Sabar Hati Menapaki Jejak Para Resi di Kendalisodo di Pawitra

Seorang bapak paruh baya bertanya lantang, “Mau naik apa turun gunung mas?!”.Saat itu, aku dan istriku memang sedang bersepeda motor sambil menenteng tas carrier yang besar. Yang ganjil di mata beliau, kami mengarah ke jalan turun seolah memunggungi gunung sementara semangat dan raut muka kami masih segar dengan pakaian masih bersih serapinya orang mau naik gunung.

Aku meminggirkan motor lalu menjawab, “Mau naik, tapi kami bingung, apa ini benar arah ke Jolotundo pak?”

“Bukan mas, sampeyan kebablasan jauh”, ujarnya.

Aku lega sekaligus cemas. Lega karena kini tahu harus ke mana, namun cemas karena waktu sudah menunjukkan beberapa menit lewat dari pukul 8. Jauh-jauh hari panitia menganjurkan kami agar sudah berkumpul di titik nol pendakian setengah jam sebelumnya.

Singkat cerita, aku pun berputar balik dan tiba di titik kumpul agak terlambat. Panitia sudah berkeliling membagikan stiker, syal dan nasi bungkus untuk bekal satu kali makan siang di gunung. Mereka juga telah membentuk lingkaran besar untuk memberi briefing dan melakukan doa bersama memohon keselamatan bagi semua.

Kuputar pandangan ke segala arah, mencoba mencari wajah-wajah yang aku kenal. Ini adalah keikutsertaanku yang kedua, jadi mustinya ada beberapa orang yang aku sudah tahu.

Ada kang Sindhu yang adalah pemimpin Naga Peksi Wilwatikta, sosok yang menjadikan gunung Penanggungan sebagai rumah keduanya karena konon sebulan beliau bisa mendaki lebih dari belasan kali. Luar biasa. Ada mbak Aini yang mengurusi segala tetek-bengek administrasi lewat grup WA, bu Erin yang ramah, kang Reang yang foto naik gunungnya kerap aku amati di FB, mas Fahmi yang merupakan ketua panitia pada perhelatan sebelumnya, Soleh yang pernah kubaca artikel sejarahnya di internet, dan sosok senior Kung yang kuingat fasih sekali nembang macapat.

Hadir pula senyum ramah pak dokter Sudi, dedengkot kesejarahan Jawa kuno pengasuh grup FB Tapak Jejak Kerajaan. Agak jauh kulihat pak Goenawan A. Sambodo dari Magelang yang ahlinya membaca aksara Jawa kuno.

Sisanya samar, tidak kukenal tapi wajahnya seperti banyak yang tidak asing. Ah, biarlah, nanti juga bisa kenalan di atas, gumamku dalam hati.

Sekira jam 9 rombongan pertama berangkat naik. Aku tergabung di kelompok ini.

Dua puluh menit pertama semangatku masih tinggi. Tenagaku masih penuh sehingga beban di punggung seperti tidak terasa, masih bisa bernyanyi kecil, bercanda dengan sahabat-sahabat baru sambil selfi sana-sini. Tidak harus menunggu lama hingga nafas mulai tersengal, kerongkongan jadi kering sambil keringat mulai membulir menetes lewat dahi. Masa-masa selanjutnya adalah keluhan penuh penderitaan dan penyesalan. Alih-alih melaksanakan rencana mengambil foto dan video buat tulisan di blog nanti, berdiri saja sudah setengah mati, seperti mau pingsan rasanya.

Berkali-kali kami berhenti untuk melepas penat. Aku bahkan sempat bertelanjang dada mencopot kaus ku dan memeras airnya yang deras menetes seperti cucian basah.

Namun seperti itulah naik gunung; siksa neraka di awal-kenikmatan nirwana diujungnya. Segala dera dan derita akan terbayar lunas saat mata sudah menyapu ke bawah, mengecap segala keindahan negeri di atas awan ciptaan Yang Maha Kuasa dari atas.

Bayangan indah itu aku tanamkan dalam-dalam dalam diri, agar lelah takluk dari tekad, agar putus asa menguap seperti menguapnya keringatku yang tidak berhenti mengucur.

Jalur pendakian JSP XII kali ini terbilang sangat berat, jauh lebih menantang dibandingkan jilid sebelumnya. Itulah mengapa peserta usia anak sekolah dasar tidak disarankan. Kemiringan tanjakan bisa mencapai 60 derajat, belum lagi jurang di sisi kiri atau kanan yang menganga. Total perjalanan menuju puncak adalah 5 jam lebih.

Tengah hari kami sampai di situs candi Kama II, situs ke tiga setelah Balekambang dan watu gambar. Tidak ingin berlama-lama aku memutuskan untuk melanjutkan sisa perjalanan setelah rehat secukupnya. Beberapa kawan terlihat masih duduk meluruskan kaki sembari mengunyah bekal dan meneguk air.

Sejam setelahnya, aku dan istriku berhasil sampai di situs candi Kendali, tempat di mana kami akan bermalam. Sengaja kurencanakan untuk tiba lebih awal sejak kudengar jumlah peserta membludak lebih dari 100.  Dalam pemikiranku, pasti akan sulit menemukan tempat tenda yang bagus bila tidak datang lebih dulu. Dugaanku tepat, di malam hari puluhan tenda harus berjejal di lahan yang sempit, sebagian malah harus berkemah di situs Kendali sodo di atasnya lagi.

Ya, Kendali sodo adalah tujuan utama kami. Candi ini adalah yang paling istimewa yang ada di Penanggungan. Ia adalah master piece nya, maskotnya Penanggungan. Candi ini yang paling utuh sehingga kami dapat belajar banyak dari sini. Pak Gunawan yang bagian dari TACB (Tim Ahli Cagar Budaya) panjang lebar menjabarkan banyak hal. Sungguh sebuah kesempatan berharga dapat belajar di lokasi sebenarnya ribuan meter di atas permukaan air laut, langsung dari ahlinya.

Sendirian, di ketinggian Kendalisodo, kusempatkan waktu berdiri di atas sebuah batu menjulang guna mereguk buah penderitaan yang kualami beberapa jam sebelumnya. Pemandangan dari atas sungguh sangat indah berbalut keheningan yang hakiki. Hanya desir angin dan bunyi binatang-binatang kecil yang mengingatkan sang waktu agar segera mengakhiri terang dan menggantinya dengan tirai malam.

Alam beranjak gelap, kelap-kelip lampu di bawah adalah vitamin berharga untuk mata.

Panitia-memulai-pendakian-dengan-memanjatkan-doa-memohon-keselamatan-untuk-seluruh-peserta
Panitia-memulai-pendakian-dengan-memanjatkan-doa-memohon-keselamatan-untuk-seluruh-peserta
Kami-memulai-pendakian-sekira-jam-9-pagi-dan-sampai-di-tujuan-5-jam-berikutnya
Kami-memulai-pendakian-sekira-jam-9-pagi-dan-sampai-di-tujuan-5-jam-berikutnya
Istriku-menanam-benih-pohon-yang-dibawa-dari-bawah-di-situs-candi-kama-II
Menanam-benih-pohon-yang-dibawa-dari-bawah-di-situs-candi-kama-II
Menunggu-kopi-yang-belum-mendidih
Di sela-sela himpitan tenda sembari menunggu kopi yang belum mendidih
Padatnya-tenda-peserta-berjejal-di-shelter-situs-candi-Kendali-yang-tidak-luas
Padatnya-tenda-peserta-berjejal-di-shelter-situs-candi-Kendali-yang-memang tidak-luas
Foto candi Kendalisodo, pak Goenawan yang sedang menjelaskan relief di dinding candi, dan pemandangan ke bawah dari posisi dekat candi
Penuh-antusias-mendengar-penjabaran-dari-nara-sumber-di-acara-Jagong-Budaya
Seluruh-peserta-dan-panitia-JSP-XII-berfoto-bersama-sebelum-turun-gunung
Berfoto bersama-pak-Goenawan-A-Sambodo-yang gayanya khas; melet/ menjulurkan lidah

Selanjutnya tibalah acara inti bertajuk Jagong Budaya. Peserta berkumpul duduk melingkar sembari meresapi kekunoan yang didadar nara sumber. Reruntuhan candi Kendali di belakang kami menjadi saksi bagaimana kisah leluhur berumur ratusan tahun disampaikan pada para ahli warisnya. Semua yang hadir sibuk memainkan imajinasi masing-masing, larut dalam sisa kemegahan masa lalu. Warisan moyang memang harus dijaga, supaya dia terus ada. Bila yang bendawi sudah hampir pupus, maka warisan memori janganlah ikut sirna.

Laiknya layar penutup panggung, hujan tetiba tercurah dari langit saat jagong budaya hampir sampai penghujung. Tanpa kompromi ia memaksa semua yang ada beranjak masuk ke tenda masing-masing.

Sebelum tidur, dari dalam tendaku, kuintip buah kerja dewa Indra, sang dewa pengendali cuaca atas tanah Pawitra. Dimana pun, malam dingin berhujan selalu menjadi malam indah bagiku. Malam berhujan di atas Pawitra sudah tentu adalah yang terindah dari semuanya, karena ia pasti akan abadi dalam kenanganku.

 

Terima kasih Pawitra.

Terima kasih para panitia, kami tidak sabar ikut lagi.

 

Jurnal pendakian JSP (Jelajah Situs Pawitra) XII, 27-28 April 2019 (AGU)

Catatan: Semua foto di atas telah melalui proses editing biar lebih bagus, terutama yang memajang wajah saya. Beruntung hape saya mengandung aplikasi pemutih bengkoang berlebih 😀

 

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit