Mewujudkan Majapahit Heritage Trail yang Layak Jual

 

Riak kecil sengaja dibuat Kemenpar pada sebuah acara Focus Group Discussion (FGD) bertajuk ‘Percepatan Pengembangan Wisata Sejarah dan Religi” di Hotel Aria Gajayana Kamis 5 Oktober 2017.

Harapannya, berselang 3 minggu ke depan perhelatan ini akan menelurkan gaung besar berupa program paket wisata sejarah, religi, tradisi dan seni budaya berdasarkan Majapahit heritage Trail.

Pemerintah merasa perlu turun tangan langsung karena sektor pariwisata kini menjadi andalan baru pemasukan devisa. Pertambangan, utamanya batu bara yang waktu lalu sangat seksi kini, sudah tidak bisa diharapkan lagi ibaratnya wanita sakit-sakitan yang walaupn cantik sudah tidak lagi menarik bagi lawan jenis.

Mengapa pariwisata? Tidak lain karena kita memiliki sumber dayanya secara berlimpah yang belum tergarap secara optimal.

Portfolio produk pariwisata kita terbagi dalam 3 kategori; yakni wisata alam, wisata buatan dan wisata budaya. Wisata alam mencakup diantaranya wisata bahari, eko wisata, dan wisata petualangan. Dari sektor buatan, mencakup wisata sport, integrated area tourism dan MICE yang merupakan akronim dari Meeting, Incentive, Conference, dan Exhibition yang di Bali kabarnya tengah goyah sebagai akibat dari potensi bencana erupsi gunung Agung. Jenis yang ketiga yang menjadi fokus garapan FGD adalah wisata budaya yang mencakup wisata perdesaan/ perkotaan, wisata tradisi, wisata kuliner, seni dan budaya dan wisata sejarah dan religi.

Pemerintah memerlukan keterlibatan pihak-pihak yang kompeten dalam penyusunan Majapahit Hertage Trail karena karakternya yang unik dan juga target marketnya yang spesifik, yakni wisatawan mancanegara dari kalangan terpelajar dan terdidik serta melek budaya.

Perwakilan komunitas-komunitas sejarah berkumpul di hotel Aria Gajayana Malang (foto: Blusukers Malang)

Inilah yang menjadi momen bertemunya nama-nama beken pelaku pecinta dan penggiat sejarah se Jawa Timur, minus Madura dan daerah tapal kuda. Figur-figur yang biasa berinteraksi di dunia maya mulai dari sekedar bertegur sapa hingga yang berperang kata berbaur tanpa sekat. Mereka-mereka yang mencatatkan nama di daftar hadir diantaranya dari JJM (Jelajah Jejak Malang), Pasak (Kediri), Kojakun Sutasoma (Kediri), Museum Wilwatikta Online (Trowulan) Tapak Jejak Kerajaan (Sidoarjo),dsb. Pihak lain yang juga memenuhi ruang Raung lt 5 hotel Aria Gajayana Malang berasal dari para pelaku langsung bisnis wisata yang sudah malang melintang menjadi ujung tombak mengantar ribuan tamu.

Semua perwakilan daerah antusias membeberkan rancangan situs yang bisa dimasukkan dalam ittinery Majapahit Heritage Trail. Patut disyukuri bahwa masing-masing daerah mampu menunjukkan jejak Majapahit yang ada diwilayahnya dalam jumlah yang berlimpah sehingga masalah yang ada justru bagaimana mengurangi destinasi tersebut agar sinkron dan realistis dengan jumlah hari yang dipaketkan.

Destinasi wisata dunia yang diangkat sebagai bahan banding adalah Penang, Melaka dan Seam Reap Angkor yang secara berurutan tiap tahunnya mampu menggaet 5,5 juta, 3,9 juta dan 2,4 juta pengunjung. Ketiganya menjual produk yang kurang lebih sama dengan apa yang bisa ditawarkan Majapahit, yakni monumen bersejarah, scenic trail, heritage trail, cultural tour, dan festival budaya. Terbukti dengan perencanaan dan pengaturan yang lebih baik ketiganya mampu menjadi keran pemasukan bagi negara.

Pariwisata modern memang bukan sekedar bisnis yang melibatkan people to people semata. Lebih jauh, paradigmanya yang baru membutuhkan pemahaman lebih agar wisatawan yang datang mendapatkan pengalaman yang terbaik dengan harga yang terbaik pula, diistilahkan sebagai Acceptable price for value offered.

Maksud demikian dapat tercapai bila unsur-unsur ketahanan lingkungan dan budaya, kualitas pengalaman yang didapat, kemudahan akses serta higinitas dan keselamatan terjamin. Apabila dijabarkan, pertama tama kita harus memperhatikan bahwa kedatangan wisatawan tidak akan mencemari lingkungan dan budaya yang ada.

Padanan pengalaman untuk istilah experience di sini sebenarnya kurang tepat. Namun memang banyak sekali kosa kata bahasa Inggris yang tidak kita temui padanan langsungnya, sehingga apabila kita paksakan, maka berpotensi mengurangi atau bahan mengubah maknanya.

Faktor ketiga ini sangatlah penting karena membutuhkan perencanaan yang serius. Contohnya adalah apabila kita memaksakan menyajikan menu makanan khas lokal pada wisman asing, hendaknya diperhitungkan betul faktor cross-cultural understanding-nya, yakni faktor kesepahaman lintas budaya-nya. Di sekitaran danau Segaran Majapahit bisa didapati warung makanan yang menyediakan menu ikan wader bakar. Alih-alih ingin memberikan experience, kita justru bisa membuat wisman sakit perut, mual atau sakit.

Ujung acara ditutup oleh arkeolog UM Dwi Cahyono yang merupakan dedengkotnya jalan-jalan wisata sejarah karena terbilang telah sering kali mengadakan even serupa dan sukses besar.

Pesan pak Dwi yang sudah sering diulang-ulang dalam berbagai kesempatan adalah agar upaya pelestarian cagar budayanya yang dinomor satukan, sementara pariwisatanya adalah sebagai bonus yang menyertainya. Pesan ini sedikit banyak mewakili pandangan hadirin yang hampir separuhnya memang bekas mahasiswa yang pernah diajar pak Dwi di bangku kuliah.

Nuansa yang dapat ditangkap penulis dalam acara ini adalah timbulnya sedikit gesekan akibat kengototan pemerintah untuk mengoptimalkan heritage sebagai destinasi wisata unggulan sementara di sisi lain melupakan pembicaraan ke arah upaya konservasinya.

Pihak komunitas yang memang berangkat dari landasan kecintaan pada cagar budaya murni tanpa motif apapun tentu keberatan.

Apa yang dihadirkan pemerintah sebenarnya merupakan peluang emas bagi kalangan komunitas karena sedikit banyak telah dilibatkan secara langsung. Ketiga pihak, yakni pemegang regulasi, pelaku wisata, dan pelestari cagar budaya telah berikhtiar duduk bersama. Tinggal apakah komunitas mampu menyesuaikan diri, fleksibel dan kreatif memasukkan misi mereka dalam rencana besar pemerintah.

Konservasi sekalipun apabila tidak direncanakan mengikuti perkembangan kekinian masihlah akan hanya berupa konservasi mati yang cuma sebatas di atas kertas karena sulit dikejawantahkan.

 

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !