Akar Historis Topeng Malang dari Lereng Selatan Tengger

 

Sang Makudur (pejabat keagamaan) sudah siap di tempatnya. Di depannya, telah tersedia lengkap ubo rampe sesajian yang terdiri atas kepala kerbau, emas, beras, kain uang kepeng, keris, landuk(parang), padamaran (lampu), nasi tumpeng, bunga setaman, dll.

Ia mempersembahkan air suci, membaca mantra dan sesudahnya membakar kemenyan yang menyebarkan bau harum.

Diambilnya ayam cemani dari dalam kurungan dekat ubo rampe, lalu disembelihnya ayam tersebut di atas landasan watu kalumpang. Tanpa ragu ia kemudian memecah sebutir telur dengan cara dihantamkan pada watu sima. Prosesi selanjutnya adalah menaburkan abu ke udara dengan mulut terus khusyuk berkomat-kamit.

Dengan lantang Sang Makudur memberi pengumuman kepada para hadirat bahwa sabda raja telah berkuasa atas tanah sima yang baru saja ditetapkan dan keputusan ini tidak bisa ditarik kembali sebagaimana kepala ayam telah terpisah dari badannya, telur telah hancur tidak bisa dikembalikan ke bentuk semula dan abu telah hilang ditelan angin.

Ia lalu mengumumkan sapata atau kutukan bahwa siapa saja yang berani melanggar keputusan raja yang dikukuhkan dalam upacara manusuk sima ini akan mendapatkan malapetaka yang mengerikan. Siapapun dia apakah bangsawan atau abdi, tua atau muda, laki-laki atau perempuan, rumah tangga atau wiku, ramah patih, wahuta, siapapun akan tekena karma dari Sang Hyang. Ia harus mati, belah kepalanya, sobek perutnya, renggut ususnya, keluarkan jeroannya, keduk hatinya, makan dagingnya dan minum darahnya. Jika ia berjalan di hutan ia akan dimakan harimau, akan dipatuk ular, jika di air biarlah ia dimangsa buaya, jika di tegalan biarlah disambar petir dan lain sebagainya.

Puas mengobral horor di atas, sang Makudur lalu mebagi-bagikan hadiah kepada para saksi yang datang yakni para pemuka agama, para pejabat dan perwakilan penduduk dari wilayah-wilayah sekitar. Kemudian semua yang hadir menikmati makan bersama kembul bujono.

Ritual berlanjut dengan ditampilkannya sejumlah penari diiringi riuh gamelan pengiring. Tarian ditujukan untuk memanggil dan menghadirkan roh Dewa Singha, yakni raja pertama kerajaan Kanjuruhan yang sekaligus ayah dari raja Gajayana. Pataweh menari sambil mengenakan topeng dan dari dominasi blocking dan porsi geraknya di atas panggung, jelas dia adalah penari yang memerankan tokoh utama dalam sendratari tersebut…………

Demikianlah gambaran suasana rekaan saya demi mendapati sumber informasi yang termaktub pada prasasti Dinoyo A yang menyebut perkataan : juru ning mangrakat (pemain utama pertunjukan raket yakni sendratari topeng) bernama Pataweh.

Prasasti Himad (930 M) memuat kata “matapukan (memainkan tari topeng)” yang merupakan sajian seni penyemarak ritual penetapan wanwa (desa) menjadi sima (perdikan).

Dapat dipastikan bahwa pada paruh pertama abad X tari yang mengenakan properti topeng telah ada di Malang. Besar kemungkinan bukan hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, melainkan sarana religius. Tidak jelas lakon apa yang disajikan karena kedua prasasti tersebut tidak secara eksplisit menyebutkannya. Bisa jadi lakon-lakon yang ada pada wiracarita asal India yakni Mahabarata dan Ramayana. Yang jelas bukanlah lakon Panji yang menceritakan tentang Kediri dan Jenggala karena cerita Panji baru ditulis dalam bentuk gancaran (susastra prosa) pada masa kerajaan Majapahit (abad 14-16 M).

kaos airlangga remaja ala kekunoan
T-Shirt Airlangga Remaja sudah dapat dipesan sekarang!!

Sebaran lingkungan budaya Jawa kuno pada masa kerajaan Hindu-Buddha dikategorikan dalam dua lingkungan, yaitu kebudayaan keraton dan luar keraton.

Sendratari berproperti topeng di Malang nampaknya berkembang baik di lingkungan keraton mengingat daerah Malang beberapa kali menjadi pusat pemerintahan kerajaan (kadatwan), baik kerajaan mandiri maupun kerajaan bawahan (vassal). Secara berurutan pada abad VIII berdiri kadatwan Kanjuruthan di lembah kali Metro yang dalam perkembangannya turun status menjadi karakryanan di bawah kadatwan Mataram yang diperintah oleh Pu Sindok atau Sri Isana (929 hingga 940-an M). Berikutnya lahir kadatwan Tumapel di kutaraja yang kemudian berpindah ke singhasari dalam kurun waktu 70 tahun (1222 M- 1292 M). Babak berikutnya, daerah Malang memang bukan ibukota pusat pemerintahan karena Majapahit ditaksir berpusat jauh di Trowulan, namun terdapat dua ibukota pemerintahan vassal kerajaan Majapahit, yakni Tumapel dan Kabalan.

Seorang penguasa vassal Majapahit di nagari Kabalan yang bernama Kusumawarddhani atau juga disebut Bre Kabalan disebut-sebut piawai dalam memainkan tari dan melantunkan kidung dengan suara merdu berdasarkan bukti prasasti Waringun Pitu (1447 M). Penguasa yang memiliki kepedulian terhadap kesenian ini diinterpretasikan sangat mungkin juga menaruh perhatian besar bagi kemajuan kesenian dinagarinya, tak terkecuali terhadap kesenian tari topeng. Minat terhadap seni budaya ini memang turunan dari ayahandanya, yakni Maharaja Hayam Wuruk yang menurut Pararaton juga mahir memainkan tari topeng (anapuk). Hayam wuruk tercatat pernah menyelenggarakan pekan seni di lapangan Bubat setiap akhir masa panen pada bula Caitra (antara Maret-April). Dalam kesempatan ini seniman-seniman baik yang berasal dari dalam maupun luar keraton berkesempatan bertemu dan berpartisipasi dalam festival kesenian.

Bagaimana dengan perkembangan topeng Malang di luar keraton?

Prasasti Pabanyolan menyuratkan bukti keberadaan seni pertunjukan berproperti topeng di luar lingkungan keraton. Prasasti yang ditemukan di Desa Gubuklakah Kec. Poncokusumo Kab. Malang pada lereng selatan Gunung Tengger ini berbeda dibandingkan lazimnya prasasti-prasasti lainnya. Prasasti ini tidak memuat maklumat raja atau penguasa di bawahnya, melainkan bercerita tentang anggota komunitas keagamaan di mandala kadewaguruan di batur Pajaran yang mengembangkan tari topeng. Sastra, tidak terkecuali tentunya susastra yang mengkisahkan dramatika tokoh Panji, diyakini merupakan salah satu materi ajar yang dipelajari di kadewaguruan tersebut selain pelajaran agama. Bila benar demikian, kala itu telah terdapat komunitas sendratari topeng luar keraton di lembah sisi selatan Tengger yang masuk wilayah Malang.

Karakter dalam topeng Malang diantaranya:

Keraton kerap memainkan peran sebagai pelindung pengembangan seni budaya. Meskipun demikian eksistensi kesenian luar keraton tidak bergantung pada perhatian kerajaan. Terbukti ketika agama Hindu-Buddha mengalami dekadensi hingga sampai pada keruntuhannya di abad 16, kesenian luar keraton tidak serta merta ikut lenyap.

Pasca masa Hindu-Buddha topeng Malang terus melanjutkan eksistensinya. Kawasan konsentrasi keberadaan topeng Malang kini antara lain dilembah dan lereng gunung Tengger sekitar wilayah Tumpang yang meliputi kecamatan Pakis, Tumpang, Jabung dan Poncokusumo. Wilayah kedua adalah lereng gunung Kawi dan lereng utara pegunungan kapur selatan disekitaran Sengguruh yang meliputi kecamatan Kromengan, Sumberpucung, Pakisaji dan kalipare. Topeng malang juga hadir di kecamatan Wajak, Turen, Lawang dan Karangploso.

Thomas Stamford Rafless sempat menulis sedikit tentang pertunjukan seni topeng dalam bukunya History of Java walaupun tidak disebutkan secara jelas di daerah mana. Besar kemungkinan adalah topeng dalang di Malang karena mementaskan cerita petualangan Panji-pahlawan favorit dalam cerita Jawa. Para pemain menari dan menyesuaikan geraknya dengan musik yang dimainkan sedangkan dalang menjadi sutradara sekaligus penyampai dialog. Satu grup tari topeng umumnya terdiri dari seorang dalang dan sepuluh orang disampingnya dengan posisi enam orang penari dan empat orang pemain waditra gamelan. Mereka bermain pada malam hari dan dengan bayaran (saat itu) 10 Rupe (25 Shilling) ditambah satu kali makan malam.

 

Sumber: Akar Historis Topeng dalang Malang( Dwi Cahyono), patembayancitralekha.com.

Grafis diambil dari Radar Malang edisi 30 September 2017. Andhiwira/Yudoasmoro

 

 

Incoming search terms:

  • panji malangan
Total
116
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !