Sudah Keras Kepala, Suka Mengada-ada, Celakanya Jadi Menteri Pendidikan

“Tidak bisa dipercaya!”, ujar bung Hatta membantah keras kebenaran isi buku Muhammad Yamin berjudul Naskah Persiapan UUD 1945 terbitan tahun 1951. Para pelaku sejarah lain yang menjadi anggota BPUPKI, yang mengalami sendiri hadir di tengah-tengah sidang BPUPKI di antaranya Ahmad Subardjo, A.A. Maramis, dan Sunario pun segendang sepenarian mengamini Hatta.

Berbekal riset terhadap salinan notulensi sidang BPUPKI/PPKI pinjaman, Muhammad Yamin menerbitkan tiga jilid buku Naskah Persiapan UUD 1945.

Pokok permasalahan ada pada polemik seputar hari lahirnya Pancasila dan siapa sosok penggagasnya.

Dalam bukunya, Yamin bercerita tentang pidatonya yang panjang saat menguraikan lima poin yang ditawarkan sebagai cikal bakal sila dalam Pancasila pada tanggal 29 Mei. Secara tidak langsung, ia mengecilkan jasa Soekarno sebagai penemu Pancasila karena Soekarno baru berpidato keesokan harinya, yakni pada 1 Juni 1945. Fakta bahwa Soekarnolah yang paling rinci menyodorkan rancangan Pancasila dan yang menyebut istilah Pancasila untuk pertama kali juga diabaikan.

Yamin-lah yang memberi nama Pancasila untuk menyebut dasar negara kita. Dalam pidatonya, Bung Karno menyebutkan ia menamai Pancasila atas usul seorang temannya yang ahli bahasa. Hanya Yamin yang ketika itu menguasai bahasa Sanskerta dan sastra.

Hatta mengecam kelicikan Yamin karena terlalu membesar-besarkan peranannya dalam perumusan Pancasila. Ia masih bisa mengingat bahwa Yamin hanya menyampaikan pidatonya sekurang-kurangnya selama 20 menit, dengan membaca teks sebanyak 2 halaman saja. Ketika itu dijadwalkan ada tujuh pembicara yang seluruhnya berpidato dalam kurun waktu 120 menit.

Kebenaran akhirnya terkuak saat salinan notulensi BPUPKI yang disimpan Yamin ditemukan di Solo dalam koleksi pribadi keluarga Yamin. Tanpa malu, ia memang sengaja tidak mengembalikan dokumen pinjaman  tersebut pada empunya.

Selama jalannya rapat, dua orang stenografer merekam berbagai peristiwa seperti pidato-pidato, perdebatan, diskusi lisan, bahkan tepuk tangan maupun tawa peserta secara rapi. Notulensi itulah yang menjadi naskah paling otentik maha penting karena memuat laporan terperinci tentang susunan acara, waktu, dan segala perdebatan yang terjadi dalam sidang-sidang BPUPKI dan PPKI yang sedang merancang konsep berbangsa dan bernegara. Dari sanalah publik bisa mengetahui perdebatan, perselisihan, dan konsensus yang terjadi di balik kelahiran konstitusi Indonesia: Undang-Undang Dasar 1945.

Adalah dua kakak-beradik Pringgodigdo yang menyimpannya. Dari dua salinan notulensi, salinan pertama yang disimpan oleh Abdoel Karim Pringgodiggo dirampas Belanda dalam Agresi Militer II pada 19 Desember 1948. Salinan itu diterbangkan ke Belanda dan menjadi koleksi arsip Algemeene Secretarie Nederlandsch Indie pada Algemeene Rijksarchief di Den Haag. Salinan yang lain berhasil selamat dari perampasan dan disimpan oleh Abdul Gaffar Pringgodigdo dan menjadi koleksi pribadi.

Berdasarkan salinan asli notulensi sidang BPUPKI/PPKI, terlihat cukup jelas bahwa Sukarno adalah satu-satunya yang punya rumusan Pancasila yang komprehensif dan menyeluruh. Yamin tak memberikan pidato seperti yang ditulisnya sendiri di buku Naskah Persiapan UUD 1945. Sukarno pula satu-satunya orang yang dalam sidang BPUPKI sudah menyebut kata “Pancasila”.

Kehebohan di atas bukanlah satu-satunya ulah Yamin.

Sebagai pengarang buku, Yamin termasuk produktif. Karya-karyanya terserak dalam berbagai bidang, mulai dari kebudayaan, sejarah, biografi hingga puisi. Bahkan ada yang menggolongkan Yamin sebagai perintis Pujangga Baru bersama Rustam Effendi, Sanusi Pane sebelum akhirnya diteruskan oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Amir Hamzah.

Dia mengarang bermacam-macam buku, campuran antara fakta dan fiksi serta banyak lagi kisah-kisah pembenaran sejarah, termasuk yang berjudul ‘6000 Tahun Sang Merah-Putih’. Bayangkan, bila usia sang saka sudah 6000 tahun, artinya peradaban kebudayaan Mesir pun kalah tua dari peradaban kita.

Sebagai sosok kutu buku, ia melahap banyak buku sejarah, termasuk kitab Pararaton yang banyak mempengaruhinya. Dari situ ia sanggup menggarap naskah sandiwara ‘Gadjah Mada’ serta ‘Ken Arok dan Ken Dedes’.

Benedict Anderson dalam buku klasik Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance 1944-1946 menulis bahwa tak ada satu orang pun yang bisa mengontrol Yamin. Orang ini keras kepala, sembarangan, menjengkelkan dan dibiarkan saja semaunya sendiri. Zaman itu tak ada yang peduli soal campur aduk fakta dan fiksi. Bagi semua orang, tidak ada yang lebih penting dari kondisi negara yang sedang repot-repotnya mengarungi samudera revolusi melawan Belanda.

Celakanya, ia malah diserahi jabatan sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo I pada bulan Juli 1953-Juli 1955.

Hasilnya, macam-macam pikiran Yamin, termasuk yang fiksi, masuk dalam pelajaran sejarah di sekolah maupun berbagai propaganda lain.

Saking semangatnya Yamin bahkan membuat gambar wajah Gajah Mada berdasarkan sebuah arca kepala pria berukuran mungil hasil temuan di Trowulan tahun 1940-an yang diduga berfungsi sebagai celengan. Tidak ada badan yang tegap, tidak pula gada dalam genggaman, malah ada sekuntum bunga terselip manis di telinga. Penggalan kepala pria itu, kini masih tersimpan di gedung Pusat Informasi Majapahit (PIM) di Trowulan dengan nomor catalog 47/TR/TRW/24/BPG NR. 262. Bila dilihat sepintas, raut mukanya mirip Muhammad Yamin muda.

Jabatannya sebagai Menteri semakin mendukung terbentuknya kesepakatan untuk menerima sosok Gajah Mada yang disodorkannya. Maka mewujudlah dia Patih Gajah Mada, yang patung-patungnya kini bertebaran di mana-mana … tapi tidak lagi menyelipkan setangkai kembang di telinganya.

Sejarawan Jean Gelman Taylor, pengarang buku Indonesia: People and Histories secara khusus menulis satu bab bertajuk “Majapahit Visions: Sukarno and Suharto in the Indonesian Histories”. Di dalamnya, ia membandingkan Majapahit versi arkeologi dan Majapahit versi propaganda. Dari sudut arkeologi, Taylor menerangkan bahwa Majapahit tidaklah sebesar bayangan orang. Ia adalah sebuah kerajaan kecil di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah.

 

Baca Artikel tentang sejarah Kerajaan Terbesar di Nusantara: Wilwatikta

 

Rezim Soekarno berkepentingan membuat mitos Majapahit sebagai kerajaan besar guna mendukung agenda nation building Republik Indonesia yang masih baru. Dibutuhkan legitimasi dari memori kejayaan masa lampau dengan bintangnya Sriwijaya dan Majapahit buat menegaskan bahwa dalam menyusun batas wilayah dan undang-undang dasar, mestilah kebesaran itu yang memberikan inspirasi. Sejak Majapahit runtuh pada abad ke-16, di Indonesia terdapat sekitar 300 negara kecil yang kini dimasukkan dalam wilayah negara Indonesia Merdeka. Proklamasi kemerdekaan merupakan “pengulangan” penyatuan nusantara yang dilakukan Gajah Mada dengan sumpah Palapanya.

Rezim Suharto ikut juga membonceng gagasan Yamin untuk mendukung agenda economic development. Dengan dukungan penuh dari rakyat, Indonesia juga harus mencapai kemakmuran gemah ripah loh jinawi, sebagaimana gambaran pengelana asing tentang kondisi Majapahit kala itu.

Yamin yang kelahiran Sawah Lunto Sumatera barat pada 24 Agustus 1903 adalah sosok kutu buku. Dilahirkan dari keluarga besar, kebanyakan saudara-saudaranya juga tumbuh menjadi tokoh-tokoh intelektual. Ia melanjutkan sekolah ke AMS Yogyakarta dan menikah dengan seorang putri berdarah biru dari puri Mangkunegaran GRA Retno Satuti. Sejak masih muda, ia sudah aktif di dunia pergerakan. Yamin hadir dalam Sumpah Pemuda I tahun 1926 dan bahkan terlibat langsung menjadi panitia Sumpah Pemuda II 1928 sebagai sekretaris.

Seperti Soekarno, ia adalah salah satu pencipta imaji keIndonesiaan yang hebat. Salah satu bidan yang menangani jabang bayi republik dan mengukir wajah Indonesia hingga terlihat seperti sekarang. Seorang tokoh yang keutamaannya teguh dalam memegang prinsip.

Pemerintah mengganjarnya dengan gelar Bintang Mahaputra Republik Indonesia, sebagai Pahlawan Nasional.

 

Sumber bacaan: andreasharsono.net, tirto.id, Indonesia: People and Histories; Jean Gelman Taylor

Ilustrasi sampul: Ilustrasi Muhammad Yamin dari majalah Tempo edisi khusus hari kemerdekaan

 

Total
4
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit