Kedirie Tempat Dimana Kilisuchie yang Fanatik mengasingkan Diri

 

Setelah menempuh 16 jam perjalanan lamanya, akhirnya kami memasuki Kedirie. Hari sudah gelap. Kami menginap di hotel yang kecil lagi kotor, dan makanan yang disajikan pun tidak enak. Selama beberapa hari tinggal di Kedirie, kami hampir selalu makan nasi dan telur bebek asin.

Kedirie terletak diantara propinsi Madioen, Rumbang, Surabaya, Pagitan, dan Passeroewan. Propinsi ini sangat subur dan terkenal menghasilkan beras yang bulirnya besar dan putih. Penduduk setempat sampai mengatakan bahwa satu chupa beras Kedirie cukup untuk menghidupi satu orang selama 2 hari.

Terdapat sejumlah pabrik gula di Kedirie. Kopi kedirie termasuk kategori yang paling enak.

Kerbau liar dan banteng banyak ditemui di hutan sekitar wilayah ini. Meskipun orang sering menangkap banteng dengan berbagai macam cara dan perangkap, musuh banteng yang paling utama adalah harimau. Kuda terbaik dan tercepat di Jawa dibiakkan di sini dalam jumlah yang besar.

 

Kedirie sering disebut dalam cerita Jawa sebagai Döo (Daha), sebuah kerajaan yang paling tua di Jawa. Kotanya terletak di pinggir sungai Kedirie atau Brantes, diseberang benteng.

Jembatan kayu yang menghubungkan kedua sisi sungai sedang diperbaiki saat kami tiba dan akibat besarnya arus, dua orang pekerja telah menjadi korban. “Takdir mereka telah sampai tuan, tidak ada lagi yang bisa kami lakukan”, ujar salah seorang pekerja yang tengah berdiri dekat kami saat kami melihat-lihat jembatan. Selain itu, ada juga cerita kuno bahwa dilarang keras membangun jembatan di atas Brantes kecuali telah mempersembahkan tumbal sebelumnya.

Keesokan paginya aku menyeberang sungai menggunakan perahu yang disediakan karena kantor residen berada di sisi sungai yang lain. Di halaman kantor, residen Kedirie memperlihatkan padaku sejumlah arca yang didapatkannya dari daerah sekitar. Arca-arca tersebut terlihat berbeda dari arca yang kami lihat di Singasari dan Malang sebelumnya. Dua arca yang dicat hitam memiliki mata yang menonjol, hidung pesek dan rambut panjang yang dikepang sepanjang belakang kepala dan sebagian sampai menjuntai ke belakang. Tangan kiri memegang gada besar, sedangkan tangan kanan memegang lutut sebelah kiri. Keduanya duduk dan memperlihatkan roman muka sangat marah yang menurut dugaanku melambangkan dewa perang kuno.

Residen memberitahu kami tempat mana saja yang layak dikunjungi di wilayahnya dan berjanji  meminjamkan kuda poninya untuk dipakai bertamasya mendaki bukit Salomanglain (selomangleng) yang menyimpan sejumlah sisa peninggalan agama Buddha.

Siang harinya kami menyeberang sungai lagi dan kuda poni yang dijanjikan telah dipersiapkan.

Kami menelusuri pinggir sawah hingga sampai di ujungnya lalu berbelok kiri, melalui jalanan tidak rata dan sampai di jembatan kayu yang rusak yang tidak mungkin dilewati. Beruntung sungainya tidak lebar dan tidak dalam. Kami mendorong kuda poni agar menyeberang, namun walaupun sudah dicambuk berkali-kali, ia tetap enggan berjalan maju. Mandor residen yang berpikir bahwa kami tidak bisa melewati rute ini, segera mencari jalan alternatif. Saat mandor masih belum kembali, kami melanjutkan upaya kami mendorong kuda yang kali ini sedikit lebih berhasil walaupun aku agak menyesali kekasaran yang kami lakukan terhadap si kuda. Kami berhasil sampai di seberang dengan penuh perjuangan karena dasar sungai yang berlumpur menyulitkan kuda mengangkat kakinya yang tenggelam.

Istriku kurang beruntung karena ketika hampir sampai seberang, kudanya tenggelam sampai pangkal kaki. Akibatnya, si kuda terjebab di lumpur tidak bisa bergerak walaupun berusaha dan meronta. Namun belum sempat aku memberi bantuan, mendadak sang kuda berhasil memperoleh pijakan untuk kaki depannya dan iapun melompat tinggi ke depan dan terbebas. Istriku tidak mengalami luka apapun.

Setelah melanjutkan perjalanan sebentar, kami menitipkan kuda pada salah satu pembantu dan menemui juru coonchee (juru kunci) candi Salomanglain.

Kini kami menelusuri jalan diantara belukar dan tanaman liar, salah satunya, tanaman yang bernama Jarah yang oleh penduduk setempat diekstrak minyaknya. Minyak ini bermanfaat untuk pengobatan dan juga mengawetkan perabotan rumah dari kayu agar tidak dimakan rayap.

Beberapa pohon kopi tampak disana-sini dan memiliki bunga berwarna putih yang indah. Nanas liar dan tebu tumbuh dimana-mana. Kami berjalan di depan diikuti oleh juru kunci, mandor, pembantu kami, dan satu-dua penduduk sekitar. Juru kunci tidak akan berani berkunjung ke candi tanpa membawa ….. ( maaf, disini saya ragu apakah menerjemahkannya sebagai semacam jimat yang terbuat dari bulu unggas atau membawa unggas untuk dilemparkan pada harimau) karena wilayah di sekitar candi diduga banyak dihuni harimau.

Ketika sekelompok pemotong kayu berjalan melintas hutan, posisi yang paling berbahaya selalu adalah yang berjalan paling belakang. Oleh karenanya, orang-orang dengan berbagai cara melempar undi untuk menentukan siapa yang berada di posisi paling belakang. Sudah menjadi kebiasaan harimau, saat dia sudah menandai buruannya dia akan bersembunyi diam-diam dan menunggu sampai dekat dengan orang terakhir. Ia akan menerkam orang malang tersebut saat waktunya tiba dan segera menyeretnya masuk ke dalam hutan dalam waktu singkat. Kecuali bala bantuan datang menolong dalam jumlah besar maka tidak ada harapan dalam kasus seperti ini korban bisa selamat. Saya bertanya pada juru kunci apakah ia pernah melihat harimau di sepanjang jalan yang kita lalui ini. Jawabannya adalah tidak sering.

Aku membaca sebelumnya dari Mungko-Negoro di Soerakarta, bahwa candi Salomanglain ini dibangun atas perintah Kilisuchie, seorang perempuan salah satu dari empat bersaudara yang berturut-turut menjadi raja Kedirie, Singosarie, Bojonogoro, and Gongolo(?). Ia memeluk keyakinannya secara fanatik dan diceritakan tinggal di sini mengasingkan diri dari keramaian.

Candi Salomanglain terdiri dari beberapa ruangan yang dibuat dengan memahat batu utuh sekitar 12 atau 15 kaki dari tanah. Terdapat rangkaian tangga yang kebanyakan sudah rusak. Dengan melewati tangga kami sampai di pintu. Kami masuk melalui dua pintu yang berbentuk sarang lebah.

candi selomangleng kekunoan.com
Gua Selomangleng Kediri

Masing-masing ruangan mampu menampung 20 orang. Dua ruangan di depan berukuran sempit karena yang di belakang dipisahkan oleh tembok yang memiliki lubang untuk komunikasi. Di ujung dua ruang yang pertama tadi, terdapat tempat duduk dan semacam lubang atau ceruk tempat dimana pendeta Buddha duduk tenang sambil mengarahkan mata pada api persembahan. Pada saat bersamaan, ratusan peziarah yang berdiri di dalam dan di atap ruangan melantunkan nyanyian dan pujian yang membuat gua tersebut bergema.

Pada kedua ruangan ini terdapat sebuah altar tepat di tengah-tengah lantai dimana pada kedua sisinya berdiri dua buah patung dengan tangan menyilang di payudaranya yang dikenal penduduk setempat sebagai Dunawang dan Gebymongsajie. Pada langit-langit terpahat sejumlah relief wajah yang sudah rusak tergerus waktu dan sebuah kepala buaya yang dipahat sangat proporsional dengan ukuran nyata.

Di dalam salah satu gua terdapat lubang besar yang katanya merupakan pintu masuk terowongan menuju perut gunung Klotau. Ada dorongan besar dari dalam hatiku untuk memasuki tempat misterius ini karena mungkin aku dapat menjumpai beberapa sisa peninggalan Buddha lagi; namun pemandu kami mencegah karena gua tersebut bisa jadi adalah sarang harimau. Aku membatalkan niatku.

Dalam perjalanan pulang aku bertanya pada juru coonchee, yang ternyata fasih bercakap dalam bahasa Melayu, apakah ia pernah melihat harimau dengan mata kepalanya sendiri di candi ini.

“Oh, ya tuan,” jawabnya. “ Saya ingat pada suatu pagi, saya sedang menapaki anak tangga ketika seekor harimau yang besar meloncat dari semak di sebelah kiri, lalu berdiri diam menatapku. Namun sebelum aku sempat membidiknya, dia berbalik dan sekejap lari menghilang.

Ada yang pantang dilakukan, yakni ketika seseorang sudah menanam padi, maka ia selalu menginap di candi ini pada hari Selasa minggu pertama tiap bulan untuk mengambil hati roh leluhur agar padi yang ditanamnya tumbuh subur. Pada hari tersebut dengan alasan apapun saya tidak akan membunuh harimau yang terlihat berada di daerah sekitar ini karena apabila dilakukan akan mendatangkan darakha (kutukan) pada saya.”

Kami sampai di hotel agak malam karena di luar perhitungan kami, kami menemui kendala-kendala kecil di sepanjang jalan pulang.

Candi Penataran Sebelum dipugar (Sumber: pinterest.com)

Blitar tidak sampai setengah hari perjalanan jauhnya dari Kedirie dan memiliki pemandangan yang sangat memanjakan mata. Keadaan sekeliling sangat tentram ditambah dengan indahnya panorama Kloet dan Kresi. Dari Blitar, kami menuju ke Panatharan sejauh 9 paals. Di Panatharan terdapat banyak makam kuno raja-raja yang beberapa diantaranya sangat sayang kalau tidak disinggahi. Di Tologo, yang berjarak 3 paals dari Panatharan, terdapat sebuah desa yang mirip dengan desa di Swiss karena dikelilingi oleh gunung-gunung. Di sini juga terdapat reruntuhan candi tidak jauh dari danau kecil.

Baca juga catatan perjalanan D’Almeyda saat mengunjungi reruntuhan Majapahit, Singhasari, Pertapaan Kilisuci dan Soerakarta di bagian lain web ini.

 

Terjemahan dari Life in Java Volume I tahun 1865 karya William Barrington D’Almeyda

Sampul: Litografi perahu tambangan menyeberangkan kereta kuda

 

Total
360
Shares

Berlangganan

Yuk bergabung agar selalu mendapatkan notifikasi setiap artikel baru terbit