Tuah Pusaka Keraton Menghantar Dua Pangeran Naik Singgasana

Komandan garnisum Baron Von Hohendorff berteriak memerintahkan semua serdadu yang masih ada di luar gerbang istana Kartasura untuk segera masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Musuh sudah terlihat di depan mata, tinggal beberapa ratus meter jauhnya, mereka telah sampai di alun-alun.

Sunan Pakubuwono II berdiri kebingungan sambil memegang tombak. Ia bermaksud keluar keraton untuk memimpin perang, namun dicegah oleh Wirarejo, komandan pengawal raja. Seluruh kerabat istana dan punggawa panik berlarian menuju pintu belakang istana. Namun terjadi kekacauan karena semua berdesak-desakkan menuju pintu yang sempit. Akibatnya ratusan prajurit Mataram terluka oleh tombaknya sendiri. Mereka jatuh di sekitaran pintu dan menghalangi orang yang akan keluar. Pintu gerbangpun tertutup oleh mereka yang terkulai terinjak-injak dan kotak-kotak harta yang berserakan.  Dalam keadaan kacau sejumlah prajurit nekat memanjat tembok lalu meloncat. Namun para prajurit Tionghoa sudah menunggu di luar dan menembaki orang-orang yang kabur lewat gerbang keraton.

Dua serdadu Belanda mencoba menaikkan ratu Amangkurat, yang memang tidak bisa naik kuda, ke atas pelana namun berkali-kali gagal hingga sang ratu pun jatuh pingsan. Beberapa prajurit menuntun sunan merangkak keluar lewat lubang, mereka berjalan melewati persawahan dan menemukan kuda untuk kabur ke arah timur.

Pintu gerbang depan tak kuasa menahan gempuran dan jebol. Musuhpun berhamburan masuk keraton. Suara bedil pasukan pemberontak kini sudah terdengar dari sitinggil. Mayat prajurit dan mereka yang terluka bergelimpangan di mana-mana, yang masih bertahan berhadap-hadapan dalam pergumulan jarak dekat hidup dan mati. Gemerincing senjata dan jerit kesakitan terdengar di sana-sini. Prajurit Tionghoa tidak terbendung dan mulai menjarah istana yang sudah kosong, salah seorang diantaranya tampak menuju ruang pusaka dan keluar sambil menggenggam tombak Kyai Plered. Pangeran Mangkubumi segera menghardik memintanya dan mengamankan pusaka tersebut.

Suryokusumo atau Raden Mas Said yang pada saat menyerbu istana mengenakan pakaian Tionghoa, yang ia ambil dari seorang Tionghoa yang terbunuh, berhasil mengambil pusaka kerajaan lainnya yang tidak kalah keramat yang bernama keris Kyai Bedudak.

Sesuai dengan pandangan tentang kekuasaan ilahiah raja, dasar spiritual kekuasaan negara adalah wahyu yang digenggam seorang raja. Wahyu adalah aura ilahi yang memberikan kebesaran dan kemuliaan dan memiliki sekti (kekuataan adikodrati/ adimanusia).

Orang Jawa menginterpretasikan pergantian jabatan raja sebagai sebuah konsekuensi dari kesuksesan seseorang mempertahankan dan memelihara kekuatan magis sekti miliknya. Sekti tidak hanya bisa berkurang atau malah habis, tapi bahkan bisa sampai dialihkan kepada orang lain.

Keraton dianggap sebagai simbol pusat alam semesta dengan raja sebagai pusatnya sehingga keraton/ ibukota dipenuhi simbol khusus penanda kekuasaan, di antaranya berupa senjata sakti atau pusaka.

Kini pusaka telah berpindah tangan, tandanya sekti seorang raja telah berkurang atau beralih ke orang lain.

Entah kebetulan atau memang berkat tuah pusaka, kelak kedua bangsawan yang bukan ahli waris terdekat kerajaan tersebut naik menjadi penguasa. Pangeran Mangkubumi adalah pendiri kesultanan Yogyakarta dengan gelar Hamengku Buwono yang berarti penguasa yang memangku jagad raya, sedangkan Suryokusumo atau Raden Mas Said yang dijuluki Pangeran Samber Nyowo oleh Belanda akan memerintah suatu praja dengan gelar Mangkunegara. Sebaliknya Pakubuwono III, penerus Pakubuwono II yang terusir dari istana, akan dikenal sebagai penguasa boneka pengabdi Belanda yang karena pilihan politiknya ini, tidak pernah benar-benar menjadi pemimpin yang dihormati.

Pakubuwono II, Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said masih kerabat dekat. Silsilahnya begini:

Pakubuwono II dan Pangeran Mangkubumi adalah kakak-beradik sama-sama putra Amangkurat IV, penguasa Mataram periode tahun 1719-1726. Bedanya, Pakubuwono II berhak mewarisi tahta karena terlahir dari rahim permaisuri sedangkan Mangkubumi dari istri selir.

Raden Mas Said merupakan salah satu cucu Amangkurat IV, atau masih keponakan Pakubuwono II dan Mangkubumi. Ayah Raden Mas Said adalah Arya Mangkunegara, putra tertua Amangkurat IV. Karena selalu menentang keinginan Belanda, Arya Mangkunegara diasingkan ke Sri Lanka hingga wafat. Belanda justru mengangkat adik Arya Mangkunegara, yakni Pakubuwono II sebagai raja.

Pangeran Mangkubumi

Pangeran Mangkubumi semula selalu berdiri di belakang kakak tirinya, Pakubuwono II, termasuk dalam menghadapi perlawanan keponakan mereka, Raden Mas said yang bersekutu dengan laskar Tionghoa. Said mengklaim bahwa ia berhak atas tahta Mataram yang diduduki pamannya, Pakubuwana II.

 

 

Pakubuwono II pada awalnya bersimpati dan membantu perlawanan Tionghoa. Namun ketika dalam beberapa kesempatan laskar Tionghoa mulai terdesak, terutama semenjak kemenangan Kompeni yang gemilang di Semarang, Pakubuwono II mulai khawatir akan nasibnya. Ia berbalik berpihak pada kompeni dengan memerangi laskar Tionghoa. Niat ini ditentang pangeran Mangkubumi yang mengingatkan sebagai adik, bahwa bagi seorang raja kurang baik kalau kata-katanya tidak bisa dipegang. Sekali mengucapkan janji hendaknya jangan bergeser dari kata-kata  yang pernah diucapkan karena akan menurunkan kewibawaan raja.

Pakubuwono II tidak mengindahkan nasehat adiknya.

 

 

Setelah keraton jatuh ke tangan pemberontak, Pangeran Mangkubumi yang melihat celah kekosongan kekuasaan pergi ke pusat kekuasaan Kompeni di Jawa tengah di Semarang. Ia meminta agar dirinya diangkat menjadi raja namun ditolak. Pangeran Mangkubumi naik pitam sehingga memutuskan beralih kubu bergabung dengan Raden Mas Said.

Bulan November 1743 Pakubuwono II berhasil kembali ke keraton berkat bantuan Kompeni. Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said tetap melanjutkan perlawanan dan bermarkas di pedalaman di sebelah barat Surakarta yang kini dikenal sebagai Yogyakarta.

Tanggal 2 Desember 1749 Pangeran Mangkubumi yang membaca situasi sedang sakitnya Pakubuwono II, mengangkat diri sebagai raja dengan gelar Pakubuwono III. Said yang diangkat sebagai panglima perang sekaligus mahapatih mendukung penuh klaim ini, sedangkan Kompeni menolak dengan mengangkat Raden Mas Soerjadi, putra mahkota Pakubuwono II, sebagai raja baru Surakarta Pakubuwono III. Pakubuwono II sendiri wafat pada 20 Desember 1749 .  Jadi, saat itu sempat ada dua PB III, yakni Mangkubumi di Yogyakarta dan Raden Mas Soerjadi di Surakarta.

Mangkubumi dan Said terus melancarkan perang gerilya sampai menelan korban ribuan tentara Kompeni dan berhasil merebut sejumlah wilayah di Surakarta. Kompeni menjadi kewalahan dan segera memainkan jurus andalannya, yaitu politik devide et impera. Kompeni sukses memisahkan Mangkubumi dari Raden Mas Said.

Melalui usaha yang alot, Kompeni berhasil meyakinkan Mangkubumi untuk menyepakati perundingan Giyanti yang isinya antara lain Mangkubumi memperoleh separuh wilayah kekuasaan PB III beserta 4000 cacah penduduk dan diakui sebagai penguasa Yogyakarta dengan gelar Hamengkubuwana I.

Raden Mas said

Said masih berusia 2 tahun ketika ayahnya dibuang Belanda ke Sri Lanka. Sejak dini ia tidak mengenal takut karena sudah biasa dengan aroma konflik. Seharusnya, ayah said yang bernama Arya Mangkunegaralah yang paling berhak mewarisi takhta Mataram/Kartasura. Namun, lantaran selalu menentang Belanda, ia diasingkan ke Srilanka hingga meninggal dunia. Prabasuyasa lalu dinobatkan sebagai penguasa Mataram selanjutnya dengan gelar Pakubuwana II. Atas dasar inilah Raden Mas Said memerangi Kompeni, yakni ingin membalas dendam atas perlakuan tidak adil Kompeni terhadap ayahnya dan hak atas tahta.

Pada peristiwa Geger Pacinan, ia bersama sejumlah bupati beraliran radikal bergabung dengan laskar Tionghoa di Jawa tengah memerangi Kompeni.

Saat menggenggam pusaka Kyai Bedudak di tangan, ia masih remaja 19 tahun. Setelah Amangkurat V berhasil menduduki tahta Pakubuwono II, ia diangkat menjadi panglima perang. Oleh Amangkurat V ia disuruh belajar seni berperang dari pemimpin pemberontak Tionghoa, Kapitan Sepanjang yang sarat pengalaman.

Kompeni mencatat kemunculannya yang pertama kali dalam pertempuran di Welahan. Kiprahnya memimpin pasukan yang besar di laga itu menyadarkan Kompeni bahwa mereka mempunyai musuh baru yang sangat berbahaya.

Tercatat sedikitnya ada 3 perang besar yang dilakoni Said yang menggegerkan Batavia. Pertama adalah keberhasilannya menewaskan 600 pasukan musuh gabungan kompeni, Surakarta dan Yogyakarta dengan hanya kehilangan 3 nyawa prajurit dan 29 luka-luka dalam perang di desa Kasatriyan dekat Ponorogo tahun 1752. Kedua, pada pertempuran di hutan Sitakepyak selatan Rembang dimana ia berhasil menghancurkan tentara VOC dan ribuan prajurit bantuan yang dikirim Yogyakarta, sekaligus menebas kepala kapten VOC Van Der Pol di tahun 1756. Yang ketiga, kesuksesannya menyerbu benteng Vredeburg di Yogyakarta setahun kemudian, yang mengakibatkan kerugian besar bagi sultan Hamengkubuwono I dan VOC.

Nicolaas Hartingh, Gubernur VOC untuk wilayah pesisir utara Jawa sampai menjulukinya sebagai “Pangeran Samber Nyowo” karena sepak terjangnya yang mengerikan ini.

Orang percaya bahwa sang panglima telah banyak menghabisi nyawa musuh dengan tangannya sendiri. Di kalangan masyarakat Jawa, terdapat beragam legenda yang mengabadikan kepiawaiannya mengangkat senjata.

Setelah serbuan ke benteng Vredeburg, HB I menjanjikan sayembara uang sebesar 500 real dan jabatan bupati kepada siapa saja yang berhasil menangkap Said. VOC juga menambahkan uang sebesar 1.000 real asal Said dapat dibunuh. Lantaran tidak ada seorang pun yang mampu menunaikan sayembara tersebut, VOC mendesak PB III dan HB I untuk membujuk Raden Mas Said melakukan perundingan. Di luar dugaan, Said ternyata bersedia. Maka lahirlah Perjanjian Salatiga pada 17 Maret 1757

Said mendapatkan konsesi berupa wilayah khusus yang akan dipimpinnya. Sejak saat itulah muncul kerajaan ke-3, yakni Kadipaten Mangkunegaran, yang hidup berdampingan dengan Kasunanan Surakarta serta Kesultanan Yogyakarta. Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyawa menggelari dirinya sendiri sebagai Mangkunegara I. (AGU)

 

Sumber bacaan: Madiun dalam Kemelut Sejarah; Ong Hok Ham,  Geger Pecinan; Daradjadi

Gambar sampul: Wid NS

 

Incoming search terms:

  • keraton kartasura
Total
1
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit