Jamasan Bulan Purnama Situs Ngawonggo 7 Agustus

Dalam rangka memperingati “Hari Lingkungan Hidup Sedunia”, kami mengadakan kegiatan “Ajar Pusaka Saujana” dengan tema “Ngabuburit Paleo-Hidrologi Kaswangga”.

Kegiatan diadakan di Situs Ngawonggo, Dsn. Nanasan, Ds. Ngawonggo, Kec. Tajinan, Kab. Malang, pada hari Minggu 11 Juni 2017.

Titik kumpul : Patung Singa depan Stasiun Kota Baru.
Pukul : 12 siang.
Diharapkan peserta membawa bekal untuk buka bersama di lokasi.
Kegiatan ini tidak dipungut biaya apapun (gratis).

Sumonggo turut dan petik faedah !!!

NGABUBURIT DENGAN BERAJAR PUSAKA SAUJANA “PALEO~HIDROLOGI KASWANGGA”

Belajar (ajar) bisa dilakukan kapanpun, dimanapun, dan mengenai apapun. Dengan “kapanpun”, maka bulan~bulan apapun, tak terkecuali bulan Ramadhan, terbuka untuk dijadikan sebagai waktu pembelajaran. Masa terpelajari, tidak musti masa kini, namun boleh juga masa lalu. Kendati kini bertepatan dengan bulan Ramadhan, yang bagi umat Muslim adalah saat menjalankan ibadah puasa (saum), namun kegiatan pembelajaran yang wajar (tak terlalu menguras tenaga) dan berfaedah dapat diselenggarakan pada paro waktu siang dalam bulan Ramadhan, sembari menanti tiba waktu buka puasa ~ yang acap dinamai “ngabuburit”, misalnya pukul 13.00 s.d. berbuka puasa.

Pembelajaran yang bakal dilakukan ini secara khusus diarahkan kepada “teknologi hidrologi masa lalu (paleo~hidrologi)”, sebagai aplikasi praktis berkenaan dengan manajemen sumber daya air (water management resourches). Pokok telaah memberi gambaran mengenai kecanggihan budaya yang telah semenjak lama dimampui oleh manusia Nusantara. Terdapat tempat~tempat tertentu yang memiliki jejak historis, arkeologis maupun paleo~ekologis berkenaan dengan paleo~hidrologi, baik secara keseluruhan atau sebagian diantaranya.

Dalam hal itu, situs Ngawonggo di sub~area Malang Timur (Kecamatan Tajinan) terbilang beruntung. Pada penghujung April 2017, disini ditemukan ~ tepatnya “diketemukan ulang” ~ tinggalan arkeologis berupa ragam instalasi keairan kuno, antara lain (a) patirthan (kolam air suci), (b) dawuhan (bendungan), (c) saluran air di permukaan (dawuhan) maupun di bawah permukaan tanah (arung), (d) beserta sungai purba padamana ragam artefak tersebut hadir bersamaan di suatu tempat bahkan berjejaring satu~sama lain. Oleh karenanya, peninggalan budaya masa lalu itu dapat dipertimbangkan untuk dijadikan bahan ajar mengenai “ancient water management resourches”. Dengan kata lain, tinggalan di Situs Ngawonggo berpotensi dan berpeluang untuk dijadikan sebagai bahan ajar mengenai “masyarakat keairan kuno” di Bhumi Jawa.

Lebih beruntung lagi, keberadaan permukiman kuno di Ngawonggo memilili latar kesejarahan yang cukup jelas. Sumber data prasasti, yakni Prasasti Wurandungan atau Kanuruhan B (944 Masehi) dari masa pemetintahan Pu Sindok (Sri Isana) pada Kerajaan Mataram berpusat di Jawa Timur, menyebut adanya bangunan suci “Sang Hyang Dharmma Kaswangga” dalam wilayah watak Kanuruhan. Kaswangga amat boleh jadi adalah nama kuno (archaic name) dari apa yang kini dinamai Desa “Ngawonggo”. Bila benar demikian, kesejarahan permukiman di Ngawonggo bisa ditelisik sejak medio abad X Masehi. Instalasi air di Ngawonggo dengan demikian memiliki kesejarahan panjang, lintas masa, dan memberi informasi penting bagi khalayak mengenai tradisi luhur kita dalam mengksplorasi, mengonservasi dan kemudian memanfaatkan sumber daya air setempat, sebagai perwujudan adaptasinya terhadap lingkungan sekitar.

Atas dasar pertimbangan itu, terlepas dari asal masanya ~ yakni abad X Masehi pada Masa Hindu~Buddha, muatan informasi hidrologis yang terkandung dalam tinggalan arkeologis, paleo~ekologis dan historis tersebut berfaedah untuk dijadikan bahan ajar budaya masa lalu. Kali ini Ajar Pusaka Saujana dilakukan sembari menunggu tiba buka puasa (ngabuburit). Oleh kerena itu, kami mengangkat judul kegiatan yang dilakukan dalam rangka “Hari Lingkungan Hidup Sedunia” ini sebahai “NGABUBURIT PALEO~H8DROLOGI KASWANGGA”. Marilah turut serta dalam “Ajar Pusaka” yang hendak kami selenggarakan minggu depan.

Atas pertisipasi para peduli~pencita Cagar Budaya pada acara ini, disampaikan terima kasih. Semoga memberikan buah kefaedahan. Nuwun.

Dwi Cahyono (Sejarawan dan Arkeolog)

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !