya sebagai patih digantikan oleh Pu Wāhana yang semula menjabat sebagai panglima perang Kerajaan Majapahit. Selain itu, Pararaton dan Kidung Sorāndaka mengisahkan si tokoh licik Mahapati tidak pernah sukses memperoleh jabatan patih, sehingga menyebut dia sama dengan Dyah Halāyudha (patih tahun 1323) apakah masih relevan?
SUMBER REFERENSI :
– “Tatanegara Majapahit Parwa II” (1962) oleh M. Yamin.
– “Pararaton: Teks Bahasa Kawi, Terjemahan Bahasa Indonesia” (1966) oleh Ki. J. Padmapuspita.
– “Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara” (1968) oleh Prof. Slamet Muljana.
– “Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya” (1979) oleh Prof. Slamet Muljana.
– “Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit” (1983) oleh Prof. Slamet Muljana.
– “Kalangwan: Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang” (1983) oleh P.J. Zoetmulder.
– “Transkripsi Aksara Prasasti Adan-Adan” oleh Machi Suhadi.
– “Kakawin Deśawarṇana uthawi Nāgarakṛtāgama” (2009) oleh I Ketut Riana.
Ditulis oleh: Purwanto Heri pada Jumat Pon Aryang, 29 Oktober 2021
Ilustrasi sampul sebagai pemanis saja oleh: Pramono Estu

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0