Cuma Mau Bertahan Hidup, Akhirnya Justru Menggulingkan Dinasti Qin

Qin Shi Huang masih terus berharap kepulangan utusan yang dikirimkannya untuk mencari obat hidup abadi, saat nafasnya tiba-tiba berhenti. Dia jatuh sakit di tengah pelaksanaan inspeksi ke Cina bagian timur.

Kaisar ini pernah membakar sekolah dan banyak buku agar kaum cendikia berkonsentrasi membuatkan formula obat awet muda. Mereka yang gagal dieksekusi dengan dikubur hidup-hidup.

Para pejabat yang mengiringi raja, yang dipimpin oleh kasim utama istana, berupaya menutupi rahasia ini rapat-rapat. Rombongan mengangkut serta 10 kereta ikan dalam perjalanan pulang agar bau mayat tersamarkan. Mereka kemudian membuat surat palsu untuk dikirimkan pada putra makhkota pangeran Fu Shu agar melakukan bunuh diri karena pangeran tidak pernah menyukai sang kasim.

Fu Su tengah mengawasi proyek pembangunan tembok pertahanan yang kini dikenal sebagai Tembok Raksasa Cina. Pangeran yang berwibawa ini melaksanakan perintah ayahanda yang dihormatinya tanpa ragu diiringi ratap tangis prajurit dan orang-orang yang mengaguminya. Insiden ini melempangkan jalan sang adik, pangeran Qin Ershi untuk menjadi penerusnya.

Setelah segala sesuatunya siap, jasad Qin Shi Huang dibaringkan di tempat peristirahatannya yang terakhir dalam sebuah areal pemakaman yang sangat luas. Para istri dan gundik yang tidak memiliki anak yang mencapai 3000 orang turut dikorbankan untuk menemaninya di alam baka.

Buah kerja keras Qin Shi Huang berupa negeri Cina yang bersatu memang bakal bertahan lama, namun tidak demikian halnya dengan dinasti Qin yang ia dirikan.

Sepeninggalnya, dinasti ini hanya sanggup bertahan selama 3 tahun saja. Putera ke dua yakni pangeran Qin Ershi Huang tidak memiliki kemampuan untuk memimpin. Benih kekacauan yang memantik perang saudara muncul di mana-mana tidak lama setelah penobatannya.

Raja baru sangat kebingungan ketika dihadapkan pada banyaknya pemberontakan di seluruh Cina. Dia mengangkat kasim istana kepercayaannya sebagai perdana menteri yang bertugas memulihkan keamanan. Tanpa disadari, sang raja kini telah menjadi boneka yang bisa dikendalikan oleh sang kasim. Kasim yang licik mengambil keuntungan dari posisi barunya dengan menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Sejumlah besar pejabat yang mumpuni dan jendral-jendral Qin yang berpengalaman dihabisinya, sisanya diasingkan.

Dampaknya segera terasa, pemerintahan Qin tidak mampu secara efektif mengatasi gangguan keamanan di seluruh pelosok negeri. Kondisi ini diperburuk oleh kecenderungan raja untuk menghukum pejabat yang melaporkan kabar buruk, utamanya kabar tentang pemberontakan. Para pejabat yang mengkhawatirkan lehernya masing-masing, memilih mengarang kabar bohong bahwa para pemberontak berhasil ditumpas.

Tahun 207 SM pasukan pemberontak berhasil menggulung tentara kerajaan pada Pertempuran Julu. Sekira 200.000 prajurit raja Ershi tewas. Lima bulan berselang, 200.000 pasukan lainnya juga menyerah. Nasib mereka sungguh mengenaskan karena dieksekusi dengan dibakar hidup-hidup.

Ershi akhirnya menyadari gentingnya situasi. Merasa telah diperdaya, ia menghukum perdana menterinya, tapi semuanya sudah sangat terlambat. Pasukan pemberontak pimpinan Xiang Yu berhasil menggulingkan kerajaan dan membaginya menjadi 18 negara-negara kecil bagi para pengikutnya.

Profil prajurit Kaisar Cina Pertama Qin Shi Huang karya seniman Wang Kewei kekunoan.com
Profil prajurit Kaisar Cina Pertama Qin Shi Huang karya seniman Wang Kewei

Yang kelak berhasil mendirikan dinasti pengganti adalah pemberontak lain bernama Liu Bang yang mendapat bagian wilayah Lembah Sungai Han. Dia segera memerangi raja-raja lainnya sampai tinggal berhadapan dengan Xiang Yu. Tahun 202 SM Xiang Yu kalah dan Liu Bang berhasil menjadi kaisar pertama dinasti Han. Dia mengadopsi banyak institusi, tradisi dan peraturan-peraturan peninggalan Qin sebelumnya.

Di kalangan rakyat Cina, berkembang dongeng dan cerita rakyat tentang awal lahirnya pasukan Xiang Yu. Salah satunya adalah kisah yang berawal dari perjalanan sekelompok orang yang akan melakoni wajib militer. Orang-orang ini dipastikan akan terlambat sampai ke pos tentara akibat terjebak lumpur dalam hujan deras dan badai. Salah satu rekrutan bertanya tentang hukuman yang akan mereka terima karena tidak dapat datang pada waktunya. Sesuai dengan aturan kemiliteran kerajaan Qin yang keras, hukumannya adalah eksekusi mati.

“Jika demikian, lalu apakah hukuman untuk pemberontakan?”, tanyanya lagi. Dijawab bahwa ganjarannya sama, yakni hukuman mati juga.

Mendengar jawaban tersebut, mereka lalu main mata, saling bekerja sama membantai tentara pengawalnya dan melarikan diri. Menyadari bahwa sejak detik itu nyawa para pembangkang berada di ujung tanduk akibat status sebagai buronan, merekapun sekalian mengobarkan pemberontakan yang terang-terangan menantang kerajaan. Seiring waktu, dukungan banyak mengalir dengan semangat yang sama yakni melawan ketidak adilan atau membalas dendam. Dalam beberapa tahun saja pasukan ini semakin menjadi-jadi. Mereka memenangi sejumlah palagan, makin membengkak jumlahnya, hingga akhirnya sanggup menerobos ibu kota dan membunuh raja.

Demikianlah akhir memalukan dinasti yang oleh pendirinya dicanangkan akan berlangsung selama seribu tahun. Dinasti penerusnya, yakni Han justru tercatat mampu memerintah Cina selama 4 abad lamanya.

 

(Diolah dari berbagai sumber. Gambar sampul: Lukisan prajurit Kaisar Cina Pertama Qin Shi Huang karya seniman Wang-Kewei)

 

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit