D’Almeida Bercerita tentang Arca Godoldock dan Jalan Simpang Surabaya

Aku berkunjung ke benteng yang berlokasi di tengah kota Surabaya. Dindingnya cukup tebal dengan warna kusam, mirip benteng-benteng lain yang pernah aku singgahi di Jawa. Tentara Eropa tinggal di ruangan atas, sedangkan tentara pribumi di bawah. Terdapat sebuah bilik kecil yang dibangun menempel untuk menampung para calon tentara yang baru mendaftar.

Di luar benteng ada beberapa wanita yang genit menggoda para tentara. Wanita-wanita tersebut bisa dibilang adalah noda dalam sistem pemerintahan militer Belanda yang sangat rapi. Tentara tidak dianjurkan membawa serta para istri karena akan menghambat promosi karir mereka. Akibatnya adalah kelahiran keturunan-keturunan gelap yang baik dari pihak Belanda maupun Jawa dianggap anak haram.

Berikutnya kami mengunjungi tempat pengecoran logam yang merupakan sebuah bangunan sangat besar yang dibangun pemerintah di tepi sungai. Tempat ini memperkerjakan 300 orang dan sejumlah narapidana setiap harinya. Mesin-mesin mekanisme canggih beroperasi di sini. Seandainya orang-orang itu tidak melihatnya setiap hari, mereka pasti akan menyangka bahwa ada kekuatan ghaib yang menggerakkan mesin-mesin tersebut.

Surabaya dikelilingi oleh Sungai Kedirie yang airnya bersumber dari danau berpayau di pedalaman provinsi Kedirie. Sekitar 3 atau 4 mil sebelum masuk Surabaya, sungai ini terbelah menjadi 2. Aliran yang pertama menuju ke utara yang disebut Kali Mas dan satunya lagi mengarah ke selatan bernama Permean yang aku yakini berasal dari nama Dewi mitologi. Sepanjang hari sungai ini menyuguhkan pemandangan yang indah, terutama pada malam hari ketika terlihat perahu-perahu dengan kelap-kelip lenteranya yang digantung di tiang atau di buritan. Pohon bambu yang tumbuh dipinggir sungai dikerubuti oleh ribuan kunang-kunang yang menyerupai burung unta hitam bertahtakan permata. ( Hahaha…. sulit membayangkan perumpamaan yang dibuat mbah D’Almeida:-D)

Penduduk setempat duduk dan menikmati sejuknya udara malam di pinggir sungai dan karena malam adalah waktu yang tepat untuk mengajari anak-anak pelajaran dasar honotjoroko yang diulang-ulang.

Beginilah bunyi cerita yang aku tidak tahu apakah kisah nyata atau hanya karangan saja:

Seorang brahmana yang berjalan di hutan baru menyadari bahwa kerisnya ketinggalan. Ia terlalu lelah untuk kembali, sehingga menyuruh seorang penebang kayu yang ditemuinya di hutan untuk mengambilkannya. Sang penebang kayu bersedia mengambilkan. Brahmana tersebut kemudian beristirahat, membuka bekal di bawah rumpun pohon yang sejuk bersama pembantunya. Beberapa jam berlalu dan penebang kayu masih belum kembali. Khawatir tidak akan sampai pada tempat tujuan sebelum gelap, brahmana lalu menyuruh pembantunya menyusul penebang kayu.

Sang pembantu lalu berangkat menyusul. Tidak seberapa jauh berjalan, ia bertemu dengan sang penebang kayu yang telah berhasil mengambilkan keris. Si pembantu meminta kerisnya karena tuannya mewanti-wanti agar tidak kembali tanpa membawa keris. Penebang kayu yang telah bersusah payah menjalankan tugasnya ingin memberikannya sendiri karena mengharapkan imbalan dari brahmana. Keduanya tidak ada yang mengalah lalu perkelahian tidak dapat dihindari lagi dan akhirnya kedua orang itu sama-sama tewas.

Kisah tersebut diceritakan dengan bunyi mnemonik sedemikian rupa untuk memudahkan anak-anak menghafalkan abjadnya:

Ho no tjo ro ko—Ada sebuah kisah
Dho to so wo lo—Mereka bertengkar.
Po do djo jo njo—Keduanya sama kuat.
Mo go bo tho ngo—Keduanya mati.

Aku sendiri lebih percaya bahwa cerita ini hanya sebuah metode yang diciptakan untuk memudahkan murid menyerap pelajaran. Bila benar demikian, berarti sungguh pintar sekali siapapun yang pertama kali memperkenalkan metode ini.

Suara musik gamelan sering terdengar, sedangkan dari daerah yang dihuni oleh penganut Mohamedan (kaum muslim) terdengar suara sengau yang dilantunkan di cakrawala untuk menunjukkan ketulusan dan kekuatan iman.

Pemakaman terletak 3 mil dari kota diluar desa Penellay. Di jalan kami menjumpai sejumlah rumah yang ditanami tiang bambu tinggi di depannya. Di ujung tiang digantung sebuah kurungan berbentuk lingkaran berisi burung Maro-bo. Maro-bo adalah binatang piaraan yang kegemaran orang Jawa.

Di seberang rumah residen, meskipun tidak persis di depannya, dalam jarak yang agak jauh terbentang padang rumput hijau dan sebuah desa kecil bernama Tagassan. Beberapa yard dari situ terdapat patung besar orang duduk bersila yang disebut Godoldock, yang bisa ditebak merupakan perwujudan sang Budha. Banyak penduduk lokal yang percaya bahwa itu adalah patung seorang Cina yang mati karena menentang pemerintah dimasa sebelumnya.

Sebuah pemeriksaan singkat segera membuktikan bahwa cerita penduduk tersebut keliru karena baik dari pakaian maupun cirinya, kecil sekali memiliki kemiripan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Cina.

Betul bahwa patung ini telah dipindahkan dari candi yang sebelumnya dibangun untuk memuja Budha dan pastinya dengan mengerahkan sumber daya yang tidak kecil, namun tidak benar kalau patung ini difungsikan sebagai monumen untuk mengenang pembangkangan atau pemberontakan terhadap pemerintah.

Sudah dikenal luas bahwa kaum Mohamedans tidak menyukai arca batu yang besar karena khawatir bahwa di akhirat akan menghambat kelancaran untuk masuk surga.

Patung ini sekarang diwarna cerah, wajahnya hampir seluruhnya berwarna merah, matanya, alisnya, dan kumisnya diwarna hitam sedangkan keningnya berwarna kuning. Sehelai syal melingkari pundaknya–yang tidak perlu diragukan lagi membuktikan unsur Budhismenya–juga dicat sehingga apa yang tadinya murni batu polos kini menjadi arca terang dengan warna yang mencolok.

Jalanan persis sebelum kediaman residen disebut Cobang dan pada salah satu cabang jalan ini terdapat Jalan Simpang yang jauhnya seperempat mil.

Simpang memang bisa berarti percabangan jalan, namun ada cerita bahwa Simpang ini berasal dari kata simpan atau sita. Begini kisahnya:

Seluruh bagian daerah ini dahulunya milik seorang Cina yang kaya raya yang menempatinya bersama dengan keluarganya. Perkebunan dan sebuah rumah yang telah ia bangun sesuai seleranya semegah ini konon cuma separuh dari seluruh harta kekayaan totalnya.

Chogius yang pada saat itu merupakan pejabat gubernur jenderal Jawa, tinggal di Surabaya, kota yang sebelumnya merupakan pusat pemerintahan sebelum Batavia.

Gubernur Chogius ingin membeli perkebunan orang Cina tersebut karena menurutnya cocok untuk dipakai sebagai tempat tinggal dan rumah sakit. Ia memberi penawaran yang tinggi. Ia yakin bahwa orang Cina tersebut tidak akan mampu menolaknya. Chogius lalu mengirim pesan kepada pemilik properti yang didambakan tersebut bahwa pemerintah membutuhkannya sehingga pemerintah bersedia membeli lebih dari dua kali lipat nilai yang seharusnya.

Terhadap penawaran ini sang pemilik dengan tenang menjawab bahwa dia tidak ingin menjualnya berapapun harganya, sebab dia bermaksud untuk menghabiskan sisa hidupnya ditempat itu dan mewariskannya kepada anak-anaknya apabila dia sudah meninggal.

Pemerintah yang ngotot ingin membeli memutuskan untuk menemui sendiri orang Cina tersebut secara pribadi. Pada saat memasuki rumah, Chogius menyapanya dan bertanya, “Mengapa kamu bersikeras tidak mau menjual? Tidakkah kamu mengerti berapa banyak uang yang akan kamu dapatkan dengan menerima tawaran dari pemerintah?”

“Ya tuan, saya mengerti, tetapi berapapun itu tidak akan dapat menggantikan kerugian saya karena kehilangan rumah yang saya bangun dengan mencurahkan seluruh pemikiran saya dan dibangun dalam waktu yang lama. Saya sekarang sudah tua dan dengan sisa usia saya ini tidak akan dapat menemukan kembali tanah yang sesuai dengan keinginan saya. Ada banyak rumah yang lebih besar yang bisa tuan beli dan pemiliknya pasti akan sangat senang dengan tawaran tuan. Saya mohon tuan sudi melupakan perkebunan saya dan memilih yang lainnya.” Itulah yang dikatakan oleh sang pemilik perkebunan sambil bergetar ketakutan karena dia memahami betul posisinya. Pada masa itu pemerintah kolonial berkuasa secara absolut.

“Tidak!, semua ini tidak masuk akal. Aku menemuimu di sini bukan untuk membicarakan tentang perkebunan lain, melainkan untuk memberitahu kepadamu betapa besar uang yang akan kamu dapatkan bila menerima tawaran pemerintah. Dan karena kamu keras kepala, perlu aku peringatkan bahwa kamu  tidak sedang bertransaksi dengan individu biasa, melainkan seseorang yang berbicara atas nama pemerintah. Sekali lagi aku tanyakan, Akankah kau berubah pikiran? Maukah kau menerima tawaran yang aku berikan?”

Orang Cina itu diam tidak menjawab, masih tetap berdiri dengan bibir yang ditutup rapat, menggambarkan sikapnya yang kekeuh memegang prinsip.

Mungkin sikapnya inilah yang membuat marah Chogious sehingga ia merogoh sakunya dan mengeluarkan koin senilai 2 sen dan melemparkannya di depan si orang Cina sambil berkata dengan nada tinggi, “Ambil itu! Karena kamu tidak menerima tawaran menggiurkan yang aku berikan dan menolak menyebutkan harganya, maka atas nama pemerintah ku beri kamu satu cobang (Cobang- sebutan orang jawa untuk 2 sen), dan aku akan (mengambil alih) menyimpang (simpan) perkebunanmu.”

Dengan perasaan malu, jijik, bercampur aduk tidak terkirakan, laki-laki itu meninggalkan ruangan dan menyadari benar bahwa sejak saat itu nyawanya sedang diujung tanduk karena berani membangkang pada gubernur tiran yang angkuh tersebut.

Jaman itu, pemerintah Belanda menuntut kepatuhan yang amat besar dari setiap penduduk lokal, dengan mewajibkan mereka berjongkok di tanah dan menundukkan kepala sesegera mungkin setiap kali melihat orang Eropa lewat.

Orang Cina ini secara sadar mengabaikan perintah yang sangat merendahkan ini setiap kali dia bertemu Chogius.

Pembangkangannya dilakukan di sebuah jalan yang paling ramai di Surabaya. Saat terdengar teriakan “Pemerintah ! Pemerintah!”, bila tentara Belanda sedang lewat, dia dengan berani berdiri dengan kepala mendongak sementara di sekelilingnya, orang-orang Jawa dan suku lokal lain berdiri jongkok menunduk.

Pemerintah yang mengetahui tindakan pembangkangan ini sangat geram dan khawatir bila kelakuannya ini akan ditiru oleh orang-orang Jawa lain yang berdarah panas yang bersimpati terhadap orang Cina yang tertindas tersebut.

“Kirim orang untuk segera menyuruhnya duduk”.

“Tidak mau!”, jawab orang Cina tersebut dengan suara bergetar karena marah, bilang pada tuanmu untuk membunuhku dahulu sebelum membuatku berjongkok.

“Baiklah”, jawab gubernur, “bila itu keinginanmu”.

Malam itu juga, orang Cina yang malang ini diseret ke penjara dan keesokan harinya harus menukar keteguhan hatinya dengan lehernya. Dia dihukum mati di depan umum.

 

Baca juga petualangan ala kapsul waktu D’Almeida yang lain di tautan berikut ini:

 

Diterjemahkan bebas dari Volume I: Life in Java with Sketches of Javanese karangan William Barington D’Almeida tahun 1864. Sejumlah kata saya tulis apa adanya untuk menambahkan nuansa kekunoan dan menyelami alam pikiran penulis terhadap kondisi Jawa masa itu.

 

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit

error: ... !